KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

BENARKAH ALERGI MAKANAN  BISA MENYEBABKAN SEMBELIT PADA ANAK?

BENARKAH ALERGI MAKANAN  BISA MENYEBABKAN SEMBELIT PADA ANAK?

Konstipasi atau sembelit merupakan salah satu masalah kesehatan yang sangat sering dialami anak. Sebagian besar kasus merupakan konstipasi fungsional, bukan akibat alergi makanan. Namun, para ahli alergi dan gastroenterologi anak menemukan bahwa pada sebagian kecil anak, terutama yang mengalami alergi protein susu sapi, konstipasi dapat berkaitan dengan reaksi terhadap makanan. European Academy of Allergy and Clinical Immunology atau EAACI kemudian menerbitkan position paper khusus untuk membahas kemungkinan “food allergy-induced constipation” atau konstipasi yang dipicu alergi makanan.

Laporan yang dipimpin Rosan Meyer dan kolega tersebut diterbitkan dalam Pediatric Allergy and Immunology pada 2024. Para ahli dari berbagai negara menelaah penelitian yang tersedia mengenai hubungan alergi makanan dan konstipasi pada anak. Mereka menemukan bahwa bukti ilmiah mengenai kondisi ini masih terbatas. Karena itu, paper tersebut tidak menyimpulkan bahwa alergi makanan merupakan penyebab umum sembelit pada anak. EAACI justru menekankan perlunya memilih pasien secara hati-hati sebelum mencurigai alergi makanan sebagai penyebab konstipasi.

Mengapa hubungan ini menarik? Sejumlah penelitian pada anak dengan alergi susu sapi yang diagnosisnya telah dibuktikan melalui food challenge menemukan bahwa 28% sampai 78% anak mengalami perbaikan konstipasi setelah susu sapi dihilangkan dari makanan. Pada sebagian penelitian, konstipasi kembali muncul ketika susu sapi diperkenalkan kembali. Pola seperti ini lebih meyakinkan daripada sekadar menemukan bahwa anak membaik setelah berhenti minum susu, karena konstipasi dapat berubah secara alami dan dapat dipengaruhi banyak faktor lain.

Namun, angka 28% sampai 78% tidak berarti bahwa sebanyak itu anak yang sembelit mengalami alergi susu sapi. Angka tersebut berasal dari kelompok penelitian tertentu, terutama anak yang memang telah dipilih karena memiliki dugaan atau bukti alergi susu sapi. Konstipasi jauh lebih umum daripada alergi makanan. Karena itu, anak yang mengalami sembelit tidak boleh langsung diberi label alergi susu sapi hanya berdasarkan gejala tersebut.

Sebagian besar anak dengan konstipasi mengalami apa yang disebut konstipasi fungsional. Salah satu mekanisme yang sering terjadi adalah kebiasaan menahan buang air besar. Ketika buang air besar terasa sakit karena tinja keras, anak mulai takut dan menahan tinja. Semakin lama tinja berada di usus, semakin banyak air diserap sehingga tinja menjadi lebih keras. Terbentuklah lingkaran antara tinja keras, nyeri, menahan buang air besar, dan konstipasi berulang.

Lalu bagaimana alergi makanan mungkin berperan? Pada alergi non-IgE, respons terhadap protein makanan dapat melibatkan sistem imun di saluran pencernaan. Para peneliti mengajukan kemungkinan adanya interaksi antara sistem imun, sel mast, sistem saraf enterik, dan gerakan usus. Perubahan pada sistem tersebut secara teoritis dapat memengaruhi motilitas saluran cerna dan fungsi buang air besar. Namun mekanisme ini masih merupakan hipotesis yang terus diteliti dan belum dapat digunakan untuk memastikan diagnosis pada seorang anak.

Susu sapi merupakan makanan yang paling banyak dibicarakan dalam konteks food allergy-induced constipation. Tetapi susu sapi bukan satu-satunya makanan yang mungkin terlibat. Beberapa laporan juga menemukan kemungkinan peran telur, kedelai, dan gandum. Temuan ini tidak berarti anak sembelit harus menghindari semua makanan tersebut. Justru sebaliknya, semakin banyak makanan yang dihilangkan tanpa alasan yang jelas, semakin besar risiko diet anak menjadi tidak seimbang.

Karena itu, EAACI menekankan bahwa alergi makanan tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan skin prick test dan specific IgE terutama digunakan untuk mendeteksi sensitisasi IgE. Pada konstipasi yang dicurigai berkaitan dengan alergi non-IgE, pemeriksaan tersebut tidak dapat secara rutin digunakan untuk menentukan penyebab. Pemeriksaan IgG terhadap berbagai makanan juga tidak memiliki bukti yang cukup untuk mendiagnosis food allergy-induced constipation.

Diagnosis lebih banyak bertumpu pada perjalanan penyakit dan respons terhadap intervensi yang terkontrol. Pada anak yang konstipasinya tidak membaik dengan tata laksana standar dan terdapat alasan klinis yang kuat untuk mencurigai alergi makanan, dokter dapat mempertimbangkan eliminasi makanan yang dicurigai selama sekitar 2 sampai 4 minggu. Bila konstipasi membaik, makanan tersebut kemudian perlu diperkenalkan kembali untuk melihat apakah gejala muncul kembali. Pola eliminasi dan reintroduksi inilah yang memberikan informasi lebih kuat mengenai kemungkinan hubungan antara makanan dan gejala.

Tentu saja, reintroduksi makanan harus mempertimbangkan keamanan. Pada anak yang hanya memiliki dugaan konstipasi akibat alergi non-IgE tanpa riwayat reaksi segera, dokter dapat menentukan cara reintroduksi yang sesuai. Namun bila anak pernah mengalami reaksi alergi segera seperti urtikaria, bengkak, sesak, atau anafilaksis setelah makanan tertentu, reintroduksi tidak boleh dilakukan sembarangan di rumah. Risiko reaksi segera harus dinilai terlebih dahulu oleh dokter.

Diet eliminasi juga bukan berarti terapi utama untuk semua konstipasi. Anak tetap membutuhkan penanganan konstipasi yang sesuai, termasuk evaluasi pola makan, perilaku menahan buang air besar, kebiasaan toilet, serta terapi medis bila diperlukan. Jika seorang anak sebenarnya mengalami konstipasi fungsional, menghilangkan susu sapi tanpa alasan yang kuat justru dapat membuat pola makan semakin terbatas tanpa menyelesaikan masalah utamanya.

Aspek nutrisi menjadi sangat penting ketika susu atau beberapa makanan lain harus dihindari. Anak yang sedang tumbuh membutuhkan energi, protein, kalsium, vitamin D, zat besi, yodium, seng, dan berbagai zat gizi lain. Pada bayi dengan alergi susu sapi yang membutuhkan formula, dokter dapat mempertimbangkan formula terhidrolisis ekstensif dan pada kondisi tertentu formula berbasis asam amino. Pemilihan formula harus disesuaikan dengan kondisi klinis dan kebutuhan pertumbuhan anak, bukan hanya berdasarkan dugaan alergi.

EAACI pada akhirnya memberikan pesan yang cukup hati-hati tetapi penting. Food allergy-induced constipation memang mungkin terjadi pada sebagian anak, terutama dalam konteks alergi susu sapi, tetapi kondisi tersebut tidak boleh menjadi penjelasan untuk semua kasus sembelit. Anak dengan konstipasi perlu dievaluasi terlebih dahulu untuk penyebab yang paling umum. Bila terapi standar gagal dan terdapat pola klinis yang mendukung alergi makanan, barulah eliminasi yang terarah dan reintroduksi dapat dipertimbangkan. Prinsipnya bukan semakin banyak makanan yang dilarang semakin baik, tetapi semakin tepat diagnosis, semakin tepat pula makanan yang perlu dihindari.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *