KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

BENARKAH KERACUNAN MAKANAN MBG BISA MENYEBABKAN GANGGUAN GINJAL, MEMORI, DAN SUSUNAN SARAF PUSAT?

 

BENARKAH KERACUNAN MAKANAN MBG BISA MENYEBABKAN GANGGUAN GINJAL, MEMORI, DAN SUSUNAN SARAF PUSAT?

Pertanyaan

Benarkah keracunan makanan, termasuk yang diduga terjadi setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis atau MBG, dapat menyebabkan gangguan ginjal, gangguan memori, dan gangguan susunan saraf pusat?

Jawaban singkat

Secara medis, bisa, tetapi tidak otomatis dan tidak pada setiap kasus keracunan makanan. Sebagian besar foodborne illness menyebabkan gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, nyeri perut, dan demam. Namun, sebagian kecil infeksi atau toksin tertentu dapat menyebabkan komplikasi di luar saluran pencernaan, termasuk gangguan ginjal, gangguan saraf, meningitis, ensefalitis, atau kelumpuhan. CDC mencantumkan kerusakan ginjal, hemolytic uremic syndrome atau HUS, kerusakan otak dan saraf sebagai komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit bawaan makanan tertentu. (CDC)

Bagaimana makanan yang tercemar dapat memengaruhi ginjal?

Gangguan ginjal setelah penyakit bawaan makanan dapat terjadi melalui beberapa mekanisme. Salah satu yang paling dikenal adalah hemolytic uremic syndrome atau HUS, terutama akibat infeksi Shiga toxin-producing Escherichia coli atau STEC. Toksin Shiga dapat menyebabkan kerusakan mikrovaskular yang kemudian menimbulkan anemia hemolitik, trombositopenia, dan cedera ginjal akut. HUS merupakan komplikasi serius dan lebih sering ditemukan pada anak. (CDC)

Jadi, apakah semua anak yang keracunan berisiko gagal ginjal?

  • Tidak. Gangguan ginjal merupakan komplikasi tertentu, bukan perjalanan alami semua keracunan makanan. Risiko meningkat pada penyakit tertentu, terutama infeksi STEC, serta pada anak yang mengalami dehidrasi berat. Karena itu, anak dengan diare berat perlu dipantau bukan hanya dari jumlah buang air besar, tetapi juga produksi urine, kondisi umum, tekanan darah, dan bila diperlukan fungsi ginjal. CDC menyebut berkurangnya frekuensi buang air kecil sebagai salah satu tanda yang harus dicurigai pada HUS atau dehidrasi berat. (CDC)

Apa hubungan keracunan makanan dengan gangguan saraf?

Beberapa penyakit bawaan makanan memang dapat menyerang sistem saraf. Contohnya adalah botulisme, yaitu penyakit akibat neurotoksin Clostridium botulinum. Botulisme dapat menyebabkan gangguan saraf kranial, penglihatan ganda, kelopak mata turun, sulit menelan, gangguan bicara, kelemahan otot, hingga kelumpuhan yang dapat berkembang ke otot pernapasan. Namun, gambaran khas botulisme terutama merupakan gangguan neuromuskular perifer, bukan gangguan memori akibat kerusakan otak. (CDC)

  • Bagaimana dengan gangguan susunan saraf pusat?
    • Infeksi bawaan makanan tertentu dapat mencapai sistem saraf pusat. Listeria monocytogenes, misalnya, pada penyakit invasif dapat menyebabkan meningitis atau meningoensefalitis. Manifestasinya dapat berupa demam, sakit kepala, kaku kuduk, kebingungan, gangguan keseimbangan, dan kejang. Kondisi seperti ini berbeda secara biologis dari gastroenteritis biasa dan memerlukan evaluasi serta terapi medis segera. (CDC)
  • Apakah keracunan makanan dapat menyebabkan gangguan memori?
    • Secara teoritis dan pada kondisi tertentu, gangguan kognitif atau memori dapat muncul dalam konteks penyakit toksik, metabolik, hipoksia, infeksi sistem saraf pusat, atau komplikasi berat penyakit bawaan makanan. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa muntah dan diare akibat keracunan makanan biasa akan menyebabkan amnesia. Gangguan kesadaran atau fungsi kognitif harus dicari penyebabnya secara sistematis, termasuk gangguan elektrolit, hipoglikemia, dehidrasi berat, hipoksia, kejang, infeksi otak, intoksikasi, maupun faktor psikologis dan fungsional.
  • Bagaimana dengan kasus anak yang diberitakan mengalami gangguan memori setelah MBG?
    • Kasus seorang pelajar di Kabupaten Karo menjadi perhatian karena sebelumnya dilaporkan mengalami gangguan ingatan setelah kejadian yang diduga berkaitan dengan keracunan MBG. Namun, perkembangan pemeriksaan di RSCM pada 16 September 2026 memberikan gambaran yang lebih spesifik. Dokter saraf anak RSCM melaporkan bahwa pemeriksaan memori dan EEG menunjukkan hasil baik dan tidak ditemukan gangguan fungsi otak. Diagnosis neurologis yang disampaikan adalah paroxysmal non-epileptiform event, yaitu episode serangan yang bukan kejang dan bukan masalah struktural pada organ otak. (detikHealth)

Apakah berarti kasus tersebut pasti tidak berkaitan dengan kejadian keracunan?

  • Tidak sesederhana itu. Pemeriksaan neurologis yang normal berarti tidak ditemukan bukti gangguan fungsi otak seperti yang sebelumnya dikhawatirkan pada saat evaluasi tersebut. Namun, hubungan epidemiologis antara keluhan pasien dengan kejadian konsumsi makanan tetap merupakan pertanyaan yang berbeda. Hubungan waktu tidak sama dengan hubungan sebab-akibat. Untuk menyatakan bahwa suatu makanan atau toksin tertentu menyebabkan kelainan neurologis diperlukan bukti klinis, laboratoris, toksikologis, dan epidemiologis yang memadai. Bahkan pemberitaan sebelumnya juga mencatat bahwa Kementerian Kesehatan belum menyimpulkan hubungan penyakit pasien tersebut dengan MBG. (detikcom)

Tabel: Apa yang secara ilmiah mungkin terjadi?

Komplikasi Mekanisme yang mungkin Contoh kondisi Kekuatan hubungan dengan foodborne illness
Dehidrasi Kehilangan cairan melalui diare dan muntah Gastroenteritis akut Sangat jelas
Cedera ginjal akut Dehidrasi berat, toksin, mikroangiopati HUS, dehidrasi berat Terbukti pada kondisi tertentu
Gagal ginjal Kerusakan ginjal berat HUS berat Dapat terjadi, tetapi tidak umum pada semua kasus
Gangguan saraf perifer Neurotoksin Botulisme Terbukti pada botulisme
Meningitis/ensefalitis Infeksi invasif Listeriosis invasif Dapat terjadi pada kondisi tertentu
Kejang Infeksi SSP, gangguan metabolik, toksin Berbagai kondisi Memerlukan diagnosis penyebab
Gangguan memori Gangguan otak, hipoksia, metabolik, toksik, atau mekanisme lain Bergantung etiologi Tidak khas untuk keracunan makanan biasa
Kerusakan otak permanen Komplikasi berat tertentu Hipoksia atau infeksi SSP berat Jarang dan tergantung penyebab

Apa tanda bahaya yang harus diperhatikan?

  • Pada anak yang mengalami muntah dan diare setelah mengonsumsi makanan, tanda bahaya antara lain tidak mampu minum, muntah terus-menerus, sangat lemas, penurunan kesadaran, urine sangat sedikit, diare berdarah, demam tinggi, kejang, sesak napas, gangguan penglihatan, kelemahan otot, atau gangguan bicara dan menelan. CDC merekomendasikan evaluasi medis pada diare berdarah, muntah yang menyebabkan pasien tidak mampu mempertahankan cairan, dehidrasi, demam tinggi, atau diare berkepanjangan. (CDC)

Pemeriksaan apa yang diperlukan bila muncul komplikasi?

  • Pemeriksaan harus disesuaikan dengan gejala. Pada kecurigaan gangguan ginjal dapat dilakukan pemeriksaan elektrolit, ureum, kreatinin, urinalisis, darah lengkap, dan parameter hemolisis bila dicurigai HUS. Pada diare berdarah, pemeriksaan terhadap STEC dan toksin Shiga menjadi penting. Bila terdapat gangguan neurologis, pemeriksaan neurologis lengkap dapat dilanjutkan dengan EEG, pencitraan otak, pemeriksaan cairan serebrospinal, pemeriksaan metabolik, atau toksikologi sesuai indikasi. Pendekatan seperti ini penting agar diagnosis tidak hanya didasarkan pada urutan waktu “makan kemudian sakit”.

Kesimpulan

Keracunan makanan memang dapat menyebabkan komplikasi di luar saluran pencernaan, termasuk gangguan ginjal dan gangguan saraf, tetapi hal tersebut bergantung pada penyebab dan berat penyakit. HUS akibat STEC merupakan contoh kuat komplikasi ginjal setelah penyakit bawaan makanan, sedangkan botulisme dan listeriosis invasif menunjukkan bahwa penyakit bawaan makanan tertentu dapat menyebabkan manifestasi neurologis. Namun, gangguan memori bukan manifestasi khas keracunan makanan biasa, dan munculnya gangguan memori setelah seseorang mengonsumsi makanan tidak cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat. Dalam kasus MBG yang sedang menjadi perhatian, pemeriksaan neurologi RSCM pada 16 September 2026 dilaporkan tidak menemukan gangguan fungsi memori atau kelainan organik otak. Karena itu, secara ilmiah lebih tepat mengatakan bahwa komplikasi ginjal dan neurologis dapat terjadi pada foodborne illness tertentu, tetapi setiap kasus MBG harus dibuktikan secara individual dan tidak boleh langsung disimpulkan sebagai kerusakan ginjal atau otak akibat makanan tanpa bukti diagnostik. (detikHealth)

Daftar Pustaka

  • Centers for Disease Control and Prevention. Food Poisoning Symptoms. CDC; 2025. (CDC)
  • Centers for Disease Control and Prevention. Signs of Hemolytic Uremic Syndrome. CDC; 2024. (CDC)
  • Centers for Disease Control and Prevention. Information for Clinicians: E. coli Infection. CDC; 2024. (CDC)
  • Rao AK, Sobel J, Chatham-Stephens K, Luquez C. Clinical Guidelines for Diagnosis and Treatment of Botulism, 2021. MMWR Recomm Rep. 2021;70(2):1-30. (CDC)
  • Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Overview of Botulism. CDC; 2024. (CDC)
  • Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Overview of Listeriosis. CDC. (CDC)
  • Centers for Disease Control and Prevention. Symptoms of Listeria Infection. CDC; 2025. (CDC)
  • Centers for Disease Control and Prevention. Hemolytic Uremic Syndrome Surveillance Tool. FoodNet Fast; 2026. (CDC)
  • Shane AL, Mody RK, Crump JA, et al. 2017 Infectious Diseases Society of America Clinical Practice Guidelines for the Diagnosis and Management of Infectious Diarrhea. Clin Infect Dis. 2017;65(12):e45-e80.

Kalimat kunci untuk edukasi publik: Keracunan makanan dapat menyebabkan komplikasi ginjal dan saraf pada jenis penyakit tertentu, tetapi tidak setiap keracunan menyebabkan kerusakan ginjal atau otak. Pada kasus MBG, hubungan sebab-akibat harus dibuktikan dengan pemeriksaan medis dan epidemiologis, bukan hanya berdasarkan urutan waktu setelah makan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *