KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

TANYA JAWAB: INFLUENZA A PADA ANAK, KAPAN BERBAHAYA DAN KAPAN PERLU ANTIVIRUS?

 

TANYA JAWAB: INFLUENZA A PADA ANAK, KAPAN BERBAHAYA DAN KAPAN PERLU ANTIVIRUS?

Pertanyaan:

Anak saya demam, batuk, pilek, lemas, dan hasil pemeriksaan menunjukkan influenza A. Apakah influenza A pada anak selalu berbahaya? Bagaimana membedakan influenza biasa yang dapat dirawat di rumah dengan influenza yang berisiko menyebabkan pneumonia, kejang, gangguan saraf, dehidrasi, atau komplikasi lain? Apakah semua anak dengan influenza A perlu mendapatkan oseltamivir, terutama bila sudah lebih dari 48 jam sejak gejala muncul?

Jawaban

Influenza A merupakan infeksi saluran napas yang disebabkan oleh virus influenza A. Pada anak, penyakit ini dapat menimbulkan demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, lemas, dan penurunan nafsu makan. Anak kecil juga dapat mengalami muntah atau diare. Sebagian besar anak mengalami penyakit ringan dan kemudian membaik secara bertahap. Namun, influenza tidak selalu ringan. Sebagian anak dapat mengalami komplikasi yang membutuhkan evaluasi dan perawatan medis.

Risiko komplikasi lebih tinggi pada anak usia muda, terutama anak berusia kurang dari 5 tahun. Risiko juga meningkat pada anak dengan penyakit kronis, seperti asma atau penyakit paru kronis, penyakit jantung, gangguan neurologis, diabetes, gangguan metabolik, atau gangguan sistem imun. Karena itu, diagnosis influenza A pada anak tidak cukup hanya dengan mengetahui jenis virus. Dokter juga perlu menilai usia, kondisi dasar, berat penyakit, lama gejala, status hidrasi, dan perkembangan klinis anak.

Influenza A dapat menyebabkan pneumonia akibat virus influenza sendiri. Anak juga dapat mengalami pneumonia bakteri sekunder setelah infeksi influenza. Kecurigaan terhadap komplikasi respiratorik meningkat bila anak mengalami napas cepat, sesak, retraksi dinding dada, saturasi oksigen rendah, nyeri dada, atau kondisi umum yang memburuk. Anak yang semula membaik kemudian kembali demam tinggi dan mengalami batuk atau gangguan napas yang semakin berat juga perlu diperiksa untuk kemungkinan komplikasi.

Komplikasi neurologis memang jarang, tetapi penting dikenali. Influenza dapat berhubungan dengan kejang demam, kejang nonfebril, ensefalopati, dan ensefalitis. Sebuah studi pediatrik terhadap anak yang dirawat karena influenza menemukan adanya komplikasi neurologis pada sebagian pasien. Angka tersebut berasal dari populasi anak yang sudah dirawat di rumah sakit sehingga tidak dapat digunakan sebagai risiko bagi seluruh anak yang terkena influenza di masyarakat.

Gangguan makan juga sering terlihat selama fase akut influenza. Demam, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, batuk, mual, muntah, dan kelelahan dapat membuat anak menolak makanan. Pada sebagian besar anak, penurunan nafsu makan bersifat sementara. Fokus awal adalah memastikan anak tetap mendapatkan cairan dan memantau kondisi umum. Anak dengan riwayat gangguan makan atau masalah pertumbuhan memerlukan pemantauan lebih ketat bila asupan turun selama infeksi.

Dehidrasi merupakan salah satu masalah yang perlu diperhatikan, terutama pada bayi dan anak kecil. Anak yang demam membutuhkan cairan lebih banyak, sementara influenza dapat menyebabkan anak malas minum. Risiko semakin meningkat bila disertai muntah atau diare. Berkurangnya urine, mulut kering, tidak ada air mata saat menangis, mata tampak cekung, sangat lemas, atau sulit dibangunkan merupakan tanda yang perlu mendapatkan perhatian medis.

Diagnosis influenza dapat dilakukan berdasarkan gejala dan situasi epidemiologis. Pemeriksaan rapid antigen dapat membantu, tetapi sensitivitasnya lebih rendah dibandingkan pemeriksaan molekuler. Hasil rapid test negatif tidak selalu menyingkirkan influenza apabila gejala dan kondisi epidemiologis sangat mendukung. RT-PCR atau pemeriksaan molekuler memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dan dapat digunakan ketika hasil pemeriksaan akan memengaruhi tata laksana.

Kapan anak membutuhkan antivirus?

Tidak semua anak dengan influenza A memerlukan antivirus. Anak sehat dengan gejala ringan dapat menjalani perawatan suportif sesuai kondisi klinis. Namun, antivirus perlu dipertimbangkan lebih serius pada anak yang dirawat di rumah sakit, mengalami penyakit berat atau progresif, mengalami komplikasi, berusia sangat muda, atau memiliki kondisi yang meningkatkan risiko komplikasi. AAP juga menempatkan anak usia kurang dari 5 tahun sebagai kelompok yang memerlukan perhatian khusus terhadap terapi antivirus.

Oseltamivir merupakan salah satu antivirus yang banyak digunakan untuk influenza pada anak. Obat ini bekerja dengan menghambat neuraminidase virus sehingga mengganggu pelepasan virus baru dari sel yang terinfeksi. Penggunaan oseltamivir harus mengikuti usia, berat badan, fungsi ginjal, indikasi, dan dosis yang ditetapkan dokter. Dosis tidak sebaiknya dihitung sendiri berdasarkan dosis orang dewasa.

Waktu pemberian antivirus juga penting. Manfaat terapi paling besar bila diberikan sedini mungkin, terutama dalam 48 jam pertama sejak munculnya gejala. Namun, batas 48 jam bukan berarti antivirus tidak bermanfaat setelah periode tersebut. Pada anak dengan penyakit berat, penyakit progresif, komplikasi, atau kondisi yang meningkatkan risiko komplikasi, antivirus tetap dapat dipertimbangkan meskipun anak datang setelah lebih dari 48 jam.

Keputusan memberikan antivirus tidak selalu harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Pada anak dengan gambaran klinis yang kuat dan risiko komplikasi tinggi, dokter dapat mempertimbangkan terapi berdasarkan penilaian klinis. Hal ini penting karena menunggu hasil pemeriksaan dapat menyebabkan keterlambatan terapi pada pasien yang memang membutuhkan antivirus.

Antibiotik berbeda dari antivirus. Antibiotik tidak membunuh virus influenza dan tidak digunakan secara rutin untuk influenza A. Antibiotik baru mempunyai indikasi bila dokter menemukan bukti atau kecurigaan infeksi bakteri sekunder, misalnya pneumonia bakteri, otitis media tertentu, atau komplikasi bakteri lainnya. Penggunaan antibiotik tanpa indikasi tidak mempercepat penyembuhan influenza.

Orang tua perlu segera membawa anak untuk mendapatkan evaluasi medis bila muncul sesak napas, napas sangat cepat, retraksi dada, bibir kebiruan, tidak mampu minum, urine sangat berkurang, muntah terus-menerus, kejang, penurunan kesadaran, nyeri dada, atau kondisi anak memburuk. Perhatian juga diperlukan bila demam dan kondisi umum kembali memburuk setelah anak sebelumnya tampak membaik.

Pencegahan tetap menjadi bagian penting dalam pengendalian influenza A pada anak. Vaksin influenza tahunan dapat mengurangi risiko influenza dan penyakit berat. Pencegahan juga mencakup mencuci tangan, etika batuk, ventilasi yang baik, mengurangi kontak dekat ketika sedang sakit, serta menjaga anak tetap di rumah ketika kondisi akut membutuhkan istirahat. Vaksinasi terutama penting bagi anak yang mempunyai faktor risiko komplikasi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *