KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Alergi Makanan pada Saluran Cerna Anak: Ketika Makanan Menjadi Penyebab Muntah, Diare, Darah pada Tinja, dan Sulit Tumbuh

 

Alergi Makanan pada Saluran Cerna Anak: Ketika Makanan Menjadi Penyebab Muntah, Diare, Darah pada Tinja, dan Sulit Tumbuh

Alergi makanan tidak selalu menyebabkan gatal, bentol, bengkak, atau sesak napas. Pada sebagian bayi dan anak, reaksi terhadap makanan terutama terjadi di saluran pencernaan. Keluhannya dapat berupa muntah, diare, lendir atau darah pada tinja, sakit perut, perut kembung, sulit makan, hingga berat badan sulit bertambah. Alergi makanan pada saluran cerna dapat terjadi melalui mekanisme IgE maupun non-IgE. Pada alergi non-IgE, gejala biasanya muncul beberapa jam setelah makanan dikonsumsi. Pemeriksaan skin prick test dan IgE spesifik sering kali negatif. Karena itu, hasil tes alergi negatif tidak selalu berarti anak tidak mengalami alergi makanan.

Diagnosis memerlukan penilaian pola gejala, hubungan dengan makanan, respons setelah eliminasi makanan yang dicurigai, serta pada kondisi tertentu pemberian kembali makanan melalui oral food challenge. Eliminasi makanan harus dilakukan secara terarah karena pembatasan makanan yang terlalu luas dapat menyebabkan kekurangan nutrisi dan memperburuk masalah makan. Pemantauan pertumbuhan dan evaluasi berkala untuk mengetahui perkembangan toleransi makanan merupakan bagian penting dari tata laksana. Ketika seorang anak sering muntah, diare, sakit perut, sembelit, sulit makan, atau berat badannya sulit naik, makanan sering menjadi salah satu hal yang dicurigai orang tua.

Pertanyaannya, apakah benar makanan tersebut menyebabkan alergi? Jawabannya tidak selalu. Alergi makanan memang dapat menyebabkan gangguan saluran cerna. Namun, gejala seperti muntah, diare, sembelit, kembung, atau sulit makan juga dapat terjadi karena banyak penyebab lain. Di sinilah diagnosis menjadi penting.

Heine dalam jurnal Chem Immunol Allergy tahun 2015 menjelaskan bahwa alergi makanan gastrointestinal pada anak memiliki berbagai bentuk. Susu sapi, kedelai, dan gandum termasuk makanan yang sering dilaporkan sebagai pencetus. Pada alergi makanan non-IgE, gejala biasanya muncul secara tertunda dan pemeriksaan alergi berbasis IgE sering kali negatif. Artinya, anak dapat mengalami alergi makanan meskipun hasil skin prick test atau IgE spesifik negatif, terutama bila penyakitnya termasuk kelompok alergi gastrointestinal non-IgE.

Alergi makanan tidak selalu menyebabkan bentol dan sesak

  • Banyak orang mengenal alergi makanan sebagai kondisi yang menyebabkan gatal, bentol, bibir bengkak, atau sesak napas.
  • Gambaran tersebut memang dapat terjadi pada alergi yang dimediasi IgE.
  • Namun, ada kelompok alergi makanan lain yang terutama menyerang saluran cerna. Gejalanya dapat muncul lebih lambat.
  • Misalnya, seorang bayi minum susu pada pagi hari. Beberapa jam kemudian bayi muntah berulang, tampak pucat dan lemas. Pada kondisi tertentu, pola seperti ini dapat mengarah pada FPIES.
  • Pada bayi lain, keluhan utamanya mungkin darah atau lendir pada tinja. Bayi tetap terlihat cukup sehat. Kondisi seperti ini dapat ditemukan pada food protein-induced allergic proctocolitis atau FPIAP.
  • Karena pola penyakitnya berbeda, pendekatan diagnosis juga harus berbeda.

Apa yang dimaksud alergi gastrointestinal?

  • Alergi gastrointestinal adalah reaksi imun terhadap makanan yang terutama menimbulkan gejala pada saluran pencernaan.
  • Beberapa bentuk yang dikenal antara lain food protein-induced allergic proctocolitis atau FPIAP, food protein-induced enteropathy, dan food protein-induced enterocolitis syndrome atau FPIES.
  • Ketiganya memiliki karakteristik yang berbeda.
  • FPIAP biasanya ditemukan pada bayi dan dapat menyebabkan darah atau lendir pada tinja.
  • Food protein-induced enteropathy dapat menyebabkan diare, muntah, gangguan penyerapan zat gizi, dan gangguan pertumbuhan.
  • FPIES memiliki karakteristik berupa muntah berulang yang muncul beberapa jam setelah makanan pencetus dikonsumsi. Pada reaksi berat, anak dapat tampak pucat, lemas, mengalami dehidrasi, bahkan tekanan darah dapat turun.

Mengapa hasil tes alergi bisa negatif?

  • Ini merupakan salah satu hal yang paling sering membingungkan orang tua.
  • Skin prick test dan pemeriksaan serum-specific IgE terutama mendeteksi sensitisasi yang dimediasi IgE.
  • Pada alergi gastrointestinal non-IgE, mekanisme penyakitnya berbeda. Karena itu, hasil pemeriksaan tersebut sering negatif.
  • Jadi, hasil negatif tidak otomatis menyingkirkan semua jenis alergi makanan.
  • Sebaliknya, hasil positif juga tidak otomatis membuktikan bahwa makanan tersebut menyebabkan gejala.
  • Seorang anak dapat memiliki sensitisasi terhadap suatu makanan tetapi tetap dapat memakannya tanpa mengalami gejala klinis.
  • Karena itu, hasil pemeriksaan harus selalu dibandingkan dengan cerita klinis anak.
  • Gejala apa yang perlu diperhatikan?

Alergi gastrointestinal dapat menimbulkan berbagai keluhan.

  • Gejala yang dapat ditemukan antara lain:
  • • Muntah berulang setelah makan
  • • Muntah yang muncul beberapa jam setelah makanan tertentu
  • • Diare kronis
  • • Lendir pada tinja
  • • Darah pada tinja
  • • Nyeri atau tidak nyaman pada perut
  • • Perut kembung
  • • Menolak makanan tertentu
  • • Kesulitan makan
  • • Berat badan sulit bertambah
  • • Gangguan pertumbuhan

Tidak semua gejala tersebut berarti alergi makanan.

  • Yang lebih penting adalah pola gejalanya.
  • Apakah keluhan muncul berulang setelah makanan yang sama? Apakah keluhan membaik ketika makanan tersebut dihentikan? Apakah keluhan muncul kembali ketika makanan diberikan lagi?
  • Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mencari satu hasil pemeriksaan laboratorium.

Tiga pola alergi gastrointestinal yang perlu dikenal

Kondisi Gejala yang menonjol Pemeriksaan IgE Gambaran khas
FPIAP Darah atau lendir pada tinja Biasanya negatif Sering terjadi pada bayi yang tampak sehat
Food protein-induced enteropathy Diare, muntah, gangguan penyerapan, pertumbuhan terganggu Biasanya negatif Gejala dapat berlangsung kronis
FPIES Muntah berulang, pucat, lemas, diare Biasanya negatif Gejala dapat muncul beberapa jam setelah makan

FPIAP, ketika bayi mengalami darah pada tinja

  • FPIAP merupakan salah satu bentuk alergi gastrointestinal yang dapat terjadi pada bayi.
  • Gambaran yang sering terlihat adalah darah atau lendir pada tinja. Bayi biasanya tetap terlihat cukup sehat.
  • Pada bayi yang mendapat ASI, protein makanan dari diet ibu dapat menjadi salah satu sumber paparan. Pada kondisi yang sesuai, dokter dapat mempertimbangkan eliminasi makanan tertentu dari diet ibu.
  • Pada bayi yang mendapat susu formula, dokter dapat mempertimbangkan formula khusus sesuai kondisi klinis.
  • Namun, darah pada tinja bayi tidak boleh langsung dianggap sebagai alergi makanan. Fisura ani, infeksi, dan beberapa kondisi lain juga dapat menyebabkan darah pada tinja.

FPIES, ketika muntah muncul beberapa jam setelah makan

  • FPIES memiliki pola yang berbeda.
  • Anak dapat terlihat sehat setelah makan. Beberapa jam kemudian terjadi muntah berulang. Anak dapat menjadi pucat dan lemas. Pada reaksi berat, dehidrasi dan penurunan tekanan darah dapat terjadi.
  • Susu sapi dan kedelai termasuk makanan yang dapat menjadi pencetus pada bayi. Berbagai makanan padat juga dapat menjadi pencetus.
  • Karena gejalanya dapat berat, diagnosis dan oral food challenge pada anak dengan dugaan FPIES perlu dilakukan dengan perencanaan medis yang tepat.
  • Mengapa alergi makanan sering sulit dibedakan dari penyakit lain?
  • Saluran cerna anak dapat memberikan gejala yang sama pada banyak penyakit.
  • Muntah dapat disebabkan oleh infeksi, refluks, gangguan metabolik, kelainan anatomi, alergi makanan, atau kondisi lain.
  • Diare dapat disebabkan oleh infeksi, malabsorpsi, penyakit celiac, alergi makanan, atau gangguan lainnya.
  • Sembelit juga memiliki banyak penyebab.
  • Karena itu, tidak tepat menyimpulkan alergi makanan hanya karena anak mengalami gangguan pencernaan.

Diagnosis harus melihat keseluruhan pola.

  • Eliminasi makanan, apakah berarti makanan harus dihindari selamanya?
  • Tidak.
  • Eliminasi makanan merupakan salah satu cara untuk mengevaluasi hubungan antara makanan dan gejala. Makanan yang dicurigai dihentikan untuk periode tertentu, kemudian kondisi anak diamati.
  • Jika gejala membaik, dugaan hubungan dengan makanan menjadi lebih kuat.
  • Namun, perbaikan setelah eliminasi belum selalu membuktikan bahwa makanan tersebut merupakan penyebab. Gejala dapat berubah secara alami. Pola makan anak juga dapat berubah selama periode eliminasi.
  • Karena itu, pada kondisi yang sesuai, makanan perlu diberikan kembali secara terkontrol.
  • Oral food challenge
  • Oral food challenge atau OFC merupakan pemberian makanan secara bertahap dan terkontrol untuk melihat apakah anak mengalami reaksi.
  • Konsepnya sederhana.
  • Makanan yang sebelumnya dicurigai dihilangkan. Anak membaik. Kemudian makanan tersebut diberikan kembali dengan pengawasan yang sesuai.
  • Jika gejala muncul kembali dengan pola yang konsisten, hubungan antara makanan dan gejala menjadi lebih kuat.
  • Pada sebagian anak, OFC juga digunakan untuk mengetahui apakah alerginya sudah menghilang.
  • Hal ini penting karena sebagian alergi makanan pada bayi dan anak dapat mengalami toleransi seiring bertambahnya usia.

Mengapa makanan tidak boleh dihilangkan terlalu banyak?

  • Ini merupakan masalah yang sering terjadi.
  • Anak mengalami beberapa keluhan. Orang tua kemudian menghilangkan susu, telur, gandum, ikan, ayam, kacang, dan berbagai makanan lain.
  • Akhirnya pilihan makanan anak menjadi sangat sedikit.
  • Risikonya cukup jelas. Anak dapat kekurangan energi, protein, kalsium, zat besi, vitamin, dan zat gizi lainnya.
  • Pada anak yang sudah mengalami kesulitan makan, pembatasan makanan yang terlalu luas juga dapat membuat pilihan makanan semakin terbatas.
  • Karena itu, tujuan eliminasi bukan menghilangkan sebanyak mungkin makanan.
  • Tujuannya adalah menemukan makanan yang benar-benar berhubungan dengan gejala.

Alergi makanan dan berat badan sulit naik

  • Anak dengan alergi gastrointestinal dapat mengalami masalah pertumbuhan.
  • Muntah membuat asupan berkurang. Diare dapat mengganggu penyerapan. Nyeri perut dapat membuat anak takut makan.
  • Eliminasi makanan yang terlalu luas juga dapat mengurangi jumlah kalori dan protein yang masuk.
  • Karena itu, berat badan tidak boleh dinilai hanya berdasarkan satu angka.
  • Dokter perlu melihat perjalanan berat badan dan tinggi badan dari waktu ke waktu.
  • Jika berat badan terus berada pada lintasan pertumbuhan yang rendah tetapi stabil, interpretasinya berbeda dengan anak yang sebelumnya tumbuh baik kemudian mengalami penurunan lintasan pertumbuhan.

Alergi dan kesulitan makan

  • Anak dengan alergi gastrointestinal dapat mengalami pengalaman makan yang tidak menyenangkan.
  • Anak muntah setelah makan. Anak kemudian menolak makanan tersebut.
  • Jika kejadian berulang, anak dapat menjadi semakin selektif.
  • Namun, kesulitan makan tidak selalu disebabkan alergi.
  • Feeding difficulty juga dapat berkaitan dengan kemampuan oral-motor, sensitivitas sensorik, pengalaman makan, tekanan saat makan, perkembangan anak, gangguan gastrointestinal lain, atau faktor psikososial.
  • Karena itu, anak dengan kesulitan makan membutuhkan evaluasi yang lebih luas.

Bagaimana dokter menilai dugaan alergi makanan?

  • Dokter biasanya mulai dari cerita klinis.
  • Makanan apa yang dimakan?
  • Berapa banyak yang dimakan?
  • Berapa lama setelah makan gejala muncul?
  • Apakah gejala selalu muncul setelah makanan yang sama?
  • Apakah ada urtikaria atau bengkak?
  • Apakah anak pernah mengalami reaksi berat?
  • Apakah gejala membaik setelah makanan dihentikan?
  • Apakah gejala muncul lagi setelah makanan diberikan kembali?
  • Bagaimana berat badan dan tinggi badan anak?

Apakah terdapat diagnosis lain yang dapat menjelaskan gejala?

  • Pertanyaan tersebut membantu dokter menentukan apakah alergi makanan memang masuk dalam kemungkinan diagnosis.
  • Kapan pemeriksaan alergi diperlukan?
  • Pemeriksaan skin prick test atau serum-specific IgE dapat bermanfaat bila terdapat dugaan alergi makanan yang dimediasi IgE.
  • Misalnya, anak mengalami urtikaria, angioedema, muntah akut, mengi, atau reaksi sistemik segera setelah makan.
  • Pada dugaan alergi gastrointestinal non-IgE, hasil pemeriksaan IgE sering tidak membantu untuk memastikan diagnosis.
  • Karena itu, pemeriksaan harus dipilih berdasarkan dugaan mekanisme penyakit.
  • Pemeriksaan alergi yang terlalu luas tanpa indikasi dapat menghasilkan banyak temuan yang tidak memiliki hubungan klinis dengan gejala anak.

Apa yang harus dilakukan orang tua?

  • Orang tua dapat membuat catatan sederhana mengenai makanan dan gejala anak.
  • Catat makanan yang dikonsumsi.
  • Catat waktu makan.
  • Catat kapan gejala muncul.
  • Catat jenis gejala.
  • Catat berapa lama gejala berlangsung.
  • Catat berat badan secara berkala bila dokter memang sedang memantau pertumbuhan.
  • Catatan tersebut dapat membantu dokter melihat pola yang mungkin sulit dikenali hanya dari ingatan.
  • Namun, orang tua sebaiknya tidak menghilangkan banyak makanan sekaligus tanpa alasan yang jelas.

Tujuan terapi bukan sekadar menghindari makanan

  • Pada alergi makanan gastrointestinal, terapi memiliki beberapa tujuan.
  • Mengendalikan gejala.
  • Memastikan anak mendapat nutrisi yang cukup.
  • Mempertahankan variasi makanan sebanyak mungkin.
  • Memantau pertumbuhan.
  • Menilai apakah alergi masih ada.
  • Menentukan kapan makanan dapat diperkenalkan kembali.
  • Karena sebagian anak dapat mengalami toleransi, evaluasi ulang menjadi bagian penting dari perawatan.

Pesan penting untuk orang tua

  • Alergi makanan dapat terjadi tanpa bentol atau sesak.
  • Gejala alergi makanan dapat terutama muncul dari saluran cerna.
  • Hasil skin prick test dan IgE spesifik yang negatif tidak otomatis menyingkirkan alergi non-IgE.
  • Hasil tes positif juga tidak otomatis berarti anak alergi secara klinis.
  • Muntah, diare, sembelit, kembung, darah pada tinja, atau sulit makan memiliki banyak kemungkinan penyebab.
  • Eliminasi makanan harus dilakukan secara terarah.
  • Semakin banyak makanan yang dihindari, semakin besar perhatian yang diperlukan terhadap kecukupan nutrisi.
  • Oral food challenge dapat membantu memastikan hubungan antara makanan dan gejala pada kondisi tertentu.
  • Sebagian alergi makanan pada anak dapat mengalami toleransi sehingga evaluasi ulang tetap diperlukan.

Penutup

  • Alergi makanan gastrointestinal merupakan kondisi yang sering membingungkan karena gejalanya dapat menyerupai berbagai penyakit saluran cerna pada anak.
  • Kunci diagnosis bukan sekadar mencari hasil tes alergi. Dokter perlu melihat pola gejala, hubungan dengan makanan, waktu munculnya reaksi, respons terhadap eliminasi, kondisi pertumbuhan, serta kemungkinan penyakit lain.
  • Pada alergi non-IgE, pemeriksaan IgE dapat tetap negatif. Karena itu, pendekatan klinis menjadi sangat penting.
  • Eliminasi makanan dapat membantu mengendalikan gejala, tetapi tidak seharusnya dilakukan tanpa tujuan yang jelas. Anak tetap membutuhkan makanan yang cukup, beragam, dan sesuai kebutuhan pertumbuhan.
  • Pada saat yang tepat, makanan yang sebelumnya dihindari perlu dievaluasi kembali. Oral food challenge dapat menjadi bagian penting untuk menentukan apakah anak masih bereaksi atau sudah mencapai toleransi.
  • Tujuan akhir penanganan alergi makanan pada anak bukan membuat daftar makanan yang semakin panjang untuk dihindari. Tujuannya adalah memastikan anak dapat makan dengan aman, memperoleh nutrisi yang cukup, tumbuh dengan baik, dan mendapatkan kembali makanan yang sudah dapat ditoleransi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *