- REVIEW ARTIKEL ILMIAH
- Kesulitan Makan pada Anak dengan Dugaan Alergi Makanan Saluran Cerna Non-IgE: Tinjauan Kritis terhadap Studi Observasional
1. Identitas Artikel
- Judul asli: Assessing Feeding Difficulties in Children Presenting with Non-IgE-Mediated Gastrointestinal Food Allergies—A Commonly Reported Problem
- Penulis: Chebar-Lozinsky A, De Koker C, Dziubak R, Rolnik DL, Godwin H, Dominguez-Ortega G, Skrapac AK, Gholmie Y, Reeve K, Shah N, Meyer R.
- Jurnal: Nutrients. 2024;16(11):1563.
- Tanggal publikasi: 22 Mei 2024.
- DOI: https://doi.org/10.3390/nu16111563
2. Abstrak Review
- Kesulitan makan merupakan masalah klinis yang dapat ditemukan pada anak dengan dugaan alergi makanan saluran cerna yang tidak terutama diperantarai imunoglobulin E (non-IgE). Penelitian Chebar-Lozinsky dan kolega bertujuan menilai prevalensi kesulitan makan serta hubungannya dengan gejala gastrointestinal dan indikator pertumbuhan pada kelompok anak yang menjalani evaluasi alergi makanan di rumah sakit rujukan anak di London, Inggris.
- Dari 131 anak yang direkrut, sebanyak 114 orang tua menyelesaikan kuesioner kesulitan makan. Sebanyak 61 anak (53,5%) dilaporkan mengalami kesulitan makan. Keluhan yang sering ditemukan meliputi penolakan makanan, durasi makan yang panjang, dan kesulitan menerima tekstur makanan. Sembelit dan muntah secara statistik lebih sering dilaporkan pada kelompok anak dengan kesulitan makan. Kelompok ini juga memiliki skor tinggi badan menurut umur yang lebih rendah, sementara beberapa indikator antropometri lainnya tidak menunjukkan perbedaan bermakna.
- Penelitian ini menunjukkan bahwa kesulitan makan perlu menjadi bagian dari penilaian klinis anak dengan dugaan alergi makanan saluran cerna. Namun, desain observasional, penggunaan kuesioner yang belum tervalidasi, dan karakteristik populasi rumah sakit rujukan membatasi penarikan kesimpulan kausal dan generalisasi hasil.
- Kata kunci: kesulitan makan, alergi makanan non-IgE, sembelit, muntah, pertumbuhan anak, gangguan makan pediatrik.
- 3. Pendahuluan
- Kesulitan makan pada anak mencakup berbagai masalah, seperti menolak makanan, makan dalam waktu lama, menerima jenis atau tekstur makanan yang sangat terbatas, dan mengalami refleks muntah saat makan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kecukupan asupan gizi, interaksi anak dengan pengasuh selama waktu makan, serta pemantauan pertumbuhan.
- Pada anak dengan gangguan gastrointestinal, kesulitan makan dapat terjadi bersamaan dengan gejala seperti sembelit dan muntah. Salah satu kemungkinan yang perlu dievaluasi adalah alergi makanan saluran cerna non-IgE. Akan tetapi, gejala-gejala tersebut tidak spesifik untuk alergi dan dapat ditemukan pada berbagai kondisi lain.
- Artikel yang ditinjau berupaya memperjelas seberapa sering kesulitan makan ditemukan pada anak yang sedang menjalani evaluasi dugaan alergi makanan non-IgE serta apakah terdapat hubungan antara kesulitan makan, gejala gastrointestinal, dan indikator pertumbuhan.
- 4. Tujuan Penelitian
- Tujuan utama penelitian adalah mengidentifikasi frekuensi kesulitan makan pada anak dengan dugaan alergi makanan saluran cerna non-IgE. Peneliti juga mengevaluasi bentuk kesulitan makan yang dilaporkan, hubungan dengan gejala gastrointestinal, serta kemungkinan keterkaitan dengan karakteristik anak dan indikator pertumbuhan.
- 5. Metode Penelitian
- Penelitian dilakukan di Great Ormond Street Hospital for Children NHS Foundation Trust, London, Inggris. Populasi penelitian terdiri atas anak berusia 4 minggu hingga 16 tahun yang menjalani evaluasi karena dugaan alergi makanan saluran cerna non-IgE. Penilaian dilakukan dalam konteks diet eliminasi diagnostik.
- Dari 131 anak yang direkrut, 114 orang tua menyelesaikan kuesioner kesulitan makan. Gejala dinilai menggunakan skor berbasis skala Likert yang dimodifikasi. Peneliti kemudian membandingkan karakteristik anak yang mengalami kesulitan makan dengan anak yang tidak mengalami kesulitan makan, termasuk gejala gastrointestinal dan indikator pertumbuhan.
- Penelitian ini merupakan studi observasional. Dengan demikian, analisisnya dapat mengidentifikasi pola hubungan antarvariabel, tetapi tidak dapat memastikan bahwa satu gejala menyebabkan gejala lainnya.
6. Hasil Penelitian
6.1. Frekuensi dan bentuk kesulitan makan
-
- Sebanyak 61 dari 114 anak (53,5%) mengalami kesulitan makan berdasarkan laporan orang tua. Masalah yang sering ditemukan adalah penolakan makanan secara berulang (26,9%), durasi makan yang panjang (26,7%), dan refleks muntah ketika menghadapi tekstur makanan (26,5%).
- Dari 61 anak yang mengalami kesulitan makan, 40 anak memiliki sedikitnya dua jenis kesulitan, sedangkan delapan anak mengalami sedikitnya empat jenis kesulitan. Hasil ini memperlihatkan bahwa masalah makan dapat melibatkan beberapa aspek sekaligus, bukan hanya penolakan makanan.
Hubungan dengan gejala gastrointestinal
| Gejala | Dengan kesulitan makan | Tanpa kesulitan makan | Nilai p |
|---|---|---|---|
| Sembelit | 60,7% | 35,8% | 0,008 |
| Muntah | 63,9% | 41,5% | 0,017 |
Kedua perbedaan tersebut bermakna secara statistik menurut ambang konvensional p<0,05. Artinya, dalam sampel penelitian ini, sembelit dan muntah lebih sering ditemukan pada anak dengan kesulitan makan. Namun, hasil tersebut tidak membuktikan bahwa gejala gastrointestinal tersebut disebabkan oleh alergi atau secara langsung menyebabkan kesulitan makan.
- 6.3. Hubungan dengan pertumbuhan
- Anak dengan kesulitan makan memiliki skor tinggi badan menurut umur yang lebih rendah secara statistik (p=0,049). Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada skor berat badan menurut umur, indeks massa tubuh menurut umur, maupun berat badan menurut tinggi badan.
- Nilai p=0,049 menunjukkan hasil yang berada dekat ambang signifikansi statistik. Oleh karena itu, temuan ini sebaiknya ditafsirkan secara hati-hati dan tidak dianggap sebagai bukti bahwa kesulitan makan menyebabkan gangguan pertumbuhan.
- 6.4. Faktor yang berkaitan dengan kesulitan makan
- Analisis peneliti menemukan hubungan antara kesulitan makan dengan usia dalam pola kuadratik serta skor gejala awal. Jenis kelamin dan jumlah makanan yang dihindari tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dalam analisis tersebut. Hasil ini tidak berarti bahwa faktor-faktor tersebut tidak pernah relevan pada anak secara individual, melainkan bahwa hubungan yang diuji tidak terbukti bermakna dalam sampel penelitian ini.
- 7. Pembahasan Kritis
- 7.1. Makna klinis kesulitan makan
- Temuan utama penelitian ini adalah bahwa kesulitan makan sering dilaporkan pada kelompok anak yang dievaluasi karena dugaan alergi makanan saluran cerna non-IgE. Hal tersebut mendukung pentingnya menanyakan kebiasaan makan secara sistematis ketika mengevaluasi anak dengan keluhan gastrointestinal.
- Dalam praktik klinis, anak yang menolak makanan mungkin mengalami ketidaknyamanan saat makan, mempunyai keterbatasan keterampilan mengunyah atau menerima tekstur, atau menghadapi faktor perilaku dan lingkungan yang memengaruhi waktu makan. Pada sebagian anak, pengalaman gastrointestinal yang tidak menyenangkan dapat menjadi salah satu kemungkinan yang berkontribusi terhadap penolakan makanan. Akan tetapi, mekanisme ini tidak dibuktikan secara langsung oleh penelitian tersebut.
- 7.2. Interpretasi hubungan sembelit dan muntah
- Hubungan yang ditemukan antara kesulitan makan dengan sembelit dan muntah memiliki relevansi klinis. Anak dengan keluhan tersebut perlu dinilai lebih lanjut untuk menentukan apakah terdapat gangguan pencernaan yang memengaruhi kenyamanan makan.
- Namun, hubungan tersebut bersifat dua arah atau multifaktorial secara teoritis: gangguan pencernaan dapat menyertai kesulitan makan, sementara pola makan yang terbatas juga dapat mempersulit pemenuhan kebutuhan serat dan cairan. Penelitian ini tidak dapat menentukan arah hubungan tersebut. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa sembelit atau muntah pada anak otomatis merupakan manifestasi alergi makanan.
- 7.3. Hubungan dengan pertumbuhan
- Skor tinggi badan menurut umur yang lebih rendah pada kelompok dengan kesulitan makan menegaskan perlunya memperhatikan pertumbuhan. Meski demikian, tidak ditemukannya perbedaan bermakna pada indikator antropometri lainnya menunjukkan bahwa hasil pertumbuhan dalam penelitian ini tidak seragam.
- Evaluasi klinis tetap perlu mengacu pada pengukuran berat dan tinggi badan serial, kurva pertumbuhan yang sesuai, kecukupan asupan, dan kondisi kesehatan anak. Temuan satu studi tidak cukup untuk menetapkan penyebab pertumbuhan yang kurang optimal pada pasien individual.
- 8. Kekuatan dan Keterbatasan Penelitian
- Kekuatan penelitian adalah fokusnya pada masalah makan yang dapat terlewat ketika evaluasi hanya berpusat pada gejala gastrointestinal. Penelitian juga membandingkan kelompok anak dengan dan tanpa kesulitan makan serta menilai beberapa indikator klinis yang relevan.
- Keterbatasan penelitian meliputi penggunaan kuesioner kesulitan makan yang belum tervalidasi, ketergantungan pada laporan orang tua, rentang usia peserta yang luas, dan pengambilan sampel di rumah sakit rujukan. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi ketepatan pengukuran dan keterwakilan hasil pada populasi umum.
- Selain itu, diagnosis dilakukan dalam konteks diet eliminasi dan penilaian gejala. Uji tantangan makanan tersamar ganda dengan plasebo merupakan standar rujukan untuk mengonfirmasi alergi makanan dalam situasi yang sesuai, tetapi penerapannya dapat sulit, khususnya pada gejala yang muncul terlambat. Karena penelitian ini berfokus pada kelompok dengan dugaan alergi, hasilnya tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa semua peserta mengalami alergi yang telah terkonfirmasi.
- 9. Implikasi untuk Praktik Klinis
- Hasil penelitian mendukung perlunya memasukkan penilaian kesulitan makan ke dalam evaluasi anak dengan dugaan alergi makanan saluran cerna. Penilaian sebaiknya mencakup jenis makanan yang diterima atau ditolak, durasi makan, kemampuan menerima tekstur, gejala gastrointestinal, serta pola pertumbuhan.
- Jika alergi makanan dicurigai, keputusan eliminasi makanan harus didasarkan pada riwayat klinis dan evaluasi yang sesuai. Pantangan makanan yang luas tanpa indikasi jelas dapat mengurangi variasi makanan dan meningkatkan risiko kekurangan zat gizi. Pada anak dengan kesulitan makan menetap, penilaian kemampuan makan, kecukupan nutrisi, dan faktor perkembangan juga perlu dipertimbangkan.
- Penelitian ini tidak mendukung penggunaan kesulitan makan, sembelit, atau muntah sebagai alat diagnosis tunggal alergi makanan. Temuan klinis tersebut merupakan alasan untuk melakukan evaluasi lebih lanjut, bukan pengganti diagnosis.
- 10. Kesimpulan Review
- Penelitian Chebar-Lozinsky dan kolega menunjukkan bahwa kesulitan makan sering dilaporkan pada anak yang sedang dievaluasi karena dugaan alergi makanan saluran cerna non-IgE. Kesulitan makan ditemukan pada 53,5% peserta yang orang tuanya menyelesaikan kuesioner dan lebih sering ditemukan bersamaan dengan sembelit serta muntah. Kelompok dengan kesulitan makan juga memiliki skor tinggi badan menurut umur yang lebih rendah, tanpa perbedaan bermakna pada beberapa indikator pertumbuhan lainnya.
- Secara keseluruhan, artikel ini memberikan alasan untuk menilai masalah makan secara lebih sistematis pada anak dengan keluhan gastrointestinal. Namun, sifat observasional penelitian dan keterbatasan pengukurannya mengharuskan interpretasi yang berhati-hati. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan, bukan sebab-akibat, dan tidak membuktikan bahwa kesulitan makan pada anak umumnya disebabkan oleh alergi makanan.
Penilaian akhir:
artikel ini relevan untuk meningkatkan kewaspadaan klinis terhadap kesulitan makan, tetapi hasilnya perlu dilengkapi dengan penelitian lanjutan menggunakan instrumen tervalidasi dan metode diagnostik alergi yang lebih kuat.
- Referensi
- Chebar-Lozinsky A, De Koker C, Dziubak R, Rolnik DL, Godwin H, Dominguez-Ortega G, Skrapac AK, Gholmie Y, Reeve K, Shah N, Meyer R. Assessing Feeding Difficulties in Children Presenting with Non-IgE-Mediated Gastrointestinal Food Allergies—A Commonly Reported Problem. Nutrients. 2024;16(11):1563. Published May 22, 2024. https://doi.org/10.3390/nu16111563








Leave a Reply