- Overdiagnosis Tuberkulosis pada Anak: Kemiripan Gejala TB dengan Alergi, Gangguan Pencernaan, dan Gangguan Pertumbuhan
- dr Sandiaz Yudhasmara, Dr Widodo Judarwanto, pediatrician
Overdiagnosis tuberkulosis (TB) pada anak merupakan masalah klinis yang dapat menyebabkan pemberian obat antituberkulosis tanpa indikasi yang cukup dan menunda penemuan penyebab sebenarnya. Sejumlah gejala yang sering mendorong kecurigaan TB, seperti berat badan sulit naik, kesulitan makan, batuk berulang, pembesaran kelenjar getah bening, dan infiltrat pada foto toraks, tidak bersifat spesifik untuk TB. Pada sebagian anak, keluhan tersebut dapat berkaitan dengan gangguan nutrisi, penyakit saluran napas berulang, alergi makanan, gangguan saluran cerna, atau kombinasi beberapa kondisi. Kecurigaan terhadap TB perlu dinilai secara cermat, terutama pada anak tanpa riwayat kontak erat dengan pasien TB menular, yang tetap aktif, serta menunjukkan gejala gastrointestinal seperti konstipasi, diare berulang, mual, muntah, dan manifestasi alergi pada organ lain. Evaluasi perlu mencakup riwayat klinis, pemeriksaan fisik, penilaian status pertumbuhan, pemeriksaan bakteriologis atau molekuler bila memungkinkan, dan interpretasi pencitraan sesuai konteks klinis. Pada anak dengan dugaan alergi makanan, eliminasi makanan yang dicurigai dan oral food challenge (OFC) terencana di bawah pengawasan dokter dapat membantu menilai hubungan antara makanan dan gejala. Perbaikan keluhan serta kenaikan berat badan selama pemantauan dapat mendukung hipotesis alternatif, tetapi tidak cukup untuk menyingkirkan TB secara mandiri. Artikel ini membahas pentingnya diagnosis banding yang sistematis untuk mengurangi kesalahan diagnosis dan memastikan anak memperoleh penanganan sesuai penyebab penyakitnya.
- Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan penting pada anak di Indonesia. Namun, dokter juga perlu mewaspadai kemungkinan overdiagnosis, yaitu penetapan diagnosis TB ketika bukti yang tersedia belum cukup mendukung penyakit tersebut. Gejala seperti batuk berkepanjangan, berat badan sulit naik, gangguan pertumbuhan, pembesaran kelenjar getah bening, dan kelainan pada foto toraks dapat meningkatkan kecurigaan terhadap TB. Akan tetapi, gejala tersebut tidak selalu spesifik. Penelitian Singini dan kolega pada 2025 menunjukkan bahwa evaluasi ulang terhadap pasien yang sebelumnya didiagnosis TB secara klinis menemukan ketidaksesuaian antara diagnosis awal dan hasil pemeriksaan lanjutan. Studi tersebut dilakukan pada pasien berusia 15 tahun ke atas di Zambia, sehingga hasilnya tidak dapat langsung diterapkan sebagai angka kejadian overdiagnosis pada anak. Temuannya tetap menunjukkan pentingnya pemeriksaan diagnostik yang memadai dan penilaian ulang terhadap diagnosis yang meragukan.
- Pada anak, tantangan diagnosis menjadi lebih besar karena manifestasi TB dapat tidak khas dan pemeriksaan bakteriologis sering lebih sulit dilakukan dibandingkan pada orang dewasa. Di sisi lain, gangguan pertumbuhan dan kesulitan makan dapat muncul akibat beragam kondisi, termasuk kekurangan asupan energi, penyakit kronis, gangguan saluran cerna, alergi makanan, dan penyakit saluran napas. Alergi makanan dapat menimbulkan gejala kulit dan gastrointestinal, sedangkan alergi saluran napas dapat berkaitan dengan batuk, mengi, atau rinitis. Kondisi tersebut perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding, tetapi tidak dapat dianggap sebagai penyebab semua gejala yang menyerupai TB.
- Artikel ini menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap anak dengan berat badan sulit naik, kesulitan makan, batuk berulang, atau temuan radiologis yang meragukan. Riwayat kontak erat dengan pasien TB menular, perjalanan gejala, pemeriksaan fisik, pertumbuhan, hasil pemeriksaan molekuler, dan interpretasi foto toraks perlu dinilai bersama. Tujuannya ialah menghindari diagnosis TB yang tidak tepat tanpa meningkatkan risiko terlewatnya TB yang benar-benar ada.
Mengapa overdiagnosis TB dapat terjadi pada anak?
- Overdiagnosis dapat muncul ketika dokter terlalu mengandalkan satu atau dua temuan klinis tanpa menilai keseluruhan kondisi anak. Berat badan sulit naik, batuk berulang, pembesaran kelenjar getah bening, dan infiltrat pada foto toraks memang dapat ditemukan pada TB. Namun, masing-masing temuan memiliki kemungkinan penyebab lain. Foto toraks yang menunjukkan infiltrat tidak secara otomatis membuktikan infeksi TB aktif. Penelitian Singini dan kolega memperlihatkan pentingnya menilai ulang interpretasi foto toraks serta mengupayakan pemeriksaan bakteriologis untuk mengurangi kesalahan diagnosis.
Pada anak, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko salah diagnosis:
- Gejala umum seperti berat badan sulit naik dan batuk berulang dianggap cukup untuk menetapkan TB
- Temuan foto toraks yang tidak spesifik ditafsirkan sebagai infiltrat TB tanpa mempertimbangkan diagnosis banding
- Riwayat kontak dengan pasien TB menular tidak digali secara memadai
- Pemeriksaan molekuler atau mikrobiologis tidak dilakukan ketika tersedia, atau hasil negatif tidak dievaluasi dalam konteks klinis yang tepa
- Gangguan nutrisi, alergi, penyakit saluran napas, dan gangguan pencernaan tidak diperiksa secara sistematis.
- WHO menekankan perlunya penggunaan pemeriksaan diagnostik yang sesuai dan interpretasi hasil berdasarkan kondisi pasien. Pada anak, dokter tetap dapat menetapkan TB secara klinis ketika bukti bakteriologis tidak tersedia atau tidak ditemukan, tetapi keputusan tersebut harus didukung penilaian klinis yang menyeluruh.
Kemiripan gejala TB dengan alergi dan gangguan pencernaan
- Alergi makanan dan TB merupakan dua kondisi berbeda. Keduanya dapat muncul dengan beberapa keluhan yang tampak serupa, terutama gangguan pertumbuhan dan penurunan asupan makanan. Namun, mekanisme penyakitnya berbeda sehingga dokter perlu mengidentifikasi pola gejala yang lebih khas.
| Gejala | Pertimbangan TB | Pertimbangan alergi atau kondisi lain |
|---|---|---|
| Berat badan sulit naik | TB dapat menyebabkan peradangan kronis dan penurunan nafsu makan | Asupan energi kurang, kesulitan makan, gangguan penyerapan, atau alergi makanan dengan gejala saluran cerna |
| Kesulitan makan | Dapat menyertai penyakit kronis | Dapat berkaitan dengan nyeri perut, mual, muntah, konstipasi, atau masalah perilaku makan |
| Batuk berulang | Dapat terjadi pada TB paru | Dapat berkaitan dengan asma, rinitis dengan gejala saluran napas atas, infeksi berulang, atau penyakit paru lain |
| Pembesaran kelenjar | Dapat ditemukan pada TB kelenjar | Dapat terjadi akibat infeksi lain dan sejumlah kondisi inflamasi |
| Infiltrat pada foto toraks | Dapat mendukung kecurigaan TB sesuai pola dan konteks klinis | Dapat muncul pada pneumonia dan berbagai penyakit paru lain |
| Konstipasi, diare, mual, muntah | Dapat muncul pada TB tertentu, tetapi bukan penanda spesifik TB paru | Dapat berkaitan dengan gangguan pencernaan, alergi makanan tertentu, infeksi, atau masalah nutrisi |
Tabel ini membantu menyusun diagnosis banding, bukan menentukan diagnosis hanya dari gejala. Alergi makanan juga tidak dapat disimpulkan hanya dari konstipasi, batuk, atau berat badan sulit naik.
Peran riwayat kontak dan kondisi umum anak
- Riwayat kontak erat dengan pasien TB menular merupakan informasi penting dalam menilai kemungkinan TB pada anak. Tidak ditemukannya kontak erat dapat menurunkan kecurigaan dalam konteks tertentu, tetapi tidak menyingkirkan TB. Penularan dapat terjadi dari sumber yang belum diketahui atau tidak teridentifikasi.
- Anak yang tetap aktif, tidak menunjukkan penurunan kondisi umum, dan mengalami keluhan berfluktuasi mungkin memerlukan evaluasi terhadap penyebab lain. Namun, aktivitas yang baik tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menyingkirkan TB. Demikian pula, anak dengan gangguan pertumbuhan konstitusional atau riwayat keluarga bertubuh kecil tetap perlu menjalani penilaian kurva pertumbuhan, asupan nutrisi, dan tanda penyakit kronis.
- Dokter sebaiknya memeriksa apakah berat badan mengikuti pola pertumbuhan sebelumnya atau mulai menyimpang dari kurva. Pengukuran tinggi badan, berat badan, indeks massa tubuh sesuai usia, dan kecepatan pertumbuhan membantu membedakan variasi pertumbuhan individual dari gangguan pertumbuhan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Alergi makanan dan evaluasi gangguan pencernaan
- Pada anak dengan berat badan sulit naik dan kesulitan makan, dokter perlu menggali gejala pencernaan seperti konstipasi, diare berulang, mual, muntah, nyeri perut, serta hubungan keluhan dengan makanan tertentu. Gejala kulit, rinitis, mengi, dan riwayat alergi keluarga juga dapat membantu mengarahkan pemeriksaan.
- Jika terdapat dugaan alergi makanan, dokter dapat mempertimbangkan eliminasi makanan yang dicurigai dalam jangka waktu terencana, diikuti oral food challenge (OFC) apabila aman dan sesuai indikasi. OFC membantu menentukan apakah konsumsi makanan tertentu benar-benar memicu gejala. Pada anak dengan riwayat reaksi alergi berat atau dugaan alergi yang berisiko menimbulkan reaksi sistemik, OFC harus berlangsung dalam pengawasan medis yang sesuai.
- Perbaikan gejala setelah eliminasi makanan dapat mendukung dugaan hubungan antara makanan dan keluhan. Namun, perbaikan tersebut tidak membuktikan bahwa semua gejala berasal dari alergi, terutama jika beberapa intervensi dilakukan bersamaan. Dokter juga perlu memastikan bahwa diet eliminasi tidak mengurangi asupan energi, protein, kalsium, vitamin, dan zat gizi penting lainnya.
Apakah kenaikan berat badan setelah 1 sampai 3 minggu dapat menyingkirkan TB?
- Kenaikan berat badan sekitar 200 sampai 250 gram per minggu selama intervensi nutrisi atau evaluasi alergi dapat menjadi temuan yang bermanfaat. Jika kenaikan tersebut disertai perbaikan nafsu makan, konstipasi, muntah, atau keluhan lain, perubahan itu dapat mendukung adanya faktor yang sebelumnya mengganggu asupan makanan atau pertumbuhan.
- Namun, kenaikan berat badan dalam 1 sampai 3 minggu tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa TB telah tersingkirkan. Anak dengan TB dapat tetap mengalami kenaikan berat badan sementara, termasuk ketika mendapat dukungan nutrisi. Sebaliknya, anak tanpa TB belum tentu langsung mengalami kenaikan berat badan meskipun pemicu gangguan makannya telah ditangani.
- Karena itu, evaluasi harus membandingkan kondisi sebelum dan sesudah intervensi, termasuk gejala, pengukuran antropometri, hasil pemeriksaan TB, dan perkembangan klinis. Bila kecurigaan TB tetap bermakna, dokter perlu melanjutkan pemeriksaan sesuai pedoman. Orang tua tidak boleh menghentikan atau menunda terapi TB yang telah diresepkan hanya berdasarkan perbaikan berat badan atau respons terhadap eliminasi makanan.
Pendekatan klinis untuk mengurangi overdiagnosis
- Pendekatan yang lebih sistematis dapat dilakukan melalui langkah berikut.
-
- Menilai riwayat penyakit, durasi batuk, demam, keringat malam, perubahan aktivitas, riwayat kontak TB, dan perjalanan berat badan.
- Memeriksa kurva pertumbuhan, status gizi, kelenjar getah bening, sistem pernapasan, serta tanda penyakit sistemik.
- Menilai foto toraks berdasarkan pola kelainan, kualitas gambar, dan kemungkinan diagnosis banding.
- Mengupayakan pemeriksaan molekuler cepat atau pemeriksaan mikrobiologis yang sesuai dengan usia dan lokasi penyakit jika tersedia.
- Mengevaluasi penyakit lain yang dapat menjelaskan gejala, termasuk gangguan nutrisi, penyakit saluran napas, gangguan pencernaan, dan alergi makanan bila terdapat indikasi.
- Melakukan penilaian ulang bila hasil pemeriksaan tidak sesuai dengan diagnosis awal atau perjalanan klinis anak tidak sesuai dengan perkiraan
- WHO memperbarui pedoman diagnosis TB pada 2025 untuk memperkuat penggunaan teknologi diagnostik dan strategi pemeriksaan yang sesuai dengan kelompok pasien.
-
Kesimpulan
- Overdiagnosis TB pada anak dapat terjadi ketika gejala yang tidak spesifik dan temuan foto toraks dianggap cukup untuk menetapkan diagnosis tanpa evaluasi diagnosis banding yang memadai. Gangguan pertumbuhan, kesulitan makan, batuk berulang, dan kelainan radiologis dapat ditemukan pada TB, tetapi juga dapat berkaitan dengan penyakit lain. Alergi makanan perlu dipertimbangkan apabila anak menunjukkan pola gejala pencernaan dan manifestasi alergi yang relevan.
- Evaluasi alergi melalui eliminasi terencana dan OFC yang diawasi dokter dapat membantu mengidentifikasi penyebab keluhan tertentu. Kenaikan berat badan dan perbaikan gejala setelah intervensi merupakan informasi klinis yang penting, tetapi tidak dapat menggantikan pemeriksaan TB atau membuktikan bahwa TB tidak ada. Tujuan utama pendekatan ini ialah memastikan setiap anak mendapat diagnosis yang tepat, menghindari terapi yang tidak diperlukan, dan tetap memperoleh pengobatan segera jika TB benar-benar ditemukan.
Daftar pustaka
- 1. Singini DS, Sanjase N, Kagujje M, Shatalimi J, Chisanga CP, Lupatali ZD, Phiri D, Tatila T, Olwit W, Kerkhoff AD, Muyoyeta M. Clinical diagnosis of TB: lessons on misdiagnosis and overdiagnosis. Public Health Action. 2025;15(2):93-95. doi: 10.5588/pha.25.0012. PMID: 40487465. PMCID: PMC12143245.
- 2. Harries AD. Clinical diagnosis of TB: further examples of under- and over-diagnosis. Public Health Action. 2025;15(3):140-141. doi: 10.5588/pha.25.0023. PMID: 40936972. PMCID: PMC12421822.
- 3. Adamson JD. Over-Diagnosis of Pulmonary Tuberculosis. Can Med Assoc J. 1924;14(7):610-613. PMID: 20315035. PMCID: PMC1707744.
- 4. Neshati H, Sheybani F, Naderi H, Sarvghad M, Soltani AK, Efterkharpoor E, Nooghabi MJ. Diagnostic Errors in Tuberculous Patients: A Multicenter Study from a Developing Country. J Environ Public Health. 2018;2018:1975931. doi: 10.1155/2018/1975931. PMID: 30538752. PMCID: PMC6260540.
- 5. World Health Organization. WHO consolidated guidelines on tuberculosis. Module 3: diagnosis. Geneva: WHO; 2025. Pedoman resmi WHO.









Leave a Reply