- Anak Alergi Makanan Lebih Rentan Sulit Makan? Ini Temuan Review Jurnal Terbaru 2026
- Review ilmiah populer | Alergi anak, kesehatan pencernaan, nutrisi, dan tumbuh kembang
- Widodo Judarwanto
- Anak yang sulit makan, hanya mau makanan tertentu, sering menolak makanan, atau berat badannya sulit naik tidak selalu sekadar mengalami picky eating. Pada sebagian anak, kesulitan makan dapat berkaitan dengan masalah medis, termasuk penyakit saluran cerna dan alergi makanan. Hal inilah yang menjadi perhatian dalam sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam jurnal Clinical & Experimental Allergy pada 2026.
- Artikel berjudul Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review ditulis oleh Marianne Louise Tomlin dan kolega, serta diterbitkan dalam volume 56, nomor 9, halaman 1117–1124. Penelitian ini menelaah prevalensi kesulitan makan pada anak dengan alergi makanan yang tidak terutama diperantarai antibodi imunoglobulin E (non-IgE). Baca artikel asli melalui DOI.
1. Seberapa sering kesulitan makan ditemukan pada anak dengan alergi makanan?
- Peneliti menelusuri empat basis data ilmiah, yaitu MEDLINE, Embase, Emcare, dan Scopus, hingga 17 September 2025. Dari 10.681 rekaman awal, sebanyak 17 artikel memenuhi kriteria untuk dianalisis.
- Hasilnya menunjukkan bahwa prevalensi kesulitan makan pada anak dengan alergi makanan bervariasi antara 13,6% dan 86,2%. Pada penelitian yang secara khusus menilai alergi non-IgE, prevalensinya berkisar 22%–59,3%. Angka tersebut merupakan rentang hasil dari berbagai penelitian, bukan satu angka prevalensi yang berlaku bagi semua anak.
- Artinya, kesulitan makan merupakan masalah yang patut diperhatikan pada anak dengan alergi makanan. Namun, hasil ini tidak berarti bahwa semua anak yang sulit makan mengalami alergi atau bahwa alergi merupakan penyebab utama picky eating. Lihat abstrak dan identitas publikasi di PubMed.
2. Mengapa alergi makanan dapat berkaitan dengan kesulitan makan?
- Alergi makanan non-IgE melibatkan respons imun terhadap protein makanan yang tidak terutama dimediasi oleh antibodi IgE. Manifestasinya bergantung pada jenis penyakit dan dapat melibatkan saluran cerna.
- Pada sebagian anak, gangguan saluran cerna dapat menimbulkan muntah, nyeri, atau ketidaknyamanan ketika makan. Pengalaman yang berulang dapat membuat anak menghindari makanan tertentu, menolak tekstur tertentu, makan dalam waktu lama, atau hanya mau mengonsumsi makanan yang dianggap lebih mudah diterima.
- Hubungan ini dapat membentuk lingkaran masalah: gangguan saluran cerna mengganggu pengalaman makan, penolakan makan mengurangi asupan nutrisi, dan asupan yang tidak memadai berpotensi menghambat pertumbuhan. Meski demikian, mekanisme tersebut tidak terjadi pada setiap anak dan perlu dinilai berdasarkan kondisi klinis masing-masing.
3. Eosinophilic esophagitis: salah satu kondisi yang perlu dikenali
- Salah satu kelompok penyakit yang menonjol dalam review tersebut adalah eosinophilic esophagitis (EoE), yaitu penyakit inflamasi kronis pada esofagus yang berkaitan dengan respons imun terhadap antigen, termasuk antigen makanan.
- Pada anak, EoE dapat menimbulkan gejala yang berbeda menurut usia. Anak kecil mungkin menunjukkan muntah, penolakan makanan, kesulitan menerima tekstur, atau pertumbuhan yang kurang optimal. Anak yang lebih besar dapat mengalami kesulitan menelan, mengunyah makanan terlalu lama, sering minum untuk membantu menelan, atau mengalami makanan tersangkut.
- Gejala tersebut tidak boleh dianggap sebagai picky eating biasa tanpa evaluasi lebih lanjut. EoE memerlukan pemeriksaan medis khusus, termasuk endoskopi dan biopsi esofagus sesuai indikasi. Diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya dari keluhan sulit makan atau hasil tes alergi.
Tidak semua anak yang pilih-pilih makanan mengalami alergi
Pesan penting dari penelitian ini adalah perlunya membedakan beberapa masalah yang tampak serupa.
- Picky eating: anak cenderung memilih makanan tertentu, tetapi belum tentu memiliki penyakit medis.
- Aversi makan: anak menghindari makanan karena pengalaman tidak menyenangkan, faktor sensorik, atau penyebab lain.
- Gangguan keterampilan makan: anak mengalami kesulitan mengunyah, mengelola tekstur, atau menelan.
- Gangguan saluran cerna: konstipasi, refluks, atau penyakit lain dapat mengganggu kenyamanan makan.
- Alergi makanan: perlu dinilai berdasarkan riwayat klinis dan pemeriksaan yang sesuai, bukan hanya dari perilaku makan.
Kesulitan makan juga dapat disebabkan oleh faktor perkembangan, lingkungan, rutinitas keluarga, atau kombinasi beberapa faktor. Karena itu, menghubungkan semua masalah makan dengan alergi berisiko menghasilkan diagnosis yang keliru.
Bagaimana jika anak sulit makan, konstipasi, dan berat badan sulit naik?
- Kombinasi sulit makan, BAB keras, frekuensi BAB yang rendah, dan berat badan yang tidak berkembang sesuai harapan membutuhkan evaluasi menyeluruh. Dokter perlu menilai status pertumbuhan berdasarkan berat badan, tinggi badan, usia, jenis kelamin, dan kurva pertumbuhan, sekaligus mencari penyebab konstipasi dan kekurangan asupan.
- Alergi makanan dapat dipertimbangkan apabila riwayat klinis mendukung, terutama pada kasus tertentu yang tidak membaik dengan tata laksana standar. Namun, konstipasi saja bukan bukti alergi makanan.
- Jika alergi non-IgE dicurigai, dokter dapat merencanakan eliminasi makanan yang terarah untuk waktu terbatas, kemudian melakukan pengenalan kembali makanan atau oral food challenge (OFC) sesuai jenis dugaan alergi dan profil risiko anak. Perbaikan selama eliminasi perlu dievaluasi bersama hasil pengenalan kembali agar hubungan antara makanan dan gejala dapat dinilai lebih akurat.
- Diet eliminasi yang terlalu luas tanpa pengawasan juga berisiko mengurangi asupan energi, protein, kalsium, dan zat gizi lainnya. Dukungan dokter anak dan tenaga gizi sangat penting, khususnya pada anak yang sudah mengalami gangguan pertumbuhan.
- 6. Apa arti penelitian ini bagi orang tua dan tenaga kesehatan?
- Review ini mengingatkan bahwa kesulitan makan bukan sekadar persoalan kemauan anak atau cara orang tua memberikan makanan. Pada sebagian anak, masalah medis yang mendasari perlu dikenali agar penanganannya tepat.
- Orang tua sebaiknya berkonsultasi jika anak terus-menerus menolak makanan, hanya menerima jenis makanan yang sangat terbatas, mengalami muntah atau nyeri berulang, kesulitan menelan, konstipasi menetap, atau berat badannya sulit naik. Batuk atau tersedak saat makan dan makanan yang terasa tersangkut memerlukan perhatian khusus.
- Bagi tenaga kesehatan, temuan ini mendukung perlunya mengintegrasikan penilaian alergi, kesehatan saluran cerna, status nutrisi, dan keterampilan makan. Penanganan tidak cukup hanya dengan memberikan vitamin atau menyarankan anak agar lebih banyak makan apabila terdapat masalah medis yang belum teridentifikasi.
Kesimpulan
- Tinjauan sistematis Tomlin dan kolega menunjukkan bahwa kesulitan makan cukup sering dilaporkan pada anak dengan alergi makanan non-IgE, dengan EoE sebagai salah satu kondisi yang penting diperhatikan. Namun, variasi hasil antarpenelitian dan perbedaan metode diagnosis membatasi kesimpulan mengenai besarnya risiko pada setiap anak.
- Pesan utamanya: anak yang sulit makan perlu dinilai secara menyeluruh, bukan langsung dicap sebagai anak pemilih makanan dan bukan pula langsung didiagnosis alergi. Kenali kemungkinan penyebab medis, pastikan diagnosis melalui evaluasi yang tepat, jaga kecukupan nutrisi, dan lakukan intervensi sesuai masalah yang benar-benar terbukti.
Referensi utama
- Tomlin ML, Bendall C, Loke P, Bennett CJ. Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review. Clinical & Experimental Allergy. 2026;56(9):1117–1124. doi: 10.1111/cea.70367.








Leave a Reply