KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Ketika Anak Alergi Makanan Mulai Sulit Makan

 

Ketika Anak Alergi Makanan Mulai Sulit Makan

Masalah makan pada anak sering dianggap sekadar fase pilih-pilih makanan. Anak menolak makan, makan sangat lama, hanya mau makanan tertentu, atau muntah ketika mencoba makanan dengan tekstur berbeda. Namun pada sebagian anak dengan alergi makanan, persoalannya dapat lebih kompleks. Sebuah penelitian dari Great Ormond Street Hospital for Children di London menemukan bahwa masalah makan cukup sering ditemukan pada anak dengan alergi makanan saluran cerna yang tidak diperantarai IgE, yaitu jenis alergi yang gejalanya dapat muncul beberapa waktu setelah makanan dikonsumsi. Penelitian tersebut menemukan masalah makan pada 61 dari 114 anak yang orang tuanya menyelesaikan kuesioner, atau 53,5%. (PubMed Central (PMC))

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients pada 2024 tersebut melibatkan 131 anak berusia 4 minggu sampai 16 tahun. Sebanyak 114 orang tua, atau 87%, menyelesaikan kuesioner mengenai perilaku makan anak. Anak-anak tersebut dirawat di pusat rujukan anak dan termasuk kelompok yang menunjukkan perbaikan gejala setelah menjalani diet eliminasi. Karena penelitian dilakukan di rumah sakit rujukan khusus, angka 53,5% tidak dapat dianggap sebagai angka yang berlaku untuk semua anak dengan alergi makanan. Peneliti sendiri menyebut kemungkinan bahwa populasi tersebut mewakili kelompok anak dengan kondisi yang lebih berat. (PubMed Central (PMC))

Masalah makan yang ditemukan ternyata bukan hanya anak yang tidak mau makan. Keluhan yang paling sering adalah anak sering menolak makanan, sekitar 26,9%. Keluhan berikutnya adalah waktu makan yang sangat panjang, sekitar 26,7%. Sebanyak 26,5% mengalami masalah berupa tersedak atau refleks muntah ketika menghadapi makanan dengan tekstur tertentu. Dengan demikian, istilah feeding difficulties sebenarnya mencakup berbagai masalah dalam proses makan, bukan satu penyakit tertentu. (PubMed Central (PMC))

Yang menarik, sebagian besar anak yang mengalami masalah makan tidak hanya mempunyai satu keluhan. Sebanyak 40 dari 61 anak dengan masalah makan memiliki sedikitnya dua bentuk kesulitan makan. Bahkan delapan anak mengalami sedikitnya empat jenis masalah. Kondisi seperti ini penting diperhatikan karena semakin banyak hambatan yang muncul, semakin besar kemungkinan kegiatan makan menjadi pengalaman yang sulit bagi anak dan orang tua.

Penelitian tersebut juga menemukan hubungan antara masalah makan dengan beberapa gejala saluran cerna. Sembelit ditemukan pada 60,7% anak dengan masalah makan, dibandingkan 35,8% pada kelompok tanpa masalah makan. Muntah juga lebih sering ditemukan, yaitu 63,9% dibandingkan 41,5%. Perbedaan tersebut secara statistik bermakna. Namun hasil ini menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa sembelit atau muntah pasti menyebabkan anak sulit makan. (PubMed Central (PMC))

Bayangkan seorang anak yang berulang kali mengalami sakit perut, muntah, sembelit, atau merasa tidak nyaman setelah makan. Pengalaman tersebut dapat membuat waktu makan menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Anak kemudian mungkin mulai menolak makanan, makan lebih lambat, takut mencoba makanan baru, atau hanya memilih makanan yang dianggap aman. Ini merupakan salah satu mekanisme yang secara biologis dan perilaku masuk akal, tetapi penelitian tersebut tidak dirancang untuk membuktikan hubungan sebab akibat.

Masalah juga dapat muncul ketika terlalu banyak makanan harus dihindari. Pada alergi makanan, diet eliminasi memang dapat menjadi bagian penting dari penatalaksanaan pada kondisi tertentu. Namun jika banyak makanan dikeluarkan dari menu dalam waktu lama tanpa pengawasan yang baik, pilihan makanan anak menjadi semakin terbatas. Anak juga dapat lebih sedikit mengenal rasa dan tekstur makanan. EAACI mencatat bahwa keterbatasan paparan terhadap berbagai rasa dan tekstur berpotensi memengaruhi perkembangan kemampuan oral-motor dan sensorik yang diperlukan untuk makan. (Wiley Online Library)

Temuan dari London tersebut sejalan dengan laporan European Academy of Allergy and Clinical Immunology atau EAACI yang diterbitkan pada 2024. Dalam tinjauan sistematis terhadap penelitian mengenai masalah makan pada anak dengan alergi makanan, para peneliti menilai 2.059 abstrak dan akhirnya memasukkan 10 penelitian. Lima penelitian melaporkan prevalensi masalah makan antara 13,6% dan 40%. Angka penelitian berbeda-beda karena definisi dan alat penilaiannya juga berbeda. (EAACI)

Perbedaan angka antara 13,6%, 40%, dan 53,5% tidak berarti penelitian-penelitian tersebut saling bertentangan. Populasinya berbeda, jenis alerginya berbeda, cara menilai masalah makan berbeda, dan tempat penelitian juga berbeda. Dalam laporan EAACI ditemukan 12 istilah berbeda untuk menggambarkan masalah makan dan 11 alat penilaian yang berbeda. Karena heterogenitas tersebut, para peneliti tidak dapat melakukan meta-analisis untuk menghasilkan satu angka prevalensi yang berlaku secara umum. (Wiley Online Library)

Orang tua juga perlu membedakan masalah makan dengan sekadar picky eating. Pilih-pilih makanan ringan dapat menjadi bagian dari perkembangan normal anak. Anak kecil memang dapat menolak makanan tertentu atau membutuhkan waktu untuk menerima rasa dan tekstur baru. Namun perhatian lebih diperlukan apabila anak terus-menerus menolak makan, waktu makan sangat panjang, sering tersedak atau muntah ketika mencoba tekstur tertentu, jumlah makanan semakin sedikit, atau kegiatan makan mulai mengganggu pertumbuhan dan kehidupan keluarga.

Masalah makan juga tidak otomatis berarti anak mengalami gangguan makan seperti Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder atau ARFID. Diagnosis tersebut membutuhkan kriteria khusus dan penilaian profesional. Feeding difficulties merupakan istilah yang jauh lebih luas. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung memberi label psikologis kepada anak hanya karena anak sulit makan. Yang perlu dicari terlebih dahulu adalah mengapa anak mengalami kesulitan tersebut.

Pada anak dengan dugaan alergi makanan saluran cerna, evaluasi sebaiknya melihat anak secara keseluruhan. Dokter perlu mempertimbangkan gejala saluran cerna, pola makan, pertumbuhan, makanan yang dihindari, pengalaman anak saat makan, serta kemungkinan masalah oral-motor atau sensorik. Bila diperlukan, dokter dapat melibatkan ahli gizi, terapis okupasi, terapis wicara yang menangani feeding dan swallowing, atau tenaga kesehatan lain sesuai masalah yang ditemukan.

Pesan penting bagi orang tua adalah jangan menganggap anak sulit makan hanya sebagai anak yang keras kepala. Pada sebagian anak, penolakan makanan dapat menjadi tanda bahwa proses makan sedang dikaitkan dengan pengalaman yang tidak nyaman. Sebaliknya, jangan pula menganggap setiap picky eating sebagai akibat alergi makanan. Hubungan antara alergi dan masalah makan memang semakin banyak diteliti, tetapi bukti ilmiah saat ini masih memiliki keterbatasan. Yang dibutuhkan adalah penilaian individual, diagnosis yang tepat, diet eliminasi yang memiliki alasan medis, serta rencana pemantauan dan pengenalan kembali makanan yang sesuai.

Penelitian dari London dan laporan EAACI memberikan satu pesan yang sederhana bagi keluarga: kesehatan anak bukan hanya soal makanan apa yang boleh dan tidak boleh dimakan. Anak juga perlu belajar makan dengan nyaman, aman, beragam, dan sesuai tahap perkembangannya. Ketika alergi makanan dan masalah makan muncul bersamaan, keduanya perlu ditangani secara bersamaan. Tujuannya bukan sekadar menghilangkan gejala alergi, tetapi membantu anak kembali memiliki hubungan yang sehat dengan makanan dan mendukung tumbuh kembangnya secara optimal. (PubMed Central (PMC))

Referensi utama

  • Chebar-Lozinsky A, et al. Assessing Feeding Difficulties in Children Presenting with Non-IgE-Mediated Gastrointestinal Food Allergies-A Commonly Reported Problem. Nutrients. 2024;16(11):1563. doi:10.3390/nu16111563. (PubMed Central (PMC))
  • Hill SA, et al. Feeding difficulties in children with food allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatric Allergy and Immunology. 2024;35(4):e14119. doi:10.1111/pai.14119. (PubMed)
  • Jika diinginkan, artikel ini juga bisa dibuat lebih kuat sebagai reportase media kesehatan dengan gaya pembuka yang lebih menarik, tetapi tetap mempertahankan ketelitian ilmiahnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *