KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Alergi Makanan atau Intoleransi Makanan? Cara Membedakan Gejala, Mekanisme, Diagnosis, dan Penanganannya

Alergi Makanan atau Intoleransi Makanan? Cara Membedakan Gejala, Mekanisme, Diagnosis, dan Penanganannya

Abstrak

  • Reaksi simpang makanan atau adverse reactions to foods mencakup berbagai keluhan yang muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan tertentu. Reaksi tersebut tidak selalu disebabkan oleh alergi. Sebagian merupakan intoleransi makanan yang tidak melibatkan mekanisme imunologis, sedangkan sebagian lainnya merupakan alergi makanan yang melibatkan respons sistem kekebalan tubuh. Perbedaan ini penting karena keduanya memiliki mekanisme, pola gejala, pemeriksaan diagnostik, dan penanganan yang berbeda. Alergi makanan dapat diperantarai oleh imunoglobulin E (IgE) atau melalui mekanisme non-IgE, dengan manifestasi yang dapat melibatkan kulit, saluran cerna, saluran pernapasan, hingga reaksi sistemik seperti anafilaksis. Sementara itu, intoleransi makanan dapat berkaitan dengan kekurangan enzim, gangguan pencernaan komponen makanan, penyakit tertentu, atau respons farmakologis terhadap zat yang terkandung dalam makanan. Artikel ini membahas perbedaan alergi dan intoleransi makanan, karakteristik klinis, pendekatan diagnosis, serta peran diet eliminasi dan oral food challenge dalam penegakan diagnosis.
  • Kata kunci: alergi makanan, intoleransi makanan, reaksi simpang makanan, alergi IgE, alergi non-IgE, diet eliminasi, oral food challenge.

Pendahuluan

  • Keluhan setelah makan merupakan masalah yang sering dijumpai dalam praktik klinis, baik pada bayi dan anak maupun orang dewasa. Gejalanya dapat berupa mual, muntah, diare, nyeri perut, kembung, ruam kulit, gatal, pembengkakan, batuk, mengi, atau reaksi sistemik. Namun, munculnya gejala setelah mengonsumsi makanan tertentu belum membuktikan bahwa seseorang mengalami alergi makanan.
  • Secara klinis, reaksi terhadap makanan perlu dibedakan menjadi reaksi toksik, alergi makanan, intoleransi makanan, dan kondisi lain yang kebetulan memiliki hubungan waktu dengan konsumsi makanan. Reaksi toksik dapat terjadi pada siapa pun yang mengonsumsi makanan terkontaminasi dalam jumlah yang memadai. Sebaliknya, alergi makanan merupakan reaksi imunologis terhadap protein atau komponen makanan tertentu, sedangkan intoleransi makanan umumnya tidak melibatkan mekanisme alergi imunologis.
  • Pembedaan tersebut penting untuk menghindari dua masalah sekaligus, yaitu alergi yang tidak dikenali dan diagnosis alergi yang berlebihan. Diagnosis yang tidak tepat dapat menyebabkan pembatasan makanan yang tidak diperlukan, kekurangan zat gizi, kecemasan keluarga, serta penundaan diagnosis penyakit lain. Oleh karena itu, evaluasi harus didasarkan pada riwayat klinis yang terperinci, pemeriksaan yang sesuai dengan mekanisme yang dicurigai, dan konfirmasi diagnostik bila diperlukan.

1. Memahami Reaksi Simpang Makanan

  • Istilah adverse reactions to foods atau reaksi simpang makanan merupakan istilah umum untuk berbagai respons yang tidak diinginkan setelah konsumsi makanan. Istilah ini tidak identik dengan alergi makanan.
  • Secara sederhana, reaksi simpang makanan dapat dikelompokkan sebagai berikut.
Jenis reaksi Mekanisme utama Contoh Petunjuk klinis
Reaksi toksik Paparan toksin atau kontaminan Keracunan makanan akibat toksin bakteri Dapat terjadi pada beberapa orang yang mengonsumsi makanan yang sama
Alergi makanan yang diperantarai IgE Respons imun dengan keterlibatan IgE spesifik Alergi kacang, susu, telur, atau udang Gejala sering muncul dalam beberapa menit hingga beberapa jam
Alergi makanan non-IgE Respons imun tanpa mekanisme IgE sebagai perantara utama Food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES) Umumnya didominasi gejala saluran cerna dengan pola waktu khas
Intoleransi enzimatik Gangguan pemecahan komponen makanan Intoleransi laktosa akibat defisiensi laktase Kembung, gas, nyeri perut, dan diare setelah konsumsi laktosa
Reaksi farmakologis Respons terhadap zat aktif dalam makanan Gejala pada individu tertentu setelah mengonsumsi makanan kaya histamin Dapat menyerupai alergi, tetapi mekanismenya berbeda
Sensitivitas makanan lain Mekanisme beragam dan pada sebagian kondisi belum sepenuhnya dipahami Sensitivitas gandum non-seliak Diagnosis memerlukan evaluasi dan pengecualian kondisi lain
  • Penyakit seliak perlu diperhatikan secara khusus. Penyakit ini merupakan penyakit imunologis yang dipicu gluten pada individu yang rentan secara genetik, sehingga tidak tepat jika disamakan dengan intoleransi makanan biasa. Demikian pula, sensitivitas gandum non-seliak merupakan diagnosis yang masih memiliki sejumlah ketidakpastian dan harus dipertimbangkan setelah penyakit seliak serta alergi gandum yang diperantarai IgE dievaluasi secara tepat.

2. Alergi Makanan yang Diperantarai IgE

  • Alergi makanan yang diperantarai IgE terjadi ketika sistem kekebalan membentuk IgE spesifik terhadap alergen makanan. Pada paparan berikutnya, interaksi alergen dengan IgE yang terikat pada sel mast dan basofil dapat memicu pelepasan mediator, termasuk histamin, yang menimbulkan gejala alergi.
  • Gejala dan waktu munculnya reaksi
  • Gejala umumnya timbul dalam beberapa menit hingga sekitar dua jam setelah konsumsi makanan, meskipun rentang waktu dapat bervariasi sesuai jenis alergi dan keadaan klinis.
  • Manifestasi yang dapat muncul meliputi:
    • Kulit: urtikaria atau biduran, gatal, kemerahan, dan pembengkakan bibir atau kelopak mata.
    • Saluran cerna: muntah, nyeri perut, dan diare.
    • Saluran pernapasan: batuk, suara serak, mengi, atau kesulitan bernapas.
    • Sistem kardiovaskular: pusing, penurunan tekanan darah, atau kolaps pada reaksi berat.
  • Tidak semua reaksi alergi melibatkan seluruh sistem organ. Gejala kulit juga tidak selalu muncul pada anafilaksis. Reaksi alergi yang berkembang cepat dan melibatkan gangguan pernapasan atau sirkulasi harus dianggap sebagai keadaan darurat.
  • Anafilaksis merupakan reaksi alergi sistemik yang berpotensi mengancam jiwa. Epinefrin intramuskular merupakan terapi lini pertama bila anafilaksis terjadi. Antihistamin tidak dapat menggantikan epinefrin pada keadaan tersebut.
  • Sindrom alergi oral
    • Sindrom alergi oral, yang juga dikenal sebagai pollen-food allergy syndrome, terjadi akibat reaktivitas silang antara protein tertentu pada serbuk sari dan protein pada buah atau sayuran, terutama dalam bentuk mentah.
    • Keluhan biasanya berupa gatal, kesemutan, atau pembengkakan ringan pada bibir, mulut, dan tenggorokan yang muncul segera setelah makanan dikonsumsi. Sebagian besar reaksi terbatas pada rongga mulut, tetapi reaksi sistemik dapat terjadi pada sebagian pasien.
    • Diagnosis perlu mempertimbangkan riwayat alergi serbuk sari, jenis makanan pemicu, bentuk makanan yang dikonsumsi, serta pola gejala. Penanganan tidak selalu memerlukan penghindaran semua buah dan sayuran. Toleransi terhadap makanan yang dimasak dapat berbeda karena pemanasan dapat mengubah struktur sejumlah protein alergen, tetapi hal ini bergantung pada jenis protein dan individu.
  • Alergi gandum yang bergantung pada olahraga
    • Alergi gandum yang bergantung pada olahraga atau wheat-dependent exercise-induced anaphylaxis merupakan kondisi ketika konsumsi gandum, terutama yang berkaitan dengan alergen omega-5 gliadin pada sebagian pasien, diikuti aktivitas fisik dapat memicu reaksi alergi sistemik.
    • Reaksi dapat dipengaruhi faktor tambahan, seperti alkohol, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), infeksi, atau kondisi lingkungan tertentu. Karena reaksi dapat berkembang menjadi anafilaksis, pasien memerlukan evaluasi alergi yang terarah.
    • Pencegahan harus disusun secara individual berdasarkan riwayat reaksi dan penilaian dokter. Anjuran mengenai jeda antara makan dan olahraga tidak boleh diperlakukan sebagai jaminan keamanan universal.
  • Sindrom alfa-gal
    • Sindrom alfa-gal merupakan alergi terhadap galaktosa-α-1,3-galaktosa, yaitu karbohidrat yang terdapat pada sebagian besar mamalia nonprimata. Sensitisasi umumnya berkaitan dengan gigitan jenis kutu tertentu. Setelah mengonsumsi daging mamalia atau produk tertentu yang mengandung alfa-gal, pasien dapat mengalami reaksi alergi yang tertunda.
    • Gejala biasanya muncul beberapa jam setelah konsumsi, sehingga hubungan antara makanan dan reaksi mungkin tidak langsung terlihat. Manifestasinya dapat berupa urtikaria, keluhan saluran cerna, pembengkakan, atau anafilaksis.
    • Diagnosis mempertimbangkan riwayat paparan kutu, pola reaksi tertunda, dan pemeriksaan IgE spesifik terhadap alfa-gal. Penghindaran makanan serta produk yang relevan harus disesuaikan dengan hasil evaluasi klinis.
  • 3. Alergi Makanan Non-IgE
    • Alergi makanan non-IgE merupakan kelompok reaksi imunologis yang tidak diperantarai IgE sebagai mekanisme utama. Gejala sering didominasi oleh gangguan saluran cerna dan dapat muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah konsumsi makanan pemicu, tergantung jenis penyakitnya.
    • Istilah non-IgE tidak berarti bahwa seluruh kondisi dalam kelompok ini memiliki satu mekanisme yang sama. Mekanisme imunologisnya beragam dan pada sejumlah penyakit masih diteliti. Karena itu, klasifikasi semua alergi non-IgE sebagai hipersensitivitas tipe IV klasik tidak sepenuhnya tepat.
  • Alergi protein susu sapi
    • Alergi protein susu sapi dapat melibatkan mekanisme IgE, non-IgE, atau campuran. Pada bayi, gejala dapat berupa muntah, diare, darah pada tinja, gangguan makan, atau gangguan pertumbuhan, bergantung pada bentuk klinisnya.
    • Namun, gejala seperti gumoh, kolik, konstipasi, menangis, atau berat badan sulit naik tidak secara otomatis menunjukkan alergi susu sapi. Keluhan tersebut juga dapat ditemukan pada kondisi lain yang jauh lebih umum.
    • Diagnosis memerlukan evaluasi yang sesuai dengan pola gejala. Pada dugaan alergi non-IgE tertentu, dokter dapat merencanakan diet eliminasi terbatas waktu dan menilai apakah gejala membaik, kemudian melakukan reintroduksi atau uji tantang bila aman dan diperlukan untuk memastikan diagnosis.
  • Food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES)
    • FPIES adalah bentuk alergi makanan non-IgE yang terutama menyerang saluran cerna. Gejala khas berupa muntah berulang yang cukup berat, umumnya sekitar 1–4 jam setelah konsumsi makanan pemicu. Pasien dapat mengalami pucat, lesu, dan pada kasus berat dehidrasi atau penurunan tekanan darah. Diare dapat menyusul beberapa jam kemudian.
    • FPIES akut biasanya tidak disertai urtikaria atau mengi sebagai gejala utama. Meski demikian, ketiadaan gejala kulit tidak meniadakan kemungkinan kondisi ini karena mekanisme reaksinya berbeda dari alergi IgE.
    • Penanganan episode akut bergantung pada tingkat keparahan. Pasien dengan muntah berulang, kelemahan berat, atau tanda dehidrasi perlu mendapatkan pertolongan medis segera. Ondansetron dan cairan intravena dapat dipertimbangkan oleh tenaga medis sesuai kondisi pasien.
  • Gangguan gastrointestinal eosinofilik
    • Gangguan gastrointestinal eosinofilik merupakan kelompok penyakit yang melibatkan penumpukan eosinofil pada bagian tertentu saluran cerna. Contohnya adalah esofagitis eosinofilik, gastritis eosinofilik, enteritis eosinofilik, dan kolitis eosinofilik.
    • Gejala bergantung pada lokasi penyakit. Esofagitis eosinofilik dapat menimbulkan kesulitan menelan, rasa makanan tersangkut, nyeri saat menelan, atau gangguan makan. Pada anak, manifestasi dapat berupa penolakan makan, muntah, atau gangguan pertumbuhan. Gejala tersebut tidak spesifik dan memerlukan evaluasi lebih lanjut.
    • Diagnosis esofagitis eosinofilik umumnya memerlukan endoskopi dan biopsi esofagus, disertai penilaian gejala serta pengecualian penyebab lain yang relevan. Diagnosis gangguan eosinofilik pada bagian saluran cerna lainnya juga membutuhkan korelasi klinis, histologis, dan pemeriksaan untuk menyingkirkan penyebab eosinofilia lain.
    • Gangguan ini tidak dapat didiagnosis hanya berdasarkan gejala atau riwayat atopi. Pemeriksaan dan pengobatan perlu ditentukan bersama dokter yang menangani penyakit saluran cerna.
  • 4. Intoleransi Makanan: Bukan Selalu Alergi
    • Intoleransi makanan umumnya tidak melibatkan mekanisme alergi imunologis. Keluhannya dapat menyerupai alergi, terutama jika gejala utamanya berupa nyeri perut, kembung, mual, atau diare.
  • Intoleransi laktosa
    • Intoleransi laktosa terjadi ketika aktivitas enzim laktase tidak mencukupi untuk mencerna laktosa, yaitu gula dalam susu. Laktosa yang tidak tercerna dapat masuk ke usus besar, difermentasi oleh bakteri, dan menarik air ke dalam lumen usus.
    • Gejalanya meliputi perut kembung, banyak gas, nyeri perut, dan diare. Keparahan gejala dipengaruhi jumlah laktosa yang dikonsumsi, aktivitas laktase, dan kondisi saluran cerna.
    • Intoleransi laktosa berbeda dari alergi protein susu sapi. Pada intoleransi laktosa, masalah utamanya adalah pencernaan gula susu. Pada alergi susu sapi, sistem imun bereaksi terhadap protein susu. Oleh karena itu, produk bebas laktosa belum tentu aman bagi seseorang yang memiliki alergi protein susu sapi.
  • Reaksi terhadap histamin dan zat makanan lainnya
    • Sebagian orang melaporkan gejala setelah mengonsumsi makanan yang mengandung histamin atau zat bioaktif lainnya. Gejala yang dilaporkan dapat mencakup kemerahan, sakit kepala, keluhan pencernaan, atau berdebar.
    • Namun, diagnosis intoleransi histamin masih memiliki keterbatasan dan belum memiliki satu pemeriksaan tunggal yang tervalidasi untuk semua pasien. Gejala serupa dapat disebabkan oleh alergi, efek obat, penyakit saluran cerna, atau kondisi lain.
    • Karena itu, diet rendah histamin yang ketat dan berkepanjangan tidak seharusnya dilakukan hanya berdasarkan gejala yang tidak spesifik. Evaluasi perlu mempertimbangkan pola konsumsi, faktor lain yang menyertai, serta kemungkinan diagnosis alternatif.
  • Sensitivitas gandum non-seliak
    • Sensitivitas gandum non-seliak merupakan istilah untuk keluhan yang berkaitan dengan konsumsi gandum atau gluten pada individu yang tidak memenuhi kriteria penyakit seliak dan tidak memiliki alergi gandum yang diperantarai IgE.
    • Gejalanya dapat berupa kembung, nyeri perut, perubahan pola buang air besar, kelelahan, atau keluhan di luar saluran cerna. Pada sebagian orang, gejala mungkin berkaitan dengan komponen gandum selain gluten, termasuk fruktan yang termasuk kelompok FODMAP.
    • Diagnosis dilakukan setelah penyakit seliak dan alergi gandum dievaluasi dengan tepat. Pemeriksaan penyakit seliak sebaiknya dilakukan ketika pasien masih mengonsumsi gluten sesuai anjuran dokter, karena diet bebas gluten sebelum pemeriksaan dapat memengaruhi hasilnya.

5. Perbedaan Klinis Alergi dan Intoleransi Makanan

Tabel berikut dapat digunakan sebagai panduan awal, bukan sebagai alat diagnosis mandiri.

Aspek Alergi makanan Intoleransi makanan
Mekanisme Melibatkan sistem imun Umumnya tidak melibatkan mekanisme alergi imunologis
Pemicu Biasanya protein atau komponen alergen tertentu Dapat berupa gula, komponen makanan, zat bioaktif, atau faktor pencernaan
Waktu muncul Menit hingga beberapa jam pada alergi IgE; dapat tertunda pada alergi non-IgE Bervariasi sesuai mekanisme dan jumlah makanan
Gejala Dapat melibatkan kulit, saluran cerna, pernapasan, dan sirkulasi Sering berupa keluhan pencernaan, tetapi manifestasi dapat bervariasi
Hubungan dengan jumlah makanan Sejumlah kecil dapat memicu reaksi berat pada alergi tertentu Sering bergantung pada dosis, tetapi tidak selalu
Pemeriksaan Riwayat klinis, tes IgE spesifik atau uji kulit bila sesuai, dan uji tantang pada kasus terpilih Riwayat klinis, evaluasi penyakit penyebab, dan pemeriksaan khusus sesuai dugaan
Risiko anafilaksis Ada pada alergi tertentu, terutama alergi IgE Bukan karakteristik intoleransi makanan biasa
Penanganan Menghindari alergen yang terbukti relevan dan membuat rencana penanganan reaksi Menyesuaikan asupan atau menangani mekanisme penyebab tanpa pembatasan berlebihan
  • Tidak ada satu gejala, hasil tes, atau pola waktu yang dapat membedakan seluruh jenis alergi dari seluruh jenis intoleransi. Interpretasi harus dilakukan dalam konteks klinis.

6. Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

  • A. Riwayat klinis adalah langkah utama
    • Dokter perlu menilai:
      • Makanan yang dicurigai, termasuk jumlah dan cara pengolahannya.
      • Waktu antara konsumsi dan munculnya gejala.
      • Jenis, durasi, dan tingkat keparahan gejala.
      • Apakah reaksi berulang ketika makanan yang sama dikonsumsi.
      • Apakah makanan tersebut pernah dikonsumsi tanpa gejala.
      • Faktor yang menyertai, seperti olahraga, infeksi, obat-obatan, atau alkohol pada orang dewasa.
      • Riwayat alergi, penyakit saluran cerna, dan pertumbuhan pada anak.
      • Dampak penghindaran makanan terhadap asupan zat gizi dan kualitas hidup.
    • Catatan makanan dan gejala dapat membantu, terutama jika pola reaksi tidak jelas. Namun, catatan tersebut tidak menggantikan evaluasi medis.
  • B. Pemeriksaan alergi IgE
    • Jika riwayat mengarah pada alergi IgE, dokter dapat menggunakan tes tusuk kulit (skin prick test) dan pemeriksaan IgE spesifik terhadap makanan yang dicurigai.
    • Hasil positif menunjukkan sensitisasi, yaitu adanya pengenalan imunologis terhadap alergen. Hasil positif tidak selalu berarti pasien akan mengalami gejala ketika mengonsumsi makanan tersebut. Sebaliknya, hasil negatif perlu ditafsirkan sesuai sensitivitas pemeriksaan dan riwayat klinis.
    • Pemeriksaan panel alergi yang terlalu luas tanpa petunjuk klinis dapat menghasilkan temuan positif yang tidak relevan dan mendorong penghindaran makanan yang tidak diperlukan. Pemeriksaan IgG makanan tidak direkomendasikan untuk mendiagnosis alergi makanan atau intoleransi makanan.
  • C. Evaluasi alergi non-IgE dan penyakit saluran cerna
    • Tidak terdapat satu tes darah yang dapat mengonfirmasi semua alergi non-IgE. Diagnosis ditentukan berdasarkan pola gejala, evaluasi penyakit lain, dan pada kondisi tertentu respons terhadap eliminasi serta reintroduksi makanan.
    • Endoskopi dan biopsi diperlukan jika dicurigai gangguan tertentu, misalnya esofagitis eosinofilik. Pemeriksaan tersebut bukan pemeriksaan rutin untuk setiap anak yang mengalami muntah, konstipasi, atau sulit makan.
  • D. Diet eliminasi dan reintroduksi
    • Diet eliminasi dapat digunakan dalam situasi terpilih, terutama jika mekanisme alergi non-IgE dicurigai. Diet harus memiliki tujuan yang jelas, durasi yang ditentukan, dan ukuran hasil yang dapat dinilai.
    • Perbaikan setelah eliminasi saja belum tentu membuktikan alergi. Gejala dapat membaik secara spontan, dipengaruhi perubahan pola makan lain, atau mengalami fluktuasi alami. Karena itu, reintroduksi atau uji tantang dapat diperlukan untuk memastikan apakah makanan tersebut benar-benar menjadi penyebab gejala.
    • Pada bayi dan anak, eliminasi makanan utama seperti susu, gandum, telur, atau beberapa kelompok makanan sekaligus perlu diawasi tenaga kesehatan. Pembatasan yang tidak terencana dapat mengurangi asupan energi, protein, kalsium, vitamin, dan zat gizi lainnya.

7. Peran Oral Food Challenge

  • Oral food challenge (OFC) atau uji tantang makanan oral adalah prosedur pemberian makanan yang dicurigai secara bertahap dan terencana untuk menilai apakah makanan tersebut menimbulkan reaksi. OFC merupakan metode rujukan penting untuk memastikan atau menyingkirkan alergi makanan dalam situasi klinis yang sesuai.
  • OFC tidak diperlukan pada setiap pasien. Pada kasus dengan riwayat reaksi yang meyakinkan dan hasil pemeriksaan yang mendukung, dokter dapat menegakkan diagnosis tanpa uji tantang. Sebaliknya, OFC dapat bermanfaat ketika riwayat dan pemeriksaan tidak memberikan kesimpulan yang jelas, atau ketika perlu menilai apakah toleransi terhadap makanan telah berkembang.

Jenis uji tantang makanan

Jenis Penggunaan Pertimbangan
Uji tantang terbuka Pasien dan dokter mengetahui makanan yang diberikan Sering digunakan dalam praktik klinis
Uji tantang tersamar tunggal Salah satu pihak tidak mengetahui jenis pemberian Membantu mengurangi pengaruh ekspektasi pada situasi tertentu
Uji tantang tersamar ganda dengan plasebo Pasien dan penilai tidak mengetahui apakah yang diberikan makanan atau plasebo Metode yang lebih ketat untuk kasus tertentu dan penelitian
  • OFC harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terlatih dengan fasilitas serta rencana penanganan reaksi yang sesuai. Uji tantang tidak boleh dilakukan sendiri di rumah pada pasien dengan dugaan alergi berat, anafilaksis sebelumnya, atau kondisi lain yang meningkatkan risiko.
  • Pada dugaan FPIES, protokol uji tantang memiliki pertimbangan khusus karena muntah berulang dan dehidrasi dapat terjadi. Uji tantang juga tidak boleh digunakan untuk sengaja memicu kejang, gangguan kesadaran, atau kejadian neurologis berbahaya.
  • Untuk dugaan intoleransi laktosa atau kondisi nonalergi lainnya, jenis pemeriksaan yang dipilih berbeda dan harus disesuaikan dengan mekanisme yang dicurigai. Istilah OFC tidak berarti bahwa semua keluhan setelah makan harus dievaluasi menggunakan prosedur alergi yang sama.

8. Kapan Pasien Harus Segera Mendapatkan Pertolongan?

  • Pertolongan medis darurat diperlukan apabila setelah mengonsumsi makanan muncul gejala seperti:
    • Kesulitan bernapas, mengi berat, atau suara serak mendadak.
    • Pembengkakan lidah atau tenggorokan.
    • Pingsan, kolaps, atau tanda gangguan sirkulasi.
    • Gejala cepat yang melibatkan beberapa sistem organ dan mengarah pada anafilaksis.
    • Muntah berulang disertai pucat, lesu berat, atau tanda dehidrasi, terutama pada bayi dan anak.
  • Jika anafilaksis dicurigai, jangan menunggu munculnya biduran. Pasien yang telah diresepkan autoinjektor epinefrin harus menggunakannya sesuai rencana darurat dan segera mencari pertolongan medis.

9. Pesan Penting bagi Orang Tua dan Tenaga Kesehatan

  1. Pertama, gejala setelah makan tidak selalu berarti alergi. Kembung dan diare setelah minum susu dapat mengarah pada intoleransi laktosa, sedangkan urtikaria, pembengkakan, dan gangguan pernapasan yang timbul cepat dapat mengarah pada alergi IgE.
  2. Kedua, waktu munculnya gejala membantu mengarahkan diagnosis, tetapi tidak dapat digunakan sendirian. Alergi IgE sering muncul cepat, sedangkan beberapa bentuk alergi non-IgE dapat menimbulkan gejala tertunda.
  3. Ketiga, hasil tes alergi harus sesuai dengan riwayat klinis. Hasil IgE spesifik positif tidak otomatis membuktikan alergi klinis, dan pemeriksaan yang tidak terarah dapat menyebabkan diagnosis berlebihan.
  4. Keempat, diet eliminasi harus terencana. Penghindaran makanan tanpa diagnosis yang jelas dapat menurunkan kualitas gizi, terutama pada bayi dan anak yang sedang tumbuh.
  5. Kelima, OFC merupakan alat diagnostik penting, tetapi hanya dilakukan jika ada indikasi dan dengan pengawasan yang tepat. Prosedur ini bukan eksperimen mandiri untuk mencari makanan penyebab keluhan.
  6. Keenam, gejala berat atau reaksi sistemik membutuhkan penanganan segera. Memahami perbedaan alergi dan intoleransi membantu menentukan langkah yang tepat, mengurangi pembatasan makanan yang tidak perlu, dan mencegah keterlambatan penanganan kondisi yang berbahaya.

Kesimpulan

Alergi makanan dan intoleransi makanan dapat menimbulkan gejala yang serupa, tetapi keduanya berbeda dalam mekanisme dan pendekatan diagnosis. Alergi melibatkan respons imunologis dan pada jenis tertentu dapat menyebabkan anafilaksis, sedangkan intoleransi umumnya berkaitan dengan gangguan pencernaan atau respons nonalergi terhadap komponen makanan. Diagnosis yang akurat memerlukan riwayat klinis yang cermat, pemeriksaan yang dipilih secara terarah, serta diet eliminasi, reintroduksi, atau OFC bila sesuai. Pendekatan ini membantu memastikan bahwa pasien mendapatkan pengobatan yang tepat tanpa pembatasan makanan yang tidak diperlukan.

Daftar Pustaka

  • Santos AF, Riggioni C, Agache I, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78(12):3057-3076. doi:10.1111/all.15902.
  • Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: A review and update on epidemiology, pathogenesis, diagnosis, prevention, and management. J Allergy Clin Immunol. 2018;141(1):41-58. doi:10.1016/j.jaci.2017.11.003.
  • Vandenplas Y, Broekaert I, Domellöf M, et al. An ESPGHAN position paper on the diagnosis, management, and prevention of cow’s milk allergy. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2024;78(2):386-413. doi:10.1097/MPG.0000000000003897.
  • Bird JA, Leonard S, Groetch M, et al. Conducting an oral food challenge: An update to the 2009 Adverse Reactions to Foods Committee Work Group Report. J Allergy Clin Immunol Pract. 2020;8(1):75-90.e17. doi:10.1016/j.jaip.2019.09.029.
  • Sampson HA, Gerth van Wijk R, Bindslev-Jensen C, et al. Standardizing double-blind, placebo-controlled oral food challenges: AAAAI-EAACI PRACTALL consensus report. J Allergy Clin Immunol. 2012;130(6):1260-1274. doi:10.1016/j.jaci.2012.10.017.
  • Nowak-Węgrzyn A, Chehade M, Groetch ME, et al. International consensus guidelines for the diagnosis and management of food protein-induced enterocolitis syndrome: Executive summary. J Allergy Clin Immunol. 2017;139(4):1111-1126.e4. doi:10.1016/j.jaci.2016.12.966.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *