KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Sekuela Pascainfeksi Influenza A pada Anak: Gejala Persisten, Mekanisme Patofisiologi, Penilaian Klinis, dan Prioritas Penelitian

  • Sekuela Pascainfeksi Influenza A pada Anak: Gejala Persisten, Mekanisme Patofisiologi, Penilaian Klinis, dan Prioritas Penelitian
  • Tinjauan Naratif (Narrative Review)
  • Sandiaz Yudhasmara¹˒³, Widodo Judarwanto², Audi Yudhasmara³
  • ¹ Children and Mother Hospital Bunda Jakarta, Jakarta, Indonesia
    ² Department of Child Health, Children and Mother Hospital Bunda Jakarta, Jakarta, Indonesia
    ³ Department of Child Health, Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta, Indonesia

Abstrak

  • Latar belakang: Influenza A merupakan penyebab penting penyakit pernapasan akut dan berbagai komplikasi pada anak. Meskipun sebagian besar anak pulih setelah fase akut, sebagian lainnya mengalami gejala yang menetap setelah infeksi awal mereda. Frekuensi, signifikansi klinis, dan mekanisme yang mendasari gejala pascainfeksi ini masih belum dipahami sepenuhnya.
  • Tujuan: Merangkum bukti ilmiah mengenai gejala persisten setelah influenza A pada anak, membahas mekanisme patofisiologi yang mungkin berperan, menguraikan penilaian dan tata laksana klinis, serta mengidentifikasi prioritas penelitian selanjutnya.
  • Metode: Tinjauan naratif ini menyintesis literatur terpilih mengenai influenza pada anak, sindrom pascainfeksi, komplikasi neurologis terkait influenza, serta tata laksana klinis influenza. Artikel ini bukan tinjauan sistematis; tidak dilakukan penilaian risiko bias formal maupun meta-analisis.
  • Hasil: Sebuah studi kohort retrospektif yang dilaporkan pada 2026 menemukan gejala persisten yang terdokumentasi pada 4–6 minggu setelah infeksi pada 21,2% anak dengan influenza (435 dari 2.050 anak; interval kepercayaan 95%: 19,4–23,0). Temuan ini menunjukkan bahwa gejala pascainfeksi perlu mendapat perhatian klinis, tetapi desain retrospektif dan lingkungan rumah sakit rujukan membatasi generalisasi hasilnya. Kemungkinan penyebab gejala persisten meliputi pemulihan yang belum tuntas, inflamasi saluran napas atau sistemik yang tersisa, komplikasi, penurunan kondisi fisik, serta penyakit lain yang muncul bersamaan. Mekanisme tersebut belum terbukti sebagai satu kesatuan proses biologis yang mendasari sindrom long flu pada anak.
  • Kesimpulan: Gejala persisten setelah influenza pada anak perlu dinilai dan ditindaklanjuti secara tepat. Penelitian prospektif dengan definisi terstandardisasi, instrumen gejala sesuai usia, kelompok pembanding, dan masa tindak lanjut lebih panjang diperlukan untuk menentukan prevalensi, faktor risiko, mekanisme, serta dampak jangka panjang penyakit pascainfluenza.

Kata kunci: influenza A; anak; remaja; pascainfeksi; gejala persisten; long flu; influenza pediatrik; komplikasi neurologis.

1. Pendahuluan

  • Influenza merupakan infeksi saluran pernapasan menular yang berkontribusi terhadap morbiditas anak, termasuk kunjungan ke unit gawat darurat, rawat inap, dan berbagai komplikasi. Manifestasi klinisnya berkisar dari penyakit demam saluran pernapasan yang tidak rumit hingga pneumonia dan komplikasi di luar sistem pernapasan. Anak dengan penyakit penyerta dan kelompok usia rentan dapat memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit berat [1,2].
  • Perjalanan klinis influenza umumnya bersifat akut, tetapi pemulihan tidak selalu diikuti oleh hilangnya seluruh gejala secara bersamaan. Kelelahan, batuk, penurunan toleransi aktivitas, sakit kepala, dan keluhan lainnya dapat berlanjut setelah fase akut. Gejala tersebut perlu ditafsirkan secara hati-hati karena dapat mencerminkan proses pemulihan bertahap, komplikasi, penyakit yang telah ada sebelumnya, atau penyakit lain yang tidak berkaitan langsung dengan influenza.
  • Sindrom pascainfeksi telah dibahas dalam konteks sejumlah penyakit infeksi. Choutka dan kolega menguraikan tantangan dalam memahami penyakit persisten setelah infeksi akut serta menekankan bahwa mekanisme dan pola klinisnya beragam dan belum sepenuhnya dipahami [3]. Namun, bukti dari penyakit infeksi lain tidak dapat langsung diterapkan pada influenza pada anak tanpa penelitian khusus.
  • Sebuah studi kohort retrospektif yang dilaporkan pada 2026 meneliti persistensi gejala setelah infeksi SARS-CoV-2, respiratory syncytial virus (RSV), dan influenza pada anak. Peneliti melaporkan bahwa gejala masih ditemukan pada sebagian anak dalam pemeriksaan tindak lanjut 4–6 minggu setelah diagnosis, termasuk 21,2% anak dalam kelompok influenza [4]. Temuan tersebut menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut, tetapi belum cukup untuk menetapkan suatu penyakit tersendiri dengan kriteria diagnosis yang tervalidasi.
  • Dalam artikel ini, istilah gejala pascainfluenza digunakan sebagai istilah deskriptif utama. Istilah long flu digunakan secara hati-hati sebagai sebutan informal, bukan sebagai diagnosis baku.
  • Tujuan tinjauan ini adalah merangkum bukti yang tersedia, menjelaskan mekanisme yang mungkin berperan tanpa melebih-lebihkan kepastian ilmiah, membahas evaluasi dan tata laksana klinis, serta mengidentifikasi prioritas penelitian yang relevan bagi anak dan remaja.

2. Metode

  • Artikel ini merupakan tinjauan naratif terhadap literatur terpilih mengenai influenza pada anak, gejala persisten setelah infeksi virus pernapasan akut, komplikasi neurologis terkait influenza, serta tata laksana dan pencegahan influenza.
  • Sumber yang dipertimbangkan meliputi tinjauan klinis influenza pediatrik, studi kohort observasional pada anak, tinjauan sindrom pascainfeksi, tinjauan ensefalitis dan ensefalopati terkait influenza, serta panduan klinis yang relevan.
  • Literatur dipilih berdasarkan relevansinya terhadap tujuan tinjauan dan kontribusinya terhadap pemahaman klinis, epidemiologi, mekanisme, atau tata laksana. Artikel ini tidak menggunakan protokol pencarian sistematis yang ditetapkan sebelumnya, penyaringan independen oleh dua penelaah, penilaian risiko bias formal, maupun sintesis kuantitatif. Oleh karena itu, artikel ini tidak dapat dianggap sebagai tinjauan sistematis atau penilaian menyeluruh atas seluruh bukti yang tersedia.
  • Karena bukti yang secara khusus membahas gejala persisten setelah influenza pada anak masih terbatas, tinjauan ini membedakan bukti langsung dari penelitian pediatrik dengan literatur konseptual yang lebih luas dan penelitian mengenai komplikasi influenza akut.

3. Karakteristik Klinis Gejala Pascainfluenza

  • 3.1. Bukti dari studi kohort anak
    • Bedir dan Demir melakukan studi kohort retrospektif terhadap 5.740 anak berusia 0–18 tahun dengan infeksi SARS-CoV-2, RSV, atau influenza yang dikonfirmasi melalui pemeriksaan reaksi berantai polimerase (polymerase chain reaction, PCR). Kelompok influenza terdiri atas 2.050 anak. Gejala persisten yang tercatat pada pemeriksaan tindak lanjut 4–6 minggu setelah diagnosis ditemukan pada 435 anak dalam kelompok influenza, yaitu 21,2% (interval kepercayaan 95%: 19,4–23,0) [4].
    • Penelitian tersebut melaporkan adanya perbedaan pola gejala di antara kelompok virus dan menggambarkan kelompok influenza sebagai kelompok dengan gejala sistemik yang menetap. Meskipun demikian, hasil penelitian perlu ditafsirkan secara hati-hati. Gejala yang tercatat oleh tenaga kesehatan mungkin tidak mencakup seluruh keluhan anak, sedangkan anak yang kembali untuk pemeriksaan tindak lanjut mungkin berbeda dari anak yang tidak mencari pertolongan medis.
    • Penelitian retrospektif di rumah sakit rujukan tersier juga mungkin memberikan hasil yang berbeda dibandingkan penelitian berbasis komunitas.
    • Dengan demikian, angka 21,2% harus dipahami sebagai proporsi anak dengan gejala yang terdokumentasi pada periode tindak lanjut tertentu dalam penelitian tersebut, bukan sebagai prevalensi populasi untuk sindrom long flu yang telah memiliki definisi baku.
  • 3.2. Gejala yang perlu mendapat perhatian klinis
    • Keluhan yang mungkin ditemukan setelah influenza meliputi:
      • Kelelahan atau penurunan energi.
      • Batuk yang menetap atau berangsur membaik.
      • Sakit kepala atau rasa tidak nyaman pada tubuh.
      • Penurunan toleransi terhadap aktivitas fisik.
      • Gangguan tidur atau kesulitan kembali ke aktivitas normal.
  • Penurunan nafsu makan atau pemulihan fungsi sehari-hari yang lebih lambat.
  • Gejala-gejala tersebut bersifat tidak spesifik. Keberadaannya tidak membuktikan bahwa influenza merupakan penyebabnya, dan belum semuanya terbukti sebagai karakteristik khusus sindrom pascainfluenza pada anak.
  • Durasi, tingkat keparahan, pola perubahan gejala, serta dampaknya terhadap kehadiran di sekolah, aktivitas fisik, tidur, dan kehidupan keluarga perlu didokumentasikan.

Tabel 1. Interpretasi klinis gejala yang menetap setelah influenza

Gejala atau kondisi Pertimbangan klinis
Batuk menetap Pertimbangkan iritasi saluran napas pascavirus, asma, pneumonia, atau kondisi pernapasan lain sesuai temuan klinis.
Kelelahan atau penurunan aktivitas Evaluasi pola pemulihan, tidur, hidrasi, nutrisi, risiko anemia bila relevan, serta faktor medis atau psikososial lainnya.
Demam menetap atau muncul kembali Evaluasi ulang kemungkinan komplikasi atau infeksi lain; jangan langsung menganggapnya sebagai kondisi pascavirus yang tidak berbahaya.
Sakit kepala Nilai tingkat keparahan, durasi, gejala penyerta, hidrasi, tidur, dan temuan neurologis.
Penurunan nafsu makan atau perubahan berat badan Evaluasi hidrasi, asupan nutrisi, gejala gastrointestinal, dan perjalanan penyakit sebelumnya.
Intoleransi aktivitas atau sesak napas Evaluasi gejala pernapasan dan kardiovaskular, oksigenasi bila diperlukan, serta pemulihan fungsi anak.
Perubahan perilaku, kebingungan, kejang, atau penurunan kesadaran Memerlukan penilaian medis segera untuk menyingkirkan komplikasi neurologis atau sistemik yang serius.
  • Tabel ini merupakan kerangka pertimbangan klinis, bukan aturan diagnosis atau instrumen prediksi yang telah tervalidasi.
  • 4. Mekanisme Patofisiologi yang Mungkin Berperan
  • Dasar biologis gejala persisten setelah influenza pada anak masih belum pasti. Beberapa mekanisme dapat dipertimbangkan, tetapi kemungkinan biologis tidak sama dengan bukti bahwa mekanisme tersebut menyebabkan suatu sindrom pascainfluenza yang khas.
    • 4.1. Pemulihan dari penyakit akut yang belum tuntas
      • Sebagian gejala dapat menetap sebagai bagian dari proses pemulihan setelah infeksi awal. Iritasi saluran napas, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, dan penurunan kondisi fisik sementara dapat memengaruhi fungsi sehari-hari setelah fase demam akut berakhir.
      • Derajat dan durasi pemulihan dapat berbeda menurut tingkat keparahan penyakit, kondisi kesehatan sebelumnya, dan adanya komplikasi.
      • Penjelasan ini tidak selalu memerlukan diagnosis penyakit pascainfeksi yang terpisah. Penilaian longitudinal diperlukan untuk membedakan pemulihan bertahap dari gejala baru, gejala yang memburuk, atau gejala yang tidak sebanding dengan penyakit awal.
    • 4.2. Respons inflamasi yang masih berlangsung
      • Influenza memicu respons imun bawaan dan adaptif yang berperan dalam pengendalian virus sekaligus memengaruhi manifestasi klinis. Pada sebagian pasien, efek inflamasi dan pemulihan jaringan dapat berlanjut setelah fase akut. Tinjauan influenza pediatrik menjelaskan pentingnya respons imun dan faktor pejamu terhadap tingkat keparahan penyakit [2,5].
      • Namun, bukti bahwa aktivasi imun persisten menyebabkan suatu sindrom influenza jangka panjang yang khas pada anak masih belum memadai. Biomarker dan jalur imun yang diusulkan dalam literatur sindrom pascainfeksi yang lebih luas harus diperlakukan sebagai hipotesis penelitian sampai diuji secara langsung dalam studi influenza pediatrik yang dirancang dengan baik [3].
    • 4.3. Dampak pernapasan dan pemulihan fungsi
      • Batuk atau penurunan toleransi aktivitas dapat berlanjut setelah infeksi pernapasan. Kemungkinan penyebabnya mencakup iritasi saluran napas yang tersisa, perburukan penyakit pernapasan yang telah ada, atau komplikasi infeksi akut.
      • Kemungkinan tersebut perlu dinilai berdasarkan keluhan dan hasil pemeriksaan anak, bukan otomatis dikaitkan dengan long flu.
    • 4.4. Komplikasi neurologis
      • Ensefalitis dan ensefalopati terkait influenza merupakan komplikasi akut yang dikenal, terutama pada anak kecil. Tinjauan oleh Wei dan kolega membahas mekanisme yang diusulkan, model penelitian, dan konsekuensi neurologis dari penyakit akut terkait influenza tersebut [6].
      • Kondisi neurologis akut yang serius ini harus dibedakan dari gejala tidak spesifik, seperti kelelahan, sakit kepala, atau kesulitan berkonsentrasi setelah sakit. Literatur mengenai ensefalitis atau ensefalopati akut terkait influenza tidak membuktikan bahwa gejala tidak spesifik yang menetap setelah influenza tanpa komplikasi memiliki mekanisme yang sama.
    • 4.5. Faktor lain yang dapat berkontribusi
      • Pemulihan juga dapat dipengaruhi oleh gangguan tidur, berkurangnya aktivitas fisik, asupan nutrisi, penyakit penyerta, stres psikososial, dan dampak ketidakhadiran di sekolah atau rutinitas sehari-hari.
      • Gejala yang menetap terkadang mencerminkan diagnosis lain, bukan akibat langsung influenza.
      • Secara keseluruhan, belum ada satu mekanisme patofisiologi yang terbukti menjelaskan seluruh gejala persisten setelah influenza A pada anak.

5. Penilaian Klinis dan Diagnosis Banding

  • Evaluasi klinis harus dimulai dengan menilai kondisi anak saat ini serta perjalanan gejala sejak penyakit akut. Riwayat influenza tidak menyingkirkan kemungkinan komplikasi, infeksi kedua, atau kondisi medis yang tidak berkaitan.
  • 5.1. Anamnesis
    • Anamnesis terstruktur perlu mencakup:
      • Tanggal dan tingkat keparahan penyakit awal serta apakah influenza dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.
      • Awitan, durasi, frekuensi, dan perubahan setiap gejala yang menetap.
      • Apakah gejala membaik sebelum muncul kembali atau terus berlangsung tanpa jeda.
      • Riwayat rawat inap, bantuan pernapasan, gejala neurologis, atau komplikasi lain selama fase akut.
      • Riwayat kesehatan, obat-obatan, status vaksinasi, tidur, nutrisi, dan fungsi sehari-hari sebelum sakit.
      • Dampak gejala terhadap kehadiran di sekolah, aktivitas fisik, suasana hati, dan kegiatan sehari-hari.
  • 5.2. Pemeriksaan dan investigasi
    • Pemeriksaan harus disesuaikan dengan gejala dan temuan klinis. Bila relevan, pemeriksaan dapat meliputi tanda vital, status hidrasi, sistem pernapasan, kardiovaskular, pemeriksaan neurologis, serta evaluasi pertumbuhan atau perubahan berat badan.
    • Pemeriksaan laboratorium, pencitraan, atau rujukan spesialis ditentukan berdasarkan presentasi klinis dan diagnosis banding. Pemeriksaan ekstensif rutin tidak diperlukan bagi setiap anak yang gejalanya berangsur membaik dan hasil pemeriksaan klinisnya tidak mengkhawatirkan.
  • 5.3. Diagnosis banding
    • Kemungkinan kondisi lain atau komplikasi mencakup pneumonia, infeksi bakteri sekunder, eksaserbasi asma, anemia bila relevan secara klinis, gangguan tidur, masalah nutrisi, dan kondisi medis lainnya.
    • Diagnosis banding harus ditentukan secara individual, bukan hanya berdasarkan label umum pascavirus.
    • Penilaian medis segera diperlukan jika terdapat sesak napas berat, sianosis, dehidrasi dengan ketidakmampuan mempertahankan asupan cairan, demam menetap atau berulang disertai perburukan kondisi, kejang, kebingungan, penurunan kesadaran, atau gejala lain yang memburuk dengan cepat.

6. Tata Laksana dan Tindak Lanjut

  • 6.1. Perawatan suportif individual
    • Tata laksana harus didasarkan pada gejala, hasil pemeriksaan, hidrasi, nutrisi, tidur, dan fungsi anak. Langkah suportif dapat mencakup kecukupan cairan, istirahat, jadwal tidur yang teratur, nutrisi yang memadai, serta kembalinya aktivitas normal secara bertahap sesuai toleransi.
    • Anak yang masih mengalami kelelahan bermakna atau sesak napas tidak sebaiknya dipaksa melakukan olahraga berat sebelum menjalani penilaian klinis. Aktivitas perlu disesuaikan dengan gejala dan ditingkatkan secara bertahap sesuai perkembangan pemulihan.
  • 6.2. Terapi antivirus pada influenza akut
    • Terapi antivirus merupakan bagian dari tata laksana berbasis bukti bagi anak yang memenuhi indikasi pengobatan influenza akut. Keputusan terapi bergantung pada faktor seperti usia, tingkat keparahan penyakit, risiko komplikasi, waktu sejak timbulnya gejala, dan panduan klinis yang berlaku [2,7].
    • Pengobatan antivirus selama fase akut tidak boleh dinyatakan sebagai terapi yang terbukti untuk sindrom long flu yang belum memiliki definisi baku. Bukti manfaat terapi influenza akut tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti efektivitas untuk gejala yang menetap selama beberapa minggu.
  • 6.3. Tindak lanjut
    • Tindak lanjut diperlukan jika gejala menetap, mengganggu fungsi sehari-hari, memburuk, atau menimbulkan kecurigaan terhadap komplikasi.
    • Evaluasi ulang dapat mencakup perkembangan gejala, pemulihan fungsi, kehadiran di sekolah, tidur, nutrisi, dan kebutuhan pemeriksaan tambahan.
    • Interval tindak lanjut harus disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala dan kondisi klinis anak. Saat ini belum terdapat bukti yang cukup untuk merekomendasikan satu jadwal tindak lanjut standar bagi seluruh anak dengan gejala pascainfluenza.
  • 6.4. Pencegahan
    • Vaksinasi influenza tetap menjadi strategi utama untuk mencegah influenza dan mengurangi komplikasinya. Vaksinasi sesuai rekomendasi, langkah pencegahan infeksi, dan penilaian klinis tepat waktu merupakan bagian penting dari pelayanan influenza pada anak [2,7].
    • Apakah vaksinasi mengurangi risiko sindrom pascainfluenza yang didefinisikan secara khusus masih perlu diteliti secara langsung dan tidak boleh diasumsikan hanya berdasarkan manfaat vaksin terhadap influenza akut.
  • 7. Pembahasan
    • Tinjauan ini menyoroti perbedaan penting antara gejala yang menetap setelah influenza dan keberadaan suatu sindrom pascainfluenza yang telah didefinisikan dengan jelas.
    • Studi kohort retrospektif yang dilaporkan pada 2026 menemukan gejala yang terdokumentasi pada 21,2% anak dalam kelompok influenza saat pemeriksaan tindak lanjut 4–6 minggu [4]. Temuan ini menunjukkan bahwa dokumentasi gejala pascainfeksi dapat bermanfaat secara klinis. Namun, temuan tersebut belum menetapkan perjalanan alamiah jangka panjang gejala atau prevalensi suatu sindr9om tersendiri dalam populasi anak secara umum.
    • Beberapa keterbatasan memengaruhi interpretasi hasil. Desain retrospektif bergantung pada gejala yang dicatat dalam praktik klinis, sedangkan lingkungan rumah sakit rujukan dapat menimbulkan bias seleksi. Penilaian pada minggu ke-4 hingga ke-6 juga hanya menggambarkan satu periode tindak lanjut dan tidak menentukan berapa banyak anak yang kemudian pulih, mengalami gejala lebih lama, atau memiliki keluhan yang disebabkan oleh kondisi lain.
    • Literatur yang lebih luas mengenai sindrom pascainfeksi menyediakan kerangka konseptual untuk meneliti gejala persisten, tetapi juga menekankan ketidakpastian mekanisme dan keragaman kondisi pascainfeksi [3]. Mekanisme yang diusulkan pada long COVID atau infeksi lain tidak boleh langsung diterapkan pada influenza pediatrik tanpa bukti langsung.
    • Prioritas klinis adalah mengenali gejala yang menetap, menilai tingkat keparahan dan perkembangannya, menyingkirkan komplikasi yang dapat diobati, serta mendukung pemulihan. Dalam penelitian, diperlukan studi prospektif yang dapat membedakan pemulihan normal dari kondisi persisten yang bermakna secara klinis.
  • 7.1. Implikasi bagi praktik klinis
    • Dokter perlu mendokumentasikan gejala yang berlanjut setelah fase akut, khususnya jika memengaruhi kehadiran di sekolah, tidur, aktivitas, atau kualitas hidup. Gejala yang menetap atau memburuk memerlukan penilaian ulang, dengan pemeriksaan tambahan berdasarkan temuan klinis.
    • Di sisi lain, istilah long flu tidak boleh digunakan terlalu dini hingga menutup proses diagnosis. Istilah deskriptif hanya bermanfaat jika tidak mengaburkan penyebab lain atau menunda perawatan yang tepat.
  • 7.2. Prioritas penelitian
    • Penelitian mendatang perlu menjawab pertanyaan berikut:
      • Berapa proporsi anak yang mengalami gejala pada minggu ke-2, ke-4, ke-8, dan ke-12 setelah influenza yang dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium?
      • Gejala apa yang paling sering menetap, dan bagaimana polanya berbeda menurut usia serta tingkat keparahan penyakit?
      • Bagaimana hasilnya dibandingkan dengan anak yang pulih dari infeksi pernapasan lain dan kelompok kontrol yang sesuai?
      • Kondisi kesehatan sebelumnya dan karakteristik penyakit akut apa yang memprediksi pemulihan berkepanjangan?
      • Apakah biomarker inflamasi, imun, pernapasan, atau neurologis berkaitan dengan pola gejala tertentu?
      • Bagaimana gejala persisten memengaruhi kehadiran di sekolah, aktivitas fisik, tidur, kualitas hidup, dan penggunaan layanan kesehatan?
      • Kriteria klinis dan batas durasi apa, jika ada, yang dapat mengidentifikasi kondisi pascainfluenza tersendiri secara andal?
      • Protokol penelitian sebaiknya menggunakan definisi gejala terstandardisasi, instrumen tervalidasi yang sesuai usia, periode tindak lanjut yang jelas, serta pelaporan transparan mengenai data yang hilang dan peserta yang tidak melanjutkan tindak lanjut.

8. Keterbatasan

  • Artikel ini merupakan tinjauan naratif dan tidak dimaksudkan sebagai sintesis sistematis atau menyeluruh atas seluruh literatur. Bukti pediatrik yang secara khusus membahas gejala persisten setelah influenza masih terbatas.
  • Estimasi kuantitatif utama dalam artikel ini berasal dari studi kohort retrospektif dengan penilaian pada minggu ke-4 hingga ke-6. Temuan tersebut tidak dapat menetapkan prevalensi jangka panjang, hubungan sebab-akibat, atau perjalanan alamiah gejala persisten [4].
  • Mekanisme yang dibahas merupakan kemungkinan penjelasan, bukan mekanisme yang telah dikonfirmasi untuk suatu sindrom pediatrik yang terpadu. Selain itu, bukti mengenai ensefalitis dan ensefalopati akut terkait influenza hanya berlaku pada komplikasi neurologis tertentu dan tidak boleh digeneralisasikan kepada seluruh anak dengan gejala persisten [6].

9. Kesimpulan

  • Gejala persisten dapat terjadi setelah influenza akut pada anak. Studi kohort retrospektif yang dilaporkan pada 2026 memberikan bukti awal bahwa gejala tersebut terdokumentasi pada proporsi yang bermakna secara klinis dalam tindak lanjut 4–6 minggu [4]. Namun, bukti yang tersedia belum menetapkan long flu sebagai diagnosis pediatrik yang terstandardisasi, serta belum menentukan prevalensi jangka panjang, mekanisme, dan makna prognostiknya.
  • Pelayanan klinis perlu berfokus pada penilaian gejala, penyingkiran komplikasi dan diagnosis alternatif, perawatan suportif yang disesuaikan dengan kondisi anak, serta tindak lanjut yang tepat.
  • Penelitian prospektif multisenter dengan definisi terstandardisasi dan periode pengamatan yang lebih panjang diperlukan untuk menentukan apakah terdapat sindrom pascainfluenza tersendiri pada anak dan, jika ada, bagaimana kondisi tersebut sebaiknya didefinisikan serta ditangani.

Daftar Pustaka

  • World Health Organization. Influenza (seasonal) [Internet]. Geneva: World Health Organization. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal)
  • Wolf RM, Antoon JW. Influenza in children and adolescents: Epidemiology, management, and prevention. Pediatr Rev. 2023;44(11):605–617. doi:10.1542/pir.2023-005962. PMID: 37907421; PMCID: PMC10676733. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10676733/
  • Choutka J, Jansari V, Hornig M, Iwasaki A. Unexplained post-acute infection syndromes. Nat Med. 2022;28(5):911–923. doi:10.1038/s41591-022-01810-6. PMID: 35585196. Available from: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35585196/
  • Bedir F, Demir V. Post-acute symptom persistence following SARS-CoV-2, RSV, and influenza in children: A retrospective cohort study. Medicine (Baltimore). 2026;105(37):e50497. doi:10.1097/MD.0000000000050497. PMID: 42736771; PMCID: PMC13574437. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC13574437/
  • Vasilakopoulos AP, Kainth MK. A review of pediatric influenza. Pediatr Ann. 2025;54(5):e174–e178. doi:10.3928/19382359-20250307-06. PMID: 40305632. Available from: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40305632/
  • Wei J, Huang H, Wu X, Xu Y, Wang X. Pathogenesis and research models of acute influenza-associated encephalitis/encephalopathy: An update. Viruses. 2026;18(1):95. doi:10.3390/v18010095. PMID: 41600859; PMCID: PMC12846524. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12846524/
  • Jilani TN, Jamil RT, Nguyen AD, et al. H1N1 influenza. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; updated March 4, 2024. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513241/

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *