KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Rekomendasi Pencegahan dan Pengendalian Influenza Berdasarkan American Academy of Pediatrics dan Bukti Penelitian Terkini

Rekomendasi Pencegahan dan Pengendalian Influenza pada Anak 2026–2027

Telaah Ilmiah Berdasarkan American Academy of Pediatrics dan Bukti Penelitian Terkini

Influenza tetap menjadi salah satu penyebab penting morbiditas pada anak. Penyakit ini dapat menyebabkan infeksi saluran napas akut dengan spektrum klinis luas, mulai dari gejala ringan hingga pneumonia, perawatan di rumah sakit, komplikasi neurologis, dan kematian. Pada 10 Agustus 2026, American Academy of Pediatrics Committee on Infectious Diseases menerbitkan pembaruan rekomendasi untuk musim influenza 2026–2027 melalui policy statement dan technical report. AAP merekomendasikan vaksinasi influenza setiap tahun untuk seluruh anak tanpa kontraindikasi medis mulai usia 6 bulan. Semua vaksin influenza berlisensi yang sesuai dengan usia dan kondisi kesehatan dapat digunakan, tanpa preferensi terhadap satu produk atau formulasi tertentu. AAP juga memperbarui pendekatan terhadap terapi antivirus. Anak yang dirawat di rumah sakit, mengalami penyakit berat atau progresif, serta anak rawat jalan yang memiliki risiko tinggi komplikasi influenza dianjurkan mendapatkan antivirus sesegera mungkin, tanpa bergantung pada lamanya gejala atau status vaksinasi. Terapi antivirus juga menjadi pilihan bagi anak rawat jalan lain dengan influenza yang dicurigai atau terkonfirmasi. Kemoprofilaksis antivirus dapat dipertimbangkan pada kelompok tertentu, terutama anak berisiko tinggi yang telah terpajan tetapi belum memiliki imunitas yang memadai. Bukti penelitian pediatrik terbaru menunjukkan bahwa vaksin influenza memberikan perlindungan terhadap kunjungan rawat jalan dan hospitalisasi serta berhubungan dengan penurunan risiko kematian akibat influenza. Artikel ini membahas rekomendasi AAP 2026–2027, kelompok risiko tinggi, vaksinasi, diagnosis, terapi antivirus, kemoprofilaksis, keamanan vaksin, serta implikasi klinis untuk praktik pediatri. (American Academy of Pediatrics)

Influenza merupakan infeksi virus yang dapat menyerang semua kelompok usia. Pada anak, dampaknya tidak selalu terbatas pada demam dan batuk. Anak kecil dan anak dengan kondisi medis tertentu mempunyai risiko lebih tinggi mengalami komplikasi, hospitalisasi, dan luaran berat. American Academy of Pediatrics menerbitkan rekomendasi baru untuk musim 2026–2027 pada 10 Agustus 2026. Dokumen tersebut terdiri atas policy statement dan technical report. Technical report memberikan dasar epidemiologis dan ilmiah untuk rekomendasi mengenai vaksin, efektivitas vaksin, penyakit influenza pada anak, pemeriksaan diagnostik, obat antivirus, kemoprofilaksis, serta strategi meningkatkan cakupan vaksinasi. (American Academy of Pediatrics) Pembaruan AAP menjadi penting karena musim influenza 2025–2026 menunjukkan beban penyakit yang tinggi pada anak di Amerika Serikat. AAP melaporkan bahwa angka kumulatif hospitalisasi influenza pada anak usia 0–17 tahun merupakan yang tertinggi kedua sejak musim 2009–2010 dan menjadi yang tertinggi pada kelompok usia 5–17 tahun. Sebanyak 191 kematian anak dilaporkan pada saat rekomendasi diterbitkan, meskipun jumlah tersebut masih dapat berubah karena keterlambatan pelaporan. (American Academy of Pediatrics)

Rekomendasi utama AAP 2026–2027

Komponen Rekomendasi AAP 2026–2027
Sasaran vaksinasi Semua anak mulai usia 6 bulan tanpa kontraindikasi medis
Waktu vaksinasi Sesegera mungkin pada musim influenza
Pemilihan produk Setiap vaksin berlisensi yang sesuai usia dan kondisi kesehatan
Preferensi produk Tidak ada preferensi terhadap satu produk atau formulasi tertentu
Anak rawat inap Antivirus dianjurkan bila influenza dicurigai atau terkonfirmasi
Penyakit berat atau progresif Antivirus dianjurkan sesegera mungkin
Anak berisiko tinggi Antivirus ditawarkan pada pasien rawat jalan
Anak lain dengan influenza Antivirus merupakan pilihan pada pasien rawat jalan
Lama sakit Pada kelompok berisiko tinggi, berat, progresif, atau rawat inap, antivirus tidak perlu ditunda karena durasi penyakit
Status vaksinasi Status sudah divaksin tidak menghilangkan indikasi antivirus bila terapi memang diperlukan
Kemoprofilaksis Dapat digunakan pada individu tertentu setelah pajanan, terutama kelompok berisiko tinggi

(American Academy of Pediatrics)

Vaksinasi influenza mulai usia 6 bulan

  • Rekomendasi utama AAP tetap jelas. Semua anak berusia 6 bulan atau lebih sebaiknya mendapatkan vaksin influenza setiap tahun jika tidak mempunyai kontraindikasi medis. (American Academy of Pediatrics)
  • Vaksinasi memiliki dua tujuan.
    • Pertama, mengurangi kemungkinan anak mengalami influenza.
    • Kedua, mengurangi risiko penyakit berat bila anak tetap terinfeksi.
  • Penelitian yang diterbitkan di Pediatrics pada 2026 menganalisis 19.917 anak usia 6 bulan hingga 17 tahun selama musim 2021–2024. Efektivitas vaksin terhadap influenza yang berhubungan dengan kunjungan rawat jalan atau hospitalisasi berkisar antara 34% sampai 60% antar-musim. Efektivitas keseluruhan diperkirakan 53% terhadap influenza A/H1N1, 43% terhadap A/H3N2, dan 69% terhadap influenza B. (American Academy of Pediatrics)
  • Angka tersebut menunjukkan bahwa efektivitas vaksin dapat berubah menurut musim, subtype, clade virus, usia, dan kondisi epidemiologis.
  • Karena itu, angka efektivitas dari satu musim tidak dapat dianggap sebagai angka tetap untuk setiap musim berikutnya.

Bukti terbaru mengenai pencegahan kematian

  • Penelitian CDC dan AAP yang diterbitkan pada 2026 memberikan data penting mengenai kematian akibat influenza pada anak.
  • Penelitian tersebut mengevaluasi 1.234 kematian akibat influenza yang terkonfirmasi laboratorium pada anak usia 6 bulan sampai 17 tahun selama Agustus 2016 sampai Juli 2025.
  • Estimasi efektivitas vaksin terhadap kematian akibat influenza mencapai 80% secara keseluruhan, dengan interval kepercayaan 95% sebesar 75% sampai 84%.
  • Pada anak dengan kondisi medis tertentu, estimasinya 77%. Pada anak tanpa kondisi medis yang diketahui, estimasinya 87%. (American Academy of Pediatrics)
  • Hasil ini merupakan bukti observasional. Angka tersebut tidak berarti vaksin mencegah 80% seluruh infeksi influenza. Luaran yang diteliti adalah kematian terkait influenza.
  • Temuan ini memperkuat pentingnya vaksinasi sebagai strategi untuk mengurangi risiko luaran fatal.

Siapa yang paling berisiko?

  • Tidak semua anak memiliki risiko komplikasi yang sama.
  • Kelompok yang mendapat perhatian khusus meliputi anak usia di bawah 5 tahun, terutama anak di bawah 2 tahun, serta anak dengan penyakit tertentu. AAP juga menekankan perlindungan terhadap anak dengan kondisi medis kompleks dan gangguan sistem imun. (American Academy of Pediatrics)

Kondisi yang dapat meningkatkan risiko antara lain:

Kelompok Contoh kondisi
Usia muda <5 tahun, terutama <2 tahun
Paru Asma, fibrosis kistik, penyakit paru kronis
Jantung Penyakit kardiovaskular bermakna
Metabolik Diabetes dan gangguan metabolik tertentu
Ginjal Penyakit ginjal kronis
Hati Penyakit hati kronis
Hematologi Penyakit sel sabit dan hemoglobinopati
Imunologi Imunosupresi karena penyakit atau obat
Neurologis Epilepsi, cerebral palsy, gangguan neuromuskular, kondisi neurologis lain
Fungsi respirasi Kondisi yang mengganggu kemampuan bernapas atau membersihkan sekret

Kelompok ini perlu mendapatkan perhatian khusus karena komplikasi influenza dapat berkembang lebih cepat dan lebih berat. (American Academy of Pediatrics)

Anak dengan penyakit kronis tetap dapat memperoleh manfaat vaksin

  • Penyakit kronis bukan alasan untuk menganggap vaksin influenza tidak bermanfaat.
  • Penelitian pada 15.875 anak usia 6 bulan sampai 17 tahun menemukan efektivitas vaksin sebesar 43% pada anak dengan kondisi medis yang mendasari dan 53% pada anak tanpa kondisi medis yang mendasari terhadap kunjungan IGD atau hospitalisasi terkait influenza. Pada anak dengan penyakit respirasi, efektivitas diperkirakan 31%. (American Academy of Pediatrics)
  • Data tersebut mendukung pendekatan AAP untuk memberikan perhatian khusus kepada anak dengan kondisi medis kronis.

Vaksin influenza harus diberikan setiap tahun

  • Virus influenza mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
  • WHO memperbarui rekomendasi komposisi vaksin secara berkala berdasarkan surveilans global melalui Global Influenza Surveillance and Response System. WHO mengeluarkan rekomendasi komposisi untuk musim belahan bumi utara dan selatan secara terpisah. (World Health Organization)
  • Karena virus berubah, vaksin influenza bukan vaksin satu kali seumur hidup.
  • Vaksinasi tahunan membantu menyesuaikan perlindungan dengan virus yang diperkirakan beredar dan mempertahankan perlindungan setelah imunitas menurun.

Semua vaksin yang sesuai dapat digunakan

  • Untuk musim 2026–2027, AAP menyatakan bahwa setiap vaksin influenza berlisensi yang sesuai dengan usia dan kondisi kesehatan anak dapat digunakan.
  • AAP tidak memberikan preferensi terhadap satu produk atau formulasi tertentu. Vaksin sebaiknya diberikan sesegera mungkin pada musim influenza. (American Academy of Pediatrics)
  • Pemilihan vaksin tetap perlu mempertimbangkan usia, kondisi medis, kontraindikasi, serta karakteristik produk yang tersedia.
  • Alergi telur bukan lagi alasan untuk menghindari vaksin influenza
  • AAP pada rekomendasi sebelumnya menyatakan bahwa anak dengan alergi telur dapat menerima vaksin influenza tanpa tindakan pencegahan tambahan di luar prosedur vaksinasi rutin. (American Academy of Pediatrics)
  • Dengan demikian, riwayat alergi telur sendiri tidak seharusnya menjadi alasan untuk menunda vaksinasi influenza.
  • Hal ini penting karena alergi telur cukup sering ditemukan pada anak, sementara influenza sendiri dapat menyebabkan penyakit berat.

Kapan vaksin perlu ditunda?

  • Kondisi akut sedang sampai berat dapat menjadi alasan untuk menunda vaksinasi sampai kondisi anak membaik, terutama bila terdapat demam atau penyakit sistemik yang bermakna.
  • Riwayat sindrom Guillain-Barré dalam waktu 6 minggu setelah vaksin influenza sebelumnya perlu dipertimbangkan sebagai precaution dan memerlukan penilaian klinis individual.
  • Sebaliknya, penyakit ringan tidak secara otomatis menjadi alasan untuk menunda vaksinasi. AAP juga menegaskan bahwa alergi telur bukan kontraindikasi vaksin influenza. (American Academy of Pediatrics)

Diagnosis influenza tidak selalu memerlukan pemeriksaan laboratorium

  • Influenza dapat didiagnosis berdasarkan gambaran klinis dan situasi epidemiologi.
  • Pemeriksaan dapat membantu pada kondisi tertentu, terutama bila hasilnya akan memengaruhi keputusan klinis.
  • Namun, AAP menekankan bahwa terapi antivirus tidak harus menunggu hasil tes influenza positif ketika influenza sedang beredar di masyarakat. Keputusan terapi dapat mempertimbangkan gejala, faktor risiko pasien, pajanan, dan epidemiologi lokal. (American Academy of Pediatrics)
  • Hal ini penting pada anak berisiko tinggi karena keterlambatan terapi dapat mengurangi manfaat intervensi dini.

Terapi antivirus pada anak

  • AAP 2026–2027 memperkuat penggunaan antivirus pada kelompok yang mempunyai risiko penyakit berat.
  • Antivirus dianjurkan untuk:
    • • anak yang dirawat di rumah sakit
    • • anak dengan influenza berat
    • • anak dengan penyakit progresif
    • • anak rawat jalan dengan risiko tinggi komplikasi
  • Pada kelompok tersebut, terapi sebaiknya dimulai sesegera mungkin. AAP secara khusus menyatakan bahwa keputusan terapi pada kelompok tersebut tidak boleh ditunda hanya karena penyakit sudah berlangsung lebih lama atau anak telah mendapatkan vaksin influenza. (American Academy of Pediatrics)

Bagaimana dengan anak sehat yang dirawat di rumah?

  • AAP juga memberikan ruang untuk terapi antivirus pada anak rawat jalan yang tidak termasuk kelompok risiko tinggi.
  • Antivirus merupakan pilihan bagi anak dengan influenza yang dicurigai atau terkonfirmasi. Manfaat terbesar biasanya diperoleh bila terapi dimulai sejak dini.
  • AAP juga memasukkan anak yang tinggal serumah dengan saudara atau anggota keluarga yang memiliki risiko tinggi sebagai kelompok yang dapat dipertimbangkan untuk terapi antivirus. (American Academy of Pediatrics)
  • Keputusan ini tetap mempertimbangkan usia anak, berat penyakit, lama gejala, risiko komplikasi, efek samping obat, serta kondisi keluarga.

Oseltamivir tetap menjadi obat utama

  • Oseltamivir merupakan antivirus yang paling banyak digunakan dalam tata laksana influenza pada anak.
  • AAP sebelumnya menetapkan oseltamivir sebagai obat antivirus pilihan karena pengalaman penggunaannya pada anak yang luas, biaya relatif, dan kemudahan pemberian. CDC juga mencantumkan oseltamivir sebagai inhibitor neuraminidase yang aktif terhadap influenza A dan B. (American Academy of Pediatrics)
  • CDC mendukung penggunaan oseltamivir untuk terapi influenza pada bayi bahkan ketika penggunaannya berada di luar beberapa batas usia pada label FDA, karena pertimbangan manfaat dan risiko pada influenza neonatal. (CDC)
  • Dosis oseltamivir harus berdasarkan usia dan berat badan
  • Untuk anak, dosis antivirus tidak boleh ditentukan hanya berdasarkan nama obat.
  • AAP 2026–2027 menyediakan tabel dosis khusus berdasarkan kelompok usia dan berat badan. Contoh untuk anak usia ≥12 bulan adalah sebagai berikut:
Berat badan Dosis terapi oseltamivir Frekuensi Durasi
>15 sampai 23 kg 45 mg 2 kali sehari 5 hari
>23 sampai 40 kg 60 mg 2 kali sehari 5 hari
>40 kg 75 mg 2 kali sehari 5 hari
  • Dosis dan durasi dapat berbeda pada kemoprofilaksis dan kelompok usia tertentu. Karena itu, dosis harus disesuaikan dengan usia, berat badan, fungsi ginjal, indikasi terapi, dan rekomendasi klinis yang berlaku. (American Academy of Pediatrics)
  • Efek samping yang paling sering dicantumkan antara lain mual, muntah, dan sakit kepala. (American Academy of Pediatrics)
  • Baloxavir sebagai pilihan pada kelompok tertentu
  • Baloxavir merupakan antivirus dengan mekanisme berbeda dari inhibitor neuraminidase.
  • Obat ini diberikan sebagai dosis tunggal pada pasien yang memenuhi kriteria penggunaan.
  • AAP sebelumnya menyebut baloxavir sebagai alternatif bagi pasien yang sesuai, terutama ketika kepatuhan terhadap obat dengan pemberian berulang menjadi masalah atau toleransi terhadap regimen lain kurang baik. (American Academy of Pediatrics)
  • Namun, tidak semua pasien cocok mendapatkan baloxavir. Kondisi seperti penyakit berat atau progresif, rawat inap, dan imunosupresi berat memerlukan pertimbangan khusus.
  • Karena itu, pilihan antivirus harus disesuaikan dengan karakteristik pasien.

Terapi tidak selalu harus menunggu hasil PCR

  • Salah satu prinsip penting dalam rekomendasi AAP adalah jangan menunda terapi yang memang diperlukan hanya karena hasil pemeriksaan belum tersedia.
  • Pada saat influenza beredar luas, anak dengan gejala khas dan faktor risiko tertentu dapat memulai terapi berdasarkan penilaian klinis.
  • AAP menyatakan bahwa pemberian antivirus tidak mensyaratkan hasil tes influenza positif pada kondisi yang sesuai. (American Academy of Pediatrics)
  • Prinsip ini terutama penting pada anak yang dirawat di rumah sakit, mengalami penyakit berat, penyakit progresif, atau mempunyai risiko komplikasi tinggi.

Kemoprofilaksis setelah pajanan

  • Kemoprofilaksis berbeda dengan terapi.
  • Terapi diberikan kepada anak yang mengalami influenza.
  • Kemoprofilaksis diberikan kepada individu tertentu yang telah terpajan tetapi belum mengalami penyakit atau belum menunjukkan gejala, dengan tujuan mengurangi risiko berkembangnya influenza.
  • AAP menyatakan kemoprofilaksis sebagai pilihan pada individu tertentu, terutama anak tanpa gejala yang telah terpajan dan mempunyai risiko tinggi komplikasi tetapi belum mendapatkan imunisasi atau diperkirakan tidak menghasilkan respons imun yang efektif. (American Academy of Pediatrics)
  • Kemoprofilaksis bukan pengganti vaksinasi.
  • AAP sebelumnya juga menekankan bahwa kemoprofilaksis tidak digunakan secara rutin atau luas pada populasi umum. Penggunaannya ditujukan pada situasi klinis tertentu. (American Academy of Pediatrics)

Influenza dan antibiotik

  • Influenza disebabkan oleh virus.
  • Antibiotik tidak membunuh virus influenza.
  • Karena itu, anak dengan influenza tidak otomatis membutuhkan antibiotik.
  • Antibiotik dapat dipertimbangkan bila terdapat bukti atau kecurigaan infeksi bakteri sekunder, misalnya pneumonia bakteri atau komplikasi bakteri lainnya.
  • Penggunaan antibiotik tanpa indikasi dapat meningkatkan risiko efek samping dan resistensi antimikroba.

Apakah anak yang sudah divaksin masih bisa terkena influenza?

  • Ya.
  • Vaksin influenza tidak memberikan perlindungan 100%.
  • Efektivitas vaksin berubah menurut musim, subtype virus, kecocokan antigenik, usia, kondisi kesehatan, serta faktor lain.
  • Penelitian pediatrik 2021–2024 menunjukkan efektivitas keseluruhan 34% sampai 60% terhadap influenza yang berhubungan dengan hospitalisasi atau kunjungan rawat jalan. (American Academy of Pediatrics)
  • Karena itu, anak yang telah divaksin tetap dapat terinfeksi.
  • Perbedaannya adalah vaksinasi dapat mengurangi risiko penyakit berat dan luaran serius.

Influenza dapat terjadi sepanjang tahun

  • Pola influenza berbeda menurut wilayah geografis.
  • WHO melakukan surveilans global dan memperbarui rekomendasi komposisi vaksin untuk belahan bumi utara dan selatan. Di wilayah tropis, influenza dapat terjadi sepanjang tahun dengan pola yang berbeda dari negara beriklim sedang. (World Health Organization)
  • Hal ini relevan bagi Indonesia karena Indonesia berada di wilayah tropis.
  • Karena itu, strategi vaksinasi dan waktu pemberian vaksin perlu mempertimbangkan epidemiologi lokal serta ketersediaan vaksin.

Hubungan dengan rekomendasi WHO

  • WHO menempatkan vaksinasi influenza sebagai salah satu strategi utama untuk mengurangi beban influenza musiman.
  • WHO juga memperbarui komposisi vaksin berdasarkan data surveilans global. Rekomendasi tersebut menjadi dasar penting bagi regulator dan produsen vaksin di berbagai negara. (World Health Organization)
  • Namun, rekomendasi AAP ditujukan khusus untuk populasi anak di Amerika Serikat.
  • Karena itu, penerapan di Indonesia perlu mempertimbangkan rekomendasi Kementerian Kesehatan, Ikatan Dokter Anak Indonesia, epidemiologi Indonesia, ketersediaan produk, dan regulasi nasional.

Tabel praktis penatalaksanaan influenza pada anak

Situasi klinis Pendekatan
Anak sehat, tanpa gejala Vaksinasi tahunan sesuai usia
Anak ≥6 bulan belum divaksin Vaksinasi sesuai riwayat imunisasi
Gejala influenza ringan Perawatan suportif dan observasi
Influenza dicurigai pada anak berisiko tinggi Pertimbangkan antivirus segera
Influenza berat atau progresif Antivirus segera
Influenza pada anak rawat inap Antivirus segera
Anak sehat dengan gejala ≤48 jam Antivirus dapat dipertimbangkan
Anak terpajan tetapi tanpa gejala dan berisiko tinggi Pertimbangkan kemoprofilaksis sesuai indikasi
Influenza dengan dugaan komplikasi bakteri Evaluasi kemungkinan infeksi bakteri
Batuk menetap setelah influenza Evaluasi perjalanan penyakit dan diagnosis lain

Dasar utama tabel ini adalah rekomendasi AAP 2026–2027 dan bukti pendukungnya. (American Academy of Pediatrics)

Perbedaan antara influenza biasa dan influenza berat

Karakteristik Influenza tanpa komplikasi Influenza berat atau progresif
Demam Dapat terjadi Dapat tinggi atau menetap
Batuk Umum Dapat memburuk
Napas Normal atau sedikit meningkat Sesak, takipnea, hipoksemia
Aktivitas Menurun sementara Sangat menurun
Minum Masih dapat Dapat mengalami dehidrasi
Kesadaran Normal Dapat berubah
Perjalanan penyakit Cenderung membaik Memburuk atau muncul komplikasi
Terapi antivirus Dapat dipertimbangkan Dianjurkan sesegera mungkin

Anak dengan penyakit berat atau progresif perlu mendapatkan evaluasi medis segera.

Tanda yang memerlukan evaluasi segera

  • Orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi anak.
  • Gejala yang perlu mendapatkan perhatian antara lain:
    • • sesak napas
    • • napas cepat atau sulit bernapas
    • • warna kebiruan pada bibir atau wajah
    • • anak sangat lemah atau sulit dibangunkan
    • • dehidrasi
    • • kejang
    • • nyeri dada
    • • demam atau batuk yang sempat membaik lalu memburuk kembali
    • • penurunan kondisi umum
  • Pada anak dengan kondisi medis berisiko tinggi, ambang untuk mencari pertolongan medis sebaiknya lebih rendah.

Influenza dan perlindungan keluarga

  • Influenza dapat menyebar di rumah.
  • Karena itu, perlindungan anak tidak hanya bergantung pada vaksinasi anak yang bersangkutan.
  • AAP menekankan pentingnya vaksinasi pada anak berisiko tinggi, orang tua atau pengasuh, serta anggota rumah tangga yang tinggal bersama anak tersebut. (American Academy of Pediatrics)
  • Langkah lain meliputi:
    • • mencuci tangan
    • • memperbaiki ventilasi ruangan
    • • mengurangi kontak dekat ketika sedang sakit
    • • menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin
    • • membersihkan permukaan yang sering disentuh
    • • tidak memaksakan anak sakit untuk kembali ke aktivitas sebelum kondisinya memungkinkan

Implikasi untuk praktik pediatri

  • Rekomendasi AAP 2026–2027 menunjukkan perubahan penting dalam cara melihat influenza pada anak.
  • Influenza perlu dipandang sebagai penyakit yang memiliki spektrum luas. Sebagian anak mengalami penyakit ringan, sedangkan kelompok tertentu mempunyai risiko komplikasi yang jauh lebih tinggi.
  • Pendekatan klinis sebaiknya mempertimbangkan empat komponen utama.
  • Pertama, status vaksinasi.
  • Kedua, usia dan kondisi medis yang mendasari.
  • Ketiga, tingkat keparahan dan perjalanan penyakit.
  • Keempat, waktu sejak munculnya gejala.
  • Keempat faktor tersebut membantu menentukan kebutuhan pemeriksaan, terapi antivirus, rawat inap, atau pemantauan di rumah.

Kesimpulan

  • AAP 2026–2027 merekomendasikan vaksinasi influenza setiap tahun untuk semua anak mulai usia 6 bulan yang tidak memiliki kontraindikasi medis. Vaksin diberikan sesegera mungkin pada musim influenza dan setiap vaksin berlisensi yang sesuai dengan usia serta kondisi kesehatan dapat digunakan. (American Academy of Pediatrics)
  • Bukti penelitian terbaru mendukung manfaat vaksinasi pada anak. Penelitian 2021–2024 menunjukkan efektivitas vaksin terhadap influenza yang menyebabkan kunjungan rawat jalan atau hospitalisasi sebesar 34% sampai 60% antar-musim. Penelitian 2016–2025 memperkirakan efektivitas vaksin terhadap kematian akibat influenza sebesar 80% pada anak usia 6 bulan sampai 17 tahun. (American Academy of Pediatrics)
  • Terapi antivirus merupakan bagian penting dari pengendalian influenza. AAP merekomendasikan terapi sesegera mungkin pada anak yang dirawat di rumah sakit, mengalami penyakit berat atau progresif, serta anak rawat jalan yang memiliki risiko tinggi komplikasi. Terapi juga dapat dipertimbangkan pada anak lain dengan influenza yang dicurigai atau terkonfirmasi. (American Academy of Pediatrics)
  • Oseltamivir tetap menjadi pilihan penting dalam terapi influenza pada anak. Kemoprofilaksis dapat digunakan pada situasi tertentu setelah pajanan, terutama pada anak berisiko tinggi yang belum mempunyai perlindungan imun yang memadai. (CDC)
  • Influenza pada anak membutuhkan pendekatan yang berdasarkan usia, faktor risiko, perjalanan penyakit, status vaksinasi, dan tingkat keparahan. Vaksinasi tahunan dan pengenalan dini terhadap penyakit berat merupakan dua komponen penting dalam mengurangi beban influenza pada populasi pediatrik.

Daftar pustaka utama

  • American Academy of Pediatrics, Committee on Infectious Diseases. Recommendations for Prevention and Control of Influenza in Children, 2026–2027: Policy Statement. Pediatrics. 2026. doi:10.1542/peds.2026-078778. (American Academy of Pediatrics)
  • American Academy of Pediatrics, Committee on Infectious Diseases. Recommendations for Prevention and Control of Influenza in Children, 2026–2027: Technical Report. Pediatrics. 2026. doi:10.1542/peds.2026-078779. (American Academy of Pediatrics)
  • Olson SM, Ahmad H, Wielgosz K, et al. Pediatric Vaccine Effectiveness Against Influenza Hospitalization and Outpatient Visits: 2021–2024. Pediatrics. 2026. (American Academy of Pediatrics)
  • Leonard JS, Reinhart K, Lu PJ, et al. Influenza Vaccine Effectiveness Against Pediatric Death in the United States: 2016–2025. Pediatrics. 2026;158(2):e2026076453. doi:10.1542/peds.2026-076453. (American Academy of Pediatrics)
  • Hayek H, Noble EK, Stewart LS, et al. Influenza Vaccine Effectiveness Among Children With and Without Underlying Conditions. Pediatrics. 2026;157(2):e2025072184. (American Academy of Pediatrics)
  • World Health Organization. Seasonal influenza. Global Influenza Programme. Updated 2026. (World Health Organization)
  • World Health Organization. Recommendations for influenza vaccine composition for the 2026–2027 northern hemisphere season. 2026. (World Health Organization)
  • Centers for Disease Control and Prevention. About Influenza Antiviral Medications. 2026. (CDC)
  • AAP Policy Statement 2026–2027
  • AAP Technical Report 2026–2027

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *