LAPORAN KASUS PRAKTIK SEHARI-HARI: Anak Hanya Mau Susu, Gangguan Makan, GERD, dan Keluhan THT
Seorang anak usia 2 tahun dengan berat badan 13,5 kg mengalami feeding difficulty berat, yaitu hampir tidak mau makan makanan padat dan hanya mau minum susu. Anak mudah mual dan muntah serta sebelumnya didiagnosis GERD dan alergi susu sapi, disertai alergi debu. Anak juga sering mengalami flu berulang, hidung tersumbat, bernapas melalui mulut, mulut sering terbuka, tidur mengorok, mimisan, tidur gelisah dan sering rewel pada malam hari, serta memiliki kebiasaan tidur menungging. Sejak bayi terdapat riwayat kolik. Dari sisi perilaku, anak sangat aktif, emosinya tinggi, mudah berteriak, melempar benda, memukul, mencakar dan mencubit. Orang tua juga melaporkan perkembangan motorik kasar yang belum optimal, seperti mudah tersandung ketika berlari, terlambat dalam melompat, berlari, mengayuh sepeda dan koordinasi tangan. Selama ini anak sering dianggap haus pada malam hari sehingga diberikan susu berulang kali, yang berpotensi menyebabkan overfeeding susu: berat badan relatif tinggi tetapi konsumsi makanan padat sangat rendah.
Gambaran tersebut menunjukkan perlunya evaluasi terpadu terhadap feeding difficulty, fungsi oral-motor, gangguan gastrointestinal, kualitas tidur, saluran napas atas, perkembangan dan perilaku, serta evaluasi kembali dasar diagnosis GERD dan alergi susu sapi.
Analisis dan Diskusi
Kasus ini menggambarkan bahwa masalah makan pada anak tidak selalu semata-mata masalah “tidak mau makan”. Anak dengan riwayat mual, muntah, kolik atau ketidaknyamanan gastrointestinal dapat mengembangkan pengalaman makan yang tidak menyenangkan sehingga makanan padat semakin ditolak. Gangguan gastrointestinal juga dapat berhubungan dengan masalah oral-motor, termasuk kemampuan mengunyah, mengelola makanan di dalam mulut, dan menelan. Akibatnya anak menjadi sangat selektif terhadap tekstur, rasa, bentuk atau jenis makanan tertentu. Dalam kondisi seperti ini, susu menjadi pilihan yang paling mudah karena cair, familiar dan relatif mudah dikonsumsi. Bila susu kemudian diberikan terus-menerus setiap kali anak menolak makan, terbentuk lingkaran: makanan ditolak → susu diberikan → anak kenyang → nafsu makan makanan padat semakin rendah → ketergantungan terhadap susu semakin kuat.
Berat badan 13,5 kg pada usia 2 tahun juga harus dibaca bersama tinggi badan dan kurva pertumbuhan, bukan dianggap otomatis sebagai “gemuk karena sehat”. Anak dapat memiliki berat badan yang cukup atau bahkan berlebih tetapi tetap mengalami dietary imbalance, karena sebagian besar energi berasal dari susu sementara variasi makanan padat sangat terbatas. Pemberian susu berlebihan, terutama pada malam hari, juga dapat mengurangi rasa lapar pada pagi dan siang hari. Karena itu, evaluasi harus mencakup jumlah susu dalam 24 jam, waktu pemberian susu, konsumsi makanan padat, durasi makan, tekstur yang dapat diterima, kemampuan mengunyah dan menelan, serta pola perilaku saat makan. Intervensi idealnya tidak sekadar mengganti susu, tetapi secara bertahap membangun kembali kemampuan dan pengalaman makan melalui pendekatan nutrisi, feeding therapy dan bila diperlukan evaluasi terapis okupasi atau terapis wicara yang memiliki kompetensi feeding dan swallowing.
Keluhan hidung tersumbat, bernapas melalui mulut, mengorok, tidur gelisah dan flu berulang juga tidak boleh dianggap sebagai masalah terpisah. Pada anak dengan sumbatan hidung kronis, hipertrofi adenoid dapat menjadi salah satu kemungkinan diagnosis dan dapat berkontribusi terhadap napas mulut serta gangguan tidur. Infeksi saluran napas berulang juga dapat berhubungan dengan masalah telinga tengah pada sebagian anak. Namun, tidak setiap flu berulang berarti adenoid membesar atau infeksi telinga; diperlukan pemeriksaan dokter, dan bila indikasi ada, evaluasi THT. Gangguan tidur kronis juga dapat memengaruhi perilaku siang hari. Anak yang tidurnya tidak berkualitas dapat tampak sangat aktif, mudah marah, impulsif, sulit mengatur emosi, sering berteriak atau agresif. Karena itu, perilaku seperti melempar, memukul, mencakar dan mencubit tidak boleh langsung dianggap sebagai gangguan perilaku primer sebelum kualitas tidur, pendengaran, perkembangan, lingkungan, komunikasi dan faktor medis dievaluasi. Keluhan motorik kasar seperti mudah tersandung atau koordinasi yang belum matang juga layak dinilai melalui skrining perkembangan dan pemeriksaan langsung.
Konsep gut–brain axis juga dapat dipertimbangkan dalam memahami kasus seperti ini, karena komunikasi dua arah antara saluran gastrointestinal, sistem saraf, metabolisme, sistem imun, dan otak dapat memengaruhi kenyamanan tubuh, tidur, nafsu makan, regulasi emosi, serta perilaku, agresivitas, gangguan fokus. Pada anak dengan gangguan gastrointestinal, tidur yang buruk, feeding difficulty, dan kemungkinan masalah sensorik atau perkembangan, dapat muncul gambaran anak yang sangat aktif, sulit diam, fokus mudah berpindah, emosinya tinggi, mudah frustrasi atau agresif. Bila disertai kesulitan mengunyah dan menelan, selektivitas makanan, serta keterlambatan atau ketidakmatangan motorik kasar seperti mudah tersandung, kesulitan melompat, berlari atau mengayuh sepeda, kondisi tersebut sebaiknya dinilai secara multidisiplin, mencakup fungsi gastrointestinal, nutrisi, oral-motor dan swallowing, kualitas tidur serta saluran napas, pendengaran, dan perkembangan neurologis. Dengan demikian, perilaku “sangat aktif” tidak langsung dianggap sebagai anak nakal atau sekadar cerdas, tetapi dipahami sebagai sinyal yang perlu dicari penyebabnya secara menyeluruh.
Terakhir, jangan buru-buru memvonis alergi susu sapi hanya berdasarkan mual, muntah, sulit makan, GERD atau gangguan pertumbuhan, dan jangan menggunakan “tes panel alergi” sebagai satu-satunya dasar diagnosis. Alergi susu sapi dapat bersifat IgE-mediated maupun non-IgE-mediated, sehingga hasil pemeriksaan alergi negatif tidak selalu menyingkirkan semua bentuk alergi, sementara hasil positif juga tidak otomatis membuktikan alergi klinis. Bila riwayat klinis tidak meyakinkan, diagnosis perlu ditinjau kembali oleh dokter dengan mempertimbangkan hubungan waktu antara konsumsi susu dan gejala, respons terhadap eliminasi yang dilakukan secara tepat, serta kemungkinan penyebab lain. Oral Food Challenge (OFC) dapat menjadi metode konfirmasi pada kasus tertentu, tetapi harus dilakukan berdasarkan penilaian klinis dan dengan pengawasan medis yang sesuai—terutama bila ada riwayat reaksi alergi berat. Prinsipnya bukan “semakin banyak makanan yang dilarang semakin baik”, melainkan menentukan masalah yang benar, mengurangi overfeeding susu, memperbaiki kemampuan makan dan tidur, menangani gangguan gastrointestinal serta saluran napas yang terbukti, dan menghindari hanya makanan yang memang terbukti menyebabkan reaksi alergi.
Daftar pustaka
- Woicka-Kolejwa K, Zaczeniuk M, Majak P, Pawłowska-Iwanicka K, Kopka M, Stelmach W, Jerzyńska J, Stelmach I. Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. Postepy Dermatol Alergol. 2016 Apr;33(2):109-13. doi: 10.5114/ada.2016.59151. Epub 2016 May 16. PMID: 27279819; PMCID: PMC4884778.
- Foong RX, du Toit G, Fox AT. Asthma, Food Allergy, and How They Relate to Each Other. Front Pediatr. 2017 May 9;5:89. doi: 10.3389/fped.2017.00089. PMID: 28536690; PMCID: PMC5422552.
- Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, Reese I, Vieira MC, Rommel N, Dupont C, Venter C, Cianferoni A, Walsh J, Yonamine G, Beauregard A, Meyer R, Vazquez-Ortiz M. Feeding difficulties in children with food allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatr Allergy Immunol. 2024 Apr;35(4):e14119. doi: 10.1111/pai.14119. PMID: 38566436.
- Marseglia GL, Poddighe D, Caimmi D, Marseglia A, Caimmi S, Ciprandi G, Klersy C, Pagella F, Castellazzi AM. Role of adenoids and adenoiditis in children with allergy and otitis media. Curr Allergy Asthma Rep. 2009 Nov;9(6):460-4. doi: 10.1007/s11882-009-0068-4. PMID: 19814919.
- Filiz S, Keleş Ş, Akbulut UE, Işık IA, Kara MZ. Sleep disturbances and affecting factors in young children with food allergy and their mothers. Allergol Immunopathol (Madr). 2020 Mar-Apr;48(2):158-164. doi: 10.1016/j.aller.2019.06.014. Epub 2019 Oct 7. PMID: 31601501.










Leave a Reply