KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Laporan Kasus Praktek Sehari hari: Anak Sering Nyeri Lutut dan Kaki, Ternyata Ada Riwayat Alergi Makanan

 

Anak Sering Nyeri Lutut dan Kaki, Ternyata Ada Riwayat Alergi Makanan. Adakah Hubungannya dengan Alergi, Rinitis, dan Gangguan Pencernaan?

Sebuah laporan kasus dari praktik sehari-hari

Seorang anak usia 9 tahun mengalami nyeri berulang pada tangan dan kaki selama sekitar enam bulan. Nyeri terutama dirasakan pada lutut dan kaki, bahkan pada beberapa episode begitu berat sampai anak menangis. Selama berbulan-bulan anak sudah mendapatkan berbagai macam obat dan telah diperiksa oleh dokter ortopedi, dokter anak, serta beberapa dokter lainnya. Berbagai pemeriksaan darah dilaporkan normal, tetapi keluhan tetap berulang. Pada awalnya, masalah ini tentu lebih mudah dipandang sebagai masalah tulang, otot atau sendi. Namun, setelah riwayat kesehatan anak ditelusuri lebih lengkap, ditemukan cerita lain yang sangat penting: anak sering bersin dan pilek, mempunyai adenoid, mengalami infeksi berulang, serta mempunyai keluhan pencernaan seperti sering sembelit, nyeri perut, mudah mual dan diare. Anak juga mempunyai riwayat alergi makanan.

Jangan melihat anak hanya dari satu organ

  • Kasus seperti ini mengajarkan bahwa tubuh anak tidak selalu dapat dipahami dengan memisahkan hidung, perut dan sendi menjadi tiga masalah yang sama sekali tidak berhubungan. Pada anak dengan alergi, keluhan dapat muncul pada beberapa organ. Hidung dapat sering bersin dan pilek. Kulit dapat gatal atau mengalami ruam. Saluran pencernaan dapat mengalami mual, muntah, diare, sembelit atau nyeri perut. Pada anak tertentu, berbagai keluhan tersebut dapat muncul berulang dalam pola yang sama. Karena itu, ketika seorang anak terus mengalami nyeri lutut atau kaki, dokter perlu menanyakan pula bagaimana kondisi hidung, kulit, pencernaan, pola makan, tidur dan pertumbuhannya. Dalam kasus ini, perubahan cara melihat pasien dari “anak dengan nyeri kaki” menjadi “anak dengan keluhan pada beberapa sistem tubuh” memberikan petunjuk klinis yang berbeda.

Sering pilek belum tentu hanya “alergi debu”

  • Anak yang sering bersin dan pilek memang dapat mengalami rinitis alergi. Namun, tidak semua pilek adalah alergi. Infeksi berulang, iritasi, perubahan suhu, rinitis nonalergi dan pembesaran adenoid juga dapat menyebabkan hidung tersumbat atau pilek. Adenoid yang membesar bahkan dapat membuat anak bernapas melalui mulut, mendengkur dan tidur tidak nyaman. Karena itu, istilah “alergi debu” atau “alergi dingin” sebaiknya tidak langsung menjadi diagnosis akhir. Pada kasus ini, rinitis merupakan salah satu bagian dari gambaran yang lebih luas, karena bersamaan dengan keluhan pencernaan dan nyeri anggota gerak. Hubungan langsung antara makanan dan rinitis juga bukan sesuatu yang boleh diasumsikan begitu saja.

Perut juga bisa memberikan petunjuk

  • Keluhan pencernaan dalam kasus ini justru menjadi salah satu bagian yang menarik. Anak sering sembelit, mudah nyeri perut, mual dan diare. Alergi makanan memang dapat menyebabkan keluhan pada saluran pencernaan, termasuk pada beberapa bentuk alergi yang tidak selalu dapat ditemukan dengan pemeriksaan alergi standar. EAACI juga membahas konstipasi sebagai salah satu kemungkinan manifestasi alergi makanan pada sebagian anak, terutama ketika konstipasi tidak membaik dengan penanganan standar. Namun, penting dipahami bahwa sembelit atau diare pada anak tidak otomatis berarti alergi makanan karena penyebabnya sangat banyak. (EAACI)

Lalu bagaimana dengan nyeri lutut dan kaki?

  • Di sinilah kasus menjadi lebih menarik. Nyeri pada lutut atau kaki tidak selalu berarti arthritis. Arthralgia berarti nyeri pada daerah sendi tanpa bukti bahwa sendinya mengalami peradangan. Sedangkan arthritis berarti terdapat peradangan sendi yang dapat ditandai dengan pembengkakan, cairan dalam sendi, keterbatasan gerak, rasa hangat atau tanda inflamasi lainnya.
  • Karena nyeri anak sudah berlangsung sekitar enam bulan, penyakit seperti juvenile idiopathic arthritis tetap harus dipertimbangkan bila terdapat tanda peradangan sendi. Pemeriksaan darah yang normal tidak otomatis menyingkirkan penyakit tersebut karena tidak ada satu pemeriksaan darah yang dapat memastikan atau menyingkirkan JIA. Pemeriksaan fisik, terutama ketika anak sedang mengalami keluhan, tetap sangat penting. Bila diperlukan, dokter dapat menggunakan pemeriksaan seperti ultrasonografi atau MRI untuk melihat peradangan yang tidak terlihat dari luar. (NIAMS)

Apakah alergi makanan dapat berhubungan dengan nyeri sendi?

  • Pertanyaan ini sebenarnya bukan hal yang sama sekali baru. Sejak beberapa dekade lalu telah ada laporan mengenai kemungkinan hubungan alergi dan arthritis. Bahkan pernah dilaporkan kasus food-induced allergic arthritis, yaitu gejala peradangan sendi yang diduga berhubungan dengan makanan tertentu.
  • Namun, bagian ini harus dijelaskan secara hati-hati kepada masyarakat. Tidak berarti setiap anak yang alergi makanan akan mengalami arthritis. Penelitian lama mengenai food-induced arthritis justru menunjukkan bahwa dugaan hubungan makanan dengan nyeri atau arthritis tidak selalu terbukti ketika makanan diuji kembali secara terkontrol. Karena itu, istilah “artritis alergi” sebaiknya dianggap sebagai kemungkinan atau hipotesis pada kasus tertentu, bukan diagnosis yang otomatis diberikan kepada semua anak dengan alergi makanan.

Yang menarik pada kasus ini adalah pola perbaikannya

  • Hal yang membuat kasus ini menarik adalah adanya perubahan beberapa keluhan secara bersamaan. Setelah makanan yang dicurigai sebagai pencetus alergi dihindari, keluhan pencernaan berkurang. Keluhan bersin dan pilek juga berkurang. Yang tidak kalah menarik, nyeri tangan, lutut dan kaki juga menjadi lebih jarang atau lebih ringan. Pola seperti ini dapat menjadi petunjuk bahwa ada hubungan antara makanan tertentu dengan kumpulan keluhan anak.
  • Tetapi perbaikan setelah menghindari makanan belum membuktikan bahwa makanan tersebut menyebabkan nyeri sendi. Anak mungkin sekaligus mengalami perubahan pola makan, perubahan obat, infeksi yang sudah sembuh, atau perubahan faktor lainnya. Karena itu, hubungan tersebut perlu diuji dengan pendekatan diagnosis alergi yang benar. Naskah kasus sendiri menekankan bahwa perbaikan setelah eliminasi merupakan temuan menarik tetapi belum membuktikan hubungan sebab-akibat.

Bukan sekadar “pantang makanan”

  • Ketika orang tua melihat anak membaik setelah menghindari makanan tertentu, sering muncul kesimpulan, “Berarti makanan itu alergi.” Kesimpulan tersebut belum tentu benar. Food journal atau catatan makanan sangat berguna untuk melihat pola, misalnya makanan apa yang dimakan, kapan dimakan, kapan gejala muncul, dan gejala apa yang terjadi. Tetapi food journal bukan pemeriksaan yang dapat memastikan alergi.
  • Skin prick test dan pemeriksaan specific IgE juga harus dipahami dengan benar. Hasil positif menunjukkan bahwa tubuh memiliki sensitisasi terhadap suatu bahan, tetapi tidak selalu berarti anak pasti mengalami penyakit ketika memakan makanan tersebut. Pedoman EAACI merekomendasikan riwayat klinis yang terarah terlebih dahulu, kemudian pemeriksaan yang sesuai. Bila setelah evaluasi diagnosis masih meragukan, oral food challenge atau OFC dapat dilakukan dalam lingkungan medis yang terawasi. (EAACI)

Mengapa OFC penting?

  • Secara sederhana, OFC mencoba menjawab pertanyaan yang paling penting: “Apakah anak benar-benar bereaksi ketika makanan tersebut diberikan secara terkontrol?”
  • OFC bukan berarti orang tua mencoba memberikan makanan yang dicurigai sendiri di rumah. Pada anak tertentu, makanan dapat menyebabkan reaksi berat. Karena itu, OFC harus dilakukan dengan protokol yang sesuai dan pengawasan tenaga medis. Pedoman AAAAI-EAACI PRACTALL 2024 memberikan standar mengenai dosis bertahap, interval pemberian, kriteria penghentian dan keselamatan selama food challenge. (EAACI)
  • Dengan demikian, pendekatan yang lebih ilmiah adalah: Riwayat gejala → food journal → evaluasi dokter → pemeriksaan yang sesuai → eliminasi terarah bila diperlukan → OFC bila diagnosis masih meragukan.
  • Bukan: “Tes alergi positif → semua makanan dipantang.”

Apa yang mungkin terjadi pada kasus ini?

  • Ada beberapa kemungkinan yang perlu dipikirkan.
    1. Pertama, anak mungkin memang memiliki alergi makanan yang menyebabkan keluhan gastrointestinal dan rinitis sebagai bagian dari penyakit alerginya, sementara nyeri kaki memiliki penyebab lain yang kebetulan membaik pada periode yang sama.
    2. Kedua, mungkin terdapat hubungan antara makanan tertentu dengan gejala muskuloskeletal pada anak ini, tetapi mekanismenya belum dapat dipastikan.
    3. Ketiga, anak mungkin mengalami kondisi muskuloskeletal tersendiri yang berjalan bersamaan dengan alergi dan gangguan pencernaan.
    4. Keempat, bisa terdapat hubungan yang lebih kompleks antara sistem pencernaan, sistem kekebalan dan jaringan muskuloskeletal. Konsep hubungan antara usus dan sendi sering disebut gut-joint axis, tetapi pada manusia hubungan tersebut masih terus diteliti dan tidak boleh digunakan sebagai bukti bahwa alergi makanan pasti menyebabkan arthritis. Naskah kasus juga menempatkan gut-joint axis sebagai hipotesis, bukan diagnosis final.

Apa yang sebaiknya diperhatikan orang tua?

Keluhan anak Jangan hanya bertanya Pertanyaan yang lebih luas
Nyeri lutut/kaki “Obat nyerinya apa?” Apakah ada bengkak atau kaku pagi hari?
Sering pilek “Alergi debu?” Apakah alergi, infeksi atau adenoid?
Sering sembelit “Obat BAB apa?” Apakah ada pola dengan makanan?
Sering mual “Obat lambung apa?” Apakah berkaitan dengan makanan tertentu?
Diare berulang “Obat diare apa?” Apakah ada pola makanan atau penyakit lain?
Alergi makanan “Makanan apa yang harus dipantang?” Apakah alerginya sudah benar-benar terkonfirmasi?
Hasil tes alergi positif “Berarti pasti alergi?” Apakah hasil sesuai dengan gejala setelah makan?
Keluhan membaik setelah eliminasi “Berarti sudah pasti alergi?” Apakah perlu konfirmasi lebih lanjut?

Pelajaran penting dari kasus ini

  • Kasus anak usia 9 tahun ini mengingatkan bahwa keluhan anak kadang baru dapat dipahami setelah seluruh cerita kesehatannya disatukan. Nyeri lutut dan kaki selama enam bulan tidak boleh hanya dilihat sebagai masalah kaki. Riwayat sering bersin dan pilek, adenoid, gangguan pencernaan, alergi makanan dan infeksi berulang dapat menjadi bagian penting dalam penilaian keseluruhan.
  • Namun, kita juga harus berhati-hati. Tidak semua nyeri sendi adalah artritis dan tidak semua artritis disebabkan alergi makanan. Begitu pula, tidak semua sembelit, diare, mual atau pilek merupakan manifestasi alergi. Diagnosis tetap harus dilakukan berdasarkan bukti klinis.

Kesimpulan

  • Kasus ini memberikan satu pesan sederhana kepada orang tua:
    • Jangan hanya mengobati bagian tubuh yang sakit. Cobalah melihat seluruh pola kesehatan anak.
    • Anak yang berulang kali mengalami nyeri lutut dan kaki, terutama bila disertai masalah pencernaan, rinitis, alergi makanan, gangguan tidur atau masalah pertumbuhan, mungkin memerlukan evaluasi yang lebih luas.
  • Pada kasus ini, berkurangnya keluhan pencernaan, rinitis dan nyeri kaki setelah makanan tertentu dihindari merupakan petunjuk klinis yang menarik. Tetapi petunjuk bukan berarti bukti akhir. Bila alergi makanan masih diragukan, diagnosis sebaiknya dikonfirmasi dengan pendekatan alergologi yang tepat dan, bila memang mempunyai indikasi serta aman, oral food challenge yang dilakukan di bawah pengawasan medis. EAACI menempatkan OFC sebagai bagian penting ketika diagnosis alergi makanan masih belum pasti setelah riwayat dan pemeriksaan yang sesuai. (EAACI)
  • Dengan pendekatan tersebut, tujuan akhirnya bukan membuat anak pantang semakin banyak makanan atau minum obat semakin lama, tetapi menemukan penyebab yang benar, menghindari pencetus yang benar-benar terbukti, mempertahankan makanan yang aman, dan memastikan tidak ada penyakit sendi atau penyakit lain yang terlewat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *