KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

SUDAH SEMBUH DARI FLU, TAPI BATUK TERUS? Memahami “Long Flu”, Alergi, dan Infeksi Saluran Napas Berulang

SUDAH SEMBUH DARI FLU, TAPI BATUK TERUS? Memahami “Long Flu”, Alergi, dan Infeksi Saluran Napas Berulang

Influenza A biasanya membuat anak demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, lemas, dan kehilangan nafsu makan. Pada sebagian anak, setelah demam hilang dan kondisi mulai membaik, batuk, mudah lelah, hidung tersumbat, atau keluhan lainnya masih dapat bertahan. Masyarakat sering menyebut keadaan seperti ini sebagai “long flu”. Istilah tersebut memang mudah dipahami, tetapi secara medis belum mempunyai definisi baku seperti long COVID. Karena itu, batuk yang masih ada setelah flu tidak boleh langsung dianggap sebagai penyakit baru, tetapi juga tidak boleh selalu dianggap sebagai “flu yang belum sembuh”.

Penelitian besar pada pasien yang pernah dirawat karena influenza menunjukkan bahwa dampak kesehatan setelah influenza dapat berlangsung lebih panjang daripada fase infeksi akut. Dalam penelitian tersebut, pasien diikuti hingga 18 bulan dan ditemukan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan setelah influenza, terutama yang berkaitan dengan sistem pernapasan [1]. Namun, penting dipahami bahwa penelitian tersebut dilakukan pada pasien yang cukup berat hingga membutuhkan perawatan rumah sakit. Jadi, hasilnya tidak berarti semua orang yang terkena influenza akan mengalami keluhan selama berbulan-bulan, apalagi selama 18 bulan.

Pada anak, batuk setelah flu mempunyai banyak kemungkinan penyebab. Saluran napas dapat tetap sensitif setelah infeksi virus sehingga batuk berlangsung lebih lama meskipun virusnya sudah tidak menjadi penyebab utama. Pada anak yang mempunyai asma atau rinitis alergi, infeksi influenza juga dapat memperburuk peradangan saluran napas. Akibatnya, batuk, mengi, hidung tersumbat, bersin, atau lendir dari hidung ke tenggorokan dapat terus mengganggu setelah demam menghilang. Karena itu, jika batuk tidak membaik atau justru semakin berat, dokter perlu mencari penyebab lain, bukan sekadar menganggap anak mengalami “flu berkepanjangan”.

Hal lain yang sering membingungkan orang tua adalah infeksi berulang. Anak yang baru sembuh dari flu kemudian kembali batuk atau pilek belum tentu mengalami kelanjutan penyakit yang sama. Bisa saja anak terkena infeksi virus baru, mengalami alergi yang kambuh, mengalami asma, atau memiliki saluran napas yang masih sensitif setelah infeksi sebelumnya. Anak memang dapat mengalami beberapa episode infeksi saluran napas dalam satu tahun, terutama ketika sering berada di lingkungan dengan banyak anak. Karena itu, istilah “sering sakit” perlu dilihat berdasarkan pola, beratnya penyakit, masa pemulihan, dan kondisi anak secara keseluruhan.

Menariknya, beberapa penelitian menemukan adanya hubungan antara alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang. Salah satu penelitian pada anak dengan alergi makanan melaporkan adanya asosiasi dengan infeksi saluran napas berulang [2]. Tetapi hasil tersebut tidak berarti alergi makanan menyebabkan daya tahan tubuh menjadi lemah. Alergi makanan adalah reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap protein makanan tertentu, sedangkan imunodefisiensi adalah kondisi ketika sistem pertahanan tubuh tidak bekerja sebagaimana mestinya. Keduanya merupakan hal yang berbeda.

Anak dengan alergi makanan juga dapat mempunyai masalah lain secara bersamaan, misalnya dermatitis atopik, rinitis alergi, asma, gangguan tidur, sulit makan, atau masalah saluran pencernaan. Karena itu, ketika seorang anak sering sakit, batuk berulang, sulit makan, atau berat badan sulit bertambah, jangan langsung menyimpulkan bahwa semuanya disebabkan oleh alergi makanan. Demikian pula, jangan langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami gangguan kekebalan tubuh. Dokter perlu melihat seluruh pola penyakit dan faktor lingkungan yang mungkin berperan.

Saluran pencernaan juga perlu diperhatikan. Sebagian anak dengan alergi makanan dapat mengalami nyeri perut, mual, muntah, diare, sembelit, kembung, atau gangguan makan. Masalahnya, gejala-gejala tersebut juga sangat sering ditemukan pada gangguan pencernaan fungsional dan berbagai kondisi lainnya. Jadi, anak yang sembelit atau muntah setelah makan tidak otomatis berarti alergi makanan. Hubungan antara makanan dan gejala harus dinilai dengan hati-hati [3,6].

Kesulitan makan merupakan masalah lain yang sering menyertai anak dengan alergi makanan. Anak yang pernah mengalami gejala setelah makan dapat menjadi takut terhadap makanan tertentu. Jika terlalu banyak jenis makanan kemudian dihindari, pilihan makanan anak semakin sedikit. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat memengaruhi kecukupan energi, protein, vitamin, mineral, dan pertumbuhan. Karena itu, prinsip penting dalam penanganan alergi makanan adalah jangan menghindari makanan secara berlebihan tanpa diagnosis yang jelas [5].

Lalu bagaimana memastikan seorang anak benar-benar mengalami alergi makanan? Pemeriksaan darah atau tes alergi dapat membantu pada kondisi tertentu, tetapi hasil positif tidak selalu berarti anak benar-benar alergi terhadap makanan tersebut. Tes dapat menunjukkan sensitisasi, sedangkan alergi makanan membutuhkan bukti adanya reaksi klinis terhadap makanan yang bersangkutan. Karena itu, dokter harus menggabungkan cerita penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan alergi yang sesuai, dan bila diperlukan melakukan oral food challenge (OFC) [3,7].

OFC atau oral food challenge adalah prosedur pemberian makanan secara terkontrol untuk melihat apakah makanan tersebut benar-benar menimbulkan reaksi. Prosedur ini dilakukan dengan pengawasan tenaga medis dan mempertimbangkan risiko pasien. Pedoman internasional telah memberikan standar mengenai pelaksanaan OFC [4]. Tujuannya bukan sekadar “mencoba makanan”, tetapi membantu menjawab pertanyaan penting: apakah anak benar-benar alergi terhadap makanan tersebut atau sebenarnya dapat mentoleransinya?

Jika alergi makanan sudah benar-benar terdiagnosis, makanan pencetus perlu dihindari secara tepat. Tetapi makanan yang aman tidak perlu ikut dihilangkan. Prinsipnya sederhana: hindari makanan yang memang terbukti menjadi pencetus, bukan menghindari sebanyak mungkin makanan. Dengan demikian, anak tetap memperoleh makanan yang beragam dan kebutuhan gizinya dapat terpenuhi [5,8]. Dalam perjalanan penyakit, dokter juga dapat menilai kembali apakah toleransi terhadap makanan tertentu sudah berkembang.

Lantas, apakah mengatasi alergi makanan dapat membuat anak tidak mudah flu? Belum dapat dikatakan demikian. Ada kemungkinan bahwa pengendalian alergi, perbaikan gejala pencernaan, tidur, asupan nutrisi, dan pengendalian penyakit alergi secara keseluruhan dapat membuat kondisi anak menjadi lebih baik. Namun, bukti ilmiah saat ini belum cukup untuk menyatakan bahwa eliminasi makanan dapat “meningkatkan kekebalan tubuh”, mencegah influenza, atau secara langsung mencegah long flu. Hubungan antara saluran pencernaan dan paru-paru memang sedang banyak diteliti melalui konsep gut–lung axis, tetapi mekanisme biologis tersebut belum boleh diterjemahkan menjadi klaim terapi yang belum terbukti.

Karena itu, ketika anak sudah sembuh dari influenza tetapi batuk masih berlanjut, pendekatannya bukan sekadar mencari obat atau antibiotik. Perlu dilihat apakah batuk merupakan bagian dari pemulihan pascavirus, apakah ada asma atau rinitis alergi, apakah terjadi infeksi baru, atau apakah terdapat komplikasi lain. Jika bersamaan dengan itu anak mengalami nyeri perut, muntah, sembelit, diare, sulit makan, atau berat badan sulit bertambah, masalah pencernaan juga perlu dinilai. Bila alergi makanan dicurigai, diagnosis harus dilakukan secara sistematis dan tidak hanya berdasarkan satu hasil pemeriksaan.

Pada akhirnya, pesan terpenting bagi orang tua adalah jangan buru-buru memberi label pada semua gejala setelah flu. Batuk berkepanjangan belum tentu long flu, infeksi berulang belum tentu berarti kekebalan tubuh lemah, dan gejala pencernaan belum tentu alergi makanan. Sebaliknya, gejala yang menetap, berulang, atau mengganggu pertumbuhan memang layak dievaluasi secara menyeluruh. Diagnosis yang tepat, pengendalian penyakit saluran napas dan pencernaan, serta penggunaan OFC bila memang diperlukan dapat membantu menghindari dua kesalahan sekaligus: mengabaikan penyakit yang sebenarnya ada dan melakukan pembatasan makanan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Daftar Pustaka

  • [1] Xie Y, Choi T, Al-Aly Z. Long-term outcomes following hospital admission for COVID-19 versus seasonal influenza: a cohort study. Lancet Infect Dis. 2024;24(3):239–255. doi:10.1016/S1473-3099(23)00684-9.
  • [2] Woicka-Kolejwa K, Zaczeniuk M, Majak P, Pawłowska-Iwanicka K, Kopka M, Stelmach W, Jerzyńska J, Stelmach I. Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. Postepy Dermatol Alergol. 2016;33(2):109–113. doi:10.5114/ada.2016.59151.
  • [3] Santos AF, Riggioni C, Agache I, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78:3057–3076. doi:10.1111/all.15902.
  • [4] Sampson HA, Arasi S, Bahnson HT, et al. AAAAI-EAACI PRACTALL: Standardizing oral food challenges—2024 Update. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(11):e14276. doi:10.1111/pai.14276.
  • [5] Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, et al. Feeding difficulties in children with food allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(4):e14119. doi:10.1111/pai.14119.
  • [6] Meyer R, Vandenplas Y, Chebar Lozinsky A, et al. Diagnosis and management of food allergy-induced constipation in young children—An EAACI position paper. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(6):e14163. doi:10.1111/pai.14163.
  • [7] Foong RX, Dantzer JA, Wood RA, Santos AF. Improving the diagnosis of IgE-mediated food allergy. J Allergy Clin Immunol Pract. 2024.
  • [8] Ishibashi S, Yanagida N, Sato S, Ebisawa M. Management of food allergy based on oral food challenge. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2024;24(3):153–159. doi:10.1097/ACI.0000000000000980.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *