KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

LONG FLU SETELAH INFLUENZA A, Mengapa setelah flu sembuh, demam dan batuk masih bisa berlanjut?

LONG FLU SETELAH INFLUENZA A, Mengapa setelah flu sembuh, demam dan batuk masih bisa berlanjut?

Influenza A biasanya menyebabkan demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, pegal, sakit kepala, dan badan lemas. Pada kebanyakan orang, kondisi akan membaik dalam beberapa hari hingga kurang dari dua minggu. Namun, pada sebagian orang, setelah fase akut berlalu masih dapat muncul atau menetap beberapa keluhan. Kondisi seperti ini sering disebut secara populer sebagai “long flu”. Istilah ini menggambarkan keluhan yang masih dirasakan setelah influenza, tetapi sampai sekarang belum mempunyai definisi dan kriteria diagnosis yang baku seperti long COVID.

Penelitian besar yang diterbitkan di The Lancet Infectious Diseases menunjukkan bahwa influenza tidak selalu berhenti memberikan dampak ketika demam dan gejala akut sudah menghilang. Penelitian tersebut mengikuti pasien yang sebelumnya dirawat di rumah sakit karena influenza dan menemukan adanya peningkatan risiko berbagai gangguan kesehatan setelah fase akut [1]. Namun, penelitian ini terutama dilakukan pada pasien yang sampai membutuhkan rawat inap. Jadi, hasilnya tidak dapat langsung dianggap berlaku untuk semua orang yang mengalami influenza ringan, terutama anak-anak.

Keluhan yang paling perlu diperhatikan setelah influenza adalah batuk, sesak, mudah lelah, atau kemampuan beraktivitas yang menurun. Influenza dapat menyebabkan peradangan pada saluran napas dan pada sebagian orang dapat diikuti komplikasi seperti pneumonia, sinusitis, atau memburuknya penyakit saluran napas yang sudah ada sebelumnya [2]. Karena itu, batuk yang masih tersisa setelah flu tidak selalu berarti virus influenza masih berada di dalam tubuh. Bisa saja saluran napas masih dalam proses pemulihan.

Anak atau orang yang mempunyai asma perlu mendapat perhatian lebih. Influenza dapat membuat saluran napas yang memang sudah sensitif menjadi semakin meradang. Akibatnya, setelah influenza sembuh, batuk, mengi, atau sesak dapat lebih mudah muncul kembali. Penderita asma juga mempunyai risiko lebih tinggi mengalami komplikasi influenza, termasuk pneumonia [3]. Jadi, pada penderita asma, keluhan yang berlangsung lebih lama setelah influenza perlu dinilai dengan lebih hati-hati.

Hal yang sama berlaku pada anak yang memang mempunyai riwayat batuk lama atau batuk berulang. Setelah terkena influenza, batuk dapat bertahan karena saluran napas masih sensitif. Tetapi penyebabnya bisa bermacam-macam, misalnya asma, rinitis alergi, lendir dari hidung yang mengalir ke tenggorokan, sinusitis, infeksi baru, atau komplikasi influenza. Karena itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa semua batuk setelah flu adalah long flu.

Infeksi saluran napas berulang juga harus dibedakan dari long flu. Misalnya, seorang anak sudah membaik setelah influenza, kemudian beberapa minggu kemudian kembali demam, pilek, dan batuk. Keadaan tersebut bisa merupakan infeksi baru, bukan berarti influenza sebelumnya belum sembuh. Anak memang dapat mengalami beberapa episode infeksi saluran napas dalam satu periode, terutama ketika sering berkontak dengan anak lain atau sedang berada pada musim banyak infeksi.

Menariknya, alergi makanan juga pernah dikaitkan dengan infeksi saluran napas yang berulang pada anak. Penelitian Woicka-Kolejwa dan kolega terhadap 280 anak dengan alergi makanan menemukan bahwa 153 anak atau sekitar 54,6% mengalami infeksi saluran napas berulang [7]. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang pada kelompok anak yang diteliti. Namun, penelitian ini tidak membuktikan bahwa alergi makanan menyebabkan long flu. Ini adalah perbedaan yang sangat penting.

Mengapa informasi tersebut penting? Karena anak dengan alergi makanan yang kemudian mengalami influenza dapat mengalami batuk atau infeksi saluran napas berulang, sehingga orang tua mungkin merasa anak “tidak sembuh-sembuh dari flu”. Padahal, bisa saja terdapat beberapa kejadian yang berbeda: influenza pertama sudah membaik, kemudian muncul infeksi baru, atau terdapat asma maupun rinitis alergi yang ikut mempertahankan keluhan. Jadi, alergi makanan bukan otomatis berarti anak akan mengalami long flu.

Selain masalah pernapasan, sebagian anak dapat mengalami keluhan pencernaan seperti mual, muntah, sakit perut, diare, konstipasi, atau refluks. Kondisi seperti FGID dan GERD dapat muncul bersamaan dengan keluhan setelah infeksi. Namun, sampai saat ini belum cukup bukti untuk mengatakan bahwa FGID, GERD, konstipasi, atau “alergi pencernaan” merupakan penyebab long flu. Keduanya dapat terjadi bersamaan, tetapi tidak boleh langsung dianggap mempunyai hubungan sebab-akibat.

Influenza juga dapat menyebabkan komplikasi pada sistem saraf, meskipun komplikasi berat seperti ensefalitis dan ensefalopati relatif jarang [4]. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa influenza A dapat menyebabkan proses peradangan pada otak yang bertahan melewati fase akut [5]. Temuan tersebut menarik secara ilmiah, tetapi belum berarti bahwa semua manusia yang mengalami influenza akan mengalami gangguan otak jangka panjang. Penelitian pada manusia masih diperlukan untuk mengetahui apakah dan bagaimana influenza dapat menyebabkan keluhan neurologis yang menetap.

Jadi, bagaimana menyikapinya? Jangan panik, tetapi jangan pula mengabaikan gejala yang menetap atau memburuk. Batuk dan rasa lelah yang perlahan semakin membaik dapat merupakan bagian dari proses pemulihan. Namun, apabila setelah sempat membaik seseorang kembali demam, mengalami sesak, napas cepat, nyeri dada, sulit minum, tanda dehidrasi, penurunan kesadaran, atau kondisi semakin berat, diperlukan pemeriksaan medis.

Pada anak dengan asma, batuk berulang, penyakit kronis, usia sangat muda, atau kondisi penyerta lainnya, perhatian perlu lebih besar karena risiko komplikasi influenza dapat meningkat [2,3,6]. Dokter perlu melihat keseluruhan perjalanan penyakit: apakah ini masih proses pemulihan, komplikasi influenza, infeksi baru, atau penyakit dasar yang kambuh.

Pencegahan tetap lebih baik daripada menghadapi komplikasi. Vaksin influenza tahunan direkomendasikan untuk usia enam bulan ke atas dan terutama penting bagi kelompok yang mempunyai risiko komplikasi lebih tinggi, termasuk anak kecil dan penderita asma [3,6]. Vaksin terbukti membantu mengurangi risiko influenza dan komplikasi berat, tetapi belum tepat jika dikatakan vaksin secara khusus mencegah long flu, karena istilah dan definisinya sendiri masih belum baku.

Kesimpulannya, influenza A tidak selalu selesai begitu demam turun. Pada sebagian orang, batuk, lelah, atau gangguan saluran napas dapat bertahan setelah fase akut. Namun, tidak semua keluhan setelah influenza adalah long flu. Bisa berupa proses pemulihan, komplikasi, asma yang kambuh, alergi saluran napas, atau bahkan infeksi baru. Alergi makanan juga bukan penyebab langsung long flu, tetapi penelitian menunjukkan adanya hubungan antara alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang pada sebagian anak. Karena itu, anak yang mengalami keluhan berulang setelah influenza sebaiknya tidak hanya diberi label “long flu”, tetapi dicari penyebab sebenarnya dan ditangani sesuai kondisi klinisnya.

Daftar Pustaka

  • [1] Xie Y, Choi T, Al-Aly Z. Long-term outcomes following hospital admission for COVID-19 versus seasonal influenza: a cohort study. Lancet Infect Dis. 2024;24(3):239–255.
  • [2] Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Signs and Symptoms of Influenza. CDC.
  • [3] Centers for Disease Control and Prevention. Flu and People with Asthma. CDC.
  • [4] Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Signs and Symptoms of Influenza: Complications. CDC.
  • [5] Hosseini S, Wilk E, Michaelsen-Preusse K, et al. Long-term neuroinflammation induced by influenza A virus infection and the impact on hippocampal neuron morphology and function. J Neurosci. 2018;38(12):3060–3080.
  • [6] Centers for Disease Control and Prevention. Flu and Children. CDC.
  • [7] Woicka-Kolejwa K, Zaczeniuk M, Majak P, et al. Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. Postepy Dermatol Alergol. 2016;33(2):109–113. doi:10.5114/ada.2016.59151.
  • Versi ini lebih mudah dibaca awam, tetapi tetap mempertahankan pesan utama: “long flu” perlu dibedakan dari infeksi baru, asma/alergi saluran napas, dan komplikasi influenza; alergi makanan dapat berkaitan dengan infeksi respirasi berulang, tetapi belum terbukti menyebabkan long flu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *