KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

KETIKA PERUT ANAK SERING KEMBUNG, NYERI, DAN SULIT MAKAN: Alergi Makanan, Gut-Brain Axis, dan Peran Oral Food Challenge

 

KETIKA PERUT ANAK SERING KEMBUNG, NYERI, DAN SULIT MAKAN

Alergi Makanan, Gut-Brain Axis, dan Peran Oral Food Challenge

Kembung, banyak gas, sakit perut, muntah, perubahan pola buang air besar, sulit makan, atau berat badan sulit bertambah merupakan keluhan yang cukup sering ditemukan pada anak. Keluhan tersebut tidak selalu berarti alergi makanan. Konstipasi, infeksi, refluks, gangguan fungsional saluran cerna, intoleransi makanan, penyakit inflamasi, gangguan penyerapan, dan berbagai kondisi lain dapat memberikan gejala yang serupa. Pada sebagian anak, makanan memang dapat berperan sebagai pencetus reaksi imun. Manifestasinya dapat terutama terjadi pada saluran cerna, seperti muntah, nyeri perut, diare, darah atau lendir pada tinja, serta gangguan makan. Namun, hubungan antara makanan dan gejala tidak cukup ditentukan hanya berdasarkan dugaan orang tua atau hasil satu pemeriksaan alergi. Pedoman EAACI menekankan pentingnya riwayat klinis yang terarah, pemeriksaan yang sesuai, dan pada keadaan tertentu oral food challenge untuk memastikan apakah makanan tertentu benar-benar menyebabkan reaksi alergi. (EAACI)

  • Gut-brain axis menjelaskan komunikasi dua arah antara saluran cerna dan otak melalui sistem saraf enterik, nervus vagus, sistem imun, hormon, dan berbagai metabolit mikrobiota. Karena itu, nyeri perut, mual, gangguan buang air besar, kurang tidur, pembatasan makanan, dan asupan nutrisi yang tidak adekuat dapat memengaruhi kenyamanan, perilaku, tidur, dan aktivitas anak. Namun, gejala tersebut tidak spesifik untuk alergi makanan dan tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa suatu gangguan perilaku atau perkembangan disebabkan oleh alergi.
  • Pendekatan yang tepat bukan sekadar menghindari semakin banyak makanan. Tujuannya adalah menemukan diagnosis yang benar, mempertahankan nutrisi dan pertumbuhan yang baik, serta menggunakan eliminasi dan oral food challenge secara tepat ketika memang diperlukan.

Perut Anak Tidak Selalu Sekadar “Masuk Angin”

  • Anak yang sering mengatakan perutnya sakit, mudah kembung, banyak kentut, muntah, sulit BAB, diare, atau tiba-tiba menolak makanan sering kali membuat orang tua mencari satu penyebab.
  • Makanan kemudian menjadi tersangka utama.
  • Padahal, keluhan saluran cerna pada anak memiliki banyak kemungkinan penyebab.
  • Konstipasi sendiri dapat menyebabkan perut kembung, nyeri, dan perubahan perilaku saat anak menahan BAB. Pada anak, tanda konstipasi antara lain BAB kurang dari dua kali seminggu, tinja keras atau kering, nyeri saat BAB, perut membesar, dan perilaku menahan BAB. (NIDDK)
  • Karena itu, anak dengan kembung atau sakit perut tidak seharusnya langsung diberi label “alergi pencernaan”.
  • Yang perlu dicari adalah mengapa gejala tersebut terjadi.

Apa yang Sebenarnya Dimaksud “Alergi Pencernaan”?

  • Istilah “alergi pencernaan” sering digunakan untuk menggambarkan anak yang dianggap mengalami reaksi terhadap makanan dengan gejala yang dominan pada saluran cerna.
  • Secara medis, kondisi tersebut dapat mencakup beberapa bentuk alergi makanan dengan mekanisme yang berbeda.
Kondisi Manifestasi yang dapat ditemukan
Alergi makanan IgE-mediated Muntah, nyeri perut, disertai urtikaria, bengkak, batuk, mengi atau anafilaksis
Reaksi gastrointestinal non-IgE Muntah, diare, nyeri perut, gangguan makan, darah pada tinja pada kondisi tertentu
FPIES Muntah berulang setelah makanan pencetus, pucat, lemas dan pada reaksi berat dapat terjadi dehidrasi atau syok
Food protein-induced proctocolitis Darah dan/atau lendir pada tinja pada bayi yang tampak relatif sehat
Eosinophilic gastrointestinal disease Nyeri perut, muntah, sulit makan, gangguan menelan atau gejala gastrointestinal lain tergantung organ yang terkena
Intoleransi makanan Gejala gastrointestinal tanpa mekanisme alergi imunologis yang sama seperti alergi makanan
Konstipasi Perut kembung, nyeri, tinja keras, BAB jarang atau perilaku menahan BAB
Gangguan gastrointestinal fungsional Nyeri perut, kembung, perubahan BAB tanpa selalu ditemukan penyakit struktural
Infeksi gastrointestinal Muntah, diare, demam, nyeri perut dan gejala sistemik
  • Pesan penting: semua kondisi tersebut dapat menyerupai satu sama lain. Karena itu, diagnosis tidak boleh dibuat hanya berdasarkan satu gejala.

  • Kembung dan Gas Tidak Sama dengan Alergi
  • Kembung setelah makan dapat terjadi karena berbagai mekanisme.
  • Anak dapat menelan udara ketika makan terlalu cepat, berbicara saat makan, minum menggunakan sedotan, atau mengonsumsi minuman berkarbonasi.
  • Fermentasi karbohidrat tertentu oleh bakteri usus juga dapat menghasilkan gas.
  • Konstipasi dapat membuat gas dan tinja lebih sulit bergerak sehingga perut terasa penuh dan membesar.
  • Intoleransi terhadap komponen makanan juga dapat menyebabkan gejala.
  • Alergi makanan merupakan salah satu kemungkinan, tetapi bukan satu-satunya.
  • Karena itu, kembung tidak dapat dijadikan bukti alergi makanan.

  • Gut-Brain Axis: Mengapa Masalah Perut Dapat Memengaruhi Anak?
  • Saluran cerna dan otak terus berkomunikasi.
  • Jalur komunikasi tersebut melibatkan:
Jalur Peran
Sistem saraf enterik Mengatur gerakan dan fungsi saluran cerna
Nervus vagus Membawa informasi dua arah antara saluran cerna dan otak
Sistem imun Menghasilkan mediator inflamasi yang dapat memengaruhi jaringan tubuh dan sistem saraf
Hormon Menghubungkan kondisi metabolik, stres, nafsu makan dan fungsi gastrointestinal
Mikrobiota Menghasilkan berbagai metabolit yang berinteraksi dengan epitel, imun dan metabolisme
Short-chain fatty acids Berperan dalam lingkungan usus, metabolisme dan regulasi imun
Metabolisme triptofan Berhubungan dengan jalur metabolisme neurotransmiter dan sistem imun
Asam empedu Mengalami modifikasi oleh mikrobiota dan berperan dalam sinyal metabolik
  • Hubungan ini bersifat dua arah.
  • Artinya, masalah pada saluran cerna dapat memengaruhi kenyamanan dan respons anak. Sebaliknya, stres, kecemasan, kurang tidur, dan faktor psikososial juga dapat memengaruhi fungsi gastrointestinal.

Bagaimana Keluhan Perut Dapat Terlihat sebagai Perubahan Perilaku?

Seorang anak yang mengalami nyeri perut terus-menerus mungkin menjadi lebih mudah marah.

  • Anak yang sering mual dapat kehilangan selera makan.
  • Anak yang pernah muntah setelah makan dapat mulai takut terhadap makanan.
  • Anak yang mengalami gatal atau keluhan gastrointestinal pada malam hari dapat tidur lebih buruk.
  • Anak yang menjalani eliminasi banyak makanan dapat mengalami penurunan variasi makanan.

Dengan demikian, hubungan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Makanan atau penyakit gastrointestinal
↓
Gejala saluran cerna
↓
Nyeri, mual, kembung atau tidak nyaman
↓
Gangguan tidur dan aktivitas
↓
Perubahan nafsu makan dan perilaku makan
↓
Asupan nutrisi berkurang
↓
Pertumbuhan dan kesehatan mikrobiota dapat ikut terdampak

  • Namun, rangkaian ini tidak membuktikan bahwa alergi makanan menyebabkan gangguan perkembangan otak.

Gejala Apa yang Perlu Diperhatikan?

Kelompok Gejala
Nyeri Sakit perut berulang, kram, nyeri setelah makan
Gas Kembung, banyak kentut, perut terasa penuh
Muntah Muntah berulang atau muntah yang berhubungan konsisten dengan makanan tertentu
BAB Diare, konstipasi, perubahan konsistensi dan frekuensi
Tinja Darah, lendir, tinja sangat berminyak atau perubahan mencolok lainnya
Makan Nafsu makan turun, menolak makanan, makan sangat sedikit
Feeding Takut makan, memilih makanan sangat terbatas, menangis ketika makan
Pertumbuhan Berat badan sulit naik atau pertumbuhan melambat
Tidur Tidur terganggu akibat nyeri, gatal, refluks atau ketidaknyamanan
Perilaku Mudah marah, rewel, kurang aktif atau sulit berkonsentrasi akibat kondisi yang mendasarinya
  • Sebagian gejala tersebut dapat muncul pada alergi makanan, tetapi juga dapat ditemukan pada banyak penyakit lain.

Kapan Anak Perlu Dibawa ke Dokter?

Tidak semua kembung membutuhkan pemeriksaan khusus.

Namun, evaluasi medis diperlukan jika keluhan menetap, berulang, mengganggu aktivitas, atau disertai tanda bahaya.

Kondisi Tindakan
Kembung atau gas sesekali Evaluasi pola makan dan observasi
Nyeri perut berulang Konsultasi dokter
Konstipasi menetap Konsultasi dokter
Muntah berulang Evaluasi medis
Diare berulang atau menetap Evaluasi medis
Darah dalam tinja Evaluasi segera
Berat badan sulit naik Evaluasi pertumbuhan dan nutrisi
Nafsu makan terus menurun Evaluasi penyebab
Banyak makanan sudah dieliminasi Evaluasi alergi dan kecukupan nutrisi
Gejala selalu muncul setelah makanan tertentu Evaluasi kemungkinan reaksi makanan
Nyeri berat atau menetap Evaluasi segera
Muntah hebat dengan lemas atau pucat Pertolongan medis segera
Sesak, bengkak pada wajah atau tenggorok, atau penurunan kesadaran setelah makan Kegawatdaruratan

Pada anak dengan konstipasi, NIDDK menyebutkan darah dalam tinja, kembung, nyeri perut terus-menerus, muntah, dan penurunan berat badan sebagai tanda yang memerlukan perhatian medis segera. (NIDDK)

Pada dugaan gangguan gastrointestinal fungsional, tanda seperti darah pada tinja, muntah menetap, demam yang tidak jelas, penurunan berat badan, perlambatan pertumbuhan, atau nyeri yang menetap dapat mengarahkan dokter untuk mencari penyebab lain. (NIDDK)


Jangan Langsung Menghapus Banyak Makanan

  • Salah satu masalah yang sering terjadi adalah eliminasi makanan secara berlebihan.
  • Anak mulai tidak makan susu.
  • Kemudian telur dihindari.
  • Setelah itu gandum, ikan, ayam, kacang, buah, dan berbagai makanan lain ikut dihilangkan.
  • Akhirnya anak hanya memiliki beberapa pilihan makanan.
  • Padahal, semakin banyak makanan yang dihindari, semakin besar risiko diet menjadi tidak seimbang.
  • Pada anak, hal ini penting karena kebutuhan energi, protein, vitamin dan mineral mendukung pertumbuhan.
  • EAACI menekankan pentingnya memastikan diagnosis alergi benar dan melakukan penilaian diet secara individual. Pembatasan makanan yang tidak diperlukan dapat memberikan konsekuensi nutrisi dan psikologis, terutama pada anak. (EAACI)

Skin Prick Test atau IgE Positif Berarti Alergi?

  • Tidak selalu.
  • Pemeriksaan skin prick test dan specific IgE terutama menunjukkan adanya sensitisasi terhadap alergen tertentu.
  • Sensitisasi harus dibandingkan dengan riwayat klinis.
  • Anak yang memiliki hasil IgE positif belum otomatis mengalami alergi makanan klinis.
  • Sebaliknya, hasil pemeriksaan yang tidak sesuai dengan cerita klinis juga tidak boleh digunakan secara terpisah untuk menentukan diagnosis.
  • EAACI merekomendasikan pendekatan yang dimulai dari riwayat alergi yang terarah, dilanjutkan pemeriksaan yang sesuai. Jika diagnosis masih belum jelas, oral food challenge dapat diperlukan dalam kondisi yang tepat. (EAACI)

Apa Itu Oral Food Challenge?

  • Oral Food Challenge atau OFC adalah pemberian makanan secara bertahap dan terkontrol untuk menilai apakah anak benar-benar mengalami reaksi terhadap makanan tersebut.
  • OFC berbeda dengan sekadar mencoba makanan di rumah.
  • Dalam OFC, anak dinilai terlebih dahulu.
  • Kemudian makanan diberikan dalam jumlah bertahap sesuai protokol.
  • Anak diamati untuk melihat munculnya gejala.
  • Jika muncul reaksi yang memenuhi kriteria, pemberian dihentikan dan anak ditangani sesuai kondisi klinis.
  • Jika tidak terjadi reaksi, hasil tersebut dapat membantu dokter menentukan apakah makanan tersebut masih perlu dihindari.
  • Pedoman AAAAI-EAACI PRACTALL 2024 memberikan pembaruan mengenai prosedur, dosis, interval, keamanan, dan kriteria penghentian food challenge. Untuk alergi IgE-mediated, pemberian umumnya dilakukan secara bertahap dengan interval sekitar 20 sampai 30 menit, sedangkan protokol untuk reaksi gastrointestinal tertentu memiliki pertimbangan tersendiri. (PubMed)

Mengapa OFC Penting?

Masalah Peran OFC
Diagnosis belum pasti Membantu menentukan apakah makanan benar-benar menyebabkan reaksi
IgE positif tetapi riwayat tidak jelas Membantu menilai relevansi klinis
Anak sudah lama eliminasi Menilai apakah makanan masih menimbulkan reaksi
Banyak makanan dihindari Membantu menghindari eliminasi yang tidak diperlukan
Diet anak semakin terbatas Membantu menentukan makanan yang dapat dikembalikan bila aman
Dugaan alergi sudah lama Membantu menilai kemungkinan toleransi yang berkembang
  • OFC bukan pemeriksaan yang harus dilakukan pada setiap anak dengan keluhan pencernaan.
  • Keputusan melakukan OFC bergantung pada riwayat, kemungkinan diagnosis, hasil pemeriksaan, risiko reaksi, dan kondisi klinis anak.
  • OFC harus dilakukan dengan pengawasan tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan menangani reaksi alergi akut.

Hubungan Alergi Makanan, Usus, dan Otak

Hubungan tersebut dapat dipahami dalam sebuah model sederhana:

Tahap Yang dapat terjadi
Makanan masuk Protein makanan berinteraksi dengan sistem imun dan saluran cerna
Reaksi terjadi Muncul gejala gastrointestinal atau sistemik pada anak yang benar-benar alergi
Saluran cerna terganggu Nyeri, mual, muntah, diare atau perubahan BAB
Sistem saraf menerima sinyal Nervus vagus dan sistem saraf enterik ikut berperan
Anak merasa tidak nyaman Tidur, aktivitas dan nafsu makan dapat terganggu
Makanan mulai dihindari Variasi makanan berkurang
Nutrisi berkurang Risiko kekurangan zat gizi meningkat bila eliminasi luas
Mikrobiota ikut berubah Komposisi mikrobiota dapat dipengaruhi pola diet
Siklus berlanjut Keluhan gastrointestinal dan masalah makan dapat semakin kompleks
  • Namun, gut-brain axis bukan diagnosis penyakit.
  • Gut-brain axis juga bukan alasan untuk menganggap semua anak yang rewel, sulit tidur, sulit makan, atau mengalami gangguan perilaku sebagai anak dengan alergi makanan.

Yang Harus Dicari Dokter

Pada anak dengan dugaan “alergi pencernaan”, pemeriksaan sebaiknya tidak hanya berfokus pada makanan.

Aspek Pertanyaan penting
Pertumbuhan Apakah berat dan tinggi berkembang sesuai pola pertumbuhan?
Pola makan Berapa banyak jenis makanan yang masih dapat dikonsumsi?
Gejala Apa gejala utama dan kapan muncul?
Hubungan dengan makanan Apakah terjadi berulang setelah makanan yang sama?
BAB Apakah konstipasi, diare, darah atau lendir?
Muntah Kapan terjadi setelah makan dan bagaimana polanya?
Alergi Apakah ada urtikaria, bengkak, mengi atau reaksi sistemik?
Tidur Apakah terganggu oleh nyeri, gatal atau gejala gastrointestinal?
Obat Apakah ada obat yang memengaruhi saluran cerna?
Eliminasi Berapa banyak makanan yang sudah dihindari?
Nutrisi Apakah kebutuhan energi, protein dan mikronutrien terpenuhi?
Diagnosis lain Apakah sudah dipikirkan konstipasi, refluks, infeksi, celiac, IBD atau gangguan gastrointestinal lainnya?

Pesan Penting untuk Orang Tua

  • Kembung tidak otomatis alergi.
  • Banyak kentut tidak otomatis alergi.
  • Sakit perut tidak otomatis alergi.
  • IgE positif tidak otomatis berarti alergi klinis.
  • Semakin banyak makanan yang dihindari tidak berarti semakin sehat.
  • Yang lebih penting adalah mencari pola gejala secara sistematis.
  • Jika terdapat dugaan hubungan dengan makanan, dokter dapat menentukan apakah diperlukan eliminasi terarah, pemeriksaan alergi, atau oral food challenge.
  • Tujuan akhirnya bukan membuat daftar makanan yang semakin panjang untuk dihindari.
  • Tujuannya adalah diagnosis yang tepat, makanan yang aman, nutrisi yang cukup, pertumbuhan yang baik, dan kualitas hidup anak yang lebih baik.

Kesimpulan

  • Keluhan kembung, gas, sakit perut, muntah, perubahan BAB, sulit makan dan berat badan sulit naik pada anak memiliki banyak kemungkinan penyebab. Alergi makanan merupakan salah satu kemungkinan, tetapi tidak boleh menjadi diagnosis berdasarkan gejala semata.
  • Gut-brain axis membantu menjelaskan bagaimana kondisi saluran cerna dapat berhubungan dengan kenyamanan, tidur, nafsu makan, perilaku makan dan aktivitas anak. Hubungan tersebut bersifat dua arah dan melibatkan sistem saraf, sistem imun, hormon, mikrobiota serta metabolitnya.
  • Ketika alergi makanan dicurigai, diagnosis harus dilakukan secara terarah. Riwayat klinis menjadi dasar, pemeriksaan alergi digunakan sesuai indikasi, dan pada kasus tertentu oral food challenge dapat membantu memastikan apakah makanan benar-benar menyebabkan reaksi. Pedoman EAACI menempatkan OFC sebagai bagian penting ketika diagnosis masih belum pasti setelah penilaian klinis dan pemeriksaan yang sesuai. (EAACI)

Jangan hanya bertanya, “Makanan apa yang harus dihindari?”

  • Pertanyaan yang lebih penting adalah:
  • “Apa diagnosis anak ini, makanan apa yang benar-benar bermasalah, dan makanan apa yang masih aman untuk diberikan?”

Referensi utama:

  • EAACI Guidelines on the Diagnosis of IgE-mediated Food Allergy, 2023; AAAAI-EAACI PRACTALL Oral Food Challenge Update, 2024; serta sumber NIDDK mengenai konstipasi dan gejala gastrointestinal pada anak. (EAACI)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *