ALERGI MAKANAN DAN AUTISME PADA ANAK
Studi Komparatif Menemukan Tingkat Sensitisasi Alergen Makanan Lebih Tinggi pada Anak dengan Autism Spectrum Disorder
Reportase ilmiah berdasarkan penelitian Estrella dkk., Annals of Allergy, Asthma & Immunology, 2023
Hubungan antara autism spectrum disorder (ASD) dan gangguan alergi menjadi salah satu bidang yang semakin mendapat perhatian dalam penelitian kesehatan anak. Sebuah penelitian yang dipresentasikan dalam Annals of Allergy, Asthma & Immunology, Volume 131, Issue 5, Supplement 1, November 2023, meneliti secara khusus pola sensitisasi terhadap alergen makanan pada anak dan remaja dengan ASD. Penelitian ini dilakukan oleh M. Estrella, S. Gonzalez-Diaz, C. Macouzet-Sanchez, dan A. Noyola Pérez.
Penelitian tersebut berangkat dari pengamatan bahwa gangguan alergi, termasuk alergi makanan, dilaporkan lebih sering ditemukan pada anak dengan ASD. Namun, keberadaan hubungan tersebut perlu dibedakan dari pertanyaan apakah seorang anak benar-benar mengalami alergi makanan secara klinis. Penelitian ini karena itu memusatkan perhatian pada sensitisasi terhadap alergen makanan, yaitu adanya respons imun yang terdeteksi melalui pemeriksaan tertentu, bukan semata-mata berdasarkan gejala setelah mengonsumsi makanan.
Tujuan penelitian adalah menggambarkan pola sensitisasi terhadap berbagai alergen makanan pada anak dengan ASD dan membandingkannya dengan kelompok anak sebaya tanpa ASD. Dengan pendekatan tersebut, peneliti berusaha melihat apakah terdapat perbedaan proporsi hasil pemeriksaan alergi makanan antara kedua kelompok.
Subjek penelitian terdiri atas anak dan remaja berusia 5–17 tahun. Kelompok penelitian mencakup anak dengan diagnosis ASD dan kelompok kontrol dengan rentang usia yang sama. Pemeriksaan terhadap sensitisasi alergen makanan dilakukan menggunakan skin prick test (SPT), suatu pemeriksaan yang lazim digunakan dalam evaluasi sensitisasi IgE terhadap alergen tertentu.
Dalam hasil yang dilaporkan, terdapat 40 anak dengan ASD dan 38 anak dalam kelompok kontrol, sehingga keseluruhan sampel yang dianalisis berjumlah 78 peserta. Abstrak publikasi menyebutkan bahwa penelitian merekrut 78 pasien, kemudian pada bagian hasil mencatat 79 pasien; terdapat ketidakkonsistenan angka dalam abstrak tersebut yang perlu diperhatikan ketika membaca hasil penelitian.
Temuan utama menunjukkan adanya hubungan yang secara statistik signifikan antara riwayat ASD dan hasil SPT positif terhadap alergen makanan, dengan nilai p < 0,001. Pada kelompok ASD, lebih dari 80% peserta—dilaporkan sebanyak 33 anak—memiliki hasil SPT positif terhadap alergen makanan. Sebagai perbandingan, pada kelompok kontrol terdapat 16 anak atau sekitar 42% dengan hasil positif.
Perbedaan tersebut cukup mencolok secara proporsi: sekitar delapan dari sepuluh anak dalam kelompok ASD menunjukkan sensitisasi terhadap setidaknya salah satu alergen makanan yang diperiksa, sedangkan pada kelompok kontrol proporsinya sekitar empat dari sepuluh anak. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan pola sensitisasi antara kedua kelompok dalam populasi penelitian tersebut.
Jenis makanan yang paling sering menunjukkan sensitisasi pada kelompok ASD adalah gandum (wheat), yaitu 32,5% atau 13 anak. Berikutnya adalah kuning telur sebesar 25% atau 10 anak, kemudian ikan sebesar 20% atau 8 anak. Sensitisasi terhadap putih telur dan cokelat masing-masing dilaporkan sebesar 17,5%.
Temuan mengenai gandum, telur, ikan, dan cokelat tidak berarti bahwa makanan tersebut secara otomatis menjadi penyebab gejala pada semua anak dengan ASD. Hasil SPT positif menunjukkan sensitisasi, bukan dengan sendirinya membuktikan bahwa makanan tertentu menimbulkan alergi klinis. Diagnosis alergi makanan harus mempertimbangkan riwayat reaksi, gejala, pemeriksaan dokter, dan bila diperlukan pemeriksaan lanjutan yang sesuai.
Hal ini penting karena anak dengan ASD dapat memiliki karakteristik makan yang berbeda, termasuk food selectivity atau pilihan makanan yang sangat terbatas. Pembatasan makanan secara mandiri berdasarkan hasil pemeriksaan alergi saja berpotensi membuat pola makan semakin sempit. Literatur mengenai ASD juga menunjukkan bahwa masalah pemilihan makanan merupakan persoalan penting dalam pengelolaan nutrisi anak dengan ASD.
Dari perspektif klinis, penelitian ini memberi pesan bahwa keluhan yang berkaitan dengan makanan pada anak dengan ASD layak diperhatikan secara individual. Namun, penelitian ini tidak membuktikan bahwa alergi makanan menyebabkan autisme, dan juga tidak membuktikan bahwa autisme menyebabkan alergi makanan. Desain komparatif seperti ini menunjukkan adanya hubungan atau perbedaan prevalensi sensitisasi dalam kelompok yang diteliti, tetapi tidak cukup untuk menetapkan hubungan sebab-akibat.
Penelitian ini juga perlu dibaca dengan mempertimbangkan keterbatasannya. Sampelnya relatif kecil, yaitu sekitar 78 peserta yang dilaporkan, dan pemeriksaan yang digunakan adalah SPT. Selain itu, publikasi yang tersedia merupakan laporan singkat pada suplemen jurnal, hanya dua halaman (S71–S72), sehingga informasi mengenai karakteristik peserta, jenis alergen yang diperiksa, kriteria inklusi-eksklusi, serta rincian analisis statistik tidak selengkap laporan penelitian primer yang panjang.
Secara keseluruhan, penelitian Estrella dan kolega memberikan sebuah sinyal ilmiah bahwa sensitisasi terhadap alergen makanan ditemukan lebih sering pada kelompok anak dengan ASD dibandingkan kelompok kontrol dalam penelitian tersebut. Temuan ini dapat menjadi alasan untuk melakukan evaluasi alergi secara tepat pada anak yang memang memiliki gejala atau riwayat reaksi terhadap makanan, tetapi bukan alasan untuk melakukan eliminasi makanan secara sembarangan. Pesan terpenting bagi orang tua adalah membedakan antara ASD, sensitisasi, dan alergi makanan klinis. Ketiganya merupakan istilah yang berbeda dan memerlukan penilaian medis yang berbeda pula.
Daftar pustaka
- Estrella M, Gonzalez-Diaz S, Macouzet-Sanchez C, Noyola Pérez A. Food allergies and autism spectrum disorder: A comparative study of sensitization in children. Annals of Allergy, Asthma & Immunology. 2023;131(5 Suppl 1):S71–S72. doi:10.1016/j.anai.2023.08.216.
- Tan Y, Thomas S, Lee BK. Parent-reported prevalence of food allergies in children with autism spectrum disorder: National Health Interview Survey, 2011–2015. Autism Research. 2019;12(5):802–805. Referensi ini tercantum dalam literatur yang mengutip penelitian Estrella dkk.
- Miyazaki C, Koyama M, Ota E, et al. Allergies in children with autism spectrum disorder: A systematic review and meta-analysis. Review Journal of Autism and Developmental Disorders. 2015;2(4):374–401.
- Bandini LG, Curtin C, Phillips S, Anderson SE, Maslin M, Must A. Changes in food selectivity in children with autism spectrum disorder. Journal of Autism and Developmental Disorders. 2017;47(2):439–446.
- Chistol L, et al. Sensory sensitivity and food selectivity in children with autism spectrum disorder. Journal of Autism and Developmental Disorders. 2018;48:583–591.
- Wang L, Shen W, Yao H, Zheng R, Chen W, Zhang W. Association between autism spectrum disorder and food allergy: A systematic review and meta-analysis. Autism Research. 2021;14(1):220–230. doi:10.1002/aur.2454.













Leave a Reply