KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Apakah Orang Tua Terlalu Banyak Membantu Anak yang Akan Masuk Kuliah?

 

Melihat anak menghadapi kesulitan memang tidak mudah. Ketika anak kecewa, gagal, mendapat nilai buruk, ditolak teman, atau menghadapi masalah di sekolah, orang tua sering ingin segera turun tangan. Naluri untuk melindungi anak sangat kuat. Namun, pada usia remaja, bantuan yang terlalu banyak dapat menghambat kemampuan anak untuk menghadapi masalah secara mandiri.

Menghilangkan semua hambatan dari kehidupan anak mungkin membuat keadaan terasa lebih mudah dalam jangka pendek. Namun, ketika anak memasuki perguruan tinggi dan kemudian dunia dewasa, ia akan menghadapi tuntutan yang tidak selalu dapat diselesaikan oleh orang tua. Ia perlu mampu mengambil keputusan, menghadapi konsekuensi, mengatur waktu, meminta bantuan, dan bangkit setelah mengalami kegagalan.

Yang perlu diubah adalah fokus orang tua. Jangan selalu berusaha membuat anak terhindar dari kesulitan. Bantu anak belajar melewati kesulitan. Masalah dapat menjadi kesempatan untuk belajar. Ketika nilai ujian buruk, misalnya, pertanyaannya bukan hanya bagaimana memperbaiki nilai, tetapi juga mengapa hal itu terjadi dan apa yang dapat dilakukan anak berikutnya.

  • Hindari solusi cepat yang selalu menghilangkan masalah. Ketika anak mendapat masalah di sekolah, orang tua mungkin tergoda untuk langsung menghubungi guru, memindahkan sekolah, membeli sesuatu agar anak merasa lebih baik, atau menyelesaikan konflik untuknya. Dalam kondisi tertentu, intervensi orang tua memang diperlukan. Namun, jika setiap masalah langsung diselesaikan oleh orang tua, anak kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi masalah.
  • Berikan ruang bagi anak untuk mengalami kegagalan. Ini sering menjadi bagian tersulit dalam pengasuhan. Orang tua tentu tidak ingin melihat anak kecewa. Namun, kegagalan yang masih berada dalam batas aman dapat menjadi pengalaman belajar. Anak belajar bahwa kesalahan memiliki konsekuensi, masalah dapat diperbaiki, dan kegagalan tidak selalu berarti dirinya gagal sebagai manusia.
  • Kebebasan untuk gagal tidak berarti orang tua membiarkan anak sendirian. Orang tua tetap memberikan dukungan. Bedanya, orang tua memberikan bantuan sesuai kebutuhan, bukan mengambil alih seluruh persoalan. Anak tetap menjadi pihak yang belajar memahami masalah dan menentukan langkah berikutnya.
  • Dorong kemandirian secara bertahap. Jika anak mendapat nilai buruk, ajari cara berbicara dengan gurunya daripada orang tua yang langsung menghubungi guru. Jika anak akan masuk kuliah, dorong dia mulai mengatur jadwal sendiri, mengingat tenggat waktu, mengurus kebutuhan administrasi, dan membuat janji yang berkaitan dengan dirinya.
  • Anak mungkin terlambat, lupa jadwal, atau bahkan gagal memenuhi suatu tanggung jawab. Selama situasinya aman, konsekuensi yang wajar dapat menjadi bagian dari proses belajar. Pengalaman seperti ini membantu anak memahami hubungan antara keputusan, tindakan, dan konsekuensi sebelum ia menghadapi tuntutan yang lebih besar sebagai mahasiswa dan orang dewasa.

Kemandirian juga perlu dilatih dalam pengambilan keputusan tentang perguruan tinggi. Orang tua tentu memiliki pengalaman, pertimbangan ekonomi, dan harapan terhadap masa depan anak. Namun, anak juga perlu memiliki suara dalam keputusan tersebut. Ajak anak membicarakan biaya, jarak dari rumah, lokasi, ukuran kampus, program studi, lingkungan belajar, dan tujuan pribadinya.

  • Orang tua perlu mendengar sebelum memberi keputusan. Pilihan anak mungkin berbeda dari harapan orang tua. Perbedaan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk berdiskusi tentang alasan, konsekuensi, kemampuan finansial, serta rencana jangka panjang. Kesiapan menuju kuliah juga mencakup kesehatan mental. Orang tua dapat menanyakan layanan konseling dan dukungan kesehatan mental yang tersedia di kampus. Anak perlu mengetahui ke mana harus mencari pertolongan ketika mengalami tekanan akademik, masalah sosial, kecemasan, atau kesulitan beradaptasi.
  • Orang tua juga perlu memperhatikan riwayat masalah kesehatan mental dalam keluarga dan kondisi psikologis anak sebelum keberangkatan. Tujuannya bukan membuat anak takut menghadapi kuliah. Tujuannya adalah memastikan anak mengetahui sumber bantuan dan berani menggunakannya ketika membutuhkan.
  • Ada satu hal lain yang sering membuat orang tua terlalu cemas, yaitu angka. Nilai rapor, nilai ujian, skor seleksi, dan berbagai angka akademik memang dapat menjadi bagian dari proses penerimaan mahasiswa. Namun, satu angka tidak dapat menggambarkan seluruh kemampuan seorang anak.
  • Ketika hasil ujian tidak sesuai harapan, bantu anak melihat hasil tersebut secara proporsional. Evaluasi apa yang dapat diperbaiki. Cari strategi belajar yang lebih sesuai. Pertimbangkan pilihan pendidikan yang tersedia. Hindari menjadikan satu hasil ujian sebagai ukuran harga diri anak.
  • Anak yang akan memasuki perguruan tinggi membutuhkan lebih dari kemampuan akademik. Ia membutuhkan kemampuan mengatur diri, mengambil keputusan, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, mengelola waktu, meminta pertolongan, menerima kritik, menghadapi kegagalan, dan kembali mencoba.

Peran orang tua secara bertahap perlu bergeser. Pada masa kanak-kanak, orang tua banyak melakukan sesuatu untuk anak. Pada masa remaja, orang tua semakin banyak melakukan sesuatu bersama anak. Menjelang dewasa, orang tua perlu semakin sering membimbing anak agar mampu melakukan sesuatu sendiri.

  • Pertanyaan penting bagi orang tua bukan hanya, “Bagaimana saya bisa menyelesaikan masalah anak saya?”
  • Pertanyaan yang lebih mendidik adalah, “Apa yang bisa saya lakukan agar anak saya mampu menyelesaikan masalah ini sendiri?”

Tujuan pengasuhan menjelang kuliah bukan membuat perjalanan anak tanpa masalah. Tujuannya adalah membantu anak memiliki keterampilan untuk menghadapi masalah ketika orang tua tidak berada di sampingnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *