KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

MENGAPA ANAK BISA ALERGI MAKANAN? Memahami Perjalanan dari Toleransi, Sensitisasi, hingga Gejala Alergi

MENGAPA ANAK BISA ALERGI MAKANAN? Memahami Perjalanan dari Toleransi, Sensitisasi, hingga Gejala Alergi

Alergi makanan sering membuat orang tua bertanya: “Mengapa anak saya bisa alergi terhadap makanan yang sebenarnya aman bagi sebagian besar anak?” Pertanyaan ini tidak sederhana. Alergi makanan bukan semata-mata karena makanan tersebut “tidak cocok” atau karena tubuh anak “lemah”. Alergi terjadi ketika sistem imun mengenali protein makanan sebagai sesuatu yang berbahaya, padahal bagi sebagian besar orang protein tersebut tidak menimbulkan masalah.

BUKA ARTIKEL LENGKAP DI PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI TERKINI ALERGI MAKANAN: DARI KEGAGALAN TOLERANSI ORAL, DISFUNGSI SAWAR EPITEL, DAN RESPONS IMUN TIPE 2 MENUJU FENOTIPE KLINIS

  • Di dalam tubuh anak sebenarnya terdapat sistem pertahanan yang sangat canggih. Sistem ini harus mampu membedakan antara sesuatu yang berbahaya, seperti kuman, dengan sesuatu yang seharusnya diterima, seperti makanan. Kemampuan tubuh untuk menerima makanan tanpa menimbulkan peradangan disebut toleransi oral.
  • Ketika mekanisme toleransi ini tidak berjalan dengan baik, rangkaian proses imun dapat berkembang menjadi sensitisasi dan, pada sebagian anak, menjadi alergi makanan klinis.

Tubuh anak setiap hari bertemu dengan banyak protein makanan

  • Sejak mulai makan, anak berhadapan dengan berbagai protein dari susu, telur, ikan, kacang, gandum, kedelai, dan makanan lainnya.
  • Saluran cerna menerima semua protein tersebut dalam jumlah besar. Jika setiap protein dianggap sebagai benda asing yang harus dilawan, tubuh akan mengalami peradangan terus-menerus.
  • Karena itu, tubuh mempunyai sistem “belajar menerima makanan”.
  • Sel dendritik, regulatory T cells atau Treg, sel epitel, antibodi IgA, mikrobiota usus, dan berbagai komponen sistem imun bekerja bersama untuk membentuk toleransi.
  • Dalam keadaan normal, sistem imun seperti mengatakan:
  • “Ini makanan. Tidak perlu diserang.”
  • Pada alergi, sistem pengenalan tersebut dapat berubah.
  • “Ini dianggap berbahaya. Kita harus bereaksi.”

Usus bukan hanya tempat mencerna makanan

  • Selama ini usus sering dianggap hanya sebagai organ pencernaan. Padahal, usus merupakan salah satu pusat pengaturan sistem imun terbesar di tubuh.
  • Lapisan epitel usus menjadi salah satu garis pertahanan pertama. Epitel membantu mengatur apa yang boleh berinteraksi dengan sistem imun dan bagaimana sistem imun harus merespons.
  • Ketika fungsi sawar terganggu, interaksi antara protein makanan dan sistem imun dapat berubah.
  • Sel epitel juga dapat mengeluarkan sinyal yang disebut epithelial alarmins, terutama IL-25, IL-33, dan TSLP.
  • Sinyal tersebut dapat mengaktifkan lingkungan imun yang mendukung respons alergi tipe 2.
  • Tetapi penting untuk dipahami bahwa gangguan sawar usus bukan satu-satunya penyebab alergi makanan. Alergi merupakan hasil interaksi banyak faktor, termasuk sistem imun, genetik, lingkungan, mikrobiota, kulit, dan pola paparan antigen.

Mengapa sistem imun bisa salah mengenali makanan?

  • Sistem imun anak terus berkembang sejak lahir. Respons tersebut dipengaruhi oleh banyak hal.
  • Genetik dapat memberikan sebagian kerentanan. Kondisi kulit dan saluran cerna, mikrobiota, infeksi, penggunaan antibiotik, lingkungan, pola makan, serta penyakit atopik seperti dermatitis atopik dapat ikut memengaruhi perkembangan respons imun.
  • Namun, tidak ada satu faktor yang dapat menjelaskan semua kasus alergi makanan.
  • Dua anak dapat mengonsumsi makanan yang sama, tetapi hanya satu yang mengalami alergi. Perbedaannya dapat berada pada kombinasi berbagai faktor biologis dan lingkungan.

Dari toleransi menuju sensitisasi

Ketika toleransi oral tidak terbentuk secara optimal, sistem imun dapat mulai mengenali protein makanan secara khusus.

  • Proses ini disebut sensitisasi.
  • Pada alergi yang dimediasi IgE, sel B dapat menghasilkan antibodi IgE spesifik terhadap makanan tertentu. IgE tersebut kemudian menempel pada mast cell dan basofil.
  • Tubuh anak sekarang berada dalam keadaan “siap bereaksi”.
  • Tetapi ada satu hal yang sangat penting:
  • Sensitisasi belum tentu berarti alergi makanan.
  • Seorang anak dapat memiliki IgE spesifik terhadap telur, susu, kacang tanah, atau makanan lain, tetapi masih dapat mengonsumsi makanan tersebut tanpa mengalami reaksi klinis.
  • Karena itu, hasil skin prick test atau serum-specific IgE positif tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa seorang anak pasti alergi terhadap makanan tersebut.

Apa yang terjadi ketika anak benar-benar alergi?

  • Pada anak yang telah mengalami sensitisasi IgE-mediated, paparan kembali terhadap makanan pencetus dapat mengaktifkan mast cell dan basofil.
  • Sel tersebut kemudian melepaskan berbagai mediator, terutama histamin, tryptase, leukotrien, prostaglandin, dan mediator inflamasi lainnya.
  • Inilah yang kemudian menyebabkan gejala.

Pada kulit, anak dapat mengalami:

  • gatal
  • kemerahan
  • urtikaria atau bentol
  • angioedema atau pembengkakan
  • Pada saluran cerna dapat muncul:
  • mual
  • muntah
  • nyeri atau kram perut
  • diare

Pada saluran napas dapat terjadi:

  • batuk
  • mengi atau wheezing
  • suara serak
  • sesak napas
  • Jika reaksi melibatkan banyak organ dan menyebabkan gangguan sistemik, dapat terjadi anafilaksis, yaitu keadaan kegawatdaruratan yang membutuhkan penanganan segera.

Tidak semua alergi makanan menggunakan jalur IgE

  • Ini merupakan bagian penting yang sering tidak dipahami.
  • Tidak semua penyakit akibat reaksi imun terhadap makanan menyebabkan IgE positif.
  • Pada beberapa penyakit, mekanisme seluler dan inflamasi jaringan lebih dominan. Salah satu contohnya adalah food protein-induced enterocolitis syndrome atau FPIES.
  • Pada FPIES, anak dapat mengalami muntah hebat beberapa jam setelah mengonsumsi makanan pencetus, kadang disertai diare, pucat, lemas, dehidrasi, dan pada kasus berat gangguan sirkulasi.
  • Ada pula food protein-induced allergic proctocolitis, yang terutama terjadi pada bayi dan dapat menyebabkan darah pada tinja.
  • Sementara itu, eosinophilic esophagitis merupakan penyakit inflamasi kronis esofagus dengan keterlibatan jalur imun tipe 2 dan eosinofil.
  • Karena mekanismenya berbeda, pemeriksaan IgE yang negatif tidak otomatis menyingkirkan seluruh penyakit imunologis yang berhubungan dengan makanan.

Mengapa kulit juga penting?

  • Kulit merupakan bagian penting dalam perkembangan penyakit alergi.
  • Pada anak dengan dermatitis atopik, fungsi sawar kulit dapat terganggu. Paparan protein lingkungan melalui kulit yang mengalami inflamasi dapat berkontribusi terhadap proses sensitisasi.
  • Sebaliknya, paparan makanan melalui saluran cerna dalam kondisi imunologis yang tepat dapat membantu pembentukan toleransi.
  • Konsep ini dikenal sebagai dual-allergen-exposure hypothesis.
  • Penelitian LEAP memberikan bukti penting bahwa pada bayi tertentu dengan risiko tinggi alergi kacang tanah, pengenalan kacang tanah secara dini dan teratur sesuai protokol penelitian dapat menurunkan risiko alergi kacang tanah.
  • Temuan tersebut mengubah pemikiran lama bahwa semua makanan berpotensi alergi harus selalu dihindari sejak dini.
  • Namun, pencegahan pada bayi yang belum alergi berbeda dengan pemberian makanan pencetus kepada anak yang sudah mempunyai alergi terkonfirmasi.

Bagaimana dengan mikrobiota usus?

  • Di dalam usus hidup triliunan mikroorganisme yang membentuk mikrobiota intestinal.
  • Mikrobiota berinteraksi dengan epitel dan sistem imun. Beberapa metabolit yang dihasilkan mikrobiota juga dapat memengaruhi regulasi imun dan fungsi sawar.
  • Karena itu, komposisi mikrobiota diduga ikut berperan dalam perkembangan toleransi maupun penyakit alergi.
  • Namun, sampai saat ini hubungan mikrobiota dengan alergi makanan tidak boleh disederhanakan menjadi:
  • “Mikrobiota jelek menyebabkan alergi.”
  • Hubungannya jauh lebih kompleks. Diet, usia, antibiotik, infeksi, penyakit, lingkungan, dan berbagai faktor lainnya dapat mengubah mikrobiota.

Apakah alergi makanan diturunkan dari orang tua?

  • Faktor genetik memang berperan, tetapi alergi makanan bukan penyakit yang diwariskan secara sederhana seperti golongan darah.
  • Seorang anak dapat mempunyai kecenderungan biologis tertentu yang memengaruhi fungsi sawar dan sistem imun. Tetapi apakah kecenderungan tersebut berkembang menjadi penyakit juga dipengaruhi lingkungan.
  • Penelitian genetika telah menemukan berbagai varian yang berhubungan dengan alergi makanan, termasuk gen yang berkaitan dengan fungsi sawar epitel dan regulasi imun.
  • Artinya: gen dapat memberikan kerentanan, tetapi gen bukanlah takdir.
  • Epigenetik: penghubung antara gen dan lingkungan
  • Selain genetik, para peneliti juga mempelajari epigenetik.
  • Epigenetik dapat dibayangkan sebagai sistem pengatur yang menentukan seberapa aktif suatu gen bekerja tanpa mengubah urutan DNA.
  • Lingkungan dapat memengaruhi regulasi tersebut. Karena itu, faktor seperti nutrisi, inflamasi, paparan lingkungan, dan kondisi awal kehidupan menjadi penting dalam penelitian alergi.
  • Penelitian epigenetik pada alergi makanan masih berkembang dan belum dapat digunakan sebagai pemeriksaan rutin untuk menentukan apakah seorang anak alergi terhadap makanan tertentu.

Mengapa anak bisa alergi telur, tetapi anak lain tidak?

  • Tidak ada satu jawaban untuk semua anak.
  • Kemungkinan terdapat kombinasi antara:
  • kerentanan genetik + kondisi kulit dan mukosa + perkembangan sistem imun + mikrobiota + lingkungan + pola paparan makanan + faktor individual lainnya.
  • Itulah sebabnya alergi makanan merupakan penyakit yang sangat individual.
  • Bahkan dua anak yang sama-sama memiliki alergi telur dapat mempunyai gejala, ambang reaksi, perjalanan penyakit, dan kemungkinan toleransi yang berbeda.

Apakah hasil tes alergi selalu berarti anak harus menghindari makanan?

  • Tidak.
  • Ini merupakan salah satu pesan terpenting bagi orang tua.
  • Pemeriksaan skin prick test dan serum-specific IgE terutama menunjukkan sensitisasi. Hasil positif tidak selalu membuktikan bahwa anak akan mengalami gejala ketika makanan tersebut dimakan.
  • Sebaliknya, hasil pemeriksaan IgE negatif juga tidak menyingkirkan penyakit non-IgE-mediated.
  • Karena itu, diagnosis alergi makanan harus dimulai dengan cerita klinis yang lengkap: makanan apa yang dikonsumsi, berapa jumlahnya, kapan gejala muncul, gejala apa yang terjadi, apakah reaksi berulang, dan bagaimana hubungan antara makanan dan gejala.
  • Jika diagnosis masih belum jelas, dokter dapat mempertimbangkan oral food challenge, yaitu pemberian makanan secara bertahap dalam kondisi yang terkontrol dan dengan pengawasan medis.

Mengapa oral food challenge penting?

  • Oral food challenge membantu menjawab pertanyaan yang paling penting:
  • “Apakah makanan ini benar-benar menyebabkan reaksi klinis pada anak?”
  • Hal ini berbeda dengan sekadar mengetahui bahwa sistem imun anak pernah mengenali protein tersebut.
  • Karena itu, diagnosis alergi makanan tidak seharusnya hanya didasarkan pada angka IgE, hasil tes kulit, atau daftar panjang makanan yang dianggap “alergen”.
  • Diagnosis harus melihat anak secara keseluruhan.
  • Tabel. Bagaimana alergi makanan dapat berkembang?
Tahap Apa yang terjadi? Apa artinya bagi anak?
Toleransi Sistem imun menerima protein makanan Anak dapat makan tanpa reaksi imun patologis
Gangguan toleransi Regulasi imun tidak optimal Risiko sensitisasi meningkat
Sensitisasi Sistem imun mengenali protein makanan secara spesifik IgE dapat terbentuk pada alergi IgE-mediated
Paparan ulang Alergen bertemu kembali dengan sistem imun yang telah tersensitisasi Sel efektor dapat teraktivasi
Pelepasan mediator Mast cell/basofil melepaskan mediator Gejala alergi muncul
Inflamasi jaringan Eosinofil dan sel imun lainnya terlibat Dapat terjadi penyakit inflamasi kronis
Fenotipe klinis Organ yang berbeda terkena Urtikaria, muntah, wheezing, anafilaksis, atau gejala kronis

Jadi, mengapa anak bisa alergi makanan?

  • Jawabannya bukan karena satu penyebab.
  • Anak dapat mengalami alergi makanan ketika sistem yang seharusnya membangun toleransi terhadap makanan berubah menjadi respons imun patologis.
  • Perubahan tersebut dapat melibatkan sawar epitel, sel dendritik, Treg, Th2, IgE, mast cell, eosinofil, mikrobiota, genetik, epigenetik, kulit, dan lingkungan.
  • Yang lebih penting, perjalanan setiap anak tidak selalu sama.
  • Karena itu, alergi makanan sebaiknya tidak dilihat hanya dari hasil satu pemeriksaan. Yang harus dipahami adalah hubungan antara makanan, tubuh anak, respons imun, dan gejala yang benar-benar terjadi.

Pesan penting untuk orang tua

  • Tes positif belum tentu alergi.
  • Tes negatif belum tentu menyingkirkan semua penyakit akibat makanan.
  • Sensitisasi tidak sama dengan alergi klinis.
  • Dan ketika diagnosis belum jelas, evaluasi oleh dokter yang memahami alergi makanan, termasuk pertimbangan oral food challenge bila sesuai, dapat membantu mencegah pembatasan makanan yang tidak perlu sekaligus memastikan keamanan anak.

Akhirnya, tujuan memahami alergi makanan bukan sekadar mengetahui makanan apa yang harus dihindari. Tujuannya adalah memahami mengapa tubuh anak bereaksi, apakah anak benar-benar alergi, bagaimana perjalanan penyakitnya, dan bagaimana menjaga agar anak tetap dapat tumbuh, makan, dan berkembang sebaik mungkin.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *