KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

MAKANAN ULTRA-PROSES, PENYAKIT ALERGI PADA ANAK, DAN MEKANISME YANG MENDASARINYA: TINJAUAN SISTEMATIS DAN NARATIF BERDASARKAN LAPORAN EAACI

 

MAKANAN ULTRA-PROSES, PENYAKIT ALERGI PADA ANAK, DAN MEKANISME YANG MENDASARINYA: TINJAUAN SISTEMATIS DAN NARATIF BERDASARKAN LAPORAN EAACI

Review Article

ABSTRAK

Konsumsi makanan ultra-proses atau ultra-processed foods (UPF) semakin tinggi pada populasi anak dan menjadi perhatian karena potensinya berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian juga diarahkan pada kemungkinan hubungan antara konsumsi UPF dan penyakit alergi pada anak. Laporan European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI) tahun 2024 melakukan systematic review dan narrative evidence synthesis untuk mengevaluasi hubungan konsumsi UPF dengan berbagai luaran alergi pada anak serta kemungkinan mekanisme yang melibatkan mikrobioma usus dan sistem imun. Sebanyak 26 penelitian mengenai luaran alergi, 16 penelitian mengenai mikrobioma, dan 3 penelitian mengenai sistem imun dianalisis. Paparan fruktosa, minuman berpemanis, gula, jus buah, makanan bayi komersial, makanan tinggi karbohidrat, monosodium glutamat, UPF, dan advanced glycation end-products dalam berbagai penelitian dikaitkan dengan peningkatan kejadian asma, mengi, rinitis alergi, dermatitis atopik, dan alergi makanan. Namun, sebagian besar bukti yang tersedia masih bersifat observasional sehingga hubungan tersebut belum dapat dianggap sebagai hubungan sebab-akibat. Beberapa mekanisme yang mungkin terlibat mencakup perubahan komposisi dan fungsi mikrobioma usus, gangguan sawar usus, perubahan respons imun, paparan bahan tambahan pangan, perubahan metabolisme, dan pengaruh pola makan secara keseluruhan. Bukti saat ini mendukung pentingnya memperhatikan kualitas diet anak, tetapi belum cukup untuk menyatakan bahwa UPF secara langsung menyebabkan alergi. Penelitian prospektif dan intervensional dengan pengukuran diet yang tervalidasi serta biomarker mekanistik masih diperlukan.

Kata kunci: makanan ultra-proses, anak, alergi makanan, asma, dermatitis atopik, rinitis alergi, mikrobioma, sawar usus, sistem imun

PENDAHULUAN

  • Pola makan anak mengalami perubahan besar dalam beberapa dekade terakhir. Makanan yang dikonsumsi anak tidak hanya terdiri atas bahan pangan segar atau minimal diproses, tetapi semakin banyak berupa produk yang telah mengalami berbagai tahap pemrosesan industri. Produk tersebut sering mengandung kombinasi bahan seperti pemanis, pengemulsi, penstabil, pengental, perisa, pewarna, pengawet, dan bahan tambahan lainnya.
  • Makanan ultra-proses merupakan bagian dari perubahan tersebut. Dalam klasifikasi NOVA, UPF umumnya merupakan formulasi industri yang dibuat melalui berbagai proses dan mengandung bahan atau kombinasi bahan yang jarang digunakan dalam masakan rumah tangga. Produk ini mencakup berbagai jenis makanan dan minuman, sehingga istilah UPF tidak identik dengan satu kelompok makanan tertentu.
  • Perhatian terhadap UPF pada anak awalnya terutama berkaitan dengan obesitas, gangguan metabolik, dan kualitas diet. Namun, berkembangnya penelitian mengenai hubungan antara pola makan, mikrobioma usus, sawar epitel, dan sistem imun menimbulkan pertanyaan apakah pola konsumsi UPF juga berhubungan dengan perkembangan penyakit alergi.
  • EAACI melalui laporan task force yang diterbitkan dalam Pediatric Allergy and Immunology pada 2024 melakukan systematic review dan narrative synthesis mengenai hubungan UPF dengan penyakit alergi pada anak. Review tersebut menganalisis 26 penelitian mengenai luaran alergi, 16 penelitian mengenai mikrobioma, dan 3 penelitian yang mengevaluasi sistem imun. Hasilnya menunjukkan adanya sinyal hubungan antara berbagai komponen makanan dan konsumsi UPF dengan sejumlah penyakit alergi, tetapi penulis menekankan bahwa bukti yang tersedia belum cukup untuk membuktikan hubungan kausal. [1]

MAKANAN ULTRA-PROSES DAN PENYAKIT ALERGI

  • Hubungan antara UPF dan alergi merupakan masalah yang kompleks karena UPF bukan satu jenis makanan tunggal. Kandungan nutrisi, bahan tambahan, struktur makanan, metode pengolahan, serta pola konsumsi dapat berbeda secara substansial antara satu produk dan produk lainnya.
  • Dalam laporan EAACI, beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara konsumsi fruktosa, minuman berkarbonasi, gula, jus buah, makanan bayi komersial, makanan tinggi karbohidrat, monosodium glutamat, dan berbagai UPF dengan penyakit alergi atau gangguan respirasi pada anak. Hubungan tersebut dilaporkan pada asma, mengi, rinitis alergi, dermatitis atopik, dan alergi makanan. Namun, tidak semua penelitian menghasilkan temuan yang konsisten. [1]
  • Temuan tersebut perlu dipahami sebagai hubungan epidemiologis, bukan sebagai bukti bahwa UPF secara langsung menyebabkan alergi. Anak yang mengonsumsi UPF dalam jumlah tinggi mungkin juga memiliki pola makan rendah buah, sayur, serat, dan makanan segar. Mereka juga dapat memiliki pola aktivitas fisik, status sosial ekonomi, paparan lingkungan, kualitas tidur, dan faktor gaya hidup lain yang berbeda.
  • Karena itu, ketika membahas hubungan UPF dengan alergi, penting untuk membedakan antara makanan tertentu, komponen makanan, pola makan keseluruhan, dan proses industrialisasi makanan.

ASMA DAN PENYAKIT ALERGI SALURAN NAPAS

  • Salah satu kelompok luaran yang banyak dibahas dalam laporan EAACI adalah penyakit saluran napas alergi, khususnya asma, mengi, dan rinitis alergi.
  • Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi gula, fruktosa, minuman berpemanis, jus buah, dan berbagai UPF berkaitan dengan peningkatan risiko atau prevalensi gangguan tersebut. [1]
  • Secara biologis, terdapat beberapa kemungkinan penjelasan. Pola makan dengan kandungan gula tinggi dapat berhubungan dengan perubahan metabolisme dan inflamasi sistemik. Pada saat yang sama, diet yang rendah serat dapat memengaruhi produksi metabolit mikrobiota seperti short-chain fatty acids yang memiliki peran dalam regulasi imun.
  • Namun, mekanisme tersebut masih merupakan hipotesis yang membutuhkan pembuktian lebih lanjut. Hubungan antara diet dan asma juga dipengaruhi oleh banyak faktor lain, sehingga tidak tepat menyimpulkan bahwa konsumsi satu kelompok makanan merupakan penyebab tunggal penyakit asma.

DERMATITIS ATOPIK

  • Dermatitis atopik merupakan penyakit inflamasi kulit yang memiliki hubungan erat dengan gangguan sawar kulit dan disregulasi imun.
  • Beberapa penelitian yang dianalisis dalam laporan EAACI menemukan hubungan antara konsumsi UPF atau komponen tertentu yang banyak ditemukan pada makanan ultra-proses dengan dermatitis atopik. [1]
  • Salah satu kemungkinan mekanismenya adalah hubungan antara pola makan, inflamasi sistemik, mikrobioma, dan fungsi sawar epitel. Namun, bukti yang tersedia masih belum memungkinkan untuk menentukan apakah konsumsi UPF secara langsung meningkatkan risiko dermatitis atopik atau apakah hubungan tersebut mencerminkan kualitas diet dan faktor lingkungan lainnya.

ALERGI MAKANAN

  • Hubungan antara UPF dan alergi makanan merupakan salah satu aspek yang menarik tetapi juga paling membutuhkan kehati-hatian.
  • Laporan EAACI menemukan beberapa penelitian yang menghubungkan konsumsi makanan atau komponen tertentu dalam UPF dengan kejadian alergi makanan. Konsumsi makanan bayi komersial juga dilaporkan berhubungan dengan alergi makanan dalam sebagian penelitian. [1]
  • Namun, hubungan tersebut tidak membuktikan bahwa bahan tambahan makanan atau proses industri secara langsung menyebabkan sensitisasi atau alergi makanan.
  • Alergi makanan merupakan penyakit imunologis kompleks yang dipengaruhi oleh faktor genetik, sawar epitel, mikrobioma, pola paparan antigen, infeksi, lingkungan, dan berbagai faktor imunologis.
  • Karena itu, penelitian mengenai UPF dan alergi makanan perlu membedakan antara paparan makanan, sensitisasi imunologis, dan alergi makanan yang benar-benar terkonfirmasi secara klinis.

MIKROBIOMA USUS SEBAGAI SALAH SATU MEKANISME

  • Salah satu mekanisme yang mendapat perhatian adalah mikrobioma usus.
  • Saluran gastrointestinal merupakan salah satu lokasi utama interaksi antara makanan, mikroorganisme, epitel, dan sistem imun. Komposisi makanan dapat memengaruhi substrat yang tersedia bagi mikrobiota. Sebaliknya, mikrobiota menghasilkan berbagai metabolit yang dapat memengaruhi fungsi epitel dan sistem imun.
  • Diet yang kaya serat umumnya menyediakan substrat bagi fermentasi mikrobiota dan produksi short-chain fatty acids. Sebaliknya, pola diet dengan kandungan serat rendah dan proporsi makanan ultra-proses yang tinggi dapat mengubah lingkungan metabolik mikrobioma.
  • Laporan EAACI mengidentifikasi 16 penelitian yang mengevaluasi hubungan UPF atau komponen diet dengan struktur dan fungsi mikrobioma. Namun, heterogenitas penelitian masih tinggi dan belum memungkinkan penetapan satu pola mikrobioma spesifik sebagai mekanisme universal yang menghubungkan UPF dengan alergi. [1]

SAWAR USUS DAN PERMEABILITAS EPITEL

  • Sawar usus merupakan sistem pertahanan penting yang memisahkan lingkungan lumen gastrointestinal dari jaringan imun di bawah epitel.
  • Sawar tersebut tidak hanya terdiri atas lapisan sel epitel. Mukus, tight junction, produk mikrobiota, sistem imun mukosa, dan berbagai faktor metabolik bekerja bersama mempertahankan homeostasis gastrointestinal.
  • Gangguan fungsi sawar dapat meningkatkan interaksi antara antigen makanan dan sistem imun mukosa. Secara teoritis, perubahan lingkungan usus akibat pola diet tertentu dapat memengaruhi fungsi tersebut.
  • Namun, hubungan antara konsumsi UPF, perubahan sawar usus, dan munculnya alergi pada manusia belum sepenuhnya terbukti. Mekanisme yang diajukan masih memerlukan penelitian longitudinal dan intervensional. [1]

BAHAN TAMBAHAN PANGAN

  • UPF sering mengandung berbagai bahan tambahan pangan. Kelompok tersebut mencakup pengemulsi, pemanis, pengental, penstabil, perisa, pengawet, pewarna, dan bahan lain yang digunakan untuk mempertahankan karakteristik produk.
  • Beberapa bahan tambahan telah menjadi perhatian karena kemungkinan pengaruhnya terhadap mikrobioma, sawar epitel, atau sistem imun. Namun, keberadaan bahan tambahan dalam suatu produk tidak berarti bahwa bahan tersebut menyebabkan alergi.
  • Hubungan antara bahan tambahan dan penyakit alergi harus dibedakan dari reaksi hipersensitivitas terhadap bahan tambahan tertentu. Reaksi terhadap bahan tambahan makanan relatif berbeda dari alergi terhadap protein makanan utama.
  • Karena itu, diperlukan penelitian yang mengisolasi paparan terhadap bahan tertentu, bukan hanya mengelompokkan semua produk sebagai UPF.

ADVANCED GLYCATION END-PRODUCTS

  • Advanced glycation end-products atau AGEs merupakan kelompok senyawa yang dapat terbentuk melalui reaksi nonenzimatik antara gula dan protein atau lipid. Pembentukannya dapat meningkat pada kondisi tertentu selama pemrosesan dan pemanasan makanan.
  • Dalam laporan EAACI, konsumsi makanan yang berkaitan dengan paparan AGEs dikaitkan dengan penyakit alergi dalam beberapa penelitian. [1]
  • Secara biologis, AGEs dapat berinteraksi dengan reseptor tertentu dan memengaruhi jalur inflamasi. Namun, hubungan antara AGEs dalam diet dan penyakit alergi pada anak masih membutuhkan pembuktian lebih kuat.
  • Karena itu, AGEs lebih tepat dipandang sebagai salah satu kandidat mekanisme yang sedang diteliti daripada sebagai penyebab alergi yang telah terbukti.

POLA DIET LEBIH PENTING DARIPADA SATU MAKANAN

  • Salah satu pesan penting dalam menafsirkan penelitian mengenai UPF adalah bahwa kesehatan anak tidak ditentukan oleh satu makanan.
  • Seorang anak dapat mengonsumsi produk ultra-proses dalam jumlah kecil sebagai bagian dari pola makan yang secara keseluruhan cukup beragam dan seimbang. Sebaliknya, seorang anak yang mengonsumsi sedikit UPF tetapi memiliki diet sangat terbatas juga dapat mengalami masalah nutrisi.
  • Karena itu, evaluasi pola makan secara keseluruhan lebih bermakna daripada hanya menghitung satu jenis makanan.
  • Kualitas diet mencakup keragaman makanan, kecukupan energi dan protein, konsumsi buah dan sayur, sumber serat, kualitas lemak, asupan gula, serta kecukupan mikronutrien.

HUBUNGAN, BUKAN SEBAB-AKIBAT

  • Interpretasi kausal merupakan bagian penting dalam membaca literatur mengenai UPF dan alergi.
  • Sebagian besar bukti yang tersedia dalam laporan EAACI berasal dari penelitian observasional. Penelitian observasional dapat menunjukkan bahwa dua variabel berhubungan, tetapi tidak selalu dapat menentukan bahwa satu variabel menyebabkan variabel lainnya. [1]
  • Confounding merupakan salah satu masalah utama. Misalnya, konsumsi UPF yang tinggi dapat berjalan bersamaan dengan rendahnya konsumsi makanan segar, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, perbedaan status sosial ekonomi, atau pola hidup tertentu.
  • Reverse causation juga perlu dipertimbangkan. Anak dengan penyakit alergi atau feeding difficulty mungkin memiliki pola makan berbeda karena penyakitnya, bukan sebaliknya.
  • Karena itu, hasil penelitian tidak seharusnya diterjemahkan menjadi pernyataan bahwa UPF menyebabkan alergi pada anak.

IMPLIKASI KLINIS

  • Dalam praktik klinis, temuan mengenai UPF dapat menjadi alasan untuk memperhatikan kualitas diet anak, tetapi bukan alasan untuk memberikan diet eliminasi yang luas.
  • Anak dengan alergi makanan yang sudah terbukti tetap membutuhkan diet yang adekuat secara nutrisi. Eliminasi harus ditujukan pada makanan pencetus yang telah diidentifikasi dan tidak diperluas berdasarkan asumsi bahwa semua makanan ultra-proses harus dihindari.
  • Pada anak tanpa alergi makanan yang terbukti, tidak ada dasar untuk melakukan eliminasi makanan hanya karena suatu produk termasuk kategori UPF.
  • Pendekatan yang lebih rasional adalah meningkatkan kualitas pola makan, memperbanyak makanan utuh atau minimal diproses sesuai kebutuhan anak, meningkatkan keragaman makanan, dan mengurangi ketergantungan pada produk tinggi gula atau rendah nilai gizi.

ANAK DENGAN FEEDING DIFFICULTY

Hubungan antara UPF dan feeding difficulty juga perlu diperhatikan secara hati-hati.

  • Sebagian anak dengan feeding difficulty justru memiliki diet yang sangat terbatas dan bergantung pada produk tertentu yang mudah diterima secara sensorik. Produk dengan rasa, tekstur, bentuk, dan konsistensi yang konsisten dapat lebih mudah diterima dibandingkan makanan keluarga.
  • Karena itu, larangan mendadak terhadap seluruh UPF pada anak dengan feeding difficulty dapat memperburuk asupan energi dan meningkatkan stres makan.
  • Pendekatan harus mempertimbangkan keamanan makanan, kecukupan nutrisi, kemampuan makan, preferensi sensorik, dan tujuan perluasan variasi makanan.

REKOMENDASI PENELITIAN

  • Penelitian selanjutnya perlu menggunakan definisi UPF yang konsisten dan metode penilaian konsumsi makanan yang tervalidasi.
  • Penelitian prospektif sejak kehamilan dan masa bayi dapat membantu menentukan apakah paparan makanan tertentu mendahului munculnya sensitisasi atau penyakit alergi.
  • Penelitian juga perlu mengintegrasikan data diet dengan mikrobioma, metabolomik, fungsi sawar epitel, biomarker inflamasi, serta karakteristik imunologis.
  • Uji intervensional akan sangat penting untuk menentukan apakah perubahan konsumsi UPF benar-benar menghasilkan perubahan risiko penyakit alergi. Tanpa penelitian semacam itu, hubungan epidemiologis akan tetap sulit dibedakan dari confounding.

KESIMPULAN

  • Makanan ultra-proses merupakan topik penting dalam penelitian kesehatan anak, termasuk dalam bidang alergi dan imunologi.
  • Laporan task force EAACI tahun 2024 menunjukkan bahwa konsumsi berbagai UPF dan komponennya berhubungan dengan beberapa penyakit alergi pada anak dalam sejumlah penelitian. Hubungan tersebut mencakup asma, mengi, rinitis alergi, dermatitis atopik, dan alergi makanan. [1]
  • Namun, sebagian besar bukti masih berasal dari penelitian observasional. Oleh karena itu, hubungan tersebut belum dapat dianggap sebagai bukti bahwa UPF secara langsung menyebabkan penyakit alergi.
  • Mikrobioma usus, sawar epitel, bahan tambahan pangan, AGEs, metabolisme, dan regulasi imun merupakan beberapa mekanisme yang sedang diteliti. Meskipun menarik secara biologis, mekanisme tersebut masih membutuhkan pembuktian melalui penelitian eksperimental dan klinis.
  • Dalam praktik pediatri, pesan yang paling relevan bukanlah bahwa semua UPF harus dihilangkan dari makanan anak. Fokus yang lebih tepat adalah membangun pola makan yang beragam, cukup energi dan zat gizi, kaya makanan utuh atau minimal diproses, serta sesuai dengan usia dan kemampuan makan anak.
  • Pada anak dengan alergi makanan, diet eliminasi harus tetap berdasarkan diagnosis yang jelas. Pada anak dengan feeding difficulty, perubahan diet harus dilakukan secara bertahap agar tidak semakin membatasi variasi makanan.
  • Dengan demikian, penelitian mengenai UPF dan alergi membuka perspektif baru mengenai hubungan antara diet, mikrobioma, sawar epitel, dan sistem imun, tetapi bukti saat ini masih memerlukan penelitian prospektif dan intervensional sebelum hubungan kausal dapat ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Berni Canani R, Carucci L, Coppola S, D’Auria E, O’Mahony L, Roth-Walter F, et al. Ultra-processed foods, allergy outcomes and underlying mechanisms in children: An EAACI task force report. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(9):e14231. doi:10.1111/pai.14231. PMID:39254357.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *