Analisis Laboratorium Anemia Defisiensi Besi: Parameter Pemeriksaan, Interpretasi Hasil, Diagnosis Banding, dan Pendekatan Klinis
Anemia defisiensi besi merupakan salah satu penyebab anemia yang paling sering ditemukan pada bayi, anak, remaja, dan orang dewasa. Kondisi ini terjadi ketika ketersediaan zat besi tidak mencukupi kebutuhan tubuh untuk membentuk hemoglobin. Pemeriksaan laboratorium berperan penting dalam mengidentifikasi kekurangan zat besi, menentukan derajat anemia, membedakan anemia defisiensi besi dari penyebab anemia lainnya, serta memantau respons terhadap terapi. Parameter utama meliputi hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht), jumlah eritrosit, mean corpuscular volume (MCV), mean corpuscular hemoglobin (MCH), red cell distribution width (RDW), ferritin serum, besi serum, total iron-binding capacity (TIBC), dan saturasi transferin. Pada kondisi tertentu, pemeriksaan C-reactive protein (CRP), retikulosit, reticulocyte hemoglobin, dan penanda inflamasi lain membantu memperjelas interpretasi. Ferritin merupakan penanda penting cadangan besi, tetapi nilainya dapat meningkat akibat infeksi atau inflamasi sehingga tidak selalu mencerminkan kecukupan besi yang sebenarnya. Diagnosis yang akurat memerlukan penilaian terpadu terhadap hasil laboratorium, usia, kondisi klinis, riwayat nutrisi, kehilangan darah, dan kemungkinan gangguan penyerapan zat besi.
- Zat besi berperan dalam pembentukan hemoglobin, pengangkutan oksigen, metabolisme energi, dan berbagai proses biologis. Kekurangan zat besi dapat berkembang secara bertahap, mulai dari berkurangnya cadangan besi, berlanjut menjadi keterbatasan pasokan besi untuk pembentukan sel darah merah, hingga munculnya anemia. Karena itu, kadar hemoglobin yang masih normal tidak selalu menyingkirkan defisiensi besi pada tahap awal.
- Pada bayi dan anak, defisiensi besi perlu mendapat perhatian karena dapat berkaitan dengan asupan zat besi yang tidak memadai, konsumsi susu sapi berlebihan pada usia tertentu, kesulitan makan, pertumbuhan yang cepat, kehilangan darah, atau gangguan penyerapan. Gejalanya dapat berupa pucat, mudah lelah, penurunan toleransi aktivitas, perubahan perilaku makan, dan gangguan konsentrasi. Namun, gejala tersebut tidak spesifik dan tidak cukup untuk menegakkan diagnosis tanpa evaluasi yang sesuai.
- Interpretasi laboratorium juga perlu membedakan anemia defisiensi besi dari anemia akibat inflamasi kronis, talasemia, defisiensi vitamin B12 atau folat, perdarahan, serta penyakit kronis lainnya. Kombinasi indeks eritrosit dan pemeriksaan status besi memberikan informasi yang lebih bermakna dibandingkan penggunaan satu parameter saja.
- Tujuan dan prinsip pemeriksaan laboratorium
- Pemeriksaan anemia defisiensi besi bertujuan menjawab empat pertanyaan klinis.
- Apakah pasien mengalami anemia?
- Apakah pasien mengalami kekurangan zat besi?
- Apakah kekurangan zat besi menjadi penyebab anemia, atau terdapat penyebab lain?
- Apa penyebab kekurangan zat besi dan bagaimana memantau respons pengobatan?
- Pemeriksaan darah lengkap membantu mengenali anemia dan karakteristik eritrosit. Pemeriksaan ferritin menilai cadangan besi. Pemeriksaan serum iron, TIBC, dan saturasi transferin membantu mengevaluasi ketersediaan besi untuk pembentukan hemoglobin. Pemeriksaan CRP membantu menilai apakah inflamasi memengaruhi interpretasi ferritin.
- Pemeriksaan anemia defisiensi besi bertujuan menjawab empat pertanyaan klinis.
- Secara biologis, defisiensi besi berkembang melalui tiga tahap.
- Cadangan besi mulai berkurang
- Ferritin menurun, tetapi hemoglobin dan MCV masih dapat berada dalam rentang normal.
- Pasokan besi untuk pembentukan eritrosit berkurang
- Saturasi transferin dan hemoglobin retikulosit dapat menurun. Perubahan ukuran dan kandungan hemoglobin eritrosit mulai terlihat.
- Anemia defisiensi besi berkembang
- Hemoglobin menurun. MCV dan MCH sering menurun, sedangkan RDW sering meningkat.
- Cadangan besi mulai berkurang
Urutan ini menjelaskan mengapa pemeriksaan hemoglobin saja tidak cukup untuk mendeteksi kekurangan zat besi pada tahap awal.
- Pemeriksaan darah lengkap atau complete blood count
- Pemeriksaan darah lengkap merupakan pemeriksaan awal untuk menilai keberadaan anemia dan pola eritrosit. Hasilnya perlu dibandingkan dengan rentang rujukan sesuai usia, jenis kelamin, kehamilan, dan metode laboratorium.
Tabel 1. Parameter darah lengkap dan interpretasinya
| Parameter | Fungsi | Pola yang sering ditemukan pada defisiensi besi |
|---|---|---|
| Hemoglobin (Hb) | Menilai konsentrasi hemoglobin dalam darah | Menurun pada tahap anemia |
| Hematokrit (Ht) | Menilai proporsi volume darah yang terdiri dari eritrosit | Sering menurun |
| Jumlah eritrosit (RBC) | Mengukur jumlah sel darah merah | Normal atau menurun |
| MCV | Mengukur rata-rata volume eritrosit | Sering menurun |
| MCH | Mengukur rata-rata massa hemoglobin per eritrosit | Sering menurun |
| MCHC | Mengukur konsentrasi hemoglobin dalam eritrosit | Dapat menurun |
| RDW | Menilai variasi ukuran eritrosit | Sering meningkat |
| Retikulosit | Menilai produksi eritrosit baru | Dapat rendah atau tidak meningkat sesuai derajat anemia |
Pola tersebut tidak bersifat mutlak. Defisiensi besi tahap awal dapat menunjukkan MCV normal. Penyakit penyerta juga dapat mengubah pola hasil pemeriksaan.
- 2.1. Hemoglobin
- Hemoglobin merupakan parameter utama untuk menentukan apakah seseorang mengalami anemia. Namun, Hb tidak secara langsung mengukur cadangan zat besi.
- Pada orang dewasa yang tidak hamil, WHO menggunakan ambang anemia di bawah 13 g/dL pada laki-laki dan di bawah 12 g/dL pada perempuan. Pada anak dan ibu hamil, ambang berbeda menurut usia atau trimester.
- Interpretasi praktis:
- Hb rendah dengan ferritin rendah mendukung anemia defisiensi besi.
- Hb normal dengan ferritin rendah menunjukkan defisiensi besi tanpa anemia, jika hasil dan konteks klinis mendukung.
- Hb rendah dengan ferritin normal atau tinggi memerlukan evaluasi lebih lanjut, terutama jika terdapat inflamasi.
- Derajat anemia tidak dapat ditentukan dari ferritin. Ferritin menilai cadangan besi, sedangkan Hb menilai konsentrasi hemoglobin.
- 2.2. Mean corpuscular volume atau MCV
- MCV menggambarkan ukuran rata-rata eritrosit. Satuan yang digunakan adalah femtoliter (fL).
- Pada anemia defisiensi besi, MCV biasanya menurun sehingga eritrosit menjadi mikrositik. Akan tetapi, perubahan ini sering muncul setelah kekurangan besi berlangsung cukup lama.
- MCV rendah tidak selalu berarti defisiensi besi. Talasemia, anemia akibat penyakit kronis tertentu, dan beberapa gangguan pembentukan hemoglobin juga dapat menimbulkan mikrositosis.
- Pada bayi dan anak, interpretasi MCV harus mengikuti rentang rujukan berdasarkan usia. Nilai normal orang dewasa tidak boleh diterapkan secara langsung kepada bayi.
- 2.3. Mean corpuscular hemoglobin atau MCH
- MCH menunjukkan rata-rata jumlah hemoglobin di dalam setiap eritrosit. Pada defisiensi besi, MCH sering menurun karena sel darah merah membawa lebih sedikit hemoglobin.
- Jika MCV dan MCH sama-sama rendah, dokter perlu menilai kemungkinan anemia mikrositik hipokromik. Pemeriksaan ferritin dan parameter status besi membantu menentukan apakah kekurangan zat besi menjadi penyebabnya.
- 2.4. Red cell distribution width atau RDW
- RDW menunjukkan variasi ukuran eritrosit. Pada defisiensi besi, RDW sering meningkat karena darah mengandung eritrosit dengan ukuran yang beragam.
- RDW yang meningkat bersama MCV rendah dan ferritin rendah memperkuat dugaan anemia defisiensi besi. Namun, RDW juga dapat meningkat pada kondisi lain, termasuk anemia campuran.
- 2.5. Jumlah eritrosit dan indeks Mentzer
- Jumlah eritrosit dapat membantu membedakan anemia defisiensi besi dari talasemia, terutama pada pasien dengan mikrositosis.
- Indeks Mentzer dihitung menggunakan rumus:
- MCV dinyatakan dalam fL, sedangkan RBC dinyatakan dalam juta sel per mikroliter.
- Sebagai petunjuk awal, indeks di atas 13 lebih sering ditemukan pada defisiensi besi, sedangkan nilai di bawah 13 dapat mengarah ke talasemia trait. Batas ini tidak mutlak dan tidak dapat menggantikan pemeriksaan status besi atau analisis hemoglobin.
- 3. Pemeriksaan ferritin serum
- Ferritin merupakan protein penyimpan zat besi. Kadar ferritin serum biasanya mencerminkan cadangan besi tubuh, sehingga pemeriksaan ini menjadi salah satu tes paling berguna untuk mendeteksi defisiensi besi.
Tabel 2. Interpretasi ferritin
| Hasil ferritin | Interpretasi umum |
|---|---|
| Di bawah 12 µg/L pada anak usia 6 sampai 59 bulan yang sehat | Menunjukkan defisiensi besi menurut ambang WHO |
| Di bawah 15 µg/L pada anak usia 5 tahun ke atas dan orang dewasa yang sehat | Sangat mendukung cadangan besi yang terkuras |
| 15 sampai 29 µg/L | Cadangan besi dapat rendah, terutama jika sesuai dengan konteks klinis |
| 30 sampai 45 µg/L | Perlu interpretasi berdasarkan usia, gejala, Hb, inflamasi, dan rentang rujukan |
| Normal atau tinggi saat terdapat infeksi atau inflamasi | Tidak menyingkirkan defisiensi besi |
| Tinggi tanpa bukti defisiensi | Pertimbangkan inflamasi, penyakit hati, dan penyebab lain |
- Satuan µg/L setara secara numerik dengan ng/mL. Nilai di atas merupakan panduan, bukan rentang rujukan universal.
- WHO merekomendasikan ambang ferritin yang berbeda menurut usia dan status inflamasi. Pada individu dengan infeksi atau inflamasi, ferritin di bawah 30 µg/L pada anak dan di bawah 70 µg/L pada orang dewasa dapat menunjukkan defisiensi besi. Rekomendasi ini perlu diterapkan dengan pertimbangan klinis, bukan sebagai satu-satunya dasar diagnosis.
- Mengapa ferritin bisa menyesatkan?
- Ferritin merupakan protein fase akut. Artinya, kadar ferritin dapat meningkat saat tubuh mengalami infeksi, inflamasi, atau penyakit hati.
- Contoh interpretasi:
- Ferritin 8 µg/L dengan CRP normal sangat mendukung kekurangan cadangan besi.
- Ferritin 85 µg/L dengan CRP meningkat tidak otomatis menunjukkan cadangan besi memadai.
- Ferritin normal dengan saturasi transferin rendah dapat mengarah pada pembatasan ketersediaan besi, terutama pada penyakit inflamasi kronis.
- Pada pasien yang sedang sakit, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan CRP, saturasi transferin, dan hemoglobin retikulosit untuk memperjelas diagnosis.
- 4. Pemeriksaan serum iron, TIBC, dan saturasi transferin
- Ketiga pemeriksaan ini membantu menilai ketersediaan zat besi dalam sirkulasi darah.
- Serum iron mengukur besi yang beredar dalam darah. TIBC menggambarkan kapasitas transferin untuk mengikat besi. Saturasi transferin menunjukkan persentase kapasitas transferin yang telah terisi besi.
Tabel 3. Interpretasi pemeriksaan status besi
| Parameter | Anemia defisiensi besi | Anemia akibat inflamasi |
|---|---|---|
| Serum iron | Rendah | Rendah |
| TIBC | Umumnya meningkat | Normal atau menurun |
| Saturasi transferin | Rendah, sering di bawah 20% | Sering rendah |
| Ferritin | Rendah | Normal atau meningkat |
| CRP | Dapat normal | Dapat meningkat |
| sTfR | Dapat meningkat | Sering normal, tetapi bergantung kondisi |
- Pola ini membantu membedakan kekurangan cadangan besi dari pembatasan penggunaan besi akibat inflamasi. Kedua kondisi juga dapat terjadi bersamaan.
- 4.1. Serum iron
- Serum iron mengukur besi yang beredar dalam sirkulasi, terutama yang terikat pada transferin. Nilai rendah dapat ditemukan pada defisiensi besi dan anemia akibat inflamasi.
- Kadar serum iron juga dapat berubah menurut waktu pengambilan sampel, asupan makanan, dan penggunaan suplemen besi. Karena itu, dokter sebaiknya tidak menetapkan diagnosis hanya berdasarkan serum iron.
- 4.2. Total iron-binding capacity atau TIBC
- TIBC menggambarkan kapasitas total transferin untuk mengikat besi.
- Pada defisiensi besi absolut, hati sering meningkatkan produksi transferin sehingga TIBC meningkat. Pada inflamasi, produksi transferin dapat menurun sehingga TIBC normal atau rendah.
- 4.3. Saturasi transferin atau TSAT
- Saturasi transferin dihitung dengan membandingkan serum iron dengan TIBC.
- Contoh, serum iron 30 µg/dL dan TIBC 400 µg/dL menghasilkan TSAT sebesar 7,5%.
- Nilai tersebut menunjukkan rendahnya ketersediaan besi dalam sirkulasi. Jika disertai ferritin rendah, hasilnya semakin mendukung defisiensi besi.
- TSAT di bawah 20% sering digunakan sebagai petunjuk keterbatasan ketersediaan besi. Namun, batas diagnosis bergantung pada kondisi klinis dan pedoman yang digunakan.
- 5. Pemeriksaan tambahan untuk kasus tertentu
- Tidak semua pasien membutuhkan seluruh pemeriksaan tambahan. Dokter memilih tes berdasarkan hasil awal dan kemungkinan penyakit penyerta.
Tabel 4. Pemeriksaan tambahan dan kegunaannya
| Pemeriksaan | Kegunaan klinis |
|---|---|
| CRP | Menilai adanya inflamasi yang dapat meningkatkan ferritin |
| LED atau ESR | Membantu menilai inflamasi, tetapi tidak spesifik |
| Retikulosit | Menilai respons produksi eritrosit oleh sumsum tulang |
| Reticulocyte hemoglobin, Ret-He atau CHr | Menilai ketersediaan besi untuk pembentukan eritrosit baru |
| Soluble transferrin receptor, sTfR | Membantu membedakan defisiensi besi dari anemia inflamasi pada kasus terpilih |
| Apusan darah tepi | Menilai bentuk, ukuran, dan karakteristik eritrosit |
| Elektroforesis hemoglobin atau analisis hemoglobin | Membantu mengevaluasi talasemia dan kelainan hemoglobin |
| Vitamin B12 dan folat | Mengevaluasi kemungkinan anemia akibat defisiensi vitamin |
| Pemeriksaan darah samar pada tinja atau evaluasi saluran cerna | Dipertimbangkan jika terdapat dugaan perdarahan saluran cerna |
- Reticulocyte hemoglobin dapat membantu mendeteksi keterbatasan besi yang tersedia untuk pembentukan sel darah merah. Pemeriksaan sTfR juga dapat membantu pada pasien dengan inflamasi, meskipun ketersediaan dan rentang rujukannya berbeda antar laboratorium.
- Diagnosis banding anemia defisiensi besi
- Anemia mikrositik tidak selalu disebabkan oleh kekurangan zat besi. Kesalahan membedakan penyebabnya dapat menyebabkan pemberian suplemen besi yang tidak diperlukan.
Tabel 5. Perbandingan beberapa penyebab anemia
| Parameter | Defisiensi besi | Anemia inflamasi | Talasemia trait |
|---|---|---|---|
| Hb | Rendah jika sudah menjadi anemia | Rendah | Normal atau rendah |
| MCV | Sering rendah | Normal atau rendah | Sering sangat rendah |
| RDW | Sering meningkat | Normal atau meningkat | Sering normal |
| RBC | Normal atau rendah | Normal atau rendah | Dapat relatif tinggi |
| Ferritin | Rendah | Normal atau tinggi | Umumnya normal |
| TIBC | Meningkat | Normal atau menurun | Umumnya normal |
| TSAT | Rendah | Rendah | Umumnya normal |
| Pemeriksaan lanjutan | Status besi | Evaluasi inflamasi dan penyakit dasar | Analisis hemoglobin bila diperlukan |
- Tabel ini menggambarkan pola yang lazim, bukan kriteria mutlak. Pasien dapat mengalami talasemia trait dan defisiensi besi secara bersamaan. Karena itu, mikrositosis dengan ferritin normal perlu dievaluasi lebih lanjut sebelum dokter menyimpulkan penyebabnya.
Algoritma praktis interpretasi laboratorium
- Langkah 1. Periksa darah lengkap
- Evaluasi Hb, MCV, MCH, RDW, dan RBC.
- Langkah 2. Periksa ferritin
- Nilai ferritin bersama kondisi klinis pasien.
- Ferritin rendah
- Defisiensi besi sangat mungkin.
- Ferritin normal atau tinggi
- Evaluasi inflamasi dan penyebab lain.
- Langkah 3. Lengkapi pemeriksaan bila perlu
- Pertimbangkan TSAT, TIBC, CRP, Ret-He, dan analisis hemoglobin sesuai indikasi.
- Langkah 4. Cari penyebab defisiensi besi
- Evaluasi asupan nutrisi, pertumbuhan, kehilangan darah, dan gangguan penyerapan.
- Algoritma ini merupakan panduan umum. Dokter perlu menyesuaikannya dengan usia, kehamilan, penyakit penyerta, dan tingkat keparahan anemia.
8. Contoh interpretasi hasil laboratorium
- Kasus A. Anemia defisiensi besi yang khas
- Seorang anak memiliki hasil berikut.
| Parameter | Hasil |
|---|---|
| Hb | 9,5 g/dL |
| MCV | 68 fL |
| MCH | 21 pg |
| RDW | 17% |
| Ferritin | 7 µg/L |
| CRP | Normal |
- Interpretasi: Hb rendah menunjukkan anemia jika dibandingkan dengan batas sesuai usia. MCV dan MCH rendah menunjukkan pola mikrositik hipokromik. Ferritin rendah menunjukkan cadangan besi berkurang. Kombinasi tersebut sangat mendukung anemia defisiensi besi.
- Langkah selanjutnya ialah menilai asupan zat besi, riwayat pertumbuhan, kehilangan darah, kemungkinan gangguan penyerapan, serta menentukan terapi sesuai usia dan berat badan.
- Kasus B. Ferritin normal saat terdapat inflamasi
- Seorang pasien memiliki hasil berikut.
| Parameter | Hasil |
|---|---|
| Hb | 10,2 g/dL |
| MCV | 76 fL |
| Ferritin | 80 µg/L |
| Serum iron | Rendah |
| TIBC | Rendah |
| TSAT | 12% |
| CRP | Meningkat |
- Interpretasi: Pasien mengalami anemia dengan ketersediaan besi yang rendah. Ferritin normal tidak menyingkirkan defisiensi besi karena CRP meningkat. Pola ini dapat menunjukkan anemia akibat inflamasi, defisiensi besi yang menyertai inflamasi, atau keduanya.
- Dokter dapat mempertimbangkan Ret-He, sTfR, riwayat penyakit, dan pemeriksaan lanjutan untuk membedakan kemungkinan tersebut.
- Kasus C. Mikrositosis dengan cadangan besi normal
- Seorang pasien memiliki hasil berikut.
| Parameter | Hasil |
|---|---|
| Hb | 11,5 g/dL |
| MCV | 65 fL |
| RBC | 5,6 juta/µL |
| RDW | 13% |
| Ferritin | 75 µg/L |
- Interpretasi: MCV sangat rendah, jumlah eritrosit relatif tinggi, RDW normal, dan ferritin tidak rendah. Pola ini dapat mengarah pada talasemia trait, tetapi belum cukup untuk memastikan diagnosis. Dokter dapat mempertimbangkan analisis hemoglobin dan riwayat keluarga.
- Contoh di atas bersifat ilustratif. Nilai Hb dan indeks eritrosit harus dinilai menggunakan batas rujukan sesuai usia dan kondisi pasien.
- 9. Evaluasi penyebab anemia defisiensi besi
- Menemukan kekurangan zat besi merupakan tahap awal. Pemeriksaan juga perlu mencari penyebabnya agar masalah tidak berulang.
- Pada bayi dan anak, penyebab yang perlu dievaluasi meliputi:
- Asupan zat besi yang tidak memadai.
- Pola makan sangat terbatas atau kesulitan makan.
- Konsumsi susu sapi berlebihan setelah usia yang sesuai untuk diperkenalkan.
- Kebutuhan besi yang meningkat selama pertumbuhan cepat.
- Kehilangan darah melalui saluran cerna atau sumber lain.
- Gangguan penyerapan, termasuk penyakit seliak pada pasien yang sesuai indikasi.
- Penyakit inflamasi kronis atau penyakit penyerta lainnya.
- Pada remaja dan orang dewasa, evaluasi juga perlu mempertimbangkan menstruasi yang berlebihan, perdarahan saluran cerna, kehamilan, pola makan, serta gangguan penyerapan. Pada laki-laki dewasa dan perempuan pascamenopause dengan anemia defisiensi besi yang baru terdiagnosis tanpa penyebab jelas, evaluasi saluran cerna perlu dipertimbangkan sesuai pedoman klinis.
10. Pemantauan respons terhadap terapi besi
- Pemantauan membantu menilai apakah terapi berhasil dan apakah pasien memerlukan evaluasi lebih lanjut.
- Tabel 6. Parameter pemantauan
| Parameter | Tujuan |
|---|---|
| Hb | Menilai perbaikan anemia |
| Retikulosit atau Ret-He, jika tersedia | Menilai respons awal pembentukan eritrosit |
| Ferritin | Menilai pemulihan cadangan besi |
| MCV dan MCH | Menilai pemulihan karakteristik eritrosit |
| Gejala dan pertumbuhan | Menilai dampak klinis, terutama pada bayi dan anak |
- Pada orang dewasa dengan anemia defisiensi besi yang mendapat terapi oral secara efektif, kenaikan Hb setidaknya 1 g/dL dalam sekitar dua minggu sangat mendukung diagnosis defisiensi besi absolut. Respons setiap pasien berbeda. Pada anak, dokter menilai respons berdasarkan usia, tingkat anemia, dosis terapi, kepatuhan, dan kondisi penyerta.
- Jika Hb tidak membaik sesuai harapan, dokter perlu menilai kepatuhan, dosis, toleransi obat, diagnosis alternatif, perdarahan berkelanjutan, dan kemungkinan gangguan penyerapan. Terapi umumnya tetap dilanjutkan setelah Hb normal selama periode yang diperlukan untuk memulihkan cadangan besi, berdasarkan evaluasi klinis.
Pesan penting
- Hb normal tidak selalu berarti cadangan besi normal.
- Ferritin rendah merupakan petunjuk kuat defisiensi besi.
- Ferritin normal atau tinggi tidak selalu menyingkirkan defisiensi besi saat terdapat inflamasi.
- MCV rendah tidak selalu berarti anemia defisiensi besi. Pertimbangkan talasemia dan penyebab lainnya.
- Serum iron tidak boleh digunakan sendirian untuk menegakkan diagnosis.
- Pada bayi dan anak, gunakan rentang rujukan sesuai usia.
- Temukan penyebab kekurangan zat besi, terutama jika terdapat kesulitan makan, gangguan pertumbuhan, atau anemia berulang.
- Jangan memberikan suplemen besi dalam dosis terapeutik tanpa penilaian yang sesuai. Kebutuhan dosis dan durasi bergantung pada usia, berat badan, tingkat anemia, serta kondisi klinis.
- Interpretasikan hasil secara terpadu. Tidak ada satu angka laboratorium yang dapat menjawab seluruh pertanyaan klinis.
Referensi ilmiah
- 1. World Health Organization. WHO guideline on use of ferritin concentrations to assess iron status in individuals and populations. 2020. Baca pedoman WHO.
- 2. Snook J, Bhala N, Beales ILP, et al. British Society of Gastroenterology guidelines for the management of iron deficiency anaemia in adults. Gut. 2021;70:2030-2051. Baca pedoman klinis.
- 3. WHO. Evidence and recommendations on the use of ferritin concentrations to assess iron status. Baca rekomendasi dan ambang ferritin.






Leave a Reply