KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Ketika Alergi Makanan Membuat Anak Semakin Sulit Makan

 

Ketika Alergi Makanan Membuat Anak Semakin Sulit Makan

Anak dengan alergi makanan tidak hanya menghadapi persoalan makanan apa yang harus dihindari. Pada sebagian anak, pengalaman berulang berupa muntah, sakit perut, diare, atau rasa tidak nyaman setelah makan dapat membuat kegiatan makan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan. Anak kemudian dapat mulai menolak makanan, hanya mau makanan tertentu, membutuhkan waktu sangat lama untuk makan, atau enggan mencoba tekstur baru. Kondisi seperti ini disebut feeding difficulties, yaitu spektrum masalah dalam proses makan yang dapat berkisar dari picky eating hingga food refusal dan bentuk gangguan makan yang lebih berat.

Seberapa sering masalah ini terjadi? Pertanyaan tersebut diteliti oleh Hill dan kolega melalui EAACI Task Force. Mereka melakukan systematic review terhadap penelitian internasional mengenai feeding difficulties pada anak dengan alergi makanan. Pencarian dilakukan pada delapan database hingga Juni 2022 dan dilengkapi dengan pencarian penelitian yang belum dipublikasikan melalui kontak dengan para ahli. Dari 2.059 abstrak yang diperiksa, 21 artikel dinilai secara lengkap dan akhirnya 10 penelitian memenuhi kriteria untuk dianalisis.

Hasilnya menunjukkan bahwa feeding difficulties memang cukup sering dilaporkan pada anak dengan alergi makanan. Lima penelitian yang memberikan data prevalensi melaporkan angka antara 13,6% sampai 40%. Angka ini berarti dalam penelitian yang berbeda, sekitar 14 hingga 40 dari setiap 100 anak dengan alergi makanan mengalami bentuk masalah makan tertentu. Namun angka tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai prevalensi semua anak dengan alergi makanan. Populasi penelitian, jenis alergi, usia anak, definisi masalah makan, serta alat pemeriksaannya berbeda-beda.

Justru perbedaan tersebut menjadi salah satu temuan penting dari laporan EAACI. Para peneliti menemukan sedikitnya 12 istilah yang digunakan untuk menggambarkan feeding difficulties dan 11 instrumen berbeda untuk mengukurnya. Ada penelitian yang menilai food refusal, penelitian lain menilai avoidant eating, selective eating, food aversion, atau istilah lain. Karena perbedaan yang cukup besar tersebut, para peneliti tidak dapat menggabungkan seluruh angka menjadi satu prevalensi. Dalam penelitian ilmiah, menggabungkan angka dari kondisi yang definisinya berbeda dapat menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan.

Feeding difficulties juga tidak sama dengan sekadar anak yang pilih-pilih makanan. Picky eating ringan cukup umum pada masa kanak-kanak. Anak mungkin tidak menyukai sayuran tertentu atau membutuhkan beberapa kali paparan sebelum mau mencoba makanan baru. Masalah menjadi lebih serius ketika pilihan makanan semakin sedikit, anak terus-menerus menolak makan, waktu makan sangat panjang, anak sulit menerima tekstur tertentu, atau asupan makanan tidak lagi mencukupi kebutuhan pertumbuhan.

Alergi makanan dapat menjadi salah satu bagian dari persoalan tersebut. Anak yang berulang kali mengalami muntah, nyeri perut, diare, atau gejala lain setelah makan dapat membentuk hubungan antara makanan dan pengalaman yang tidak menyenangkan. Secara sederhana, anak dapat belajar bahwa “makan berarti sakit”. Akibatnya, ketika makanan kembali ditawarkan, anak mungkin menolak atau menghindarinya. Mekanisme ini masuk akal secara klinis, tetapi penelitian EAACI belum membuktikan bahwa alergi makanan secara langsung menyebabkan feeding difficulties.

Masalah lainnya adalah diet eliminasi. Pada anak dengan alergi makanan, makanan tertentu memang perlu dihindari sesuai diagnosis dan kondisi klinis. Namun semakin banyak makanan yang dikeluarkan dari menu, semakin sedikit pula kesempatan anak mengenal berbagai rasa, aroma, dan tekstur. Beberapa penelitian dalam laporan EAACI menunjukkan bahwa feeding difficulties lebih sering ditemukan pada anak dengan multiple food allergies atau pada anak yang harus menghindari lebih banyak makanan.

Temuan tersebut tidak berarti bahwa diet eliminasi pasti menyebabkan anak sulit makan. Bisa terjadi hubungan yang lebih kompleks. Anak dengan penyakit yang lebih berat mungkin memiliki lebih banyak alergi, lebih banyak gejala, lebih banyak makanan yang harus dihindari, dan sekaligus lebih tinggi risikonya mengalami feeding difficulties. Dengan kata lain, jumlah makanan yang dieliminasi mungkin merupakan tanda bahwa penyakit anak lebih kompleks, bukan semata-mata penyebab masalah makan.

Persoalan menjadi semakin penting karena makan merupakan bagian utama dari pertumbuhan anak. Bila anak hanya menerima sedikit jenis makanan dalam waktu lama, kebutuhan energi, protein, lemak, vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya dapat sulit terpenuhi. Pada anak dengan alergi makanan, risiko tersebut dapat meningkat karena pilihan makanan memang sudah terbatas sejak awal. Karena itu, berat badan dan tinggi badan perlu dipantau secara berkala, bukan hanya diperiksa sekali.

Orang tua juga perlu memperhatikan tanda-tanda sederhana. Apakah anak semakin sedikit jenis makanannya? Apakah waktu makan berlangsung sangat lama? Apakah anak sering muntah atau tersedak ketika mencoba tekstur tertentu? Apakah anak menolak makanan baru? Apakah makanan yang dahulu disukai sekarang mulai ditolak? Apakah pertumbuhan berat dan tinggi badan mulai melambat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu menemukan feeding difficulties lebih awal.

Namun, tidak setiap anak dengan alergi makanan yang sulit makan mengalami ARFID atau Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder. ARFID merupakan diagnosis khusus dengan kriteria tertentu. Demikian pula Pediatric Feeding Disorder atau PFD mempunyai kerangka diagnosis yang lebih luas. Karena itu, istilah seperti picky eater, feeding difficulties, PFD, dan ARFID tidak sebaiknya digunakan secara bergantian. Diagnosis membutuhkan penilaian terhadap kondisi medis, kecukupan nutrisi, pertumbuhan, keterampilan makan, faktor sensorik, serta aspek psikososial.

Laporan EAACI juga menunjukkan pentingnya pendekatan multidisiplin. Dokter perlu memastikan diagnosis alergi dan mengevaluasi penyakit dasarnya. Ahli gizi dapat membantu memastikan diet eliminasi tetap memenuhi kebutuhan nutrisi. Tenaga profesional yang memiliki keahlian dalam feeding dapat menilai kemampuan anak menerima tekstur, mengunyah, menelan, dan makan sesuai tahap perkembangannya. Bila terdapat masalah kecemasan atau dampak psikososial yang bermakna, tenaga kesehatan terkait dapat dilibatkan.

Pesan utama penelitian ini bukan bahwa semua anak alergi makanan akan mengalami gangguan makan. Pesannya justru lebih sederhana. Ketika anak dengan alergi makanan mulai sulit makan, masalah tersebut perlu diperhatikan dan tidak selalu dianggap sebagai anak yang keras kepala atau sekadar sedang “pilih-pilih”. Sebaliknya, tidak semua picky eating harus dicari penyebab alerginya. Diagnosis alergi harus memiliki dasar yang tepat, makanan yang dieliminasi harus memiliki alasan medis yang jelas, dan diet perlu dievaluasi secara berkala agar pembatasan tidak menjadi lebih luas daripada yang diperlukan.

Pada akhirnya, keberhasilan penanganan alergi makanan bukan hanya membuat anak terhindar dari reaksi terhadap makanan pemicu. Anak juga perlu tetap mendapatkan nutrisi yang cukup, tumbuh dengan baik, dan memiliki pengalaman makan yang aman serta menyenangkan. Laporan EAACI memperlihatkan bahwa feeding difficulties merupakan masalah klinis yang layak ditanyakan secara aktif pada anak dengan alergi makanan. Penelitian berikutnya masih diperlukan untuk menentukan definisi yang seragam, alat skrining yang tervalidasi, serta memahami hubungan jangka panjang antara alergi makanan, diet eliminasi, pengalaman makan, nutrisi, dan pertumbuhan anak.

REFERENSI

  • Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, Reese I, Vieira MC, Rommel N, Dupont C, Venter C, Cianferoni A, Walsh J, Yonamine G, Beauregard A, Meyer R, Vazquez-Ortiz M. Feeding difficulties in children with food allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatric Allergy and Immunology. 2024;35(4):e14119. doi:10.1111/pai.14119. PMID:38566436.
  • Goday PS, et al. Pediatric Feeding Disorder: Consensus Definition and Conceptual Framework. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2019;68(1):124-129.
  • Kerzner B, Milano K, MacLean WC Jr, Berall G, Stuart S, Chatoor I. A practical approach to classifying and managing feeding difficulties. Pediatrics. 2015;135(2):344-353.
  • Bila diinginkan, versi berikutnya dapat dibuat lebih bergaya reportase majalah kesehatan, dengan pembukaan yang lebih kuat dan alur “kasus anak → temuan penelitian EAACI → mekanisme → dampak nutrisi → apa yang harus dilakukan orang tua”.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *