KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

TANDA LOW SELF-ESTEEM (Harga Diri Rendah) pada Anak dan Remaja, Mekanisme Psikologis, serta Pendekatan Praktis

TANDA LOW SELF-ESTEEM (Harga Diri Rendah) pada Anak dan Remaja, Mekanisme Psikologis, serta Pendekatan Praktis

  • Self-esteem atau harga diri merupakan evaluasi individu terhadap nilai dirinya. Pada anak dan remaja, self-esteem berkembang melalui interaksi antara temperamen, pengalaman keberhasilan dan kegagalan, hubungan dengan orang tua, pengalaman sekolah, hubungan teman sebaya, penerimaan sosial, serta perkembangan kemampuan kognitif dan emosional.
  • Harga diri rendah bukan diagnosis psikiatri tersendiri. Namun, self-esteem yang rendah dapat menjadi bagian dari berbagai masalah psikologis dan sosial. Anak dapat menunjukkan penghindaran terhadap tantangan, cepat menyerah, sangat sensitif terhadap kritik, sulit menerima pujian, sering membandingkan diri dengan orang lain, menarik diri dari teman, mengalami penurunan prestasi, atau membuat pernyataan negatif tentang dirinya. Pada sebagian anak, masalah tersebut dapat disertai kecemasan, depresi, bullying, kesulitan belajar, atau masalah perilaku.
  • Identifikasi low self-esteem tidak boleh didasarkan pada satu perilaku. Penilaian perlu melihat pola, durasi, konteks, perubahan dari fungsi sebelumnya, serta dampaknya terhadap sekolah, keluarga, persahabatan, dan aktivitas sehari-hari. Intervensi terutama diarahkan pada pembentukan hubungan yang aman, pengalaman kompetensi, kesempatan mengambil keputusan, penguatan usaha, keterampilan regulasi emosi, dan penerimaan tanpa syarat. Bila terdapat gejala depresi, kecemasan berat, self-harm, ide bunuh diri, atau gangguan fungsi yang bermakna, diperlukan evaluasi profesional.

Anak tidak dilahirkan dengan konsep diri yang sudah terbentuk.

  • Pada awal kehidupan, anak mengenal dirinya melalui hubungan dengan orang lain.
    • Bagaimana orang tua merespons tangisan.
    • Bagaimana guru memberikan umpan balik.
    • Bagaimana teman menerima atau menolak.
    • Bagaimana anak mengalami keberhasilan.
    • Bagaimana anak menghadapi kegagalan.
  • Semua pengalaman tersebut secara bertahap membentuk cara anak memahami dirinya.
  • Self-esteem berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai nilai dirinya. Konsep ini berbeda dari sekadar kemampuan atau prestasi.
  • Anak dapat memperoleh nilai akademik tinggi tetapi tetap merasa dirinya tidak berharga.
  • Sebaliknya, anak dengan kemampuan akademik biasa dapat mempunyai self-esteem yang sehat apabila ia merasa diterima, mampu berkontribusi, mempunyai hubungan positif, dan melihat dirinya mempunyai kemampuan untuk berkembang.
  • Karena itu:
    • Prestasi tinggi tidak selalu berarti self-esteem tinggi.
    • Prestasi rendah tidak selalu berarti self-esteem rendah.

SELF-ESTEEM, SELF-CONCEPT, DAN SELF-EFFICACY

  • Ketiga istilah tersebut sering digunakan secara bergantian, tetapi mempunyai makna berbeda.
  • Self-concept adalah gambaran seseorang mengenai dirinya.
  • Contoh:
    • “Saya anak yang suka menggambar.”
    • “Saya sulit matematika.”
    • “Saya mempunyai banyak teman.”
  • Self-esteem berkaitan dengan evaluasi terhadap nilai diri.
  • Contoh:
    • “Saya merasa diri saya berharga.”
  • Self-efficacy berkaitan dengan keyakinan bahwa seseorang mampu melakukan tugas tertentu.
  • Contoh:
    • “Saya percaya saya dapat belajar matematika jika berlatih.”

Tabel 1. Perbedaan Konsep

Konsep Pertanyaan utama
Self-concept “Saya seperti apa?”
Self-esteem “Seberapa berharga saya?”
Self-efficacy “Apakah saya mampu melakukan ini?”
Social acceptance “Apakah saya diterima orang lain?”
  • Seorang anak dapat mempunyai self-esteem cukup baik tetapi self-efficacy rendah dalam matematika.
  • Sebaliknya, anak dapat sangat percaya diri dalam olahraga tetapi mempunyai self-esteem rendah secara keseluruhan.
  • Karena itu, evaluasi harus spesifik.

APA ITU LOW SELF-ESTEEM?

  • Low self-esteem menggambarkan evaluasi negatif atau rendah terhadap diri sendiri.
  • Anak dapat mulai melihat dirinya sebagai:
    • Tidak pintar.
    • Tidak menarik.
    • Tidak disukai.
    • Tidak mampu.
    • Selalu gagal.
    • Berbeda dari teman.
    • Tidak penting.
    • Tidak layak mendapat perhatian.
    • Namun, satu komentar negatif tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seorang anak mempunyai self-esteem rendah.
  • Anak dapat mengatakan:
    • “Aku bodoh!”
    • setelah gagal mengerjakan soal.
      • Hal tersebut dapat merupakan ekspresi frustrasi sesaat.
  • Yang lebih penting adalah apakah pola tersebut berulang dan menjadi bagian dari cara anak memandang dirinya.

TANDA-TANDA LOW SELF-ESTEEM

  • Menghindari tantangan
  • Anak mungkin menolak mencoba sesuatu bahkan sebelum memulai.
    • Misalnya:
      • “Aku pasti tidak bisa.”
      • “Aku tidak mau ikut.”
      • “Aku pasti kalah.”
  • Secara psikologis, penghindaran dapat berfungsi sebagai perlindungan terhadap kemungkinan gagal.
  • Anak tidak mencoba sehingga tidak mengalami kegagalan.
  • Namun, konsekuensinya adalah anak juga kehilangan kesempatan mengalami keberhasilan.
  • Cepat menyerah
    • Anak mulai mengerjakan tugas tetapi berhenti ketika mengalami kesulitan.
    • Misalnya:
      • “Sudahlah.”
      • “Aku memang tidak bisa.”
      • “Percuma.”
    • Pola ini perlu dibedakan dari kurangnya motivasi.
    • Pada sebagian anak, masalah utamanya adalah keyakinan bahwa usaha tidak akan menghasilkan keberhasilan.
  • Takut gagal
    • Fear of failure dapat menyebabkan anak menghindari aktivitas yang sebenarnya mampu dilakukan.
    • Anak mungkin memilih tugas yang mudah karena ingin memastikan dirinya tidak gagal.
      • Pada kondisi tertentu, anak lebih memilih tidak mencoba daripada mencoba dan mengalami kegagalan.
  • Perfeksionisme
    • Low self-esteem tidak selalu terlihat sebagai anak yang pasif.
    • Sebagian anak justru menjadi sangat perfeksionis.
  • Mereka merasa bahwa:
    • “Saya harus sempurna.”
    • “Kalau salah berarti saya bodoh.”
    • “Kalau nilainya tidak 100 berarti saya gagal.”
  • Perfeksionisme dapat menjadi strategi untuk mempertahankan rasa berharga melalui pencapaian.

SULIT MENERIMA PUJIAN

  • Anak dengan masalah self-esteem dapat merespons pujian dengan:
    • “Ah, biasa saja.”
    • “Enggak kok.”
    • “Aku cuma kebetulan.”
  • Pujian bahkan dapat membuat anak tidak nyaman apabila tidak sesuai dengan cara ia melihat dirinya.
  • Karena itu, pujian yang spesifik terhadap proses sering lebih bermanfaat.
  • Bukan:
    • “Kamu paling pintar.”
  • Lebih baik:
    • “Kamu tetap mencoba meskipun soal ini sulit.”
  • SANGAT SENSITIF TERHADAP KRITIK
    • Anak dapat mengalami krit

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *