KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Seberapa Sering dan Seberapa Banyak Bayi Harus Menyusu? Kenali Tanda Lapar dan Kenyang

Seberapa Sering dan Seberapa Banyak Bayi Harus Menyusu? Kenali Tanda Lapar dan Kenyang

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul setelah bayi lahir adalah: “Bayi saya harus menyusu berapa kali?” atau “Sekali minum harus berapa mililiter?” Jawabannya ternyata tidak sesederhana angka. Setiap bayi memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada bayi yang menyusu sedikit tetapi sering. Ada yang menyusu lebih banyak kemudian tidur lebih lama. Karena itu, pada bayi cukup bulan yang sehat, orang tua sebaiknya tidak hanya melihat jam. Perhatikan juga tanda-tanda yang diberikan bayi. Inilah yang disebut responsive feeding atau pemberian makan secara responsif. Bayi makan ketika lapar dan berhenti ketika kenyang.

Jangan menunggu bayi menangis

  • Bayi sebenarnya sudah memberikan tanda lapar sebelum menangis.
  • Tanda awal lapar dapat berupa bayi membuka mulut, menjilat bibir, menjulurkan lidah, memasukkan tangan ke mulut, menggerakkan kepala mencari payudara, atau melakukan rooting.
  • Bayi juga dapat menjadi lebih aktif dan mulai mengeluarkan suara kecil.
  • Menangis biasanya merupakan tanda lapar yang sudah terlambat. Bayi yang sudah menangis keras sering lebih sulit ditenangkan dan disusui.
  • Karena itu, jangan menunggu sampai bayi menangis baru menawarkan ASI atau susu.

Tetapi tidak setiap bayi mengisap berarti lapar

  • Ini juga penting.
  • Bayi memang sering memasukkan tangan ke mulut atau mengisap sesuatu. Tetapi tidak selalu berarti lapar.
  • Bayi juga mengisap untuk menenangkan diri, mengantuk, atau mencari kenyamanan.
  • Begitu pula dengan menangis. Bayi menangis bukan hanya karena lapar. Bisa karena popok basah, mengantuk, kepanasan, kedinginan, membutuhkan pelukan, atau merasa tidak nyaman.
  • Orang tua perlu melihat keseluruhan tanda yang diberikan bayi.

Bagaimana mengetahui bayi sudah kenyang?

  • Bayi biasanya memiliki tanda kenyang.
  • Bayi dapat berhenti mengisap, memperlambat hisapan, melepaskan payudara atau dot, menutup mulut, atau memalingkan kepala dari payudara dan botol.
  • Tubuhnya juga mulai lebih rileks.
  • Jika bayi sudah menunjukkan tanda tersebut, tidak perlu memaksanya melanjutkan minum hanya karena susu di botol masih tersisa.
  • Bayi tidak harus menghabiskan isi botol.

Berapa kali bayi perlu menyusu?

  • Pada bayi baru lahir, menyusu cukup sering adalah hal yang normal.
  • Bayi yang mendapatkan ASI dapat menyusu berkali-kali dalam sehari. Pada minggu-minggu pertama, banyak bayi menyusu sekitar 8–12 kali dalam 24 jam, meskipun setiap bayi dapat berbeda.
  • Bayi yang mendapatkan susu formula juga biasanya membutuhkan pemberian makan yang cukup sering. Pada hari-hari pertama, sekitar 30–60 mL setiap 2–3 jam merupakan gambaran umum. Jumlah tersebut kemudian meningkat secara bertahap sesuai pertumbuhan bayi.
  • Angka tersebut bukan target yang harus dipaksakan.
  • Ada bayi yang membutuhkan lebih sedikit dalam satu kali pemberian tetapi meminta lebih sering. Ada pula bayi yang mampu minum lebih banyak dan kemudian mempunyai jeda lebih panjang.
  • Yang penting bukan hanya jumlah susu yang diminum dalam satu kali makan, tetapi apakah kebutuhan bayi secara keseluruhan terpenuhi.

Tabel Jadwal Makan dan Minum Bayi 0–12 Bulan

Usia ASI Formula bila tidak mendapat ASI MPASI Frekuensi dalam 24 jam Perkiraan jumlah
0–1 hari Sesuai tanda lapar, umumnya sangat sering ±30–60 mL setiap kali bila formula eksklusif Belum diberikan ASI sesuai kebutuhan; formula umumnya 8–12 kali Formula 30–60 mL/kali pada hari-hari awal
2–3 hari Sesuai tanda lapar, siang dan malam ±30–60 mL/kali Belum diberikan Sekitar 8–12 kali/hari Tidak perlu memaksakan volume
4–7 hari On demand, dapat setiap 1–3 jam Umumnya setiap 2–3 jam Belum diberikan Sekitar 8–12 kali/hari Formula bertambah sesuai tanda lapar
1–2 minggu Sesuai tanda lapar Umumnya setiap 2–3 jam Belum diberikan Sekitar 8–12 kali/hari ±60–90 mL/kali formula, sebagai gambaran umum
2–4 minggu Sesuai kebutuhan bayi Umumnya setiap 2–3 jam Belum diberikan Sekitar 8–12 kali/hari ±60–120 mL/kali formula
1–2 bulan Sesuai tanda lapar dan kenyang Umumnya setiap 3–4 jam Belum diberikan Sekitar 6–8 kali/hari, tetapi dapat lebih sering ±90–120 mL/kali formula
2–3 bulan Sesuai kebutuhan Umumnya setiap 3–4 jam Belum diberikan Sekitar 6–8 kali/hari ±90–150 mL/kali formula
3–4 bulan Sesuai kebutuhan Umumnya setiap 3–4 jam Belum diberikan Sekitar 5–7 kali/hari ±120–180 mL/kali formula
4–5 bulan Sesuai kebutuhan Umumnya setiap 3–4 jam Belum diberikan secara rutin sebelum sekitar 6 bulan Sekitar 5–7 kali/hari ±120–180 mL/kali formula
Sekitar 6 bulan Tetap sesuai kebutuhan Formula tetap diberikan sesuai tanda lapar Mulai 2–3 kali/hari Susu + 2–3 kali MPASI MPASI mulai 2–3 sendok makan, bertahap meningkat
6–8 bulan Sesuai kebutuhan Sesuai tanda lapar 2–3 kali/hari Susu tetap diberikan + 2–3 kali makan Dari beberapa sendok hingga sekitar ½ cangkir 250 mL/kali makan
9–11 bulan Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan 3–4 kali/hari + camilan sesuai kebutuhan Susu + 3–4 kali makan Sekitar ½ cangkir 250 mL/kali makan
12 bulan ASI dapat diteruskan Dapat mulai transisi dari formula sesuai kondisi 3–4 kali/hari + 1–2 camilan 3–4 kali makan + camilan Sekitar ¾–1 cangkir 250 mL/kali makan

Catatan penting: angka volume formula pada tabel merupakan kisaran praktis, bukan target yang harus dihabiskan. CDC menyatakan bahwa bayi memiliki kebutuhan yang berbeda dan jumlah serta frekuensi pemberian harus disesuaikan dengan tanda lapar dan kenyang bayi. Pada hari-hari pertama, bayi yang hanya mendapatkan formula dapat mulai sekitar 30–60 mL setiap 2–3 jam dan umumnya makan 8–12 kali dalam 24 jam.

Tabel jumlah MPASI menurut tahap usia

Usia Frekuensi MPASI/hari Jumlah awal dan perkembangan Tekstur
6 bulan 2 kali, dapat berkembang menjadi 2–3 kali Mulai sekitar 2–3 sendok makan, kemudian bertambah perlahan Halus, lumat, puree kental
7–8 bulan 2–3 kali Bertahap menuju sekitar ½ cangkir 250 mL/kali makan Lumat, cincang halus, makanan lembut
9–11 bulan 3–4 kali Sekitar ½ cangkir 250 mL/kali makan Cincang halus, makanan lunak yang dapat digenggam
12–23 bulan 3–4 kali + 1–2 camilan bila diperlukan Sekitar ¾–1 cangkir 250 mL/kali makan Makanan keluarga dengan modifikasi sesuai kemampuan

WHO merekomendasikan pemberian makanan pendamping mulai sekitar usia 6 bulan. Pada usia 6–8 bulan, MPASI diberikan 2–3 kali sehari. Pada usia 9–23 bulan, frekuensinya meningkat menjadi 3–4 kali sehari, dengan 1–2 camilan bergizi sesuai kebutuhan. WHO juga menekankan peningkatan jumlah dan tekstur makanan secara bertahap sesuai usia dan kemampuan anak.

Bagaimana dengan jadwal minumnya?

  • Untuk ASI langsung, tidak dianjurkan membuat jadwal berdasarkan volume tertentu karena jumlah ASI yang diminum setiap kali menyusu tidak dapat diketahui secara akurat. Bayi baru lahir dapat meminta ASI setiap 1–3 jam. Seiring bertambahnya usia, pola menyusu biasanya semakin teratur, tetapi tetap dapat berubah dari hari ke hari.
  • Untuk formula, bayi baru lahir yang hanya mendapatkan formula biasanya mulai sekitar 30–60 mL setiap 2–3 jam. Dalam beberapa minggu berikutnya, interval umumnya menjadi sekitar 3–4 jam dan jumlah setiap kali minum meningkat sesuai pertumbuhan.
  • Untuk bayi 6–12 bulan, CDC menyebutkan bahwa sebagian besar bayi membutuhkan formula atau makanan padat sekitar 5–6 kali dalam 24 jam. Ketika konsumsi MPASI meningkat, kebutuhan formula secara bertahap dapat berkurang.

Contoh jadwal harian bayi 6–8 bulan

Jadwal berikut hanya contoh. Tidak perlu diterapkan secara kaku.

Waktu Kegiatan makan/minum
06.00 ASI atau formula
09.00 MPASI
11.00 ASI atau formula
14.00 MPASI
16.00–17.00 ASI atau formula
19.00 MPASI
21.00 ASI atau formula
Malam ASI atau formula sesuai kebutuhan bayi

Pada bayi yang masih menyusu langsung, waktu menyusu dapat berbeda jauh dari contoh tersebut. Yang digunakan sebagai dasar adalah tanda lapar dan kenyang bayi.

Contoh jadwal harian bayi 9–11 bulan

Waktu Kegiatan makan/minum
06.00 ASI atau formula
08.00 Sarapan MPASI
10.30 ASI atau formula
12.30 Makan siang MPASI
15.00 ASI atau formula, dapat disertai camilan sesuai kebutuhan
18.00 Makan malam MPASI
20.30 ASI atau formula
Malam ASI atau formula sesuai kebutuhan

WHO tidak menetapkan jam makan yang harus sama untuk semua bayi. Yang direkomendasikan adalah frekuensi minimal dan pemberian makan secara responsif.

Prinsip penting saat menggunakan tabel

  • Tabel ini sebaiknya digunakan sebagai panduan, bukan sebagai aturan yang harus diikuti secara kaku.
  • Bayi sehat dapat makan lebih sering atau lebih sedikit daripada angka dalam tabel. Bayi juga dapat mengalami hari ketika nafsu makannya meningkat atau menurun.
  • Tanda lapar tetap penting. Bayi dapat membuka mulut, mencari payudara atau botol, memasukkan tangan ke mulut, atau menjadi lebih aktif.
  • Tanda kenyang juga harus dihormati. Bayi dapat menutup mulut, memalingkan kepala, berhenti mengisap, atau melepaskan payudara atau botol.
  • Jangan memaksa bayi menghabiskan susu atau makanan hanya karena jumlah dalam tabel belum tercapai.
  • Sebaliknya, bila bayi secara konsisten hanya mampu makan atau minum jauh di bawah kebutuhannya, selalu menolak makan, sering muntah, mengalami kesulitan menelan, jumlah urine berkurang, atau berat badan tidak bertambah dengan baik, pola tersebut perlu dievaluasi oleh dokter.

Hal yang paling penting bukan hanya jumlah

  • Dalam praktik sehari-hari, orang tua sering terlalu fokus pada angka mililiter.
  • Padahal, kecukupan makan bayi sebaiknya dinilai dari beberapa hal:
    • Asupan: berapa banyak susu dan makanan yang masuk.
    • Frekuensi: berapa kali bayi makan atau minum dalam 24 jam.
    • Respons bayi: apakah bayi menunjukkan tanda lapar dan kenyang secara wajar.
    • Hidrasi: terutama jumlah urine dan kondisi klinis.
    • Pertumbuhan: apakah berat badan dan panjang badan mengikuti pola pertumbuhan yang sesuai.
    • Kemampuan makan: apakah bayi dapat mengisap, menelan, dan menerima makanan sesuai tahap perkembangannya.
  • Jadi, bayi yang minum 120 mL dalam satu kali pemberian belum tentu lebih baik daripada bayi yang minum 90 mL. Begitu pula bayi yang menyusu 12 kali sehari belum tentu mendapatkan lebih banyak atau lebih sedikit ASI dibandingkan bayi yang menyusu 8 kali sehari.
  • Yang dinilai adalah keseluruhan pola makan dan pertumbuhan bayi.

Bagaimana kalau bayi menyusu sebentar?

  • Jangan langsung menyimpulkan bahwa ASI tidak cukup.
  • Ada bayi yang dapat menyusu dengan sangat efektif sehingga kebutuhan susunya terpenuhi dalam waktu singkat.
  • Ada pula bayi yang membutuhkan waktu lebih lama.
  • Karena itu, durasi menyusu saja tidak cukup untuk menentukan apakah bayi mendapatkan ASI yang cukup.
  • Lebih penting melihat apakah bayi dapat melekat dengan baik, terdengar menelan, tampak puas setelah menyusu, buang air kecil cukup, dan berat badannya bertambah sesuai pola pertumbuhan.

Bagaimana mengetahui bayi cukup minum?

  • Ada beberapa tanda yang dapat membantu orang tua.
  • Setelah beberapa hari pertama kehidupan, jumlah popok basah menjadi salah satu petunjuk penting. AAP menyebutkan bahwa setelah hari keempat hingga kelima, bayi umumnya memiliki sekitar 5–6 popok basah atau lebih setiap hari.
  • Tetapi popok bukan satu-satunya ukuran.
  • Pertumbuhan berat badan merupakan bagian yang sangat penting. Dokter akan melihat berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala pada kurva pertumbuhan.
  • Yang dilihat bukan hanya satu angka.
  • Yang lebih penting adalah bagaimana pola pertumbuhan bayi dari waktu ke waktu.

Bagaimana dengan bayi yang sering menyusu?

  • Sering menyusu tidak otomatis berarti ASI kurang.
  • Bayi memang dapat mengalami periode ketika meminta menyusu lebih sering. Pola tersebut dapat berubah sesuai usia, perkembangan, tidur, dan kebutuhan masing-masing bayi.
  • Sebaliknya, bayi yang sangat jarang menyusu, sulit dibangunkan untuk makan, tampak lemas, buang air kecil sedikit, atau berat badannya tidak bertambah perlu diperiksa.
  • Jadi, jangan menilai kecukupan ASI hanya dari seberapa sering bayi meminta menyusu.

Apakah bayi bisa terlalu banyak minum?

  • Bisa.
  • Masalah ini lebih mudah terjadi pada pemberian menggunakan botol. Aliran susu dari botol dapat lebih cepat sehingga bayi dapat minum lebih banyak sebelum sempat merasakan kenyang.
  • Bayi kemudian dapat menjadi kembung, banyak gas, gumoh, atau muntah.
  • Karena itu, ketika memberikan susu dengan botol, orang tua sebaiknya memberikan kesempatan kepada bayi untuk berhenti dan beristirahat. Jangan terus memasukkan dot ke mulut hanya karena bayi masih mengisap.

Mengisap tidak selalu berarti bayi masih lapar.

  • Jangan memaksa bayi menghabiskan botol
  • Ini merupakan salah satu kebiasaan yang sebaiknya dihindari.
  • Misalnya, bayi sudah minum 90 mL kemudian berhenti. Jangan langsung memaksanya menghabiskan 120 mL hanya karena angka tersebut dianggap sebagai “jatah”.
  • Kebutuhan bayi dapat berbeda.
  • Lebih baik menawarkan susu, memperhatikan respons bayi, kemudian berhenti ketika bayi menunjukkan tanda kenyang.
  • Jika masih lapar, bayi dapat kembali ditawari sesuai kebutuhannya.

Bagaimana jika bayi sering gumoh?

  • Gumoh cukup sering terjadi pada bayi.
  • Gumoh tidak selalu berarti bayi terlalu banyak minum. Tidak selalu pula berarti bayi mengalami alergi susu sapi atau penyakit lambung.
  • Yang perlu diperhatikan adalah pola dan kondisi bayi secara keseluruhan.
  • Gumoh sedikit setelah menyusu pada bayi yang aktif dan tumbuh baik berbeda dengan muntah berulang yang membuat bayi tidak dapat mempertahankan susu.
  • Muntah berwarna hijau, muntah berdarah, muntah menyemprot berulang, perut membuncit, bayi sangat lemas, tanda dehidrasi, atau berat badan tidak bertambah membutuhkan pemeriksaan dokter.

Apakah sering menangis berarti bayi lapar?

  • Belum tentu.
  • Ini salah satu kesalahan yang sering terjadi pada bayi.
  • Setiap kali bayi menangis, orang tua langsung memberikan susu. Padahal bayi mungkin sedang mengantuk, membutuhkan pelukan, merasa kepanasan, popoknya basah, atau membutuhkan ketenangan.
  • Jika setiap tangisan selalu dijawab dengan susu, bayi dapat mendapatkan asupan lebih banyak daripada kebutuhannya.
  • Karena itu, sebelum memberikan susu, coba perhatikan tanda lapar yang lain.

Setelah usia 6 bulan, bagaimana?

  • Sekitar usia 6 bulan, kebutuhan nutrisi bayi mulai meningkat. ASI tetap penting, tetapi bayi mulai membutuhkan makanan pendamping.
  • Makanan diberikan secara bertahap sesuai kesiapan perkembangan bayi.
  • Bayi mulai belajar makan dengan tekstur yang sesuai, mengenal berbagai rasa dan makanan, serta belajar mengatur rasa lapar dan kenyang.
  • WHO merekomendasikan makanan pendamping mulai sekitar usia 6 bulan dengan tetap melanjutkan pemberian ASI.
  • Pada usia 6–8 bulan, makanan pendamping umumnya diberikan 2–3 kali sehari. Pada usia 9–23 bulan, frekuensinya meningkat menjadi sekitar 3–4 kali sehari, sesuai kebutuhan dan perkembangan anak.

Tabel. Panduan sederhana pemberian makan bayi

Usia Gambaran umum Yang perlu diperhatikan
0–1 bulan Menyusu sering, sesuai tanda lapar Jangan menunggu bayi menangis
1–3 bulan Frekuensi mulai lebih bervariasi Perhatikan tanda lapar dan kenyang
4–5 bulan ASI atau formula tetap menjadi sumber utama nutrisi Jangan memaksa menghabiskan susu
Sekitar 6 bulan Mulai makanan pendamping ASI atau formula tetap diberikan
6–8 bulan MPASI sekitar 2–3 kali sehari Tingkatkan tekstur dan variasi secara bertahap
9–11 bulan MPASI sekitar 3–4 kali sehari Bayi mulai belajar makanan keluarga
12 bulan ke atas Makanan keluarga menjadi semakin penting Tetap perhatikan tanda lapar dan kenyang

Angka tersebut adalah gambaran umum. Kebutuhan setiap bayi dapat berbeda.

Kapan orang tua perlu berkonsultasi?

  • Bayi perlu diperiksa jika sulit menyusu secara terus-menerus, sering tersedak ketika makan, sering muntah, mengalami muntah hijau atau berdarah, tampak sangat lemas, sulit dibangunkan untuk makan, buang air kecil jauh lebih sedikit, mengalami diare terus-menerus, atau berat badan tidak bertambah dengan baik.
  • Kesulitan makan juga perlu diperhatikan bila bayi selalu menolak menyusu, membutuhkan waktu sangat lama untuk makan, tampak kesakitan ketika makan, atau hanya mampu mengonsumsi jumlah yang sangat sedikit.
  • Dalam kondisi seperti ini, penyebabnya tidak selalu karena bayi “tidak mau makan”. Dokter perlu menilai teknik menyusu, kemampuan menelan, jumlah asupan, pertumbuhan, infeksi, refluks, konstipasi, alergi gastrointestinal, dan kemungkinan masalah medis lainnya.

Pesan penting untuk orang tua

  • Bayi tidak membutuhkan jadwal makan yang kaku.
  • Bayi membutuhkan orang tua yang mampu membaca tanda-tandanya.
  • Kenali tanda lapar sebelum bayi menangis. Kenali tanda kenyang sebelum bayi dipaksa menghabiskan susu. Jangan menentukan kebutuhan bayi hanya berdasarkan angka pada botol.
  • Yang lebih penting adalah melihat bayi secara keseluruhan: apakah ia aktif, menyusu dengan baik, cukup buang air kecil, tampak puas setelah makan, dan tumbuh sesuai pola pertumbuhannya.
  • Dan satu hal yang tidak kalah penting: bayi yang sering menyusu belum tentu kekurangan ASI, bayi yang sering gumoh belum tentu alergi, dan bayi yang tidak menghabiskan botol belum tentu kurang makan.
  • Jika ada keraguan mengenai jumlah asupan atau pertumbuhan, evaluasi dokter anak jauh lebih bermanfaat daripada menebak-nebak berdasarkan angka.

Sumber utama

  • American Academy of Pediatrics. How Often and How Much Should Your Baby Eat? HealthyChildren.org.
  • American Academy of Pediatrics. Is Your Baby Hungry or Full? Responsive Feeding Explained. HealthyChildren.org.
  • Centers for Disease Control and Prevention. How Much and How Often to Feed Infant Formula. Infant and Toddler Nutrition.
  • Centers for Disease Control and Prevention. Signs Your Child Is Hungry or Full. Infant and Toddler Nutrition.
  • World Health Organization. WHO Guideline for Complementary Feeding of Infants and Young Children 6–23 Months of Age. 2023.
  • World Health Organization. Infant and Young Child Feeding.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *