KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

ANAK SINDROM NEFROTIK DAN ALERGI MAKANAN: BENARKAH ADA HUBUNGANNYA?

 

ANAK SINDROM NEFROTIK DAN ALERGI MAKANAN: BENARKAH ADA HUBUNGANNYA?

Anak tiba-tiba bengkak di sekitar mata. Kaki ikut membesar. Berat badan naik karena cairan. Saat diperiksa, urin ternyata mengandung banyak protein. Dokter kemudian mengatakan anak mengalami sindrom nefrotik. Pada sebagian orang tua, muncul pertanyaan lain. “Apakah makanan yang dimakan anak bisa menyebabkan protein keluar melalui urin?” Pertanyaan ini ternyata sudah diteliti selama puluhan tahun.

Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara sindrom nefrotik dan penyakit alergi. Beberapa laporan bahkan menemukan proteinuria berubah setelah anak mengonsumsi makanan tertentu. Namun, ceritanya tidak sesederhana “alergi makanan menyebabkan sindrom nefrotik”. Apa yang sebenarnya diketahui?

APA ITU SINDROM NEFROTIK?

  • Ginjal memiliki jutaan penyaring kecil yang disebut glomerulus. Salah satu tugasnya adalah menyaring darah sambil menahan protein penting agar tetap berada di dalam tubuh.
  • Pada sindrom nefrotik, penyaring ini menjadi terlalu mudah membocorkan protein.
  • Protein, terutama albumin, keluar melalui urin dalam jumlah besar.
  • Akibatnya kadar albumin dalam darah turun. Cairan kemudian lebih mudah masuk ke jaringan tubuh.

Inilah yang dapat menyebabkan anak mengalami:

• Kelopak mata bengkak, terutama pada pagi hari
• Kaki atau tungkai bengkak
• Perut membesar karena cairan
• Berat badan meningkat akibat penumpukan cairan
• Urin tampak berbusa
• Jumlah urin dapat berkurang

Pada anak, salah satu bentuk yang sering ditemukan adalah sindrom nefrotik sensitif steroid. Banyak anak memberikan respons baik terhadap kortikosteroid.

LALU, APA HUBUNGANNYA DENGAN ALERGI?

  • Hubungan antara alergi dan sindrom nefrotik sudah lama menarik perhatian para peneliti.
  • Sebagian anak dengan sindrom nefrotik juga memiliki penyakit atopik seperti dermatitis atopik, asma, atau rinitis alergi.
  • Beberapa penelitian juga menemukan kadar IgE yang tinggi pada sebagian pasien.
  • IgE merupakan antibodi yang berperan dalam banyak reaksi alergi.

Tetapi ada hal penting.

  • IgE tinggi tidak otomatis berarti anak memiliki alergi makanan.
  • Anak dengan sindrom nefrotik juga tidak otomatis mengalami alergi.
  • Hubungan keduanya lebih mungkin berkaitan dengan sistem imun yang mengalami perubahan regulasi.

APA YANG TERJADI PADA SISTEM IMUN?

  • Salah satu teori yang banyak dibahas berkaitan dengan sistem imun tipe 2 dan zat yang disebut interleukin-13 atau IL-13.
  • IL-13 berperan dalam respons alergi dan produksi IgE.
  • Pada beberapa penelitian mengenai sindrom nefrotik, IL-13 juga diduga dapat memengaruhi fungsi podosit.
  • Podosit adalah sel khusus yang berada di bagian penyaring ginjal.
  • Jika fungsi podosit terganggu, protein lebih mudah lolos ke urin.
  • Dari sinilah muncul hipotesis bahwa pada sebagian anak, gangguan regulasi imun dapat berhubungan dengan dua kondisi sekaligus, yaitu kecenderungan alergi dan kebocoran protein dari ginjal.
  • Namun, ini masih merupakan mekanisme yang diteliti. Belum berarti alergi makanan adalah penyebab utama sindrom nefrotik.

PENELITIAN LAMA MENEMUKAN HAL YANG MENARIK

  • Pada 1989, Lagrue dan kolega meneliti 42 pasien dengan idiopathic nephrotic syndrome yang mengalami perjalanan penyakit sulit.
  • Peneliti menemukan berbagai tanda sensitisasi terhadap makanan. Pada sebagian pasien, proteinuria berkurang setelah dilakukan pembatasan makanan tertentu.
  • Beberapa pasien bahkan mengalami remisi.
  • Temuan ini menarik karena menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara makanan, sistem imun, dan proteinuria pada sebagian pasien.
  • Tetapi penelitian tersebut memiliki jumlah pasien yang kecil dan menggunakan metode pemeriksaan yang berasal dari era sebelumnya.
  • Karena itu, hasilnya tidak dapat digunakan untuk mengatakan bahwa alergi makanan menyebabkan sindrom nefrotik pada semua anak.

KASUS ANAK 3 TAHUN MEMBERIKAN PETUNJUK MENARIK

Sebuah laporan kasus yang diterbitkan pada 2023 menceritakan seorang anak laki-laki berusia 3 tahun.

Anak tersebut mengalami bengkak, urin berdarah, jumlah urin berkurang, dan proteinuria berat setelah sebelumnya mengalami demam ringan dan gejala saluran napas. Pemeriksaan kemudian menunjukkan post-infectious glomerulonephritis, yaitu peradangan ginjal yang terjadi setelah infeksi.

  • Masalahnya, proteinuria tetap bertahan.
  • Anak mendapat pengobatan steroid. Namun protein dalam urin masih berfluktuasi.
  • Orang tua anak kemudian melakukan pengamatan setiap hari menggunakan pemeriksaan dipstick urin.
  • Mereka menemukan sesuatu yang menarik.
  • Setelah anak mengonsumsi produk susu, protein dalam urin tampak meningkat dari 1+ menjadi 2+.
  • Anak kemudian menjalani evaluasi alergi dan diberikan diet hipoalergenik.
  • Setelah itu, proteinuria berkurang. Kadar albumin membaik. Kreatinin juga membaik. Beberapa minggu kemudian, proteinuria tidak lagi ditemukan. Pada pemantauan satu tahun, pemeriksaan urin tetap normal.
  • Penulis kasus tersebut menduga bahwa alergi makanan mungkin berperan dalam proteinuria anak tersebut.

TETAPI JANGAN LANGSUNG MENYIMPULKAN SUSU PENYEBAB SINDROM NEFROTIK

  • Ini bagian yang sangat penting.
  • Anak dalam laporan tersebut juga mengalami post-infectious glomerulonephritis.
  • Penelitian tersebut hanya melaporkan satu pasien.
  • Karena itu, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa susu menyebabkan sindrom nefrotik.
  • Kita hanya dapat mengatakan bahwa terdapat hubungan waktu yang menarik antara konsumsi produk susu dan perubahan proteinuria pada anak tersebut.
  • Temuan seperti ini dapat menjadi alasan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

BUKAN SEMUA PROTEINURIA BERARTI ALERGI MAKANAN

  • Protein dalam urin dapat muncul karena berbagai kondisi.
  • Infeksi dapat menyebabkan perubahan sementara pada urin.
  • Penyakit glomerulus dapat menyebabkan proteinuria.
  • Sindrom nefrotik dapat menyebabkan proteinuria dalam jumlah besar.
  • Beberapa penyakit sistemik juga dapat memengaruhi ginjal.
  • Karena itu, ketika anak mengalami protein dalam urin, pemeriksaan ginjal tetap menjadi prioritas.
  • Jangan langsung menganggap penyebabnya alergi makanan.

JANGAN SEMBARANGAN MENGHILANGKAN BANYAK MAKANAN

  • Kesalahpahaman lain yang perlu dihindari adalah menganggap anak dengan sindrom nefrotik harus menjalani diet bebas banyak makanan.
  • Tidak demikian.
  • Anak sedang tumbuh. Mereka membutuhkan energi, protein, vitamin, dan mineral yang cukup.
  • Jika susu, telur, ikan, daging, kacang, gandum, dan berbagai buah langsung dihilangkan tanpa diagnosis yang jelas, anak dapat mengalami diet yang terlalu terbatas.
  • Akibatnya, kebutuhan nutrisi dapat sulit terpenuhi.
  • Karena itu, diet eliminasi harus memiliki alasan yang jelas.

KAPAN ALERGI MAKANAN PATUT DIPERIKSA?

Kecurigaan terhadap alergi makanan menjadi lebih masuk akal bila anak memiliki pola yang konsisten.

Misalnya:

  • • Gejala alergi muncul berulang setelah makanan tertentu
    • Ada biduran atau bengkak setelah makan
    • Muntah muncul segera setelah makanan tertentu
    • Anak memiliki dermatitis atopik, asma, atau rinitis alergi
    • Proteinuria tampak berulang setelah paparan makanan tertentu
    • Ada pola perbaikan yang jelas setelah eliminasi yang dilakukan secara terarah
  • Dalam situasi seperti ini, dokter dapat mempertimbangkan evaluasi alergi.
  • Namun pemeriksaan harus berdasarkan riwayat dan gejala.

TES ALERGI POSITIF BELUM TENTU BERARTI ALERGI

  • Ini juga penting bagi orang tua.
  • Skin prick test atau pemeriksaan specific IgE dapat menunjukkan sensitisasi.
  • Sensitisasi berarti sistem imun mengenali suatu alergen.
  • Tetapi sensitisasi tidak selalu berarti anak mengalami reaksi klinis ketika mengonsumsi makanan tersebut.
  • Karena itu, hasil tes harus dibaca bersama riwayat klinis.
  • Dalam kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan oral food challenge untuk memastikan apakah anak benar-benar mengalami reaksi terhadap makanan tertentu.

APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN ORANG TUA?

Jika anak memiliki sindrom nefrotik dan orang tua mencurigai makanan tertentu berhubungan dengan proteinuria, jangan langsung menghilangkan semua makanan.

  • Lakukan pengamatan yang sistematis.
  • Catat makanan yang dikonsumsi.
  • Catat kapan makanan dikonsumsi.
  • Catat perubahan gejala.
  • Pantau hasil urin sesuai petunjuk dokter.
  • Catat kapan proteinuria meningkat atau menurun.
  • Kemudian bawa catatan tersebut kepada dokter anak atau dokter nefrologi anak.
  • Jika terdapat dugaan alergi, dokter dapat melibatkan dokter alergi-imunologi dan ahli gizi.

APA PESAN TERPENTINGNYA?

  • Hubungan antara alergi dan sindrom nefrotik memang menarik dan sudah diteliti selama puluhan tahun.
  • Sebagian anak dengan sindrom nefrotik memiliki penyakit atopik atau peningkatan IgE.
  • Mekanisme imun seperti IL-13 juga menjadi salah satu bidang penelitian yang menarik.
  • Beberapa penelitian lama dan laporan kasus menunjukkan bahwa makanan tertentu mungkin berhubungan dengan perubahan proteinuria pada sebagian pasien.
  • Tetapi sampai sekarang belum ada bukti kuat bahwa alergi makanan merupakan penyebab umum sindrom nefrotik pada anak.
  • Karena itu, jangan mengambil dua kesimpulan yang sama-sama terlalu jauh.
  • Jangan mengatakan, “Alergi makanan pasti menyebabkan sindrom nefrotik.”
  • Jangan pula mengabaikan kemungkinan hubungan pada anak yang memiliki pola klinis yang jelas.

Pendekatan yang lebih tepat adalah melihat anak secara menyeluruh.

  • Ginjal diperiksa.
  • Proteinuria dipantau.
  • Penyebab sindrom nefrotik ditentukan.
  • Riwayat alergi dinilai bila memang ada petunjuk.
  • Makanan hanya dieliminasi bila terdapat alasan klinis yang jelas.
  • Tujuannya bukan membuat semakin banyak pantangan.
  • Tujuannya adalah menemukan masalah yang benar-benar ada, menjaga fungsi ginjal, mempertahankan nutrisi, dan membantu anak tumbuh dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

  • Lagrue G, Laurent J, Rostoker G. Food allergy and idiopathic nephrotic syndrome. Kidney Int Suppl. 1989;27:S147-S151. PMID: 2484004.
  • Abdel-Hafez M, Shimada M, Lee PY, Johnson RJ, Garin EH. Idiopathic nephrotic syndrome and atopy: Is there a common link? Am J Kidney Dis. 2009;54(5):945-953. doi:10.1053/j.ajkd.2009.03.019.
  • Mohkam M, Jamee M, Mortazavi N, Mirzaee M, Mansouri M. Food allergy masquerading as persistent proteinuria in post-infectious glomerulonephritis: a case report. Oxford Medical Case Reports. 2023;2023(8):omad087. doi:10.1093/omcr/omad087.
  • Trautmann A, Boyer O, Hodson E, et al. IPNA clinical practice recommendations for the diagnosis and management of children with steroid-sensitive nephrotic syndrome. Pediatr Nephrol. 2023;38:877-919. doi:10.1007/s00467-022-05739-3.
  • Kidney Disease: Improving Global Outcomes. KDIGO 2025 Clinical Practice Guideline for the Management of Nephrotic Syndrome in Children. Kidney International. 2025.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *