KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Reaksi Simpang terhadap Makanan pada Bayi dan Anak: Mengenali Alergi, Intoleransi, dan Penyebab Lainnya

  • Reaksi Simpang terhadap Makanan pada Bayi dan Anak: Mengenali Alergi, Intoleransi, dan Penyebab Lainnya
  • dr Sandiaz Yudhasmara, Dr Widodo Judarwanto pediatrician

Tidak semua keluhan setelah makan berarti alergi makanan. Bayi dan anak dapat mengalami berbagai reaksi setelah mengonsumsi makanan tertentu. Keluhannya bisa berupa ruam kulit, gatal, muntah, diare, sakit perut, batuk, sesak napas, hingga kesulitan makan dan berat badan sulit naik. Dalam dunia medis, istilah umum untuk kondisi ini adalah Adverse Reactions to Foods atau reaksi simpang terhadap makanan. Reaksi tersebut dapat terjadi karena alergi, gangguan pencernaan, efek zat tertentu dalam makanan, atau keracunan makanan. Orang tua perlu memahami perbedaan setiap kondisi agar anak mendapat pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

  • Apa yang dimaksud dengan reaksi simpang terhadap makanan?
    • Reaksi simpang terhadap makanan adalah istilah untuk berbagai keluhan yang muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan atau bahan tertentu di dalam makanan. Keluhan dapat muncul dalam beberapa menit, beberapa jam, atau setelah periode yang lebih lama. Waktu munculnya gejala bergantung pada penyebab dan mekanisme reaksinya.
    • Contohnya, seorang anak mengalami biduran dan pembengkakan bibir beberapa menit setelah makan telur. Anak lain mengalami kembung dan diare setelah minum susu karena kesulitan mencerna laktosa. Keduanya mengalami reaksi setelah makan, tetapi penyebabnya berbeda. Karena itu, orang tua tidak sebaiknya langsung menyimpulkan bahwa semua keluhan tersebut merupakan alergi.
  • Apa perbedaan alergi makanan dan intoleransi makanan?
    • Alergi makanan (Food Allergy) terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap protein tertentu dalam makanan. Reaksi ini dapat menimbulkan gejala pada kulit, saluran pencernaan, dan pernapasan. Pada kasus berat, alergi makanan dapat menyebabkan anafilaksis, yaitu reaksi sistemik yang mengancam jiwa.
    • Intoleransi makanan (Food Intolerance) terjadi ketika tubuh mengalami kesulitan mencerna atau memproses komponen makanan tertentu, atau bereaksi terhadap zat tertentu tanpa mekanisme alergi sebagai penyebabnya. Contohnya adalah intoleransi laktosa. Kondisi ini dapat menyebabkan kembung, nyeri perut, dan diare setelah mengonsumsi produk yang mengandung laktosa.
    • Perbedaan utamanya terletak pada mekanisme penyebabnya. Alergi melibatkan sistem imun, sedangkan intoleransi umumnya tidak.
  • Penggolongan reaksi simpang terhadap makanan
  • Secara umum, reaksi simpang terhadap makanan dapat dibagi menjadi dua kelompok besar.
    • A. Reaksi yang melibatkan sistem kekebalan tubuh
      • Kelompok ini mencakup alergi makanan. Mekanismenya dapat dibagi menjadi tiga jenis.
      • Alergi makanan yang diperantarai IgE
        • Reaksi ini biasanya muncul dalam beberapa menit hingga sekitar dua jam setelah anak mengonsumsi makanan pemicu. Gejalanya dapat berupa biduran, gatal, pembengkakan bibir, muntah, mengi, atau sesak napas. Pada kondisi berat, anak dapat mengalami anafilaksis.
      • Alergi makanan non-IgE
        • Reaksi ini tidak terutama diperantarai antibodi IgE. Gejalanya dapat muncul lebih lambat dan sering melibatkan saluran pencernaan. Contohnya adalah FPIES, yang dapat menyebabkan muntah berulang beberapa jam setelah konsumsi makanan pemicu, serta proktokolitis alergi akibat protein makanan yang dapat menyebabkan darah pada tinja bayi.
      • Reaksi dengan mekanisme campuran
        • Pada beberapa penyakit, respons IgE dan mekanisme imun lainnya dapat berperan. Salah satu contohnya adalah esofagitis eosinofilik atau EoE, yaitu peradangan pada kerongkongan yang dapat menyebabkan sulit menelan, muntah, penolakan makanan, atau kesulitan makan.
  • B. Reaksi yang tidak melibatkan mekanisme alergi
    • Kelompok ini mencakup berbagai kondisi yang tidak disebabkan oleh respons alergi imunologis.
    • Intoleransi metabolik, misalnya intoleransi laktosa akibat kekurangan enzim laktase.
    • Reaksi farmakologis, yaitu respons terhadap zat dalam makanan, misalnya kafein atau histamin pada kondisi tertentu.
    • Reaksi toksik, misalnya akibat makanan yang mengandung toksin atau kontaminan.
    • Reaksi terhadap bahan tambahan pangan, yang mekanismenya dapat berbeda-beda dan perlu dinilai sesuai gejala serta bahan yang dicurigai.

Tabel sederhana untuk mengenali jenis reaksi

Jenis reaksi Contoh Gejala yang mungkin muncul
Alergi makanan IgE Alergi telur atau kacang Biduran, bengkak, muntah akut, sesak napas
Alergi makanan non-IgE FPIES, proktokolitis alergi Muntah tertunda, darah pada tinja, diare
Reaksi imun campuran Esofagitis eosinofilik Sulit menelan, muntah, penolakan makanan
Intoleransi makanan Intoleransi laktosa Kembung, nyeri perut, diare
Reaksi farmakologis Efek kafein atau histamin Palpitasi, sakit kepala, kemerahan pada kondisi tertentu
Reaksi toksik Keracunan makanan Mual, muntah, diare, atau gejala sistemik

Gejala pada tabel tidak selalu menunjukkan satu penyakit tertentu. Dokter perlu menilai riwayat makanan, waktu munculnya keluhan, pola kekambuhan, dan hasil pemeriksaan yang sesuai.

  • Mengapa reaksi makanan perlu diperhatikan pada anak yang sulit makan?
    • Sebagian anak mengalami penolakan makanan, muntah berulang, sakit perut, atau keluhan lain setiap kali makan. Jika keluhan tersebut berkaitan dengan penyakit tertentu, anak dapat mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi. Dalam jangka panjang, asupan yang tidak mencukupi dapat mengganggu kenaikan berat badan dan pertumbuhan.
    • Alergi makanan tertentu juga dapat berkaitan dengan gangguan saluran pencernaan. Misalnya, esofagitis eosinofilik dapat membuat anak merasa makanan sulit turun atau menimbulkan rasa tidak nyaman ketika menelan. Anak mungkin makan sangat lambat, memilih tekstur tertentu, atau menolak makanan.
    • Namun, anak yang sulit makan atau berat badannya sulit naik belum tentu mengalami alergi. Faktor lain, seperti pola pemberian makan, gangguan keterampilan makan, penyakit pencernaan, infeksi, dan kebutuhan energi yang tidak terpenuhi, juga perlu diperiksa.
  • Bagaimana dokter menentukan diagnosis?
    • Dokter memulai pemeriksaan dengan menggali riwayat keluhan. Orang tua dapat membantu dengan mencatat jenis makanan, jumlah yang dikonsumsi, waktu munculnya gejala, dan berapa lama keluhan berlangsung.
    • Jika dicurigai alergi yang diperantarai IgE, dokter dapat mempertimbangkan tes tusuk kulit atau pemeriksaan IgE spesifik dalam darah. Hasil positif menunjukkan adanya sensitisasi, tetapi tidak selalu berarti anak mengalami alergi klinis.
    • Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan uji provokasi makanan dengan pengawasan medis. Pemeriksaan ini membantu memastikan apakah makanan tertentu benar-benar menimbulkan reaksi.
    • Untuk alergi non-IgE, dokter menggunakan pendekatan yang sesuai dengan penyakit yang dicurigai. Tidak ada satu tes darah yang dapat mendiagnosis seluruh jenis alergi makanan. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak mengandalkan satu hasil pemeriksaan saja.
  • Apakah anak perlu menghindari semua makanan yang dicurigai?
    • Tidak. Pembatasan makanan tanpa diagnosis yang jelas dapat membuat asupan energi, protein, kalsium, zat besi, dan zat gizi lainnya tidak mencukupi. Risiko ini penting diperhatikan pada bayi dan anak yang sudah mengalami kesulitan makan atau gangguan pertumbuhan.
    • Jika alergi makanan terkonfirmasi, dokter dapat membantu menentukan makanan yang perlu dihindari dan alternatif penggantinya. Ahli gizi juga dapat membantu memastikan kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi.
    • Orang tua sebaiknya tidak mencoba memberikan kembali makanan yang pernah menyebabkan reaksi berat tanpa arahan tenaga medis.
  • Kapan orang tua perlu segera mencari pertolongan?
    • Segera cari pertolongan darurat jika setelah makan anak mengalami sesak napas, pembengkakan lidah atau tenggorokan, kesulitan menelan yang mendadak, pingsan, atau tampak sangat lemas. Gejala tersebut dapat menandakan reaksi alergi berat.
    • Konsultasikan dengan dokter jika anak mengalami muntah atau diare berulang, darah pada tinja, penolakan makanan yang menetap, atau berat badan tidak naik sesuai harapan. Pemeriksaan dini membantu menemukan penyebab dan mencegah masalah nutrisi yang lebih berat.
  • Pesan penting bagi orang tua
    • Reaksi simpang terhadap makanan merupakan istilah umum yang mencakup alergi, intoleransi, dan berbagai reaksi lainnya. Tidak semua keluhan setelah makan berarti alergi. Kenali pola gejala, catat makanan yang dicurigai, dan mintalah evaluasi medis sebelum menghilangkan banyak jenis makanan dari menu anak.
    • Pada anak yang sulit makan dan berat badannya sulit naik, tujuan pemeriksaan adalah menemukan penyebab keluhan sekaligus menjaga agar kebutuhan nutrisi dan pertumbuhan tetap terpenuhi.
  • Referensi pilihan
    • Johansson SGO, et al. Revised nomenclature for allergy for global use. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2004;113:832-836.
    • Boyce JA, et al. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2010;126(Suppl 6).
    • Santos AF, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78:3057-3076.
    • Muraro A, et al. EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines. Allergy. 2014;69:1008-1025.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *