KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

GUT-BRAIN AXIS PADA ANAK. Ketika Kesehatan Usus Berhubungan dengan Otak dan Perilaku

 

GUT-BRAIN AXIS PADA ANAK. Ketika Kesehatan Usus Berhubungan dengan Otak dan Perilaku

Sandiaz Yudhasmara. Widodo Judarwanto

Usus dan otak ternyata saling berkomunikasi. Hubungan dua arah ini dikenal sebagai gut-brain axis. Pada anak, sistem ini menjadi penting karena otak, saluran cerna, sistem imun, dan mikrobiota masih terus berkembang. Komunikasi antara usus dan otak berlangsung melalui berbagai jalur, antara lain sistem saraf enterik, nervus vagus, sistem imun, hormon, metabolit mikrobiota, asam lemak rantai pendek, asam empedu, dan metabolisme triptofan. Nutrisi berperan penting karena makanan tidak hanya menjadi sumber energi dan zat gizi bagi anak, tetapi juga menjadi lingkungan bagi kehidupan mikrobiota di dalam usus.

Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara karakteristik mikrobiota dengan tidur, perilaku, fungsi kognitif, dan perkembangan neuropsikologis anak. Namun, hubungan tersebut belum membuktikan bahwa perubahan mikrobiota merupakan penyebab langsung gangguan perkembangan otak atau perilaku. Demikian pula, probiotik, prebiotik, diet khusus, atau berbagai terapi yang ditujukan untuk mengubah mikrobiota belum dapat dianggap sebagai terapi standar untuk gangguan neurodevelopmental.

Pemahaman tentang gut-brain axis membantu melihat kesehatan anak secara lebih menyeluruh. Keluhan seperti nyeri perut, muntah, diare, konstipasi, gangguan makan, tidur yang terganggu, atau asupan nutrisi yang tidak adekuat dapat memengaruhi kenyamanan dan aktivitas anak. Sebaliknya, kondisi psikologis dan lingkungan juga dapat memengaruhi fungsi saluran cerna. Karena itu, perhatian terhadap pola makan, pertumbuhan, kesehatan pencernaan, tidur, aktivitas, dan diagnosis penyakit yang tepat merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan otak dan tubuh anak.

APA YANG DIMAKSUD GUT-BRAIN AXIS?

Gut-brain axis adalah jaringan komunikasi antara usus dan otak.

Komunikasi berlangsung melalui beberapa jalur:

  • • nervus vagus
  • • sistem saraf enterik
  • • sistem saraf otonom
  • • sistem imun
  • • hormon
  • • neurotransmiter
  • • metabolit mikrobiota
  • • sirkulasi darah
  • • jalur metabolisme asam empedu
  • • jalur metabolisme triptofan

Hubungan ini bersifat dua arah.

  • Otak dapat memengaruhi fungsi usus.
  • Usus juga dapat mengirimkan sinyal kepada otak.

KOMPONEN GUT-BRAIN AXIS PADA ANAK

Komponen Mekanisme Relevansi pada anak
Nervus vagus Sinyal neural dua arah Menghubungkan fungsi visceral dan otak
Enteric nervous system Mengatur motilitas dan sekresi Pematangan fungsi gastrointestinal
Mikrobiota Menghasilkan metabolit Berinteraksi dengan imun dan metabolisme
SCFA Produk fermentasi serat Barrier usus, imun dan metabolisme
Sistem imun Sitokin dan mediator inflamasi Memengaruhi lingkungan usus dan sistemik
Triptofan Serotonin dan kynurenine pathway Neurotransmisi dan imun
Asam empedu Diubah oleh mikrobiota Sinyal metabolik
Nutrisi Substrat pertumbuhan dan metabolisme Pertumbuhan tubuh dan otak
Intestinal barrier Mengontrol interaksi lumen dan tubuh Regulasi imun dan homeostasis

MIKROBIOTA PADA MASA KANAK-KANAK

Mikrobiota anak tidak langsung sama dengan mikrobiota orang dewasa. Komposisinya berubah sepanjang masa bayi, balita, anak, dan remaja. Beberapa faktor yang memengaruhi perkembangan mikrobiota antara lain:

  • • usia kehamilan
  • • cara persalinan
  • • pemberian ASI
  • • penggunaan antibiotik
  • • infeksi
  • • pola makan
  • • lingkungan
  • • aktivitas fisik
  • • penyakit gastrointestinal
  • • kondisi metabolik

Perkembangan mikrobiota berlangsung bersamaan dengan pematangan sistem imun dan saluran gastrointestinal. Karena itu, masa awal kehidupan dianggap sebagai periode penting dalam pembentukan microbiota-gut-brain axis. (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)

NUTRISI SEBAGAI PENGHUBUNG USUS DAN OTAK

Makanan memiliki dua fungsi penting.

  • Pertama, memberikan energi dan zat gizi bagi anak.
  • Kedua, memberikan substrat yang digunakan oleh mikrobiota.
    • Karbohidrat kompleks dan serat tertentu dapat difermentasi oleh mikrobiota sehingga menghasilkan metabolit seperti short-chain fatty acids.
    • Protein menyediakan asam amino yang juga dapat masuk ke berbagai jalur metabolisme.
    • Lemak menyediakan asam lemak yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan fungsi membran sel.
    • Vitamin dan mineral berperan dalam metabolisme energi, pembentukan neurotransmiter, fungsi imun, dan perkembangan jaringan saraf.
  • Karena itu, kualitas nutrisi memiliki hubungan dengan kesehatan otak dan saluran cerna.

SERAT DAN SCFA

Serat merupakan salah satu komponen makanan yang berhubungan erat dengan mikrobiota. Sebagian serat mencapai kolon tanpa dicerna di usus halus. Mikrobiota kemudian memfermentasi substrat tersebut dan menghasilkan SCFA.

Tiga SCFA utama adalah:

  • • acetate
  • • propionate
  • • butyrate

Butyrate terutama digunakan sebagai sumber energi oleh kolonosit dan mempunyai fungsi dalam regulasi barrier intestinal serta sistem imun. SCFA juga dapat berinteraksi dengan reseptor tertentu dan memengaruhi sistem metabolik serta neuroimun.

Dengan demikian:

  • Serat → mikrobiota → SCFA → usus, imun, metabolisme, dan sinyal ke sistem saraf.
  • Namun, jumlah dan jenis serat harus disesuaikan dengan usia serta kondisi anak. Anak dengan penyakit gastrointestinal tertentu dapat membutuhkan modifikasi jenis atau jumlah serat.

NUTRISI DAN PERKEMBANGAN OTAK

Otak anak membutuhkan energi dan berbagai zat gizi untuk perkembangan struktur dan fungsi.

Beberapa nutrisi yang penting antara lain:

Nutrisi Contoh sumber Peran
Protein Ikan, telur, daging, susu, kacang Pertumbuhan dan sintesis protein
DHA Ikan berlemak Struktur membran otak
Omega-3 Ikan, seafood Metabolisme lipid dan fungsi saraf
Zat besi Daging, hati, kacang, makanan fortifikasi Hemoglobin dan fungsi neurologis
Zinc Daging, seafood, kacang Pertumbuhan dan fungsi enzim
Iodium Garam beriodium, seafood Hormon tiroid
Folat Sayuran hijau, kacang Sintesis DNA dan metabolisme
Vitamin B12 Produk hewani dan fortifikasi Fungsi saraf dan hematologi
Vitamin D Paparan matahari, makanan tertentu Tulang dan regulasi imun
Kolin Telur, daging, kacang Membran sel dan neurotransmisi

Kekurangan zat gizi tertentu dapat mengganggu perkembangan anak. Karena itu, perbaikan nutrisi harus menjadi bagian dari pendekatan kesehatan anak.

TRIPTOFAN, SEROTONIN, DAN OTAK

  • Triptofan merupakan asam amino esensial.
  • Tubuh menggunakan triptofan dalam beberapa jalur metabolisme. Salah satu jalur berhubungan dengan serotonin.
  • Mikrobiota dapat memengaruhi metabolisme triptofan sehingga memengaruhi keseimbangan metabolit yang terbentuk.
  • Serotonin sendiri mempunyai fungsi penting dalam sistem gastrointestinal dan sistem saraf.
  • Namun, serotonin yang diproduksi di usus tidak secara sederhana dapat dianggap masuk ke otak. Sistem serotonin perifer dan sistem serotonin pusat mempunyai regulasi yang berbeda.
  • Karena itu, klaim bahwa makanan tertentu secara langsung “menaikkan serotonin otak” perlu dipahami dengan hati-hati.

NERVUS VAGUS

Nervus vagus merupakan salah satu jalur utama komunikasi antara saluran cerna dan otak.

Sinyal dari saluran gastrointestinal dapat memengaruhi pusat pengaturan di otak.

Sebaliknya, respons otak terhadap stres dan kondisi emosional dapat memengaruhi motilitas, sekresi, sensitivitas visceral, serta persepsi nyeri gastrointestinal.

Pada anak, hubungan ini dapat terlihat dalam bentuk keluhan seperti:

  • • mual saat cemas
  • • nyeri perut saat menghadapi stres
  • • perubahan pola BAB
  • • penurunan nafsu makan
  • • rasa penuh atau kembung

Hal ini tidak berarti bahwa keluhan tersebut “hanya psikologis”.

Interaksi saraf, imun, mikrobiota, dan saluran cerna memang merupakan proses biologis.

INTESTINAL BARRIER

Usus mempunyai sistem barrier yang kompleks.

Komponennya meliputi:

  • • mukus
  • • sel epitel
  • • tight junction
  • • sistem imun mukosa
  • • mikrobiota

Barrier tersebut mengatur interaksi antara isi lumen usus dengan jaringan tubuh.

Gangguan fungsi barrier dapat terjadi pada berbagai kondisi gastrointestinal.

Namun, istilah “leaky gut” sering digunakan terlalu luas di masyarakat. Peningkatan permeabilitas usus merupakan fenomena biologis, tetapi tidak dapat digunakan sebagai diagnosis tunggal untuk menjelaskan autisme, ADHD, alergi, depresi, atau berbagai penyakit kronis lainnya.

GUT-BRAIN AXIS DAN SISTEM IMUN

  • Saluran gastrointestinal merupakan salah satu lokasi utama interaksi antara tubuh dan lingkungan.
  • Mikrobiota berinteraksi dengan sistem imun mukosa.
  • Sistem imun kemudian menghasilkan berbagai mediator yang dapat memengaruhi jaringan lain.
  • Inflamasi kronis dapat memengaruhi fungsi saraf melalui berbagai jalur.
  • Namun, hubungan tersebut kompleks.
  • Mikrobiota abnormal tidak otomatis berarti menyebabkan inflamasi sistemik.
  • Inflamasi juga tidak selalu berasal dari usus.

GUT-BRAIN AXIS DAN PERILAKU ANAK

  • Penelitian epidemiologi menemukan hubungan antara mikrobiota dan beberapa aspek perkembangan neuropsikologis anak.
  • Systematic review terbaru yang mencakup puluhan penelitian pada anak dan remaja menemukan hubungan antara karakteristik mikrobiota dengan perkembangan neuropsikologis dan perilaku. Namun, hasil penelitian sangat heterogen dan faktor seperti diet, usia, obat, kondisi sosial, penyakit, dan faktor lingkungan dapat memengaruhi hasil. Karena itu, penelitian tersebut belum membuktikan hubungan sebab akibat. (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)

AUTISME DAN MIKROBIOTA

  • Hubungan mikrobiota dengan autism spectrum disorder menjadi salah satu bidang penelitian yang banyak mendapat perhatian.
  • Beberapa penelitian menemukan perbedaan komposisi mikrobiota pada sebagian anak dengan autisme.
  • Namun: Mikrobiota berbeda tidak berarti mikrobiota menyebabkan autisme.
  • Anak dengan autisme juga lebih sering mempunyai pola makan terbatas atau selective eating. Kondisi tersebut sendiri dapat mengubah mikrobiota.
  • Gangguan gastrointestinal juga dapat terjadi pada sebagian anak dengan autisme.
  • Karena itu, arah hubungan dapat melibatkan banyak faktor.
  • Review terbaru menyimpulkan bahwa intervensi berbasis mikrobiota seperti probiotik, prebiotik, diet dan fecal microbiota transplantation masih membutuhkan bukti klinis yang lebih kuat sebelum digunakan sebagai terapi standar gangguan neurodevelopmental. (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)

PICKY EATING DAN GUT-BRAIN AXIS

  • Picky eating merupakan masalah yang sering ditemukan pada anak.
  • Anak dengan selective eating dapat memiliki variasi makanan yang sangat terbatas.
  • Akibatnya, asupan serat, protein, vitamin, mineral, dan berbagai komponen makanan dapat menjadi tidak seimbang.
  • Kondisi tersebut dapat memengaruhi mikrobiota.
  • Sebaliknya, gangguan gastrointestinal seperti konstipasi, nyeri perut, mual, atau refluks dapat membuat anak semakin menghindari makanan.
  • Terjadi hubungan dua arah:
    • Gangguan gastrointestinal → anak menghindari makanan → diet semakin terbatas → nutrisi dan mikrobiota berubah → masalah makan dapat semakin kompleks.
    • Karena itu, evaluasi picky eating berat perlu melihat aspek nutrisi, gastrointestinal, sensorik, perilaku, dan perkembangan.

GUT-BRAIN AXIS DAN TIDUR

  • Tidur merupakan bagian penting dari perkembangan otak.
  • Hubungan antara tidur, mikrobiota, metabolisme, dan sistem imun sedang diteliti.
  • Gangguan tidur dapat memengaruhi pola makan, aktivitas, regulasi emosi, dan metabolisme.
  • Sebaliknya, masalah gastrointestinal dapat mengganggu kualitas tidur.
  • Karena itu, tidur sebaiknya menjadi bagian dari evaluasi anak dengan masalah gastrointestinal atau neurodevelopmental.

PROBIOTIK PADA ANAK

  • Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang dapat memberikan manfaat kesehatan pada kondisi tertentu.
  • Namun, efeknya sangat bergantung pada strain, dosis, durasi, dan kondisi klinis.
  • Tidak tepat menyebut semua probiotik mempunyai efek yang sama.
  • Bukti manfaat probiotik pada gangguan neuropsikiatri anak masih berkembang. Beberapa penelitian menunjukkan kemungkinan manfaat pada parameter tertentu, tetapi belum cukup untuk menjadikan probiotik sebagai terapi utama gangguan neurodevelopmental. (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)

PREBIOTIK PADA ANAK

Prebiotik menyediakan substrat bagi mikroorganisme tertentu.

Contoh sumber makanan yang mengandung komponen prebiotik antara lain:

  • • bawang
  • • bawang putih
  • • pisang
  • • asparagus
  • • kacang-kacangan
  • • beberapa jenis whole grains

Namun, respons setiap anak tidak selalu sama. Pada anak dengan gangguan gastrointestinal tertentu, peningkatan serat secara cepat dapat menyebabkan kembung atau nyeri. Karena itu, intervensi nutrisi perlu mempertimbangkan kondisi individual.

MAKANAN FERMENTASI

  • Yogurt dan kefir merupakan contoh makanan fermentasi yang dapat mengandung mikroorganisme hidup.
  • Makanan fermentasi dapat menjadi bagian dari pola makan sehat.
  • Namun, tidak semua makanan fermentasi mempunyai mikroorganisme yang sama.
  • Produk yang mengalami pemanasan setelah fermentasi juga dapat mempunyai karakteristik berbeda.
  • Karena itu, makanan fermentasi tidak dapat dianggap sebagai terapi universal untuk gangguan otak atau saluran cerna.

POLA MAKAN YANG MENDUKUNG GUT-BRAIN AXIS

Kelompok Contoh Tujuan
Sayuran Bayam, wortel, brokoli Serat dan mikronutrien
Buah Pisang, pepaya, apel Serat dan senyawa bioaktif
Whole grains Oat, beras merah Serat dan energi
Kacang Kacang tanah, kacang merah Protein dan serat
Ikan Ikan kembung, salmon, sarden Protein dan omega-3
Telur Telur ayam Protein dan kolin
Produk fermentasi Yogurt, kefir Makanan fermentasi
Lemak sehat Ikan, alpukat, minyak zaitun Asam lemak

Prinsip utamanya adalah variasi dan kecukupan. Tidak diperlukan satu makanan khusus untuk “menyehatkan otak melalui usus”.

Gut-Brain Axis, Alergi Makanan, dan Oral Food Challenge

  • Gut-brain axis menggambarkan komunikasi dua arah antara saluran cerna dan otak melalui sistem saraf, saraf vagus, sistem imun, hormon, metabolit mikrobiota, serta jalur metabolisme triptofan. Pada anak, hubungan ini sangat dinamis karena mikrobiota usus, sistem imun, dan otak masih berkembang. Nutrisi berperan penting dalam menjaga keragaman mikrobiota, integritas sawar usus, fungsi imun, dan perkembangan otak. Karena itu, gangguan saluran cerna dapat memengaruhi kenyamanan, pola makan, tidur, dan perilaku anak, sementara pola makan yang sangat terbatas juga dapat memengaruhi mikrobiota dan kecukupan nutrisi. Namun, hubungan gut-brain axis bersifat kompleks dan dua arah. Temuan tentang perubahan mikrobiota tidak boleh langsung dianggap sebagai penyebab gangguan perkembangan atau perilaku tertentu.
  • Alergi makanan dapat menjadi salah satu kondisi yang memengaruhi hubungan antara saluran cerna, sistem imun, pola makan, dan gut-brain axis. Reaksi alergi dapat menimbulkan gejala gastrointestinal seperti muntah, nyeri perut, diare, atau gangguan makan, sementara eliminasi makanan yang terlalu luas tanpa indikasi yang jelas dapat mengurangi keragaman makanan dan meningkatkan risiko kekurangan zat gizi. Karena itu, diagnosis alergi makanan harus didasarkan pada riwayat klinis, pemeriksaan yang sesuai, dan hubungan yang konsisten antara paparan makanan dengan gejala. Hasil pemeriksaan alergi saja tidak selalu membuktikan bahwa suatu makanan merupakan penyebab keluhan. Pada kondisi tertentu, oral food challenge atau OFC dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis untuk menilai apakah anak benar-benar mengalami reaksi terhadap makanan yang dicurigai.
  • Oral food challenge merupakan prosedur diagnostik terkontrol dengan memberikan makanan dalam jumlah bertahap dan mengamati munculnya reaksi secara langsung. Dalam evaluasi alergi makanan, OFC dapat membantu membedakan alergi yang benar-benar masih aktif dari dugaan alergi berdasarkan riwayat atau pemeriksaan sebelumnya. Bila makanan terbukti dapat ditoleransi, anak dapat memperoleh kembali sumber nutrisi yang sebelumnya dihindari sehingga membantu memperluas variasi makanan dan mendukung pertumbuhan. Sebaliknya, bila terjadi reaksi, hasil OFC memberikan informasi klinis penting untuk menentukan strategi penghindaran dan tata laksana berikutnya. Dengan demikian, pendekatan pada anak dengan keluhan pencernaan, alergi makanan, atau gangguan makan sebaiknya tidak berhenti pada istilah “gut-brain axis”, tetapi dilanjutkan dengan diagnosis yang tepat, kecukupan nutrisi, dan evaluasi toleransi makanan secara ilmiah.

YANG PERLU DIHINDARI

Beberapa klaim mengenai gut-brain axis sering terlalu sederhana.

Klaim Penilaian ilmiah
Semua penyakit otak berasal dari usus Tidak terbukti
Leaky gut menyebabkan autisme Tidak terbukti
Probiotik menyembuhkan autisme Tidak terbukti
Satu jenis makanan dapat memperbaiki semua mikrobiota Tidak terbukti
Semua probiotik memiliki efek sama Tidak benar
Diet eliminasi luas memperbaiki semua masalah perilaku Tidak terbukti
Mikrobiota berhubungan dengan otak Didukung penelitian
Nutrisi memengaruhi mikrobiota Didukung penelitian
Serat dapat difermentasi menjadi SCFA Didukung penelitian
Usus dan otak berkomunikasi dua arah Didukung penelitian

IMPLIKASI KLINIS

Konsep gut-brain axis memberikan beberapa pesan penting bagi praktik klinis anak.

  1. Pertama, kesehatan gastrointestinal perlu diperhatikan pada anak dengan masalah neurodevelopmental.
  2. Kedua, keluhan gastrointestinal tidak boleh otomatis dianggap sebagai manifestasi perilaku.
  3. Ketiga, masalah makan perlu dinilai secara komprehensif.
  4. Keempat, pembatasan makanan harus mempunyai alasan medis yang jelas.
  5. Kelima, status nutrisi harus dipantau.
  6. Keenam, gangguan gastrointestinal harus dicari dan ditangani sesuai diagnosisnya.
  7. Ketujuh, terapi mikrobiota tidak boleh menggantikan terapi yang sudah mempunyai bukti kuat.

PERTANYAAN PENTING PADA ANAK DENGAN MASALAH GUT-BRAIN AXIS

Pertanyaan Yang perlu dievaluasi
Apakah anak tumbuh baik? Berat, tinggi, growth velocity
Apakah makanannya cukup? Energi, protein, mikronutrien
Apakah diet terlalu terbatas? Selective eating dan food avoidance
Apakah ada konstipasi? Frekuensi dan konsistensi BAB
Apakah ada diare kronis? Durasi dan karakter tinja
Apakah ada muntah? Frekuensi dan pola
Apakah ada nyeri perut? Lokasi, waktu dan pemicu
Apakah tidur terganggu? Durasi dan kualitas tidur
Apakah ada tanda inflamasi? Pemeriksaan sesuai indikasi
Apakah ada penyakit organik? Evaluasi berdasarkan gejala

PENDEKATAN PRAKTIS

  • Pada anak, pendekatan gut-brain axis sebaiknya dimulai dari hal dasar.
  • Pastikan anak mendapatkan makanan yang cukup.
  • Pastikan kebutuhan protein terpenuhi.
  • Berikan variasi makanan sesuai usia dan kemampuan anak.
  • Berikan serat sesuai toleransi.
  • Pertahankan hidrasi.
  • Perhatikan pola BAB.
  • Evaluasi nyeri perut, muntah, diare atau konstipasi yang menetap.
  • Perhatikan tidur.
  • Dorong aktivitas fisik sesuai usia.
  • Hindari eliminasi makanan tanpa indikasi.
  • Jika terdapat gangguan pertumbuhan, darah dalam tinja, diare kronis, muntah berulang, nyeri perut menetap, atau gejala gastrointestinal yang berat, lakukan evaluasi medis untuk mencari penyebabnya.

KESIMPULAN

  • Gut-brain axis merupakan jaringan komunikasi biologis yang nyata antara saluran gastrointestinal dan otak. Pada anak, sistem ini sangat menarik karena mikrobiota, sistem imun, saluran cerna, dan otak berkembang secara bersamaan.
  • Nutrisi merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi sistem tersebut. Pola makan yang cukup, beragam, dan sesuai kebutuhan anak dapat mendukung pertumbuhan, perkembangan otak, kesehatan intestinal, dan ekosistem mikrobiota.
  • Serat dapat difermentasi menjadi SCFA. Mikrobiota dapat memengaruhi metabolisme triptofan dan asam empedu. Nervus vagus dan sistem imun menyediakan jalur komunikasi tambahan antara usus dan otak.
  • Penelitian menunjukkan hubungan antara mikrobiota dan perkembangan neuropsikologis anak. Namun, hubungan tersebut belum membuktikan bahwa dysbiosis merupakan penyebab gangguan neurodevelopmental. Demikian pula, probiotik, prebiotik, diet khusus, atau manipulasi mikrobiota belum dapat dianggap sebagai terapi standar untuk autisme atau gangguan perkembangan otak lainnya. (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)
  • Pendekatan klinis yang tepat adalah melihat anak secara menyeluruh. Pertumbuhan, nutrisi, fungsi gastrointestinal, tidur, perkembangan, perilaku, dan kondisi medis perlu dinilai bersama.
  • Gut-brain axis memberi kita kerangka baru untuk memahami hubungan antara usus dan otak. Namun, penerapannya pada anak harus tetap berbasis bukti, diagnosis yang tepat, dan kebutuhan individual setiap anak.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Jiang Y, Li X. The role of nutrition and gut microbiome in childhood brain development and behavior. Frontiers in Nutrition. 2025. doi:10.3389/fnut.2025.1590172. (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)
  2. Marano G, et al. The Pediatric Microbiota-Gut-Brain Axis: Implications for Neuropsychiatric Development and Intervention. Children. 2025;12(11):1561. doi:10.3390/children12111561. (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)
  3. The relationship between the gut microbiota and neuropsychological development and behaviour during childhood and adolescence: a systematic review of epidemiological studies. Brain, Behavior, and Immunity – Health. 2026;101212. (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)
  4. Chatzinikolaou R, Rouskas K, Argiriou A. Exploring the links between nutrition, gut microbiome, and neurodevelopmental disorders. Nutrition. 2026;148:113030. (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)
  5. Probiotics, Live Biotherapeutic Products, and Gut-Brain Axis Related Psychological Conditions. Probiotics and Antimicrobial Proteins. 2023;15:1014-1031. (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)
  6. Nutritional Support of Neurodevelopment and Cognitive Function in Infants and Young Children. Nutrients. 2021. (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *