KELAINAN REFRAKSI PADA ANAK: JANGAN ANGGAP SEPELE MATA BURAM
Rabun jauh, rabun dekat, dan mata silinder dapat mengganggu penglihatan serta meningkatkan risiko mata malas.
Mengenali Kelainan Refraksi pada Anak
- Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab gangguan penglihatan yang umum pada anak. Kondisi ini terjadi ketika cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus secara tepat pada retina sehingga penglihatan menjadi kabur. Jenisnya meliputi rabun jauh (miopia), rabun dekat (hipermetropia), dan astigmatisme atau mata silinder.
- Rabun jauh membuat anak sulit melihat benda yang jauh, seperti tulisan di papan kelas. Rabun dekat dapat membuat aktivitas melihat dekat terasa melelahkan, bahkan menyebabkan sakit kepala. Sementara itu, astigmatisme terjadi akibat kelengkungan kornea atau lensa yang tidak merata sehingga penglihatan dapat tampak kabur atau terdistorsi pada jarak dekat maupun jauh.
- Anak belum tentu mampu menyadari atau menjelaskan bahwa penglihatannya terganggu. Karena itu, orang tua perlu mengenali tanda-tanda awal dan tidak hanya menunggu anak mengeluh.
Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai
- Perhatikan apabila anak menunjukkan kebiasaan berikut:
- 👀 Sering memicingkan mata ketika melihat benda jauh.
- 📺 Duduk terlalu dekat dengan televisi atau mendekatkan buku ke wajah.
- 📚 Kesulitan membaca tulisan di papan tulis.
- 🤕 Mengeluh sakit kepala atau mata lelah setelah membaca.
- ↗️ Memiringkan kepala, menutup salah satu mata, atau tampak kesulitan melihat dengan salah satu mata.
- Tanda-tanda tersebut tidak selalu menunjukkan kelainan refraksi. Namun, jika terjadi berulang, anak perlu menjalani pemeriksaan mata.
Dampak terhadap Penglihatan Anak
- Penglihatan yang kabur dapat mengganggu kenyamanan anak saat membaca, menulis, bermain, dan mengikuti pelajaran. Kesulitan melihat sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kemalasan atau kurang konsentrasi.
- Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah ambliopia atau mata malas, yaitu kondisi ketika penglihatan tidak berkembang secara optimal selama masa kanak-kanak. Ambliopia dapat terjadi akibat kelainan refraksi berat, perbedaan ukuran refraksi yang besar antara kedua mata, atau mata juling.
- Anak mungkin tidak menyadari gangguan ini karena mata yang lebih baik masih dapat melihat dengan jelas. Jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini, penurunan penglihatan dapat menetap.
Kapan Anak Harus Memeriksakan Mata?
- Pemeriksaan mata sebaiknya dilakukan sejak bayi dan diulang sesuai usia, faktor risiko, serta rekomendasi tenaga kesehatan. Sebagai panduan umum, jadwal pemeriksaan meliputi:
- Usia 0–1 tahun: pemeriksaan mata dalam kunjungan kesehatan bayi, termasuk penilaian refleks merah dan tanda kelainan mata.
- Usia 1–3 tahun: pemeriksaan perkembangan dan kesehatan mata; skrining penglihatan dapat dilakukan sesuai kemampuan anak dan fasilitas yang tersedia.
- Usia 3–5 tahun: lakukan skrining ketajaman penglihatan sebelum masuk sekolah. Anak yang gagal dalam skrining perlu dirujuk untuk pemeriksaan lengkap.
- Usia sekolah dan seterusnya: pemeriksaan berkala, terutama jika muncul keluhan, terdapat riwayat keluarga dengan kelainan refraksi, atau hasil skrining sebelumnya tidak normal.
- Jadwal tersebut merupakan panduan umum, bukan pengganti rekomendasi dokter. Anak yang memiliki faktor risiko atau menunjukkan gejala perlu diperiksa tanpa menunggu jadwal berikutnya.
- Skrining bukan diagnosis akhir. Pemeriksaan lengkap oleh dokter mata dapat mencakup pengukuran ketajaman penglihatan, pemeriksaan posisi mata, dan pengukuran refraksi. Pada anak, dokter mungkin menggunakan tetes mata untuk memperoleh hasil pengukuran yang lebih akurat.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
- Segera cari pertolongan medis jika anak mengalami:
- Penglihatan mendadak kabur atau kehilangan penglihatan.
- Nyeri mata berat, terutama disertai mata merah atau sakit kepala hebat.
- Cedera mata akibat benturan, benda asing, atau bahan kimia.
- Kilatan cahaya atau munculnya banyak bintik melayang secara tiba-tiba.
- Penglihatan ganda yang baru muncul atau perubahan penglihatan yang cepat memburuk.
- Untuk paparan bahan kimia, segera bilas mata dengan air bersih mengalir sambil mencari pertolongan medis. Jangan menunda pembilasan untuk mencari obat tetes.
- Mata yang tampak juling, pupil putih atau refleks merah yang tidak normal pada foto, serta perbedaan kemampuan melihat antara kedua mata juga memerlukan evaluasi segera, meskipun anak tidak mengeluh sakit.
Penanganan dan Pencegahan
- Terapi utama kelainan refraksi adalah kacamata dengan ukuran yang sesuai. Kacamata membantu memfokuskan cahaya agar penglihatan lebih jelas dan tidak membuat mata menjadi malas. Jika anak mengalami ambliopia, dokter mungkin menyarankan terapi tambahan, seperti menutup sementara mata yang lebih baik, sesuai hasil pemeriksaan.
- Orang tua juga dapat mendukung kesehatan mata dengan membiasakan anak beraktivitas di luar ruangan, mengatur waktu melihat dekat, menjaga jarak membaca yang nyaman, dan memberikan jeda saat menggunakan perangkat digital. Aktivitas luar ruangan secara teratur dikaitkan dengan risiko munculnya miopia yang lebih rendah, meskipun tidak menjamin kelainan refraksi dapat dicegah sepenuhnya.
Kesimpulan
Kelainan refraksi bukan sekadar masalah mata buram. Jika tidak dikenali, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan meningkatkan risiko ambliopia pada sebagian anak. Lakukan pemeriksaan mata sesuai usia, jangan abaikan perubahan penglihatan, dan segera cari pertolongan jika muncul tanda bahaya. Deteksi dini dan penanganan yang tepat membantu anak melihat lebih jelas serta mendukung tumbuh kembangnya secara optimal.






Leave a Reply