KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

KONSULTASI KESEHATAN ANAK: Anak Sulit Makan dan Eosinophilic Esophagitis

 

TANYA

Dok, anak saya mengalami eosinophilic esophagitis atau EoE. Ia sering menolak makanan padat, lebih suka makanan lunak atau cair, makan sangat lama, dan sering minum ketika makan. Kadang ia batuk atau gagging saat menelan. Anak juga pernah mengatakan makanan terasa sakit atau seperti tersangkut di dada. Berat badannya sulit naik. Ia pernah menjalani diet eliminasi karena dicurigai alergi makanan dan skin prick test menunjukkan beberapa makanan positif. Apakah EoE memang dapat menyebabkan anak sulit makan? Apakah hasil tes alergi yang positif berarti makanan tersebut harus dihindari? Bagaimana membedakan masalah ini dari picky eating, pediatric feeding disorder atau PFD, dan ARFID?

JAWAB

Eosinophilic esophagitis atau EoE adalah peradangan kronis pada esofagus yang berhubungan dengan sistem imun. Pada anak, EoE tidak selalu terlihat sebagai keluhan “sulit menelan”. Anak sering menunjukkan perubahan cara makan. Ia bisa menjadi sangat lama mengunyah, memilih makanan lunak, sering minum saat makan, memotong makanan menjadi sangat kecil, atau menghindari makanan tertentu.

Mengapa ini terjadi? Karena menelan makanan bisa terasa tidak nyaman atau bahkan sakit. Bayangkan anak beberapa kali mengalami rasa sakit ketika menelan makanan padat. Anak kemudian belajar bahwa makanan lunak terasa lebih aman. Akhirnya ia memilih bubur, sup, makanan berkuah, atau makanan cair. Dari luar terlihat seperti anak pilih-pilih makanan. Padahal, perilaku tersebut bisa merupakan cara anak melindungi dirinya dari rasa sakit.

EoE juga dapat membuat esofagus menjadi lebih sensitif dan pada penyakit yang berlangsung lama dapat terjadi perubahan struktur seperti fibrosis atau penyempitan. Akibatnya, makanan padat dapat terasa sulit melewati esofagus. Anak mungkin mengatakan makanan seperti “nyangkut”, membutuhkan banyak minum saat makan, makan sangat lambat, atau menghindari daging dan makanan dengan tekstur tertentu.

Karena itu, tidak semua anak yang sulit makan adalah picky eater. Pada picky eating biasa, anak memang memilih makanan tertentu, tetapi umumnya masih dapat makan dalam jumlah cukup dan pertumbuhannya tetap baik. Pada anak dengan EoE, penolakan makanan dapat berhubungan dengan rasa sakit, sulit menelan, atau pengalaman makan yang tidak menyenangkan.

Masalah menjadi lebih serius bila pilihan makanan semakin sedikit, waktu makan sangat panjang, anak sulit memenuhi kebutuhan nutrisi, berat badan atau tinggi badan tidak berkembang sesuai harapan, atau aktivitas makan mulai mengganggu kehidupan keluarga. Dalam kondisi seperti ini, dokter perlu mempertimbangkan pediatric feeding disorder atau PFD.

ARFID juga berbeda. ARFID adalah gangguan makan dengan pembatasan makanan yang dapat terjadi karena kurangnya minat makan, kepekaan terhadap karakteristik makanan seperti tekstur atau bau, atau kekhawatiran terhadap akibat makan seperti tersedak, muntah, atau sakit. Pada anak dengan EoE, dokter perlu memastikan terlebih dahulu bahwa penolakan makanan memang bukan akibat penyakit esofagus yang belum terkontrol.

Bagaimana dengan tes alergi? Ini sering menjadi bagian yang membingungkan orang tua. Skin prick test atau pemeriksaan specific IgE dapat menunjukkan bahwa tubuh anak memiliki sensitisasi terhadap makanan tertentu. Tetapi hasil positif tidak otomatis berarti makanan tersebut menyebabkan EoE.

EoE juga tidak sama dengan alergi makanan IgE klasik. Mekanisme EoE melibatkan respons imun yang lebih kompleks. Karena itu, makanan yang positif pada skin prick test tidak otomatis harus dihilangkan. Keputusan diet eliminasi perlu mempertimbangkan hubungan antara makanan dan gejala, strategi terapi EoE, kondisi nutrisi, usia anak, serta jumlah makanan yang harus dihindari.

Mengapa kita harus berhati-hati dengan diet eliminasi? Karena anak yang sudah sulit makan dapat menjadi semakin terbatas pilihan makanannya. Misalnya, anak awalnya hanya mau 15 jenis makanan. Jika lima makanan kembali dihilangkan karena hasil tes alergi, pilihan makanan tinggal sedikit. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kekurangan energi, protein, vitamin, dan mineral.

Karena itu, pertumbuhan harus selalu dipantau. Dokter perlu melihat berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh menurut usia, serta pola pertumbuhan dari waktu ke waktu. Tidak cukup hanya mengatakan “berat badan masih naik”. Yang penting adalah apakah pertumbuhannya mengikuti pola yang sesuai dan apakah kebutuhan nutrisinya terpenuhi.

Riwayat makan juga sangat penting. Orang tua sebaiknya mencatat makanan yang dapat diterima anak, makanan yang ditolak, tekstur yang dapat dimakan, lama waktu makan, kebiasaan minum saat makan, gagging, batuk, muntah, serta apakah anak pernah merasa makanan tersangkut. Informasi sederhana ini sering sangat membantu dokter memahami masalah yang sebenarnya.

Masalah makan juga dapat tetap berlangsung walaupun peradangan EoE sudah membaik. Anak yang selama berbulan-bulan merasa sakit ketika makan dapat menjadi takut terhadap makanan tertentu. Jadi, mengobati peradangan esofagus merupakan bagian penting, tetapi kadang belum cukup untuk mengembalikan pola makan anak.

Pada kondisi seperti ini, feeding therapist dapat membantu. Terapi dapat berfokus pada kemampuan makan, keterampilan oral-motor, penerimaan tekstur, respons sensorik, dan pengalaman makan anak. Tujuannya bukan memaksa anak makan, tetapi membantu anak kembali merasa aman dan nyaman ketika makan.

Pendekatan multidisiplin sering diperlukan. Gastroenterolog anak menangani EoE dan kondisi esofagus. Alergolog membantu menilai apakah terdapat alergi makanan yang memang relevan. Ahli gizi membantu menjaga kecukupan nutrisi selama diet eliminasi. Feeding therapist membantu masalah keterampilan dan perilaku makan. Bila terdapat kecemasan makan yang berat atau kecurigaan ARFID, tenaga kesehatan mental dapat ikut dilibatkan.

Jadi, bila anak dengan EoE sulit makan, jangan langsung menyebutnya “anak pemilih”. Tanyakan terlebih dahulu: apakah makanan membuatnya sakit? Apakah ia sulit menelan? Apakah makanan pernah terasa tersangkut? Apakah ia membutuhkan waktu sangat lama untuk makan? Apakah pilihan makanannya semakin sedikit? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana pertumbuhan serta status nutrisinya?

Pada akhirnya, keberhasilan terapi EoE bukan hanya dilihat dari membaiknya peradangan pada biopsi. Anak juga perlu dapat makan dengan nyaman, memperoleh nutrisi yang cukup, memiliki variasi makanan yang memadai, tumbuh dengan baik, dan kembali mempunyai pengalaman makan yang positif.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *