KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

NYERI PERUT PADA ANAK: 7 PENYEBAB YANG SERING TERJADI DAN KAPAN HARUS DIWASPADAI

 

NYERI PERUT PADA ANAK: 7 PENYEBAB YANG SERING TERJADI DAN KAPAN HARUS DIWASPADAI

Nyeri perut merupakan salah satu keluhan yang sangat sering ditemukan pada anak. Penyebabnya sangat beragam, mulai dari konstipasi dan infeksi saluran cerna sampai infeksi saluran kemih, apendisitis, alergi makanan, gangguan interaksi usus-otak, serta penyakit sistemik. Spektrum penyebab sangat dipengaruhi oleh usia anak, pola nyeri, lokasi nyeri, hubungan dengan makan dan buang air besar, gejala penyerta serta temuan pemeriksaan fisik. Sebagian besar nyeri perut bersifat self-limited, tetapi sebagian kasus merupakan manifestasi penyakit yang memerlukan pemeriksaan segera. Literatur terbaru menekankan pentingnya membedakan nyeri perut akut dari nyeri perut berulang atau kronis dan mengenali tanda bahaya seperti nyeri hebat yang semakin meningkat, muntah bilier, hematemesis atau hematochezia, distensi abdomen, guarding, rigiditas, penurunan berat badan, demam menetap, muntah persisten dan gangguan pertumbuhan. (PubMed)

Nyeri perut pada anak tidak dapat dinilai hanya berdasarkan lokasi sakit. Anak kecil sering kesulitan menjelaskan lokasi dan karakter nyeri sehingga keluhan dapat tampak tidak spesifik. Bahkan penyakit di luar saluran cerna dapat menyebabkan nyeri abdomen. Infeksi saluran kemih, pneumonia, faringitis streptokokus dan beberapa penyakit sistemik dapat muncul dengan keluhan perut. Karena itu, usia anak, kronologi gejala, pola buang air besar, pola berkemih, asupan makanan, demam, muntah, perubahan berat badan dan pemeriksaan fisik harus dinilai secara keseluruhan. (PubMed)

Secara klinis, nyeri perut dapat dibagi menjadi akut, berulang dan kronis. Nyeri akut berkembang dalam waktu relatif singkat dan membutuhkan perhatian khusus terhadap kemungkinan kondisi bedah. Nyeri berulang atau kronis lebih sering berkaitan dengan gangguan fungsional, meskipun penyakit organik tetap harus dipertimbangkan bila terdapat tanda bahaya. AAP dan NASPGHAN sebelumnya menekankan bahwa sebagian besar anak dengan nyeri perut kronis tidak mempunyai penyakit organik, tetapi adanya penurunan berat badan, perdarahan gastrointestinal, demam menetap, diare kronis atau muntah bermakna meningkatkan kemungkinan penyakit organik. (PubMed)

NYERI PERUT PADA ANAK: 7 PENYEBAB YANG SERING TERJADI DAN KAPAN HARUS DIWASPADAI

  1. Konstipasi
    • Konstipasi merupakan salah satu penyebab nyeri perut yang sangat sering pada anak, terutama usia prasekolah dan sekolah. Nyeri biasanya terasa hilang timbul, terutama di perut bagian bawah, dan dapat berhubungan dengan frekuensi buang air besar yang berkurang, feses keras, nyeri saat defekasi atau perilaku menahan BAB. Anak dapat masuk ke siklus nyeri, menahan BAB, feses semakin keras, kemudian BAB semakin sakit dan akhirnya semakin takut untuk BAB. (HealthyChildren.org)
    • Konstipasi tidak selalu berarti anak jarang BAB. Konsistensi feses, nyeri saat defekasi, perilaku menahan BAB dan ukuran feses juga penting. Pada anak yang mengalami withholding, frekuensi BAB bahkan dapat tampak cukup sering tetapi terdapat retensi feses di rektum. Evaluasi harus mencakup pola makan, asupan cairan, serat, kebiasaan toilet dan riwayat penggunaan obat.
  2. Infeksi saluran kemih
    • Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nyeri perut bagian bawah atau nyeri suprapubik. Pada anak yang lebih besar, gejala dapat berupa nyeri saat berkemih, frekuensi berkemih meningkat, urgensi, urin berbau, hematuria atau mengompol kembali setelah sebelumnya sudah dapat menahan kencing. Demam dapat muncul, terutama bila infeksi melibatkan saluran kemih bagian atas. (HealthyChildren.org)
    • Diagnosis UTI tidak sebaiknya ditegakkan hanya berdasarkan keluhan. Pemeriksaan urin diperlukan pada anak dengan kecurigaan klinis. Urinalisis dan kultur urin membantu memastikan diagnosis dan menentukan terapi. Pada anak dengan demam tanpa sumber yang jelas, terutama usia kecil, UTI perlu dipertimbangkan sebagai salah satu kemungkinan.
  3. Infeksi tenggorokan streptokokus
    • Faringitis streptokokus dapat menyebabkan nyeri perut, terutama pada anak usia sekolah. Keluhan abdomen dapat muncul bersama demam, nyeri tenggorokan, sakit kepala, mual atau muntah. Karena itu, anak yang datang dengan sakit perut dan demam tidak selalu mempunyai penyakit primer di saluran cerna.
    • Diagnosis harus berdasarkan gambaran klinis yang sesuai dan pemeriksaan mikrobiologis ketika diperlukan. Bila infeksi streptokokus terbukti, terapi antibiotik diberikan sesuai pedoman. Penggunaan antibiotik empiris untuk setiap anak dengan sakit perut tidak tepat karena sebagian besar nyeri perut tidak disebabkan infeksi bakteri.
  4. Apendisitis
    • Apendisitis merupakan salah satu penyebab penting nyeri perut akut yang membutuhkan tindakan bedah. Apendisitis relatif jarang pada anak sangat kecil dan lebih sering ditemukan pada anak yang lebih besar serta remaja. Diagnosis pada anak kecil dapat lebih sulit karena mereka sering tidak dapat menggambarkan lokasi nyeri secara tepat. (HealthyChildren.org)
    • Pola klasik dimulai dengan nyeri di sekitar pusat yang kemudian berpindah ke kuadran kanan bawah. Anak dapat kehilangan nafsu makan, mual atau muntah dan mengalami demam. Namun tidak semua pasien mengikuti pola klasik. Nyeri yang semakin berat, menetap dan terlokalisasi di kanan bawah perlu mendapatkan perhatian khusus.
    • Pada evaluasi modern, ultrasonografi sering menjadi pemeriksaan pencitraan awal yang dipilih pada anak karena tidak menggunakan radiasi ionisasi. Bila hasilnya tidak menentukan dan kecurigaan klinis tetap tinggi, pemeriksaan lanjutan seperti MRI atau CT dapat dipertimbangkan sesuai fasilitas dan kondisi klinis. (PubMed)
    • Apendisitis merupakan kondisi yang tidak boleh terlewat karena keterlambatan diagnosis, terutama pada anak kecil, berhubungan dengan risiko perforasi yang lebih tinggi. (PubMed)
  5. Keracunan timbal
    • Keracunan timbal merupakan penyebab yang jauh lebih jarang tetapi penting karena dapat memberikan gejala gastrointestinal dan neurologis. Anak yang tinggal di lingkungan dengan paparan timbal, terutama bangunan tua dengan cat berbasis timbal, dapat mengalami nyeri perut, konstipasi, iritabilitas, penurunan nafsu makan, kelelahan atau gangguan neurologis. (HealthyChildren.org)
    • Diagnosis tidak dapat ditegakkan berdasarkan gejala saja. Bila terdapat riwayat paparan yang relevan, pemeriksaan kadar timbal dalam darah diperlukan. Pencegahan paparan jauh lebih penting daripada hanya mengobati gejala.
  6. Alergi makanan dan gangguan gastrointestinal terkait makanan
    • Pada sebagian anak, nyeri perut berhubungan dengan makanan. Alergi terhadap protein makanan dapat menyebabkan kombinasi gejala gastrointestinal dan ekstraintestinal, misalnya muntah, diare, darah dalam feses, nyeri atau kram perut dan manifestasi kulit. Namun tidak semua nyeri perut setelah makan merupakan alergi makanan. Intoleransi terhadap komponen makanan dan gangguan gastrointestinal lain dapat memberikan gejala yang serupa. (HealthyChildren.org)
    • Karena itu, diagnosis alergi makanan tidak boleh hanya berdasarkan dugaan bahwa setiap gejala setelah makan merupakan alergi. Riwayat klinis yang terstruktur sangat penting. Pada situasi tertentu, eliminasi makanan yang terarah dan reintroduksi atau oral food challenge di bawah pengawasan medis dapat diperlukan untuk memastikan diagnosis.
    • Nyeri perut juga dapat ditemukan pada beberapa gangguan gastrointestinal eosinofilik, termasuk eosinophilic esophagitis, terutama bila terdapat kesulitan makan, disfagia, food refusal atau gangguan pertumbuhan. Dengan demikian, anak dengan nyeri perut kronis yang disertai feeding difficulties atau faltering growth membutuhkan evaluasi yang lebih luas daripada sekadar pemberian obat lambung.
  7. Gangguan interaksi usus-otak
    • Nyeri perut berulang pada anak tidak selalu berarti terdapat kerusakan organ saluran cerna. Abdominal pain disorders of gut-brain interaction atau gangguan interaksi usus-otak mencakup functional abdominal pain dan irritable bowel syndrome. Kondisi ini merupakan masalah nyata dengan interaksi kompleks antara motilitas gastrointestinal, sensitivitas viseral, sistem saraf enterik, sistem saraf pusat, mikrobiota dan faktor psikososial.
    • Pedoman ESPGHAN dan NASPGHAN 2025 menyatakan bahwa gangguan interaksi usus-otak seperti IBS dan functional abdominal pain merupakan kondisi yang umum pada anak usia 4–18 tahun dan dapat memberikan dampak bermakna terhadap kualitas hidup. Diagnosis dan terapi harus berbasis pendekatan biopsikososial, bukan menganggap keluhan anak sebagai “hanya masalah psikologis”. (PubMed)
    • Pada kondisi fungsional, nyeri dapat berulang dalam waktu lama tanpa ditemukan kelainan struktural yang menjelaskan gejala. Stres sekolah, konflik keluarga, kecemasan dan perubahan rutinitas dapat memperburuk persepsi nyeri, tetapi keberadaan faktor psikososial tidak membuktikan bahwa nyeri tersebut dibuat-buat. Anak benar-benar merasakan nyeri.

Penyebab lain yang tidak boleh dilupakan

  • Tujuh penyebab di atas bukan seluruh diagnosis banding. Pada bayi dan anak kecil, invaginasi usus, volvulus, hernia inkarserata dan kelainan kongenital perlu dipertimbangkan. Pada anak laki-laki, torsio testis dapat muncul dengan nyeri abdomen tanpa keluhan skrotum yang jelas. Pada remaja perempuan, kehamilan, torsio ovarium, kista ovarium atau penyakit pelvis juga harus dipertimbangkan sesuai konteks klinis. (PubMed)
  • Karena spektrum diagnosis sangat luas, pemeriksaan tidak boleh hanya berfokus pada abdomen. Pemeriksaan dada, tenggorokan, kulit, genitalia dan status hidrasi dapat memberikan petunjuk penting.

Kapan nyeri perut menjadi tanda bahaya?

  • Nyeri perut yang ringan dan membaik secara spontan sering tidak menunjukkan penyakit serius. Namun terdapat sejumlah tanda yang membutuhkan evaluasi medis segera. Nyeri yang sangat hebat, terlokalisasi dan semakin meningkat merupakan salah satu tanda penting. Muntah hijau atau bilier, darah dalam muntah atau feses, abdomen kaku, guarding, distensi abdomen, penurunan kesadaran, dehidrasi berat atau kondisi umum yang memburuk juga membutuhkan penilaian segera. (PubMed)
  • Pada nyeri kronis atau berulang, tanda bahaya mencakup penurunan berat badan, gangguan pertumbuhan, perdarahan gastrointestinal, demam menetap, diare kronis, muntah persisten, nyeri yang membangunkan anak dari tidur atau temuan abnormal pada pemeriksaan fisik. Kehadiran tanda tersebut meningkatkan kemungkinan penyakit organik dan dapat menjadi alasan pemeriksaan lebih lanjut. (PubMed)

Pendekatan diagnostik

  • Evaluasi dimulai dengan anamnesis yang rinci. Dokter perlu mengetahui kapan nyeri dimulai, lokasi, durasi, karakter, intensitas, pola berulang atau menetap, hubungan dengan makan, BAB dan berkemih, serta gejala penyerta. Riwayat obat, alergi, infeksi sebelumnya, perjalanan, paparan toksin dan riwayat keluarga juga penting.
  • Pemeriksaan fisik kemudian menentukan arah pemeriksaan lanjutan. Tidak semua anak dengan sakit perut memerlukan pemeriksaan laboratorium atau pencitraan. Sebaliknya, anak dengan tanda bahaya membutuhkan evaluasi yang lebih agresif.
  • Pada nyeri abdomen akut, pemeriksaan dapat mencakup urinalisis, darah lengkap, CRP atau pemeriksaan lain sesuai kecurigaan klinis. Ultrasonografi merupakan modalitas awal yang penting pada banyak kondisi abdomen anak karena tidak menggunakan radiasi ionisasi. (PubMed)

Prinsip utama bagi orang tua

  • Sakit perut pada anak tidak boleh langsung dianggap sebagai masuk angin, maag, alergi makanan atau konstipasi tanpa mengevaluasi pola gejala. Sebaliknya, tidak semua nyeri perut membutuhkan CT scan, endoskopi atau pemeriksaan laboratorium lengkap. Pendekatan terbaik adalah menyesuaikan pemeriksaan dengan usia, pola gejala dan tanda bahaya.
  • Pada sebagian besar anak, penyebabnya ringan dan dapat membaik. Tetapi kemampuan mengenali tanda bahaya sangat penting karena beberapa kondisi seperti apendisitis, invaginasi, volvulus, torsio dan obstruksi usus membutuhkan diagnosis dan terapi segera.

TABEL PENYEBAB NYERI PERUT PADA ANAK

Penyebab Petunjuk klinis Pemeriksaan yang dapat dipertimbangkan Catatan
Konstipasi BAB keras, nyeri BAB, withholding, nyeri perut bawah Anamnesis dan pemeriksaan fisik Sangat sering pada usia prasekolah dan sekolah
Infeksi saluran kemih Nyeri suprapubik, disuria, frekuensi meningkat, demam, mengompol Urinalisis dan kultur urin Dapat muncul tanpa gejala klasik
Faringitis streptokokus Nyeri tenggorokan, demam, nyeri perut, mual Rapid test/kultur sesuai indikasi Jangan memberikan antibiotik tanpa indikasi
Apendisitis Nyeri menetap, migrasi ke kanan bawah, anoreksia, muntah, demam Pemeriksaan klinis, USG, pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi Kondisi yang tidak boleh terlambat didiagnosis
Paparan timbal Nyeri perut, konstipasi, iritabilitas, lemah, riwayat paparan Kadar timbal darah Pertimbangkan berdasarkan faktor risiko
Alergi/reaksi makanan Nyeri setelah makanan tertentu, muntah, diare, darah dalam feses, ruam pada sebagian kasus Evaluasi klinis, eliminasi terarah dan challenge bila diperlukan Tidak semua gejala setelah makan adalah alergi
Gangguan interaksi usus-otak Nyeri berulang, pemeriksaan sering normal, hubungan dengan stres atau aktivitas Diagnosis klinis setelah menilai tanda bahaya Kondisi nyata, bukan “anak mengada-ada”
Gastroenteritis Nyeri difus, muntah, diare, demam Biasanya klinis Kebanyakan self-limited
Invaginasi Nyeri kolik episodik, muntah, anak tampak sangat kesakitan, dapat disertai darah dalam feses USG Kegawatdaruratan
Volvulus/obstruksi Nyeri hebat, distensi, muntah bilier Imaging dan evaluasi bedah Kegawatdaruratan
Torsio testis/ovarium Nyeri abdomen atau pelvis akut Pemeriksaan dan USG sesuai lokasi Tidak boleh terlewat
Penyakit gastrointestinal organik Penurunan berat badan, darah dalam feses, diare kronis, gangguan pertumbuhan Pemeriksaan terarah Perlu evaluasi lebih lanjut

TABEL TANDA BAHAYA

Tanda Makna klinis
Nyeri sangat hebat atau semakin berat Perlu menyingkirkan kondisi akut atau bedah
Nyeri sangat terlokalisasi Meningkatkan kecurigaan proses organik tertentu
Muntah hijau/bilier Dapat menunjukkan obstruksi gastrointestinal
Darah dalam muntah atau feses Memerlukan evaluasi medis
Abdomen kaku atau guarding Dapat menunjukkan iritasi peritoneum
Distensi abdomen bermakna Pertimbangkan obstruksi atau proses intraabdomen
Demam menetap Perlu mencari penyebab infeksi atau inflamasi
Penurunan berat badan Tanda bahaya pada nyeri kronis
Gangguan pertumbuhan Memerlukan evaluasi penyakit organik dan nutrisi
Muntah persisten Risiko dehidrasi dan kemungkinan penyakit organik
Anak sangat lemas atau kesadaran berubah Evaluasi segera
Nyeri disertai tidak mau berjalan atau bergerak Dapat menunjukkan nyeri signifikan atau proses intraabdomen

Kesimpulan

  • Nyeri perut pada anak adalah gejala, bukan diagnosis. Konstipasi, infeksi saluran kemih, faringitis streptokokus, apendisitis, paparan timbal, reaksi makanan dan gangguan interaksi usus-otak merupakan beberapa penyebab penting, tetapi daftar diagnosis banding jauh lebih luas.
  • Kunci evaluasi adalah melihat usia anak, karakter dan lokasi nyeri, hubungan dengan makanan dan eliminasi, gejala penyerta, status nutrisi serta tanda bahaya. Nyeri yang berat, semakin memburuk, disertai muntah bilier, perdarahan, abdomen kaku, dehidrasi, penurunan berat badan atau gangguan pertumbuhan tidak boleh dianggap sebagai sakit perut biasa.
  • Pada nyeri berulang tanpa tanda bahaya, gangguan interaksi usus-otak merupakan diagnosis penting dan semakin diakui dalam pedoman gastroenterologi anak modern. Namun diagnosis fungsional tetap memerlukan evaluasi klinis yang tepat dan tidak boleh digunakan untuk mengabaikan tanda penyakit organik. (PubMed)

DAFTAR PUSTAKA

  • Reust CE, Williams A. Acute Abdominal Pain in Children. American Family Physician. 2016;93(10):830-836. PMID: 27175718. (PubMed)
  • Becker C, Kharbanda A. Acute appendicitis in pediatric patients: an evidence-based review. Pediatric Emergency Medicine Practice. 2019;16(9):1-20. PMID: 31461613. (PubMed)
  • Groen J, Gordon M, Chogle A, et al. ESPGHAN/NASPGHAN guidelines for treatment of irritable bowel syndrome and functional abdominal pain-not otherwise specified in children aged 4-18 years. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2025;81(2):442-471. doi:10.1002/jpn3.70070. PMID: 40444524. (PubMed)
  • Di Lorenzo C, Colletti RB, Lehmann HP, et al. Chronic Abdominal Pain In Children: A Technical Report of the American Academy of Pediatrics and the North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2005. PMID: 15735476. (PubMed)
  • American College of Radiology. ACR Appropriateness Criteria® Abdominal Pain-Child. Journal of the American College of Radiology. 2026. doi:10.1016/j.jacr.2026.01.018. PMID: 41701130. (PubMed)
  • American Academy of Pediatrics, HealthyChildren.org, “Abdominal Pain in Children: 7 Possible Causes.” (HealthyChildren.org)

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *