PERKEMBANGAN IDENTITAS GENDER PADA ANAK: PERSPEKTIF PERKEMBANGAN, BIOPSIKOSOSIAL, DAN PERAN KELUARGA
Identitas gender merupakan bagian dari perkembangan diri anak yang berkembang secara bertahap melalui interaksi kompleks antara faktor biologis, perkembangan kognitif, pengalaman sosial, lingkungan keluarga, budaya, dan konteks kehidupan. Identitas gender perlu dibedakan dari jenis kelamin biologis, ekspresi gender, serta peran gender. American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa anak mulai mengenali perbedaan gender pada usia sekitar 2 tahun, sebagian besar mulai dapat mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki atau perempuan sebelum usia 3 tahun, dan pada sekitar usia 4 tahun sebagian besar anak telah memiliki pemahaman yang relatif stabil mengenai identitas gendernya. Namun, perkembangan ini tidak berlangsung secara identik pada semua anak. Preferensi permainan, pakaian, warna, aktivitas, gaya rambut, atau teman bermain tidak dapat digunakan secara sederhana untuk menentukan identitas gender anak. (HealthyChildren.org)
Penelitian perkembangan menunjukkan bahwa identitas gender merupakan proses biopsikososial yang berlangsung dalam konteks perkembangan individu dan lingkungan sosial. Pada sebagian anak, identitas gender sesuai dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir. Pada sebagian lainnya, terdapat variasi dalam identitas atau ekspresi gender. Bukti longitudinal pada anak dengan identitas gender beragam masih berkembang dan memiliki keterbatasan metodologis, termasuk ukuran sampel yang relatif kecil dan kehilangan peserta selama follow-up. Karena itu, perkembangan identitas gender perlu dipahami secara hati-hati tanpa menjadikan satu perilaku atau preferensi masa kanak-kanak sebagai prediktor pasti identitas di masa depan. (PubMed)
Perkembangan anak tidak hanya mencakup pertumbuhan fisik, kemampuan bahasa, kognitif, dan sosial, tetapi juga perkembangan konsep mengenai diri sendiri. Salah satu bagian dari perkembangan tersebut adalah bagaimana anak memahami dirinya dalam kaitannya dengan gender. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah jenis kelamin dan gender sering digunakan secara bergantian. Dalam literatur pediatri dan ilmu perkembangan, kedua konsep tersebut perlu dibedakan. American Academy of Pediatrics menggunakan istilah sex untuk merujuk pada karakteristik biologis seperti anatomi reproduksi, kromosom, dan hormon seks, sedangkan gender identity merujuk pada pengalaman internal seseorang mengenai siapa dirinya dalam konteks gender. Gender expression menggambarkan bagaimana seseorang menampilkan dirinya melalui pakaian, rambut, perilaku, gestur, atau peran sosial. (American Academy of Pediatrics)
- Pembedaan ini penting dalam praktik klinis karena perilaku anak tidak selalu memiliki hubungan langsung dengan identitas gender. Anak laki-laki dapat menyukai boneka. Anak perempuan dapat menyukai kendaraan, olahraga, atau permainan yang secara budaya dianggap maskulin. Preferensi tersebut merupakan bagian dari eksplorasi dan perkembangan anak dan tidak dengan sendirinya menunjukkan identitas gender tertentu. (HealthyChildren.org)
Jenis kelamin, gender, identitas gender, dan ekspresi gender
- Jenis kelamin biologis berkaitan dengan karakteristik biologis yang digunakan untuk mengklasifikasikan seseorang, terutama berdasarkan anatomi reproduksi, kromosom, dan karakteristik hormonal. Penetapan jenis kelamin saat lahir biasanya didasarkan terutama pada karakteristik anatomis yang tampak.
- Identitas gender berbeda dari karakteristik biologis tersebut. Identitas gender merupakan pengalaman internal mengenai diri sebagai laki-laki, perempuan, keduanya, berada di antara kategori tersebut, atau tidak mengidentifikasi diri dengan kategori biner. AAP menggambarkan identitas gender sebagai hasil interaksi berbagai faktor biologis, perkembangan, dan lingkungan. (American Academy of Pediatrics)
- Ekspresi gender merupakan cara seseorang menampilkan dirinya kepada lingkungan. Ekspresi tersebut dapat terlihat melalui pakaian, gaya rambut, cara berbicara, gestur, aktivitas, permainan, dan berbagai perilaku sosial.
- Sementara itu, peran gender merupakan harapan sosial mengenai perilaku yang dianggap sesuai bagi laki-laki atau perempuan. Peran gender sangat dipengaruhi oleh budaya dan dapat berubah dari waktu ke waktu.
- Keempat konsep tersebut tidak boleh disamakan. Seorang anak dapat memiliki ekspresi yang tidak sesuai dengan stereotip gender tanpa berarti identitas gendernya berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir.
Bagaimana identitas gender berkembang?
- Perkembangan identitas gender dimulai sejak masa kanak-kanak awal. Pada sekitar usia 2 tahun, banyak anak mulai menyadari adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Sebelum ulang tahun ketiga, sebagian besar anak sudah dapat menggunakan label seperti “anak laki-laki” atau “anak perempuan” untuk menggambarkan dirinya dan orang lain. Sekitar usia 4 tahun, sebagian besar anak memiliki konsep identitas gender yang relatif stabil. (HealthyChildren.org)
- Perkembangan tersebut bukan berarti pemahaman gender berhenti pada usia 4 tahun. Kemampuan anak untuk memahami konsep diri, norma sosial, hubungan interpersonal, tubuh, pubertas, dan identitas terus berkembang sepanjang masa kanak-kanak dan remaja.
- Pada usia sekolah, anak semakin memahami aturan sosial dan kategori yang digunakan oleh lingkungan. Mereka mulai lebih sadar terhadap ekspektasi teman sebaya dan masyarakat mengenai perilaku laki-laki dan perempuan.
- Pada masa remaja, perkembangan identitas menjadi semakin kompleks karena terjadi perubahan biologis pubertas, perkembangan kemampuan berpikir abstrak, perubahan hubungan sosial, dan meningkatnya kemampuan melakukan refleksi terhadap diri sendiri.
- Tahapan tersebut merupakan gambaran umum perkembangan, bukan jadwal biologis yang harus dilalui secara identik oleh semua anak.
Perbedaan antara identitas gender dan perilaku gender
- Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap preferensi permainan sebagai indikator langsung identitas gender.
- Anak perempuan yang menyukai mobil-mobilan tidak berarti identitas gendernya pasti berbeda. Anak laki-laki yang menyukai boneka tidak berarti ia sedang mengalami gangguan identitas. Demikian pula anak yang memilih warna tertentu, memakai pakaian tertentu, menyukai aktivitas seni, atau tidak menyukai olahraga tertentu tidak dapat ditentukan identitas gendernya hanya berdasarkan perilaku tersebut.
- AAP secara eksplisit menyebutkan bahwa eksperimen anak terhadap ekspresi gender merupakan bagian yang dapat terjadi dalam perkembangan normal. Pedoman pengasuhan yang dikembangkan melalui proses Delphi juga menekankan bahwa anak dapat menolak peran gender tradisional tanpa berarti mereka transgender atau memiliki identitas gender yang berbeda. (American Academy of Pediatrics)
- Karena itu, observasi terhadap perilaku harus ditempatkan dalam konteks perkembangan secara keseluruhan.
Tabel. Memahami berbagai aspek perkembangan gender pada anak
| Aspek | Pengertian | Contoh pada anak | Makna klinis |
|---|---|---|---|
| Jenis kelamin biologis | Karakteristik biologis tubuh | Anatomi reproduksi, kromosom, hormon | Berbeda dari identitas gender |
| Identitas gender | Pengalaman internal mengenai gender diri | Merasa sebagai laki-laki, perempuan, keduanya, atau lainnya | Berkembang secara bertahap |
| Ekspresi gender | Cara seseorang menampilkan gender | Pakaian, rambut, gestur, gaya perilaku | Tidak selalu sama dengan identitas |
| Peran gender | Harapan sosial mengenai perilaku gender | “Anak laki-laki harus kuat”, “anak perempuan harus lembut” | Dipengaruhi budaya dan dapat berubah |
| Preferensi permainan | Pilihan aktivitas bermain | Boneka, kendaraan, olahraga, seni | Tidak dapat digunakan sendiri untuk menentukan identitas |
| Relasi teman sebaya | Pola hubungan sosial | Memilih teman tertentu | Dapat berubah sesuai tahap perkembangan |
| Identitas seksual | Ketertarikan seksual atau romantis | Berkembang terutama pada masa remaja | Berbeda dari identitas gender |
Pengaruh biologis, psikologis, dan lingkungan
- Identitas gender tidak dapat dijelaskan secara memadai oleh satu faktor tunggal. Literatur perkembangan modern menggambarkannya sebagai proses biopsikososial yang dipengaruhi oleh faktor biologis, perkembangan kognitif, pengalaman sosial, budaya, dan konteks historis. (PubMed)
- Faktor biologis dapat berinteraksi dengan pengalaman perkembangan. Pada saat yang sama, anak juga belajar memahami kategori sosial melalui bahasa, interaksi keluarga, teman sebaya, media, sekolah, dan budaya.
- Lingkungan tidak berarti bahwa orang tua dapat memilih atau menentukan identitas gender anak dengan memberikan mainan tertentu atau melarang permainan tertentu. Lingkungan justru menjadi konteks tempat anak belajar mengenai dirinya dan orang lain.
- Karena itu, pendekatan perkembangan yang sehat tidak berusaha memaksa anak untuk memenuhi stereotip tertentu. Anak membutuhkan ruang untuk berkembang, mencoba berbagai aktivitas, membangun kompetensi, dan menemukan minatnya.
Peran keluarga dalam perkembangan gender
- Keluarga merupakan lingkungan perkembangan paling awal bagi seorang anak. Respons orang tua terhadap pertanyaan, perilaku, pilihan pakaian, permainan, dan pertemanan anak dapat memengaruhi pengalaman psikososial anak.
- Orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih berbagai permainan. Boneka, kendaraan, balok, buku, permainan konstruksi, alat musik, olahraga, dan kegiatan seni tidak harus dibatasi berdasarkan jenis kelamin.
- Buku anak juga dapat memperlihatkan berbagai peran sosial. Anak dapat melihat ayah yang merawat bayi, ibu yang bekerja, laki-laki yang menjadi perawat, perempuan yang menjadi polisi, atau berbagai profesi lainnya. Tujuannya bukan menentukan identitas gender anak, tetapi memperluas pengalaman dan mengurangi pembatasan berdasarkan stereotip.
- Orang tua juga perlu membedakan antara memberikan batasan perilaku dan memaksakan identitas. Anak tetap membutuhkan aturan mengenai keselamatan, sopan santun, tanggung jawab, dan perilaku terhadap orang lain. Namun, aturan tersebut tidak harus didasarkan pada stereotip bahwa aktivitas tertentu hanya boleh dilakukan oleh anak laki-laki atau anak perempuan.
Bagaimana anak mengekspresikan gender?
- Ekspresi gender dapat muncul melalui berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Anak dapat menunjukkan preferensi melalui pakaian, gaya rambut, nama atau panggilan, permainan, aktivitas olahraga, pilihan teman, perilaku sosial, serta cara berinteraksi.
- Ekspresi tersebut dapat berubah sesuai usia dan konteks. Anak mungkin menggunakan pakaian berbeda di rumah dan di sekolah. Anak juga dapat mengalami perubahan minat seiring perkembangan.
- Karena itu, satu perilaku tidak seharusnya ditafsirkan secara terpisah dari keseluruhan perkembangan anak.
Identitas gender dan stereotip
- Stereotip gender merupakan generalisasi mengenai perilaku atau karakteristik yang dianggap sesuai untuk laki-laki atau perempuan.
- Stereotip tersebut berubah dari waktu ke waktu. Banyak aktivitas yang dahulu dianggap khusus untuk satu gender kini dilakukan oleh semua gender.
- Anak perempuan dapat berprestasi dalam olahraga. Anak laki-laki dapat memiliki minat kuat terhadap seni, musik, memasak, atau kegiatan pengasuhan. Tidak ada dasar ilmiah untuk menyimpulkan bahwa minat tertentu secara otomatis menentukan identitas gender seseorang.
- Masalah muncul ketika stereotip menyebabkan anak merasa bahwa dirinya tidak diterima. Anak dapat menghindari aktivitas yang sebenarnya disukainya karena takut diejek atau dikritik.
- Tugas orang tua bukan membuat semua anak memiliki minat yang sama, tetapi memastikan anak memiliki kesempatan berkembang sesuai kemampuan dan minatnya tanpa tekanan sosial yang tidak perlu.
Gender diversity pada anak
- Sebagian anak menunjukkan identitas gender yang berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir. Istilah gender-diverse digunakan sebagai istilah payung untuk berbagai bentuk variasi identitas atau ekspresi gender. (HealthyChildren.org)
- AAP menyatakan bahwa anak yang mengalami variasi gender membutuhkan dukungan, kasih sayang, dan lingkungan yang aman sebagaimana anak lainnya. AAP juga menekankan pentingnya mengurangi stigma dan diskriminasi dalam pelayanan kesehatan. (American Academy of Pediatrics)
- Hal yang penting adalah tidak menyamakan gender diversity dengan gangguan jiwa. Gender identity sendiri bukan diagnosis psikiatri. Namun, sebagian anak dapat mengalami distress yang berkaitan dengan ketidaksesuaian antara identitas gender dan karakteristik atau penetapan jenis kelaminnya. Kondisi distress tersebut perlu dinilai secara klinis berdasarkan gejala dan dampaknya terhadap fungsi anak.
Gender dysphoria dan distress psikologis
- Gender dysphoria merupakan istilah klinis yang berkaitan dengan distress bermakna akibat ketidaksesuaian antara gender yang dialami atau diekspresikan seseorang dan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir.
- Tidak semua anak dengan identitas gender yang berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir mengalami gender dysphoria.
- Karena itu, dokter tidak seharusnya membuat diagnosis hanya berdasarkan pakaian, mainan, gaya rambut, atau preferensi aktivitas. Evaluasi harus memperhatikan pengalaman anak, konsistensi dan persistensi keluhan bila ada, tingkat distress, fungsi sehari-hari, perkembangan psikologis, hubungan keluarga, lingkungan sekolah, serta kondisi kesehatan mental yang menyertai.
Stigma, bullying, dan kesehatan mental
- Faktor lingkungan dapat menjadi bagian penting dalam kesehatan anak. Anak yang berbeda dari norma sosial dapat menghadapi ejekan, bullying, diskriminasi, atau penolakan.
- AAP menyebut bahwa anak dan remaja transgender serta gender-diverse menghadapi disparitas kesehatan dan hambatan akses terhadap layanan kesehatan, termasuk layanan kesehatan mental. Karena itu, pelayanan pediatri perlu memperhatikan keselamatan, kesehatan mental, dan lingkungan sosial anak. (American Academy of Pediatrics)
- Penting untuk membedakan antara identitas anak dan respons lingkungan terhadap identitas tersebut. Ketika anak mengalami kecemasan, depresi, menarik diri, gangguan tidur, penurunan prestasi sekolah, menyakiti diri, atau pikiran untuk bunuh diri, kondisi tersebut memerlukan evaluasi klinis segera tanpa menganggap identitas gender sebagai satu-satunya penyebab.
- Penelitian longitudinal dan keterbatasan bukti
- Penelitian mengenai perkembangan identitas gender pada anak terus berkembang. Sebuah systematic review terhadap penelitian longitudinal sampai Februari 2020 menemukan sembilan artikel dari tujuh studi longitudinal. Sebagian besar penelitian memiliki kualitas sedang, ukuran sampel relatif kecil, dan beberapa mengalami kehilangan peserta selama follow-up. Peneliti menyimpulkan bahwa penelitian longitudinal dengan sampel lebih besar dan metodologi lebih kuat masih diperlukan. (PubMed)
- Penelitian yang lebih baru juga terus dilakukan untuk memahami perkembangan identitas, ekspresi gender, gender dysphoria, kesehatan mental, serta faktor lingkungan pada anak. Salah satu studi longitudinal prospektif di Amerika Serikat dirancang untuk mengikuti 248 anak prepubertal gender-diverse dan pengasuh mereka secara berkala selama 18 bulan. Studi semacam ini penting karena perkembangan identitas tidak dapat dipahami secara akurat hanya melalui penelitian potong lintang. (PubMed)
- Penelitian longitudinal mengenai konsistensi identitas dan preferensi juga menunjukkan pentingnya membedakan identitas gender dari preferensi gender-stereotip. Dalam studi yang melibatkan anak transgender, saudara kandung, dan kelompok cisgender, para peneliti menilai perubahan identitas dan preferensi dari masa kanak-kanak hingga usia berikutnya. (PubMed)
- Dengan demikian, ilmu perkembangan saat ini mendukung pendekatan yang hati-hati. Kita dapat menjelaskan pola perkembangan yang telah diketahui, tetapi tidak seharusnya menggunakan satu perilaku masa kanak-kanak untuk meramalkan secara pasti identitas anak ketika dewasa.
Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua?
- Orang tua dapat mulai dengan mendengarkan anak. Ketika anak mengatakan sesuatu mengenai dirinya, orang tua dapat bertanya dengan tenang dan sesuai usia perkembangan.
- Tidak perlu segera memberikan label.
- Tidak perlu pula langsung menyangkal pengalaman anak.
- Yang lebih penting adalah memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan anak.
- Orang tua juga perlu memastikan anak merasa aman di rumah dan sekolah. Anak perlu mengetahui bahwa ia tetap dicintai meskipun memiliki minat, gaya berpakaian, atau pilihan aktivitas yang berbeda dari harapan keluarga.
- AAP menekankan bahwa dukungan keluarga merupakan bagian penting dalam perkembangan anak yang sehat. Pendekatan pengasuhan yang dikembangkan melalui panel ahli juga menekankan bahwa orang tua sebaiknya memberikan ruang bagi eksplorasi ekspresi gender tanpa memaksakan identitas tertentu kepada anak. (HealthyChildren.org)
Kapan anak perlu dibawa ke dokter atau psikolog?
- Tidak semua variasi ekspresi gender membutuhkan evaluasi medis atau psikologis.
- Konsultasi profesional menjadi penting apabila anak mengalami distress yang menetap, kecemasan berat, depresi, menarik diri, gangguan tidur, gangguan makan, masalah sekolah, bullying, konflik keluarga yang berat, perilaku menyakiti diri, atau pikiran untuk bunuh diri.
- Evaluasi juga dapat membantu ketika orang tua mengalami kebingungan atau konflik dalam merespons anak. Tujuannya bukan menentukan identitas anak secara paksa, tetapi memahami kebutuhan perkembangan, psikologis, sosial, dan kesehatan anak secara menyeluruh.
- Dalam situasi tersebut, dokter anak, psikolog anak, psikiater anak, atau tenaga kesehatan lain yang memiliki kompetensi perkembangan anak dapat dilibatkan sesuai kebutuhan.
Prinsip klinis yang perlu diingat
- Identitas gender bukan hal yang dapat ditentukan hanya dari mainan atau warna pakaian.
- Ekspresi gender tidak sama dengan identitas gender.
- Anak dapat menyukai aktivitas yang secara budaya diasosiasikan dengan gender lain tanpa berarti identitas gendernya berbeda.
- Identitas gender berkembang sepanjang masa kanak-kanak dan remaja.
- Tidak semua anak dengan identitas gender yang berbeda mengalami gender dysphoria.
- Distress psikologis harus dinilai berdasarkan gejala dan fungsi anak, bukan berdasarkan identitas gender semata.
- Bullying, stigma, diskriminasi, dan penolakan keluarga merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam kesehatan anak.
- Bukti longitudinal mengenai perkembangan identitas gender pada anak masih berkembang dan memiliki keterbatasan metodologis.
Kesimpulan
- Perkembangan identitas gender merupakan bagian dari perkembangan diri anak yang berlangsung secara bertahap dan kompleks. Pada masa kanak-kanak awal, anak mulai mengenali kategori gender, kemudian mengembangkan pemahaman yang semakin stabil mengenai dirinya seiring perkembangan kognitif dan sosial.
- Identitas gender perlu dibedakan dari jenis kelamin biologis, ekspresi gender, peran gender, dan preferensi permainan. Anak laki-laki yang menyukai boneka atau anak perempuan yang menyukai kendaraan tidak dapat dinilai identitas gendernya hanya berdasarkan pilihan tersebut. Eksplorasi berbagai permainan dan peran merupakan bagian dari perkembangan anak. (HealthyChildren.org)
- Sebagian anak akan memiliki identitas gender yang sesuai dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir, sementara sebagian lainnya menunjukkan variasi gender. Perkembangan tersebut perlu dipahami dalam kerangka biopsikososial dan perkembangan individual. Bukti ilmiah mengenai perjalanan identitas gender dalam jangka panjang masih terus berkembang sehingga diperlukan penelitian longitudinal yang lebih besar dan metodologis kuat. (PubMed)
- Dalam praktik pengasuhan, prinsip yang paling penting adalah menjaga hubungan yang aman antara anak dan orang tua. Anak membutuhkan kesempatan untuk berkembang, mengeksplorasi minat, membangun kompetensi, dan memperoleh dukungan ketika menghadapi tekanan sosial. Ketika muncul distress psikologis atau masalah fungsi, evaluasi profesional diperlukan untuk memahami seluruh kondisi anak secara komprehensif.
Daftar Pustaka
- Rafferty J, Committee on Psychosocial Aspects of Child and Family Health, Committee on Adolescence, Section on Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender Health and Wellness. Ensuring Comprehensive Care and Support for Transgender and Gender-Diverse Children and Adolescents. Pediatrics. 2018;142(4):e20182162. Reaffirmed 2023. (American Academy of Pediatrics)
- American Academy of Pediatrics. Gender Identity Development in Children. HealthyChildren.org. Updated May 7, 2024. (HealthyChildren.org)
- Mehrtens I, Addante S. Transgender and Gender Diverse Identity Development in Pediatric Populations. Pediatric Annals. 2023;52(12):e450-e455. doi:10.3928/19382359-20231016-05. (PubMed)
- deMayo BE, Jordan AE, Olson KR. Gender Development in Gender Diverse Children. Annual Review of Developmental Psychology. 2022;4:207-229. doi:10.1146/annurev-devpsych-121020-034014. (PubMed)
- Glidden D, et al. Gender identity development in children and young people: A systematic review of longitudinal studies. Clinical Child Psychology and Psychiatry. 2021. PMID:33827265. (PubMed)
- Kennedy E, et al. Longitudinal Outcomes of Gender Identity in Children (LOGIC): protocol for a prospective longitudinal cohort study of children referred to the UK gender identity development service. BMJ Open. 2021;11(9):e045628. doi:10.1136/bmjopen-2020-045628. (PubMed)
- Hässler T, Glazier JJ, Olson KR. Consistency of gender identity and preferences across time: An exploration among cisgender and transgender children. Developmental Psychology. 2022;58(11):2184-2196. doi:10.1037/dev0001419. (PubMed)
- Kennedy E, et al. Longitudinal outcomes of gender identity in children (LOGIC): study protocol for a retrospective analysis of the characteristics and outcomes of children referred to specialist gender services in the UK and the Netherlands. BMJ Open. 2021;11(11):e054895. doi:10.1136/bmjopen-2021-054895. (PubMed)










Leave a Reply