ALERGI MAKANAN SALURAN CERNA PADA BAYI
Tinjauan Ilmiah Berdasarkan Bukti Terkin
Abstrak
Alergi makanan saluran cerna merupakan salah satu bentuk alergi makanan yang sering dijumpai pada bayi, terutama pada tahun pertama kehidupan. Berbeda dengan alergi makanan yang dimediasi imunoglobulin E (IgE), sebagian besar alergi saluran cerna terjadi melalui mekanisme non-IgE atau kombinasi IgE dan non-IgE sehingga gejalanya muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah konsumsi makanan pemicu. Manifestasi klinis sangat bervariasi, mulai dari muntah berulang, diare kronis, tinja berdarah, konstipasi, gagal tumbuh, hingga gangguan penyerapan nutrisi. Diagnosis masih menjadi tantangan karena belum tersedia biomarker yang spesifik sehingga memerlukan kombinasi riwayat klinis, diet eliminasi, serta uji provokasi makanan bila diindikasikan. Artikel ini membahas klasifikasi, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, penatalaksanaan, serta perkembangan bukti ilmiah terkini mengenai alergi makanan saluran cerna pada bayi.
Kata kunci: alergi makanan, bayi, saluran cerna, FPIES, FPIAP, enteropati, eosinofilik, oral food challenge.
Pendahuluan
Alergi makanan merupakan respons imun abnormal terhadap protein makanan tertentu. Pada bayi, organ yang paling sering terkena adalah saluran cerna karena sistem imun mukosa dan sawar usus masih dalam tahap perkembangan. Berbeda dengan reaksi alergi IgE yang umumnya menimbulkan biduran atau anafilaksis dalam hitungan menit, alergi saluran cerna lebih sering menyebabkan gejala pencernaan yang timbul beberapa jam setelah konsumsi makanan. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai infeksi saluran cerna, intoleransi laktosa, refluks gastroesofageal, kolik, atau gangguan fungsional sehingga diagnosis sering terlambat.
Definisi
Alergi makanan saluran cerna adalah penyakit imunologis akibat respons abnormal terhadap protein makanan yang terutama mengenai saluran pencernaan. Berdasarkan mekanisme imunologinya, penyakit ini dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu alergi yang dimediasi IgE, alergi campuran IgE dan non-IgE, serta alergi non-IgE yang dimediasi sel T. Sebagian besar alergi saluran cerna pada bayi termasuk kelompok non-IgE atau campuran
Klasifikasi
Berdasarkan gambaran klinis dan mekanisme imunologi, alergi makanan saluran cerna terdiri atas:
- Food Protein-Induced Enterocolitis Syndrome (FPIES).
- Food Protein-Induced Allergic Proctocolitis (FPIAP).
- Food Protein-Induced Enteropathy (FPE).
- Eosinophilic Gastrointestinal Disorders (EGID), termasuk eosinophilic esophagitis, gastritis, gastroenteritis, dan kolitis.
Patofisiologi
Pada alergi makanan saluran cerna non-IgE, protein makanan memicu aktivasi limfosit T, sitokin proinflamasi, eosinofil, dan sel imun mukosa tanpa melibatkan IgE sebagai mekanisme utama. Inflamasi yang terjadi menyebabkan peningkatan permeabilitas mukosa usus, kerusakan epitel, gangguan absorpsi nutrisi, serta perubahan fungsi motilitas saluran cerna. Akibatnya muncul berbagai gejala seperti muntah, diare, konstipasi, nyeri perut, hingga gangguan pertumbuhan.
Makanan Pencetus
Protein susu sapi merupakan penyebab tersering. Selain itu dapat dipicu oleh kedelai, telur, gandum, beras, oat, ikan, ayam, kacang-kacangan, dan berbagai makanan pendamping ASI. Pada sebagian bayi, lebih dari satu jenis makanan dapat menjadi pencetus.
Manifestasi Klinis
Gejala sangat bergantung pada jenis penyakit dan organ yang terkena.
| Sindrom | Manifestasi Klinis Utama |
|---|---|
| FPIES | Muntah hebat berulang 1 sampai 4 jam setelah makan, diare, lemas, dehidrasi, hipotensi, syok pada kasus berat |
| FPIAP | Darah atau lendir pada tinja, bayi tampak sehat, pertumbuhan umumnya baik |
| FPE | Diare kronis, muntah, malabsorpsi, gagal tumbuh, hipoalbuminemia |
| EGID | Sulit makan, muntah kronis, nyeri perut, disfagia, refluks, anemia, gagal tumbuh |
Gejala Saluran Cerna yang Dapat Dijumpai
| Organ | Gejala |
|---|---|
| Mulut | Menolak makan, sulit mengisap, iritabel saat menyusu |
| Lambung | Muntah, refluks, gumoh berlebihan, cepat kenyang |
| Usus halus | Diare, malabsorpsi, perut kembung, gagal tumbuh |
| Kolon | Konstipasi, darah pada tinja, lendir, nyeri saat buang air besar |
| Sistemik | Lemas, dehidrasi, penurunan berat badan, gagal tumbuh |
Diagnosis
Diagnosis didasarkan pada riwayat klinis yang khas, hubungan antara konsumsi makanan dan munculnya gejala, perbaikan setelah eliminasi makanan, serta kekambuhan setelah provokasi bila diperlukan. Pemeriksaan IgE spesifik dan uji tusuk kulit sering memberikan hasil negatif pada alergi non-IgE sehingga tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan diagnosis. Endoskopi dan biopsi dipertimbangkan pada kasus tertentu seperti dugaan eosinophilic gastrointestinal disorders. Oral Food Challenge tetap merupakan baku emas untuk konfirmasi diagnosis apabila aman dan terdapat indikasi klinis.
Diagnosis Banding
Beberapa penyakit yang perlu dibedakan meliputi infeksi saluran cerna, intoleransi laktosa, penyakit Hirschsprung, penyakit celiac, refluks gastroesofageal, penyakit radang usus, kelainan metabolik, dan kelainan anatomi saluran cerna.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan utama adalah eliminasi makanan penyebab yang telah terbukti secara klinis. Pada bayi yang mendapat susu formula dapat diberikan formula hidrolisat ekstensif, sedangkan formula asam amino digunakan pada kasus berat atau yang tidak membaik. Bayi yang mendapat ASI tetap dianjurkan melanjutkan menyusu dengan eliminasi makanan penyebab dari diet ibu bila terbukti sebagai pencetus. Status gizi, pertumbuhan, dan perkembangan harus dipantau secara berkala. Reintroduksi makanan dilakukan secara bertahap sesuai evaluasi klinis karena banyak bayi akan mencapai toleransi seiring bertambahnya usia.
Prognosis
Sebagian besar bayi dengan FPIAP dan FPE mengalami toleransi terhadap makanan penyebab sebelum usia tiga tahun. FPIES juga memiliki prognosis yang baik, walaupun waktu tercapainya toleransi berbeda pada setiap anak. Sebaliknya, eosinophilic gastrointestinal disorders dapat berlangsung lebih lama dan memerlukan pemantauan jangka panjang.
Tantangan Diagnosis
Alergi makanan saluran cerna sering mengalami overdiagnosis maupun underdiagnosis. Gejalanya menyerupai berbagai penyakit saluran cerna lain sehingga sebagian bayi mendapat pembatasan makanan yang tidak diperlukan, sedangkan sebagian lainnya tidak terdiagnosis. Pendekatan diagnosis harus dilakukan secara sistematis dengan mempertimbangkan riwayat klinis, evaluasi pertumbuhan, respons terhadap eliminasi makanan, serta oral food challenge bila diperlukan.
Saran
Bayi dengan muntah kronis, diare berkepanjangan, konstipasi persisten, darah pada tinja, atau gagal tumbuh perlu dievaluasi kemungkinan alergi makanan saluran cerna. Pembatasan makanan tidak dianjurkan tanpa diagnosis yang jelas karena dapat meningkatkan risiko kekurangan gizi. Penanganan sebaiknya dilakukan oleh dokter dengan pemantauan status gizi secara berkala.
Kesimpulan
Alergi makanan saluran cerna pada bayi merupakan kelompok penyakit imunologis yang didominasi mekanisme non-IgE atau campuran IgE dan non-IgE. Bentuk klinis utama meliputi FPIES, FPIAP, FPE, dan eosinophilic gastrointestinal disorders. Diagnosis memerlukan penilaian klinis yang cermat karena pemeriksaan IgE sering tidak membantu. Eliminasi makanan penyebab merupakan terapi utama, sedangkan oral food challenge tetap menjadi baku emas untuk konfirmasi diagnosis pada kondisi yang sesuai. Pendekatan yang tepat dapat mencegah komplikasi, mengurangi overdiagnosis, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi secara optimal.
Daftar Pustaka
- Morita H, Nomura I, Matsuda A, Saito H, Matsumoto K. Gastrointestinal food allergy in infants. Allergology International. 2013;62(3):297-307. doi:10.2332/allergolint.13-RA-0542.
- Nowak-Węgrzyn A, Chehade M, Groetch ME, et al. International Consensus Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Protein-Induced Enterocolitis Syndrome. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2017;139(4):1111-1126.e4. doi:10.1016/j.jaci.2016.12.966.
- Fiocchi A, Dahdah L, Albarini M, Martelli A. Cow’s milk allergy in children. World Allergy Organization Journal. 2022;15(10):100687. doi:10.1016/j.waojou.2022.100687.
- Meyer R, Chebar Lozinsky A, Fleischer DM, et al. Diagnosis and management of non-IgE gastrointestinal food allergies in infancy. Pediatric Allergy and Immunology. 2020;31(1):3-16. doi:10.1111/pai.13155.












Leave a Reply