REVIEW
ASMA DAN ALERGI MAKANAN: HUBUNGAN ALERGI SALURAN CERNA, DISREGULASI SISTEM IMUN, DAN GUT–LUNG AXIS TERHADAP KEKAMBUHAN ASMA
Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Asma dan alergi makanan merupakan dua kondisi atopi yang dapat muncul bersamaan pada anak dan mempunyai hubungan biologis serta klinis yang kompleks. Hubungan tersebut tidak hanya berupa koeksistensi dua penyakit, tetapi juga melibatkan predisposisi atopi, disregulasi sistem imun, fungsi sawar mukosa, mikrobiota saluran cerna, mediator inflamasi, serta komunikasi dua arah antara saluran cerna dan paru yang dikenal sebagai gut–lung axis. Anak yang mengalami asma dan alergi makanan secara bersamaan dapat mempunyai risiko episode asma yang lebih berat serta reaksi alergi yang lebih serius. Foong, du Toit, dan Fox dalam Mini Review – Asthma and Food Allergy menekankan bahwa anak dengan kedua kondisi tersebut mempunyai risiko episode asma yang lebih berat, episode asma yang dipicu alergen makanan, serta anafilaksis akibat makanan. Karena itu, pengenalan hubungan antara asma dan alergi makanan penting dalam menentukan evaluasi dan tata laksana yang tepat. Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa seluruh asma disebabkan oleh alergi makanan.
Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas yang mempunyai fenotipe dan mekanisme yang heterogen. Pada sebagian anak, asma berkaitan erat dengan atopi dan sensitisasi terhadap alergen tertentu, sedangkan pada anak lainnya faktor infeksi virus, polusi, asap rokok, aktivitas fisik, perubahan cuaca, dan berbagai faktor lain dapat berperan. Alergi makanan merupakan salah satu penyakit alergi yang dapat menyertai asma dan perlu diperhatikan terutama pada anak dengan riwayat reaksi makanan yang konsisten.
Hubungan antara asma dan alergi makanan telah lama diteliti. Foong, du Toit, dan Fox dalam Current Pediatric Reviews menjelaskan bahwa terdapat interaksi yang erat antara berbagai penyakit atopi dan bahwa keberadaan satu kondisi atopi dapat meningkatkan kemungkinan munculnya kondisi atopi lainnya. Mereka secara khusus menyoroti hubungan asma dan alergi makanan pada anak serta pentingnya mengenali kombinasi keduanya karena anak dengan asma dan alergi makanan dapat menghadapi risiko episode asma yang lebih berat dan reaksi alergi berat.
Hubungan Asma dan Alergi Makanan
Asma dan alergi makanan dapat dipandang sebagai bagian dari spektrum penyakit atopi. Seorang anak yang mempunyai dermatitis atopik, rinitis alergi, atau alergi makanan dapat memiliki predisposisi untuk mengalami penyakit alergi lainnya. Hubungan tersebut tidak berarti bahwa satu penyakit selalu secara langsung menyebabkan penyakit lainnya, tetapi menunjukkan adanya faktor genetik, imunologis, dan lingkungan yang dapat berkontribusi terhadap beberapa manifestasi penyakit alergi pada individu yang sama.
Dalam Mini Review – Asthma and Food Allergy, Foong dan kolega menegaskan bahwa anak yang mempunyai asma sekaligus alergi makanan memiliki risiko lebih besar mengalami episode asma yang berat. Mereka juga menyoroti kemungkinan terjadinya episode asma yang dipicu oleh alergen makanan serta anafilaksis akibat makanan. Temuan tersebut mempunyai implikasi klinis penting karena kombinasi asma dan alergi makanan perlu dikenali secara tepat agar keluarga memperoleh edukasi mengenai penghindaran alergen dan penanganan reaksi alergi.
Alergi Makanan sebagai Gangguan Imun
Alergi makanan bukan sekadar gangguan pencernaan, melainkan merupakan respons imun yang tidak sesuai terhadap protein makanan tertentu. Mekanismenya dapat melibatkan IgE, mekanisme non-IgE, atau mekanisme campuran. Manifestasi klinis dapat melibatkan kulit, saluran gastrointestinal, saluran pernapasan, maupun sistemik.
Pada alergi makanan non-IgE-mediated, gejala gastrointestinal dapat menjadi manifestasi yang dominan. Anak dapat mengalami muntah, diare, nyeri atau ketidaknyamanan abdomen, gangguan pola buang air besar, dan berbagai gejala gastrointestinal lain tergantung penyakit dan mekanismenya. Oleh karena itu, tidak semua alergi makanan dapat dikenali hanya melalui pemeriksaan IgE.
Alergi Makanan, Khususnya Alergi Saluran Cerna, sebagai Manifestasi Disregulasi Imun
Alergi makanan, khususnya gangguan alergi yang terutama bermanifestasi pada saluran gastrointestinal, merupakan manifestasi disregulasi respons imun terhadap antigen makanan pada individu yang rentan. Saluran cerna merupakan salah satu organ imunologis terbesar tubuh karena terus-menerus berinteraksi dengan antigen makanan, mikroorganisme, dan berbagai antigen lingkungan. Jaringan limfoid terkait usus (gut-associated lymphoid tissue/GALT), sel epitel, sel dendritik, limfosit T dan B, sel T regulator, serta berbagai mediator imun berperan mempertahankan keseimbangan antara toleransi imun dan respons inflamasi. Oleh karena itu, istilah “kekebalan tubuh sebagian besar dibentuk di pencernaan” lebih tepat dipahami bahwa usus merupakan lokasi penting pendidikan, regulasi, dan interaksi sistem imun dengan lingkungan, bukan bahwa seluruh sistem kekebalan tubuh secara anatomis “dibentuk” di usus. Salah satu komponen penting adalah secretory immunoglobulin A (sIgA) yang berperan dalam pertahanan mukosa, membatasi interaksi antigen dan mikroorganisme dengan epitel, serta membantu mempertahankan homeostasis antara mikrobiota dan sistem imun. Gangguan regulasi pada sistem ini berpotensi memengaruhi respons imun secara lebih luas, termasuk respons inflamasi pada organ lain.
Dalam kondisi fisiologis, interaksi antara epitel usus, mikrobiota, antigen makanan, dan sistem imun menghasilkan oral tolerance, yaitu kemampuan sistem imun untuk menerima sebagian besar antigen makanan tanpa menimbulkan inflamasi patologis. Pada individu yang rentan, gangguan fungsi sawar mukosa, perubahan interaksi mikrobiota, atau gangguan regulasi sel imun dapat berkontribusi terhadap hilangnya toleransi dan berkembangnya respons imun patologis terhadap makanan. Manifestasinya dapat berupa muntah, diare, nyeri atau ketidaknyamanan abdomen, gangguan pola buang air besar, hingga penyakit gastrointestinal spesifik yang berkaitan dengan alergi. Melalui konsep gut–lung axis, perubahan regulasi imun dan lingkungan mikrobiota saluran cerna juga sedang diteliti dalam kaitannya dengan respons inflamasi saluran napas. Pada anak dengan asma dan alergi makanan, hubungan ini menjadi semakin relevan karena kedua kondisi tersebut dapat berada dalam spektrum atopi yang sama, dan pada sebagian anak paparan alergen makanan yang terbukti dapat memicu manifestasi respirasi atau memperberat reaksi alergi. Selain itu, infeksi saluran napas berulang dan inflamasi saluran napas dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap eksaserbasi atau kekambuhan asma. Namun, alergi makanan tidak boleh dianggap sebagai penyebab semua infeksi berulang atau semua kekambuhan asma; hubungan tersebut harus dinilai berdasarkan pola klinis, bukti alergi yang valid, dan faktor pencetus lain. Dengan demikian, pada anak yang mengalami asma berulang/kambuhan disertai manifestasi gastrointestinal dan tanda penyakit alergi, evaluasi komprehensif terhadap alergi makanan, komorbiditas atopi, faktor lingkungan, serta penyebab infeksi tetap diperlukan.
Alergi Makanan, Inflamasi, dan Paru
Hubungan antara alergi makanan dan paru dapat terjadi melalui beberapa mekanisme. Pada individu dengan alergi makanan yang sudah terbukti, paparan terhadap makanan pencetus dapat menyebabkan reaksi alergi sistemik yang melibatkan saluran pernapasan. Pada anak yang juga mempunyai asma, keterlibatan saluran napas dalam reaksi alergi dapat menjadi lebih berbahaya.
Foong, du Toit, dan Fox secara khusus menyatakan bahwa anak yang mempunyai asma dan alergi makanan mempunyai risiko episode asma yang dipicu oleh alergen makanan serta risiko anafilaksis akibat makanan. Karena itu, pengenalan alergi makanan pada anak dengan asma bukan hanya masalah menentukan makanan yang harus dihindari, tetapi juga merupakan bagian dari strategi keselamatan pasien.
Gut–Lung Axis
Konsep gut–lung axis menggambarkan komunikasi dua arah antara saluran cerna dan paru. Komunikasi tersebut tidak hanya berlangsung melalui hubungan anatomi langsung, tetapi melibatkan sistem imun, sirkulasi sistemik, metabolit mikrobiota, mediator inflamasi, serta interaksi antara epitel dan mikroorganisme.
Secara sederhana, perubahan lingkungan saluran cerna dapat memengaruhi regulasi imun sistemik, kemudian memengaruhi respons imun pada paru. Sebaliknya, proses inflamasi di saluran pernapasan juga dapat memengaruhi sistem imun dan lingkungan tubuh secara keseluruhan. Konsep ini membantu menjelaskan mengapa kesehatan saluran cerna dan paru tidak selalu dapat dipandang sebagai dua sistem yang sepenuhnya terpisah.
Mikrobiota Usus dan Asma
Mikrobiota usus mempunyai peranan penting dalam perkembangan dan pendidikan sistem imun. Bakteri usus menghasilkan berbagai metabolit, termasuk short-chain fatty acids atau SCFA, yang dapat memengaruhi fungsi epitel dan regulasi sel imun.
Penelitian pada anak menunjukkan adanya hubungan antara karakteristik mikrobiota usus dan asma. Namun, hubungan tersebut masih merupakan bidang penelitian yang berkembang. Perbedaan mikrobioma yang ditemukan pada kelompok anak dengan asma tidak berarti bahwa terdapat satu pola mikrobioma yang dapat digunakan untuk mendiagnosis asma atau menentukan penyebab asma pada setiap anak.
Mikrobiota, Alergi Makanan, dan Toleransi Imun
Mikrobiota usus juga berhubungan dengan perkembangan toleransi terhadap antigen makanan. Interaksi antara mikroorganisme, epitel usus, metabolit mikroba, dan sel imun dapat memengaruhi keseimbangan antara toleransi dan respons inflamasi.
Dalam konteks alergi makanan, perubahan mikrobiota atau disbiosis sedang diteliti sebagai salah satu faktor yang mungkin berhubungan dengan terganggunya toleransi imun. Namun, hubungan tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa setiap anak dengan alergi makanan mengalami disbiosis tertentu atau bahwa pengobatan mikrobiota secara otomatis akan menghilangkan alergi.
Peran Short-Chain Fatty Acids
SCFA seperti asetat, propionat, dan butirat merupakan metabolit yang dihasilkan melalui fermentasi komponen makanan oleh mikrobiota. Metabolit tersebut dapat memengaruhi integritas epitel, metabolisme sel, fungsi sel T regulator, serta berbagai mekanisme inflamasi.
Karena itu, SCFA menjadi salah satu kandidat mekanisme penting dalam gut–lung axis. Namun, pengetahuan mengenai mekanisme biologis tersebut tidak boleh langsung diterjemahkan menjadi rekomendasi bahwa semua anak dengan asma atau alergi harus diberikan suplemen, prebiotik, atau probiotik tertentu.
Mengapa Asma dan Alergi Makanan Perlu Dikenali Bersama?
Kombinasi asma dan alergi makanan mempunyai arti klinis yang lebih besar dibandingkan melihat kedua penyakit tersebut secara terpisah. Anak dengan alergi makanan yang juga mempunyai asma dapat menghadapi risiko reaksi yang lebih serius, terutama ketika terjadi paparan terhadap makanan pencetus.
Foong, du Toit, dan Fox menyimpulkan bahwa pengenalan hubungan antara kedua kondisi tersebut penting bagi dokter dan keluarga agar dapat dilakukan tata laksana dan pencegahan yang tepat. Mereka secara khusus menyoroti risiko episode asma yang lebih berat, asma yang dipicu alergen makanan, dan anafilaksis akibat makanan.
Gejala Gastrointestinal pada Anak dengan Asma
Pada anak dengan asma yang juga mengalami gejala gastrointestinal seperti muntah berulang, diare berulang, nyeri perut, gangguan buang air besar, kesulitan makan, atau gejala yang konsisten setelah mengonsumsi makanan tertentu, alergi makanan dapat menjadi salah satu diagnosis banding yang perlu dipertimbangkan.
Namun, gejala gastrointestinal tidak secara otomatis menunjukkan alergi makanan. Sembelit, muntah, diare, atau nyeri perut mempunyai diagnosis banding yang luas. Karena itu, evaluasi harus mempertimbangkan pola hubungan antara makanan dan gejala, riwayat alergi, pemeriksaan fisik, pertumbuhan, serta pemeriksaan penunjang yang sesuai.
Diagnosis Alergi Makanan
Diagnosis alergi makanan harus didasarkan pada integrasi antara riwayat klinis dan pemeriksaan yang sesuai. Hasil pemeriksaan alergi tidak boleh ditafsirkan secara terpisah dari gejala pasien. Sensitisasi terhadap suatu makanan juga tidak selalu sama dengan alergi makanan klinis.
Pada keadaan tertentu, oral food challenge (OFC) dapat digunakan sebagai bagian dari evaluasi diagnostik untuk menentukan apakah suatu makanan benar-benar menimbulkan reaksi klinis. OFC harus dilakukan berdasarkan indikasi yang tepat dan dalam kondisi terkontrol oleh tenaga kesehatan yang kompeten karena pada pasien tertentu dapat terjadi reaksi alergi berat.
IgE dan Alergi Makanan
Pemeriksaan IgE spesifik dapat membantu dalam evaluasi alergi makanan yang dimediasi IgE, tetapi hasil positif menunjukkan sensitisasi dan tidak selalu membuktikan alergi klinis. Sebaliknya, alergi makanan dengan mekanisme non-IgE tidak dapat disingkirkan hanya karena pemeriksaan IgE negatif.
Karena itu, keputusan eliminasi makanan tidak seharusnya didasarkan semata-mata pada panel IgE yang luas tanpa korelasi dengan riwayat klinis. Pendekatan diagnostik yang terlalu luas dapat menyebabkan eliminasi banyak makanan yang sebenarnya masih dapat ditoleransi dan berpotensi menimbulkan masalah nutrisi.
IgG dan Pemeriksaan yang Tidak Terbukti untuk Diagnosis Alergi
Pemeriksaan IgG terhadap berbagai makanan tidak dapat diperlakukan sebagai pengganti diagnosis alergi makanan. Keberadaan antibodi IgG terhadap makanan dapat mencerminkan paparan atau respons imun terhadap makanan dan tidak secara sederhana membuktikan bahwa makanan tersebut menyebabkan alergi.
Demikian pula, metode yang tidak mempunyai validasi ilmiah memadai tidak seharusnya digunakan untuk menetapkan diagnosis alergi makanan atau menentukan eliminasi banyak makanan. Diagnosis harus menggunakan pendekatan yang telah diterima dalam praktik alergologi berbasis bukti.
Peran Eliminasi Makanan
- Eliminasi makanan mempunyai tempat dalam penatalaksanaan alergi makanan yang telah diidentifikasi secara klinis, terutama apabila makanan pencetus memang dapat ditentukan. Tujuannya adalah mencegah paparan terhadap alergen yang terbukti atau sangat dicurigai berdasarkan evaluasi klinis.
- Namun, eliminasi makanan yang terlalu luas tanpa diagnosis yang jelas dapat menyebabkan pembatasan diet yang tidak perlu. Pada anak, kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap kecukupan energi, protein, mikronutrien, pertumbuhan, serta kualitas hidup. Karena itu, eliminasi harus dilakukan secara terarah dan dievaluasi kembali.
Peran Probiotik dan Mikrobiota
- Pemahaman mengenai gut–lung axis menimbulkan ketertarikan terhadap penggunaan probiotik, prebiotik, sinbiotik, dan intervensi mikrobioma lainnya. Meskipun terdapat dasar biologis yang menarik, bukti klinis belum mendukung penggunaan satu jenis probiotik sebagai terapi universal untuk semua anak dengan asma atau alergi makanan.
- Dengan demikian, adanya hubungan mikrobioma dengan asma tidak berarti bahwa semua penderita asma membutuhkan probiotik jangka panjang. Intervensi harus disesuaikan dengan kondisi klinis dan bukti yang tersedia.
Implikasi Klinis
- Pendekatan terhadap anak dengan asma sebaiknya tidak hanya berfokus pada paru, tetapi juga mempertimbangkan kondisi alergi secara keseluruhan. Pada anak dengan riwayat atopi, gejala gastrointestinal yang konsisten, dan dugaan hubungan dengan makanan, evaluasi alergi makanan dapat dipertimbangkan.
- Namun, pendekatan integratif tidak berarti bahwa semua batuk, pilek, sesak, sembelit, muntah, atau diare harus dijelaskan oleh satu penyebab. Diagnosis tetap harus dilakukan secara sistematis dan mempertimbangkan kemungkinan penyakit lain.
- Model Konseptual Asma–Alergi Makanan–Gut–Lung Axis
Secara konseptual, hubungan tersebut dapat digambarkan sebagai:
GENETIK + LINGKUNGAN + POLA MAKAN
↓
MIKROBIOTA USUS
↓
EPITEL & BARRIER MUKOSA
↓
REGULASI SISTEM IMUN
↓
TOLERANSI / DISREGULASI IMUN
↓
ALERGI MAKANAN PADA INDIVIDU RENTAN
↓
MEDIATOR IMUN + METABOLIT MIKROBA
↓
SIRKULASI SISTEMIK
↓
GUT–LUNG AXIS
↓
REGULASI INFLAMASI SALURAN NAPAS
↓
HIPERRESPONSIVITAS BRONKUS
↓
GEJALA / EKASERBASI ASMA
Model tersebut merupakan kerangka biologis untuk memahami kemungkinan hubungan usus dan paru, bukan bukti bahwa setiap anak dengan alergi makanan akan mengalami asma atau bahwa setiap asma disebabkan oleh gangguan saluran cerna.
Kesimpulan
Asma dan alergi makanan mempunyai hubungan klinis dan imunologis yang penting pada anak. Keduanya dapat muncul sebagai bagian dari spektrum atopi dan, ketika terdapat bersamaan, dapat meningkatkan risiko episode penyakit yang lebih berat. Mini Review – Asthma and Food Allergy oleh Foong, du Toit, dan Fox secara khusus menekankan bahwa anak dengan asma dan alergi makanan mempunyai risiko episode asma yang lebih berat, episode asma yang dipicu alergen makanan, serta anafilaksis akibat makanan.
Konsep gut–lung axis memberikan kerangka ilmiah yang semakin penting untuk memahami hubungan antara saluran cerna, mikrobiota, sistem imun, dan paru. Gangguan toleransi imun terhadap makanan, perubahan lingkungan mikrobiota, metabolit mikroba, fungsi sawar mukosa, dan regulasi inflamasi dapat menjadi bagian dari jaringan biologis yang menghubungkan usus dan paru. Namun, bukti tersebut harus dipahami secara proporsional dan tidak boleh digunakan untuk menyatakan bahwa semua asma berasal dari alergi makanan atau bahwa semua anak dengan asma membutuhkan eliminasi makanan atau probiotik.
Dengan demikian, pada anak yang mengalami asma disertai manifestasi alergi dan gejala gastrointestinal yang konsisten, alergi makanan layak dipertimbangkan sebagai salah satu kemungkinan diagnosis. Evaluasi harus dilakukan berdasarkan riwayat klinis dan pemeriksaan yang tervalidasi, sedangkan eliminasi makanan sebaiknya dilakukan secara terarah berdasarkan diagnosis, bukan berdasarkan hasil pemeriksaan yang tidak terbukti. Pendekatan seperti ini memungkinkan penanganan asma dan alergi makanan dilakukan secara lebih aman, rasional, dan berbasis bukti.
Referensi
- Foong RX, du Toit G, Fox AT. Mini Review – Asthma and Food Allergy. Current Pediatric Reviews. 2018;14(3):164–170. DOI: 10.2174/1573396314666180507121136. PMID: 29732974. Artikel ini menjadi salah satu rujukan penting dalam pembahasan hubungan asma dan alergi makanan pada anak, khususnya mengenai risiko asma yang lebih berat, asma yang dipicu alergen makanan, serta anafilaksis pada anak dengan kedua kondisi tersebut.













Leave a Reply