KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Rome V: Cara Pandang Baru terhadap Gangguan Saluran Cerna pada Anak, Bukan Sekadar “Maag” atau “Masuk Angin”

Rome V: Cara Pandang Baru terhadap Gangguan Saluran Cerna pada Anak, Bukan Sekadar “Maag” atau “Masuk Angin”

Mengapa Banyak Anak Sering Sakit Perut tetapi Hasil Pemeriksaannya Normal?

Tidak sedikit orang tua datang ke dokter karena anak sering mengeluh sakit perut, mual, perut kembung, sulit BAB, diare berulang, sulit makan, atau berat badan sulit naik. Setelah dilakukan pemeriksaan darah, USG, bahkan endoskopi, hasilnya sering kali normal. Akibatnya, orang tua menjadi bingung karena anak tetap mengeluh meskipun tidak ditemukan kelainan pada organ saluran cernanya.

Kini para ahli memahami bahwa kondisi tersebut sering kali bukan berarti “tidak ada penyakit”. Justru terdapat gangguan pada cara kerja saluran cerna dan komunikasi antara usus dengan otak. Kondisi inilah yang disebut Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI).

Apa Itu DGBI?

  • Menurut Rome V (2026), DGBI adalah kelompok gangguan saluran cerna yang terjadi karena adanya gangguan komunikasi antara usus dan otak. Gangguan ini dapat melibatkan perubahan gerakan usus, meningkatnya kepekaan saraf usus terhadap rangsangan, perubahan sistem kekebalan tubuh di usus, gangguan keseimbangan bakteri baik (mikrobiota), serta perubahan cara otak memproses sinyal dari saluran cerna.
  • Artinya, meskipun tidak ditemukan luka, tumor, atau kelainan bentuk usus, fungsi saluran cerna tidak bekerja secara normal sehingga anak tetap mengalami berbagai keluhan.

Mengapa Rome V Penting?

  • Sebelumnya kondisi ini sering disebut sebagai gangguan saluran cerna fungsional (Functional Gastrointestinal Disorders). Sayangnya, istilah “fungsional” sering disalahartikan sebagai penyakit yang hanya terjadi karena stres atau bahkan dianggap “tidak benar-benar sakit”.
  • Rome V mengubah cara pandang tersebut. Saat ini diketahui bahwa DGBI memiliki dasar biologis yang nyata. Penelitian menunjukkan adanya perubahan pada sistem saraf usus, sistem kekebalan tubuh, sawar mukosa usus, mikrobiota, dan hubungan antara usus dengan otak. Dengan kata lain, keluhan anak bukan dibuat-buat dan bukan semata-mata faktor psikologis.

Bagaimana Gangguan Ini Terjadi?

  • Saluran cerna memiliki jutaan sel saraf yang terus berkomunikasi dengan otak melalui apa yang disebut gut–brain axis. Bila komunikasi ini terganggu, usus dapat menjadi terlalu sensitif. Gerakan usus dapat melambat atau terlalu cepat, sementara otak menerima sinyal nyeri yang berlebihan meskipun rangsangannya ringan. Akibatnya anak dapat mengalami nyeri perut, kembung, mual, cepat kenyang, konstipasi, atau diare tanpa ditemukan kelainan organ yang jelas.
  • Selain itu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa keseimbangan bakteri baik di usus, kondisi lapisan pelindung usus, dan aktivitas sistem imun juga berperan penting dalam munculnya gejala.

Apa Hubungannya dengan Alergi Makanan?

Inilah salah satu hal penting yang ditekankan dalam Rome V. Sebagian anak yang didiagnosis mengalami DGBI ternyata juga memiliki alergi makanan, terutama alergi makanan yang tidak dimediasi oleh antibodi IgE (non-IgE food allergy).

Pada kondisi ini, anak sering tidak mengalami ruam kulit atau bentol-bentol, sehingga alerginya sulit dikenali. Keluhannya justru berupa:

  • sulit makan
  • refluks atau sering muntah
  • sembelit
  • diare berulang
  • perut kembung
  • nyeri perut
  • berat badan sulit naik
  • gangguan tidur
  • batuk atau pilek berulang pada sebagian anak

Karena gejalanya sangat mirip dengan DGBI, dokter perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh agar tidak terjadi salah diagnosis.

Apakah Semua Sakit Perut Berarti Alergi?

  • Tidak. Sebagian besar anak dengan DGBI tidak mengalami alergi makanan. Namun, pada anak tertentu—terutama bila disertai gagal tumbuh, riwayat penyakit alergi dalam keluarga, muntah berulang, diare kronis, atau gejala yang tidak membaik dengan pengobatan biasa—dokter mungkin akan mempertimbangkan kemungkinan adanya alergi makanan atau penyakit organik lainnya.
  • Karena itu, diagnosis tidak boleh hanya berdasarkan satu gejala atau satu hasil pemeriksaan laboratorium.

Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?

  • Rome V menekankan bahwa diagnosis dimulai dari wawancara yang teliti mengenai keluhan anak, pemeriksaan fisik, pola pertumbuhan, riwayat makan, dan adanya tanda bahaya seperti penurunan berat badan, darah pada tinja, muntah hijau, demam berkepanjangan, atau anemia.
  • Pemeriksaan tambahan seperti tes darah, USG, endoskopi, atau pemeriksaan alergi hanya dilakukan bila memang diperlukan berdasarkan kondisi masing-masing anak. Dengan pendekatan ini, anak tidak perlu menjalani pemeriksaan yang berlebihan apabila tidak ada indikasi medis.

Mengapa Diagnosis yang Tepat Sangat Penting?

  • Bila anak benar-benar mengalami DGBI, pengobatan akan difokuskan pada perbaikan fungsi saluran cerna, pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, serta pengelolaan stres bila diperlukan.
  • Sebaliknya, bila penyebabnya adalah alergi makanan, penyakit celiac, atau penyakit lain, maka pengobatan harus disesuaikan dengan penyebab tersebut. Diagnosis yang tepat akan mencegah penggunaan obat yang tidak perlu maupun pantangan makanan yang berlebihan.

Pesan untuk Orang Tua

  • Apabila anak sering mengalami sakit perut, sulit makan, konstipasi, diare, atau berat badan sulit naik, jangan langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya hanya “maag”, “masuk angin”, atau sebaliknya langsung menganggap pasti alergi makanan. Banyak kondisi memiliki gejala yang mirip. Evaluasi oleh dokter diperlukan untuk menentukan apakah keluhan tersebut termasuk Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI), alergi makanan, atau penyakit lainnya.
  • Dengan pemahaman baru dari Rome V, dokter kini tidak hanya melihat gejala, tetapi juga memahami bagaimana otak, usus, sistem imun, dan mikrobiota saling berinteraksi. Pendekatan yang lebih menyeluruh ini diharapkan dapat memberikan diagnosis yang lebih tepat, mengurangi pemeriksaan yang tidak perlu, dan membantu anak memperoleh penanganan yang sesuai sehingga tumbuh dan berkembang secara optimal.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *