KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Mengapa Perilaku Anak Autisme atau ADHD Tiba-Tiba Memburuk? Apakah Hanya Karena Gangguan Perkembangan atau Ada Penyebab Medis yang Perlu Dicari?

Mengapa Perilaku Anak Autisme atau ADHD Tiba-Tiba Memburuk? Apakah Hanya Karena Gangguan Perkembangan atau Ada Penyebab Medis yang Perlu Dicari?

Tanya

Dok, anak saya laki-laki berusia 6 tahun sudah didiagnosis autisme dan rutin menjalani terapi. Awalnya perkembangannya cukup baik, tetapi dalam beberapa bulan terakhir perilakunya berubah. Ia menjadi lebih hiperaktif, sulit berkonsentrasi, sering mengamuk tanpa sebab yang jelas, mudah marah, sulit tidur, kadang memukul atau menggigit, bahkan gurunya mengatakan ia semakin sulit mengikuti pelajaran. Selain itu, anak saya juga sangat sulit makan, sering mengeluh perut sakit, kadang sembelit selama beberapa hari, perutnya sering kembung, dan berat badannya sulit naik. Apakah perubahan perilaku ini memang bagian dari autisme yang semakin berat, atau justru ada masalah kesehatan lain yang memengaruhi perilakunya? Pemeriksaan apa yang sebaiknya dilakukan sebelum menambah obat atau mengubah program terapinya?

Jawab

Perubahan perilaku yang muncul secara mendadak atau semakin berat pada anak dengan autisme, ADHD, maupun gangguan perkembangan lainnya tidak boleh langsung dianggap sebagai perkembangan alami penyakitnya. Banyak penelitian menunjukkan bahwa perubahan perilaku pada anak berkebutuhan khusus sering kali dipengaruhi oleh kondisi medis yang menyebabkan rasa tidak nyaman atau nyeri, tetapi anak tidak mampu mengungkapkannya melalui kata-kata. Akibatnya, keluhan tersebut muncul dalam bentuk perilaku seperti mengamuk, agresif, hiperaktif, menarik diri, menangis berlebihan, atau gangguan tidur.

Salah satu penyebab yang paling sering adalah gangguan saluran cerna. Konstipasi, nyeri perut, refluks gastroesofageal, perut kembung, diare, maupun gangguan motilitas usus lebih sering ditemukan pada anak dengan autisme dibandingkan anak tanpa autisme. Nyeri atau rasa tidak nyaman yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan iritabilitas, mengganggu konsentrasi, memperburuk perilaku, dan menurunkan kualitas tidur.

Selain gangguan saluran cerna, dokter juga perlu mencari kemungkinan adanya gangguan tidur. Anak yang kurang tidur atau tidurnya sering terbangun cenderung lebih hiperaktif, mudah marah, sulit berkonsentrasi, dan lebih sering mengalami ledakan emosi. Gangguan tidur pada anak berkebutuhan khusus dapat disebabkan oleh kebiasaan tidur yang kurang baik, refluks, nyeri, gangguan pernapasan saat tidur, maupun faktor neurologis.

Gangguan nutrisi juga perlu diperhatikan. Banyak anak autisme mengalami picky eating atau hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu. Pola makan yang sangat terbatas dapat menyebabkan kekurangan zat besi, vitamin D, vitamin B12, folat, seng, maupun zat gizi lainnya yang berperan dalam fungsi otak, sistem saraf, dan perilaku. Oleh karena itu, evaluasi status gizi merupakan bagian penting dalam penilaian anak berkebutuhan khusus.

Rome V juga menekankan bahwa Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI) merupakan gangguan biologis yang melibatkan komunikasi antara usus dan otak. Pada sebagian anak, gangguan motilitas usus, hipersensitivitas viseral, perubahan mikrobiota usus, dan aktivasi sistem imun mukosa dapat menyebabkan nyeri perut kronis, konstipasi, atau gangguan makan yang selanjutnya memengaruhi perilaku, emosi, dan kemampuan belajar. Dengan demikian, kondisi saluran cerna dan perilaku sering kali saling memengaruhi melalui mekanisme gut–brain axis.

Pada sebagian anak, terutama yang memiliki riwayat atopi atau gejala saluran cerna kronis, dokter juga dapat mempertimbangkan kemungkinan alergi makanan, khususnya alergi makanan non-IgE. Kondisi ini tidak selalu disertai ruam kulit atau hasil tes IgE yang positif, tetapi dapat menimbulkan refluks, muntah, konstipasi, diare, sulit makan, nyeri perut, maupun gangguan pertumbuhan. Namun, diagnosis alergi makanan harus ditegakkan berdasarkan evaluasi klinis yang menyeluruh sesuai pedoman internasional, bukan hanya berdasarkan dugaan atau hasil satu jenis pemeriksaan.

Sebelum memutuskan menambah obat untuk mengatasi hiperaktivitas atau perilaku agresif, dokter sebaiknya melakukan evaluasi yang komprehensif. Anamnesis mengenai pola tidur, pola makan, kebiasaan buang air besar, keluhan nyeri, riwayat infeksi, penggunaan obat, perubahan lingkungan, kondisi sekolah, dan perkembangan terapi perlu dilakukan secara sistematis. Pemeriksaan fisik lengkap juga penting untuk mencari kemungkinan penyakit organik yang mendasari perubahan perilaku.

Pendekatan terbaik pada anak berkebutuhan khusus adalah multidisiplin, melibatkan dokter anak, dokter tumbuh kembang, psikolog, terapis, ahli gizi, serta bila diperlukan dokter gastroenterologi anak atau spesialis lain. Dengan cara ini, penyebab perubahan perilaku dapat dikenali lebih dini sehingga penanganan tidak hanya berfokus pada gejala perilaku, tetapi juga mengatasi penyebab medis yang mendasarinya.

Kesimpulannya, perilaku yang memburuk pada anak autisme atau ADHD bukan selalu berarti gangguan perkembangannya semakin berat. Gangguan saluran cerna, gangguan tidur, masalah nutrisi, infeksi, nyeri, maupun kondisi medis lain dapat menjadi penyebab yang dapat diobati. Oleh karena itu, evaluasi medis yang menyeluruh perlu dilakukan sebelum menyimpulkan bahwa perubahan perilaku hanya disebabkan oleh gangguan perkembangan atau sebelum menambah terapi maupun obat-obatan.

Daftar Pustaka

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *