KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Anak Dipanggil Tidak Menoleh dan Belum Lancar Bicara, Apakah Pasti Autisme? Kenali Perbedaannya Sejak Dini

 

Anak Dipanggil Tidak Menoleh dan Belum Lancar Bicara, Apakah Pasti Autisme? Kenali Perbedaannya Sejak Dini

Tanya

Dok, anak saya laki-laki berusia 3 tahun sampai sekarang belum bisa berbicara lancar seperti teman-teman seusianya. Kalau ingin minum, makan, atau mengambil mainan, ia lebih sering menarik tangan saya ke arah benda yang diinginkannya atau menangis daripada mengucapkan kata-kata. Yang membuat saya semakin khawatir, kalau saya atau anggota keluarga memanggil namanya, ia sering tidak menoleh seolah-olah tidak mendengar. Tetapi anehnya, begitu terdengar lagu kesukaannya, suara iklan di televisi, atau bunyi notifikasi telepon, ia langsung menoleh dan mencari sumber suara tersebut. Ia juga lebih senang bermain sendiri, kadang berulang kali memutar roda mobil-mobilan atau menyusun mainan dengan cara yang sama, meskipun sesekali masih mau bermain dengan kakaknya. Banyak orang mengatakan anak saya pasti autisme, tetapi ada juga yang bilang hanya terlambat bicara dan nanti akan bisa sendiri. Saya jadi bingung dan takut terlambat memberikan pertolongan. Sebenarnya bagaimana cara membedakan anak yang hanya terlambat bicara dengan anak yang mengalami autisme? Apakah semua anak yang belum lancar bicara pasti autisme, dan pemeriksaan apa yang perlu dilakukan agar penyebabnya benar-benar diketahui?

Jawab, dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Tidak semua anak yang terlambat berbicara mengalami autisme. Keterlambatan bicara merupakan salah satu gangguan perkembangan yang cukup sering terjadi dan penyebabnya sangat beragam. Ada anak yang hanya mengalami keterlambatan perkembangan bahasa sehingga kemampuan sosialnya tetap baik, ada yang mengalami gangguan pendengaran, ada yang mengalami keterlambatan perkembangan secara menyeluruh, dan ada pula yang memang mengalami Gangguan Spektrum Autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD). Karena penyebabnya berbeda, penanganannya pun tidak sama.

Hal yang paling membedakan autisme dengan keterlambatan bicara biasa bukanlah banyak atau sedikitnya kata yang dapat diucapkan, melainkan kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Anak yang hanya terlambat bicara biasanya tetap senang bermain bersama orang tua, mudah melakukan kontak mata, tersenyum ketika diajak bercanda, menunjukkan benda yang menarik baginya, serta berusaha berkomunikasi dengan berbagai cara. Sebaliknya, pada anak dengan autisme sering ditemukan kesulitan menjalin interaksi sosial, kurang berbagi perhatian, dan lebih tertarik pada benda daripada berkomunikasi dengan orang di sekitarnya.

Banyak orang tua khawatir karena anak tidak menoleh saat dipanggil namanya. Kondisi ini memang merupakan salah satu tanda yang perlu diperhatikan, tetapi tidak selalu berarti anak mengalami gangguan pendengaran. Pada sebagian anak autisme, pendengarannya sebenarnya normal. Mereka dapat langsung menoleh ketika mendengar lagu favorit, suara iklan televisi, atau bunyi mainan yang disukai, tetapi tidak merespons ketika namanya dipanggil karena gangguan terletak pada perhatian sosial, bukan pada kemampuan mendengar. Meskipun demikian, setiap anak yang mengalami keterlambatan bicara tetap perlu menjalani pemeriksaan pendengaran untuk memastikan tidak ada gangguan pada fungsi telinga.

Selain keterlambatan bicara, dokter akan menilai apakah terdapat tanda lain yang mengarah ke autisme. Misalnya, apakah anak jarang melakukan kontak mata, tidak menunjuk untuk menunjukkan sesuatu yang menarik, tidak menoleh ketika diajak berbagi perhatian, lebih senang bermain sendiri, melakukan gerakan atau permainan yang berulang-ulang, sangat terpaku pada rutinitas tertentu, atau sangat sensitif terhadap suara, cahaya, maupun tekstur makanan. Semakin banyak tanda tersebut ditemukan, semakin besar kemungkinan anak mengalami gangguan spektrum autisme.

Sebaliknya, bila anak hanya terlambat berbicara tetapi masih senang berinteraksi, mudah tersenyum, mencari perhatian orang tua, senang bermain bersama teman, memahami perintah sederhana, dan tidak memiliki perilaku berulang yang khas, maka kemungkinan penyebabnya adalah keterlambatan bahasa atau gangguan perkembangan lain, bukan autisme. Oleh karena itu, dokter tidak dapat menegakkan diagnosis hanya berdasarkan satu gejala saja.

Dokter juga akan mencari kemungkinan penyebab lain yang dapat membuat anak terlambat berbicara, seperti gangguan pendengaran, keterlambatan perkembangan global, gangguan intelektual, gangguan perkembangan bahasa, kelainan genetik tertentu, maupun gangguan neurologis. Riwayat kehamilan, persalinan, tumbuh kembang, serta perkembangan motorik dan sosial anak juga akan dievaluasi secara menyeluruh. Dengan cara ini, penyebab sebenarnya dapat diketahui sehingga terapi yang diberikan lebih tepat sasaran.

Semakin dini penyebab keterlambatan perkembangan diketahui, semakin besar peluang anak untuk berkembang lebih baik. Otak anak usia di bawah lima tahun masih sangat mudah belajar dan membentuk hubungan antarsel saraf baru. Oleh karena itu, bila memang diperlukan terapi, hasilnya akan jauh lebih baik bila dimulai sedini mungkin dibandingkan menunggu sampai anak masuk sekolah. Menunggu dengan harapan anak akan berkembang sendiri dapat menyebabkan kesempatan emas perkembangan (golden period) terlewatkan.

Bila setelah evaluasi anak didiagnosis mengalami autisme, orang tua tidak perlu merasa putus asa. Saat ini tersedia berbagai bentuk intervensi yang terbukti membantu, seperti terapi wicara, terapi okupasi, stimulasi perkembangan, pelatihan komunikasi, edukasi orang tua, serta dukungan pendidikan sesuai kebutuhan anak. Tujuan terapi bukan untuk mengubah kepribadian anak, melainkan membantu anak berkomunikasi lebih baik, lebih mandiri, mampu berinteraksi dengan lingkungan, dan mencapai potensi terbaiknya.

Kesimpulannya, anak yang belum lancar berbicara tidak selalu mengalami autisme. Namun, bila keterlambatan bicara disertai tidak menoleh ketika dipanggil, kurang melakukan kontak mata, sulit berinteraksi, atau memiliki perilaku yang berulang-ulang, sebaiknya segera dilakukan evaluasi oleh dokter yang berpengalaman dalam tumbuh kembang anak. Diagnosis yang tepat sejak dini akan membantu menentukan terapi yang paling sesuai sehingga peluang perkembangan anak menjadi jauh lebih baik.

Perbedaan Keterlambatan Bicara, Autisme, dan Gangguan Lain

Yang Diamati Terlambat Bicara Autisme Gangguan Pendengaran Keterlambatan Perkembangan Menyeluruh
Bicara terlambat
Menoleh saat dipanggil Sering tidak Tidak Kadang terlambat
Menoleh saat mendengar lagu/iklan Biasanya tidak
Kontak mata Baik Sering berkurang Baik Bervariasi
Senang bermain dengan orang Sering kurang Bervariasi
Menunjuk untuk menunjukkan sesuatu Sering tidak Terlambat
Bermain pura-pura (masak-masakan, boneka) Terbatas Terlambat
Gerakan atau permainan berulang Tidak Sering ada Tidak Tidak khas
Sangat terpaku pada rutinitas Tidak Sering Tidak Tidak khas
Pemeriksaan utama Evaluasi bahasa Evaluasi tumbuh kembang Tes pendengaran Evaluasi perkembangan menyeluruh
Penanganan Terapi wicara bila perlu Intervensi dini multidisiplin Penanganan gangguan pendengaran Terapi sesuai penyebab

Daftar pustaka

  • Hyman SL, Levy SE, Myers SM, et al. Identification, Evaluation, and Management of Children With Autism Spectrum Disorder. Pediatrics. 2020;145(1):e20193447.
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Autism Spectrum Disorder (ASD): Signs and Symptoms. https://www.cdc.gov/autism/signs-symptoms/index.html

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *