Anak Sangat Aktif dan Sulit Fokus, Apakah Hanya Aktif Biasa atau Tanda ADHD? Kenali Perbedaannya Sejak Dini

Tanya
Dok, anak saya laki-laki berusia 4 tahun sejak usia sekitar 2 tahun sangat aktif dan hampir tidak pernah bisa diam. Di rumah ia terus berlari ke sana kemari, memanjat meja dan lemari, sering berpindah dari satu permainan ke permainan lain tanpa menyelesaikannya, serta sangat sulit duduk tenang walaupun hanya beberapa menit. Ketika dipanggil, ia sering seperti tidak mendengar, padahal pendengarannya normal. Di sekolah gurunya mengatakan anak saya sulit mengikuti instruksi, tidak dapat berkonsentrasi saat belajar, sering memotong pembicaraan, mengambil barang milik teman tanpa izin, dan sulit menunggu giliran. Meskipun kemampuan bicaranya cukup baik, perilakunya membuat proses belajar dan bersosialisasi menjadi terganggu. Apakah kondisi ini masih termasuk anak yang aktif normal karena usianya masih kecil, atau sudah mengarah ke Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan perkembangan lainnya? Pemeriksaan apa saja yang diperlukan agar diagnosisnya tepat dan anak memperoleh penanganan yang sesuai?

Jawab (dr Widodo Judarwanto, pediatrician)
Anak usia prasekolah memang secara alami lebih aktif dibandingkan anak yang lebih besar. Aktivitas fisik yang tinggi merupakan bagian dari proses perkembangan normal karena kemampuan motorik, rasa ingin tahu, dan eksplorasi lingkungan sedang berkembang pesat. Namun, aktivitas yang normal umumnya masih dapat dikendalikan sesuai situasi, misalnya anak mampu duduk tenang saat mendengarkan cerita, mengikuti instruksi sederhana, atau berhenti berlari ketika diminta. Sebaliknya, bila hiperaktivitas, impulsivitas, dan kesulitan memusatkan perhatian terjadi hampir setiap hari, berlangsung sedikitnya enam bulan, muncul di lebih dari satu lingkungan seperti rumah dan sekolah, serta mengganggu fungsi belajar, sosial, atau kehidupan sehari-hari, maka kondisi tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut.
Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan salah satu gangguan perkembangan saraf (neurodevelopmental disorder) yang ditandai oleh tiga kelompok gejala utama, yaitu inatensi (gangguan perhatian), hiperaktivitas, dan impulsivitas. Gejala tersebut muncul akibat gangguan regulasi jaringan saraf yang berperan dalam fungsi eksekutif otak, terutama pada korteks prefrontal dan hubungan dengan ganglia basalis serta sistem dopaminergik dan noradrenergik. Akibatnya, anak mengalami kesulitan mempertahankan perhatian, mengendalikan perilaku, mengatur aktivitas, dan menahan dorongan untuk bertindak.
Diagnosis ADHD tidak dapat ditegakkan hanya karena anak sangat aktif. Dokter harus memastikan bahwa gejala yang muncul sesuai dengan kriteria diagnostik internasional, seperti DSM-5-TR atau ICD-11, termasuk usia awal munculnya gejala, lama keluhan, derajat gangguan fungsi, serta adanya gangguan di lebih dari satu lingkungan. Penilaian juga memerlukan informasi dari orang tua, guru, dan bila memungkinkan hasil observasi langsung terhadap perilaku anak.
Selain ADHD, terdapat berbagai kondisi lain yang dapat memberikan gejala serupa sehingga harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding. Di antaranya adalah gangguan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD), gangguan perkembangan bahasa, gangguan intelektual, gangguan belajar spesifik, gangguan kecemasan, gangguan tidur, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, epilepsi tertentu, serta berbagai kondisi medis lain. Oleh karena itu, evaluasi perkembangan anak harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada tingkat aktivitasnya.
Kondisi kesehatan fisik juga dapat memengaruhi perilaku anak. Kurang tidur, anemia defisiensi besi, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, nyeri kronis, penyakit saluran cerna, konstipasi, maupun gangguan nutrisi dapat menyebabkan anak tampak lebih gelisah, mudah marah, sulit berkonsentrasi, dan sulit mengikuti kegiatan belajar. Karena itu, pemeriksaan medis dasar tetap merupakan bagian penting dalam evaluasi anak dengan dugaan ADHD.
Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan antara usus dan otak (gut–brain axis) berperan terhadap regulasi perilaku dan fungsi kognitif. Gangguan tidur, gangguan saluran cerna, perubahan mikrobiota usus, maupun kondisi medis kronis dapat memperburuk kemampuan perhatian dan regulasi emosi. Walaupun faktor-faktor tersebut bukan penyebab utama ADHD, keberadaannya dapat memperberat gejala sehingga perlu dikenali dan ditangani secara bersamaan.
Proses diagnosis ADHD sebaiknya dilakukan oleh dokter yang berpengalaman dalam bidang tumbuh kembang anak. Evaluasi meliputi wawancara mendalam mengenai riwayat kehamilan dan persalinan, perkembangan motorik, bahasa, sosial, perilaku, prestasi belajar, riwayat keluarga, pemeriksaan fisik dan neurologis, serta penggunaan instrumen penilaian perilaku yang telah tervalidasi. Pemeriksaan laboratorium atau pencitraan otak tidak dilakukan secara rutin, kecuali bila terdapat indikasi medis tertentu.
Apabila diagnosis ADHD telah ditegakkan, penanganan tidak hanya mengandalkan obat. Pedoman internasional merekomendasikan pendekatan yang bersifat multimodal, meliputi edukasi keluarga, pelatihan orang tua (parent training), intervensi perilaku, kerja sama dengan sekolah, terapi sesuai kebutuhan, serta pemberian obat pada pasien dengan indikasi yang jelas. Tujuan terapi bukan membuat anak menjadi pasif, tetapi membantu anak mengendalikan perhatian, perilaku, kemampuan belajar, dan interaksi sosial sehingga potensi perkembangannya dapat optimal.
Kesimpulannya, tidak semua anak yang sangat aktif pasti mengalami ADHD. Sebaliknya, hiperaktivitas yang menetap, disertai gangguan perhatian dan impulsivitas yang mengganggu fungsi sehari-hari juga tidak boleh dianggap sebagai “anak laki-laki memang aktif”. Evaluasi sejak dini sangat penting untuk membedakan variasi perkembangan normal dengan gangguan perkembangan saraf maupun kondisi medis lain yang dapat menyerupai ADHD. Diagnosis yang tepat memungkinkan anak memperoleh intervensi sedini mungkin sehingga hasil jangka panjang terhadap prestasi belajar, perilaku, dan kualitas hidup menjadi lebih baik.
Tabel Perbedaan Anak Aktif Normal, ADHD, dan Gangguan Spektrum Autisme (ASD)
| Aspek | Anak Aktif Normal | ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder) | Gangguan Spektrum Autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD) |
|---|---|---|---|
| Aktivitas fisik | Aktif sesuai usia, dapat berhenti bila diminta | Sangat aktif hampir sepanjang waktu, sulit mengendalikan gerakan | Dapat aktif atau justru pasif; sebagian anak tampak hiperaktif |
| Kemampuan duduk tenang | Mampu duduk saat makan, mendengar cerita, atau belajar sesuai usia | Sangat sulit duduk diam meskipun diminta berulang kali | Dapat duduk lama bila tertarik pada aktivitas tertentu, tetapi sulit pada aktivitas sosial |
| Perhatian | Dapat fokus pada permainan atau cerita yang disukai selama beberapa menit sesuai usia | Sangat mudah teralihkan, sulit mempertahankan perhatian pada hampir semua aktivitas | Fokus sangat baik pada minat tertentu, tetapi kurang memperhatikan interaksi sosial |
| Mengikuti instruksi | Umumnya mampu mengikuti instruksi sederhana | Sering gagal mengikuti instruksi karena perhatian mudah teralih | Sulit mengikuti instruksi terutama bila melibatkan komunikasi sosial atau bahasa |
| Impulsivitas | Kadang spontan sesuai usia | Sangat impulsif, sering bertindak tanpa berpikir, sulit menunggu giliran | Dapat impulsif, tetapi biasanya bukan gejala utama |
| Kontrol emosi | Tantrum berkurang sesuai bertambahnya usia | Mudah frustrasi, cepat marah, sulit mengendalikan emosi | Tantrum sering dipicu perubahan rutinitas, gangguan sensorik, atau kesulitan berkomunikasi |
| Interaksi sosial | Senang bermain bersama teman dan berbagi mainan | Ingin bermain dengan teman tetapi sering mengganggu karena impulsif | Kesulitan membangun interaksi sosial dua arah, lebih senang bermain sendiri |
| Kontak mata | Normal | Umumnya normal | Sering berkurang atau tidak konsisten |
| Respons saat dipanggil | Menoleh ketika dipanggil | Mendengar tetapi sering tidak merespons karena perhatian teralihkan | Kadang tampak tidak menoleh meskipun pendengaran normal karena gangguan perhatian sosial |
| Komunikasi verbal | Sesuai usia | Umumnya sesuai usia, tetapi sering memotong pembicaraan | Dapat terlambat bicara, menggunakan bahasa berulang (echolalia), atau komunikasi tidak sesuai konteks |
| Komunikasi nonverbal | Menggunakan ekspresi wajah, menunjuk, dan kontak mata dengan baik | Umumnya normal | Sering mengalami gangguan ekspresi wajah, gestur, dan berbagi perhatian (joint attention) |
| Permainan | Bermain imajinatif sesuai usia | Cepat bosan dan sering berpindah permainan | Cenderung memainkan benda dengan cara berulang atau tidak fungsional |
| Minat khusus | Beragam dan mudah berubah | Tidak khas | Memiliki minat yang sangat terbatas tetapi intens terhadap topik tertentu |
| Perilaku berulang | Tidak menetap | Tidak khas | Sangat khas, seperti mengepakkan tangan, memutar benda, menyusun mainan berulang, atau berjalan berjinjit |
| Sensitivitas sensorik | Normal | Kadang ada, tetapi ringan | Sangat sering, misalnya sensitif terhadap suara, cahaya, tekstur makanan, atau sentuhan |
| Rutinitas | Mudah menyesuaikan perubahan | Umumnya dapat beradaptasi | Sangat menyukai rutinitas dan sering marah bila terjadi perubahan |
| Prestasi belajar | Sesuai kemampuan | Terganggu terutama karena gangguan perhatian | Dapat sangat baik atau sangat kurang tergantung kemampuan intelektual dan komunikasi |
| Gangguan tidur | Kadang terjadi | Lebih sering mengalami kesulitan tidur | Sangat sering disertai gangguan tidur dan gangguan regulasi sensorik |
| Gangguan makan | Variatif sesuai usia | Tidak khas | Sangat sering mengalami food selectivity atau pilih-pilih makanan |
| Usia mulai tampak | Sesuai perkembangan normal | Biasanya sebelum usia 12 tahun, sering mulai tampak pada usia prasekolah | Umumnya sebelum usia 2–3 tahun |
| Penyebab utama | Variasi perkembangan normal | Gangguan neurodevelopmental dengan disfungsi regulasi perhatian dan kontrol impuls | Gangguan neurodevelopmental yang memengaruhi komunikasi sosial dan perilaku repetitif |
| Diagnosis | Tidak memerlukan diagnosis khusus | Berdasarkan kriteria DSM-5-TR atau ICD-11 setelah evaluasi menyeluruh | Berdasarkan DSM-5-TR atau ICD-11 dengan evaluasi perkembangan komprehensif |
| Penanganan utama | Edukasi dan stimulasi sesuai usia | Edukasi keluarga, parent training, terapi perilaku, dukungan sekolah, dan obat bila diperlukan | Intervensi dini, terapi wicara, terapi okupasi, terapi perilaku, pendidikan khusus, dan penanganan komorbid |
Pesan Penting
- Anak aktif normal masih dapat mengendalikan perilakunya sesuai situasi dan tidak mengalami gangguan bermakna dalam fungsi sehari-hari.
- Anak dengan ADHD umumnya memiliki keinginan untuk berinteraksi sosial, tetapi sulit mengendalikan perhatian, aktivitas, dan impuls sehingga sering mengalami masalah di rumah maupun sekolah.
- Anak dengan autisme memiliki gangguan utama pada komunikasi sosial dan interaksi, disertai perilaku atau minat yang berulang dan terbatas. Sebagian anak autisme juga mengalami hiperaktivitas sehingga dapat tampak mirip ADHD.
- ADHD dan autisme dapat terjadi bersamaan. Penelitian menunjukkan sekitar 30–70% anak dengan autisme juga memiliki gejala ADHD, sehingga evaluasi oleh dokter tumbuh kembang atau dokter anak yang berpengalaman sangat penting untuk menentukan diagnosis dan terapi yang tepat.

Daftar Pustaka
- Wolraich ML, Hagan JF Jr, Allan C, et al. Clinical Practice Guideline for the Diagnosis, Evaluation, and Treatment of Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder in Children and Adolescents. Pediatrics. 2019;144(4):e20192528. Tersedia di: https://publications.aap.org/pediatrics/article/144/4/e20192528
- American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). Washington, DC: American Psychiatric Association Publishing; 2022. Informasi: https://www.psychiatry.org/psychiatrists/practice/dsm










Leave a Reply