KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Dok, Benarkah Anakku Alergi, Padahal Tidak Ada Gangguan Kulit

Dok, Benarkah Anakku Alergi, Padahal Tidak Ada Gangguan Kulit

Tanya:

Dok, anak saya berusia 5 tahun tidak pernah mengalami biduran atau eksim, tetapi sejak usia bayi sering muntah, sulit makan, berat badan sulit naik, batuk-pilek hampir setiap bulan, beberapa kali didiagnosis bronkitis dan pernah dirawat karena bronkopneumonia. Sekarang ia juga sering hidung tersumbat, mendengkur saat tidur, dan kadang mengi ketika batuk. Selama ini saya mengira alergi makanan pasti disertai ruam kulit. Apakah mungkin semua keluhan tersebut justru berkaitan dengan alergi makanan meskipun tidak ada gejala pada kulit?

Jawab:

Anggapan bahwa alergi makanan selalu menimbulkan biduran, gatal, atau eksim merupakan salah satu miskonsepsi yang paling sering dijumpai. Secara ilmiah, alergi makanan adalah respons imun yang abnormal terhadap protein makanan, yang dapat dimediasi oleh mekanisme imunoglobulin E (IgE), non-IgE, maupun mekanisme campuran. Karena proses imun tersebut dapat terjadi pada berbagai organ target, manifestasi klinis tidak terbatas pada kulit, tetapi juga dapat mengenai saluran cerna, saluran napas, bahkan memengaruhi pertumbuhan anak. Berbagai pedoman internasional dari World Allergy Organization (WAO), European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), dan American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI) menegaskan bahwa tidak semua penderita alergi makanan menunjukkan gejala kulit.

Pada bayi dan anak usia dini, manifestasi saluran cerna sering kali lebih dominan dibandingkan kelainan kulit. Paparan protein makanan yang menjadi alergen dapat memicu aktivasi limfosit T, eosinofil, mastosit, dan berbagai sitokin proinflamasi pada mukosa usus. Proses inflamasi ini dapat mengganggu fungsi sawar usus (intestinal barrier), meningkatkan permeabilitas mukosa, serta menimbulkan gangguan motilitas dan absorpsi. Secara klinis, kondisi tersebut dapat bermanifestasi sebagai muntah, refluks gastroesofageal, nyeri perut, kolik, perut kembung, konstipasi, diare, maupun gangguan makan yang menetap.

Peradangan kronis pada saluran cerna juga dapat menjelaskan mengapa sebagian anak mengalami kesulitan makan dan gangguan pertumbuhan. Inflamasi mukosa menyebabkan rasa tidak nyaman saat makan, cepat kenyang, mual, serta penurunan nafsu makan. Selain itu, peningkatan kebutuhan energi akibat inflamasi kronis dan gangguan penyerapan nutrisi dapat menyebabkan berat badan sulit bertambah meskipun asupan kalori tampak cukup. Oleh karena itu, pemberian vitamin, suplemen, atau penambah nafsu makan sering kali tidak memberikan hasil optimal apabila proses inflamasi yang mendasarinya belum teratasi.

Hubungan antara alergi makanan dan kelainan saluran napas semakin banyak dilaporkan dalam berbagai penelitian. Aktivasi respons imun tipe 2 (type-2 inflammation) yang melibatkan sitokin seperti interleukin (IL)-4, IL-5, dan IL-13 dapat meningkatkan inflamasi mukosa saluran napas. Akibatnya, anak menjadi lebih mudah mengalami batuk kronis atau berulang, rinitis, hidung tersumbat, bersin berulang, mengi, serta eksaserbasi asma. Pada sebagian anak, inflamasi kronis tersebut juga berhubungan dengan hipertrofi adenoid, sinusitis kronis, maupun otitis media berulang akibat gangguan fungsi mukosa saluran napas atas.

Selain meningkatkan inflamasi, gangguan pada sawar mukosa saluran cerna dan saluran napas juga dapat memengaruhi mekanisme pertahanan terhadap infeksi. Mukosa yang mengalami inflamasi kronis menjadi lebih rentan terhadap kolonisasi mikroorganisme dan infeksi virus saluran napas. Oleh karena itu, beberapa anak dengan alergi makanan tampak mengalami batuk-pilek berulang, bronkitis, bronkopneumonia, atau infeksi telinga yang lebih sering dibandingkan anak lain. Meskipun demikian, hubungan ini bersifat multifaktorial sehingga infeksi berulang tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti adanya alergi makanan.

Perlu ditekankan bahwa gejala-gejala tersebut tidak bersifat spesifik. Batuk kronis, gagal tumbuh, konstipasi, atau infeksi saluran napas berulang dapat pula disebabkan oleh tuberkulosis, fibrosis kistik, penyakit refluks gastroesofageal, defisiensi imun, penyakit celiac, kelainan anatomi saluran napas, maupun penyakit kronis lainnya. Oleh karena itu, diagnosis alergi makanan harus ditegakkan melalui pendekatan klinis yang sistematis, termasuk anamnesis yang rinci, evaluasi pola hubungan antara konsumsi makanan dan timbulnya gejala, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang sesuai indikasi.

Banyak orang tua menganggap bahwa hasil tes IgE spesifik atau skin prick test merupakan penentu diagnosis. Secara ilmiah, kedua pemeriksaan tersebut hanya menunjukkan adanya sensitisasi imunologis, bukan membuktikan bahwa makanan tersebut benar-benar menyebabkan gejala klinis. Sebaliknya, pada alergi makanan non-IgE, hasil kedua pemeriksaan tersebut sering kali normal meskipun pasien memang mengalami penyakit akibat alergi makanan. Oleh karena itu, interpretasi hasil pemeriksaan laboratorium harus selalu dikaitkan dengan gambaran klinis dan tidak boleh digunakan secara terpisah.

Sampai saat ini, oral food challenge (OFC) yang dilakukan secara terstandar di bawah pengawasan dokter tetap merupakan gold standard untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis alergi makanan. OFC dilakukan setelah evaluasi klinis dan, bila diperlukan, periode eliminasi makanan yang terarah. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi hubungan sebab-akibat antara konsumsi suatu makanan dan timbulnya gejala secara lebih akurat dibandingkan hanya mengandalkan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis yang tepat sangat penting agar anak tidak menjalani pantangan makanan yang tidak perlu, sekaligus memastikan bahwa penyebab utama gangguan pertumbuhan, gangguan saluran cerna, maupun keluhan saluran napas dapat ditangani secara optimal sesuai prinsip kedokteran berbasis bukti.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *