Sakit Perut Berulang pada Anak, Apakah Karena Alergi Makanan? Mengenal Hubungan Alergi Makanan dan Irritable Bowel Syndrome (IBS)
Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Banyak orang tua mengeluhkan anaknya sering sakit perut, kembung, sembelit, atau diare yang datang dan pergi. Tidak sedikit yang menduga penyebabnya adalah alergi makanan sehingga berbagai jenis makanan langsung dihentikan. Padahal, tidak semua keluhan pencernaan disebabkan oleh alergi. Salah satu penyebab yang cukup sering adalah Irritable Bowel Syndrome (IBS), yaitu gangguan fungsi saluran cerna yang cukup sering terjadi pada anak.
IBS bukanlah penyakit yang merusak usus. Pada pemeriksaan laboratorium, USG, atau endoskopi, usus biasanya tampak normal. Masalahnya terletak pada cara kerja saluran cerna yang menjadi lebih sensitif serta terganggunya komunikasi antara otak dan usus. Akibatnya, anak mudah mengalami nyeri perut, perut kembung, sembelit, diare, atau keduanya secara bergantian.
Banyak anak dengan IBS merasa gejalanya muncul setelah makan makanan tertentu. Karena itu, orang tua sering menyimpulkan bahwa anak mengalami alergi makanan. Namun penelitian menunjukkan bahwa perasaan “makanan tertentu membuat gejala kambuh” tidak selalu berarti anak benar-benar alergi terhadap makanan tersebut. Pada banyak kasus, penyebabnya justru adalah intoleransi makanan atau usus yang memang lebih sensitif.
Apa Itu IBS?
- IBS (Irritable Bowel Syndrome) adalah gangguan fungsi saluran cerna yang menyebabkan anak sering mengalami sakit perut berulang disertai perubahan pola buang air besar. Ada anak yang lebih sering sembelit, ada yang lebih sering diare, dan ada pula yang bergantian mengalami keduanya.
- IBS tidak menyebabkan luka, infeksi, ataupun kerusakan permanen pada usus. Namun keluhan yang muncul dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, membuat anak sulit makan, sering tidak masuk sekolah, bahkan menurunkan kualitas hidup.
Apa Saja Gejalanya?
- Gejala IBS pada setiap anak bisa berbeda-beda. Keluhan yang paling sering adalah nyeri atau rasa tidak nyaman di perut yang muncul berulang, terutama setelah makan atau menjelang buang air besar. Nyeri sering kali membaik setelah anak buang air besar.
- Selain sakit perut, anak dapat mengalami sembelit, diare, perut kembung, banyak gas, mual, rasa ingin buang air besar terus tetapi tidak tuntas, lendir pada tinja, nafsu makan menurun, bahkan sakit kepala dan mudah lelah. Pada sebagian anak, keluhan dapat memburuk ketika sedang stres, cemas, atau setelah mengalami infeksi saluran cerna.
Apakah IBS dan Anak Alergi Makanan
- Banyak penelitian menunjukkan bahwa sekitar 20–65% penderita IBS merasa gejalanya dipicu oleh makanan tertentu
- Sebagian mengalami intoleransi makanan, misalnya terhadap laktosa, fruktosa, makanan berlemak, makanan pedas, minuman berkafein, atau makanan yang mudah menghasilkan gas di usus. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh tidak terlibat seperti pada alergi.
Apa Bedanya Alergi dan Intoleransi Makanan?
- Alergi makanan terjadi karena sistem kekebalan tubuh menganggap protein makanan sebagai “musuh” sehingga memicu reaksi imun. Gejalanya dapat berupa gatal, ruam, bengkak, muntah, diare, hingga sesak napas pada kasus yang berat.
- Sebaliknya, intoleransi makanan tidak melibatkan sistem imun. Keluhan biasanya muncul karena tubuh sulit mencerna komponen makanan tertentu, misalnya kekurangan enzim laktase pada intoleransi laktosa atau sensitivitas terhadap jenis karbohidrat tertentu. Gejalanya lebih sering berupa kembung, nyeri perut, diare, atau banyak gas.
Mengapa Anak dengan IBS Bisa Sensitif terhadap Makanan?
- Para peneliti menduga ada beberapa penyebab yang saling berhubungan. Usus pada anak dengan IBS lebih sensitif terhadap peregangan, keseimbangan bakteri usus (mikrobiota) dapat berubah, komunikasi antara otak dan usus terganggu, dan pada sebagian anak pernah terjadi infeksi saluran cerna yang menyebabkan peradangan ringan berkepanjangan.
- Kondisi-kondisi tersebut membuat usus lebih mudah bereaksi terhadap makanan tertentu meskipun makanan tersebut sebenarnya tidak menyebabkan alergi.
Bagaimana Memastikan Apakah Anak Benar-Benar Alergi Makanan?
- Diagnosis alergi makanan tidak boleh hanya berdasarkan dugaan orang tua, pengalaman sehari-hari, atau hasil tes alergi saja.
- Tes alergi seperti skin prick test maupun pemeriksaan IgE spesifik hanya membantu menunjukkan adanya sensitisasi dan tidak dapat memastikan bahwa makanan tersebut benar-benar menjadi penyebab gejala pencernaan. Bahkan penelitian menunjukkan banyak penderita IBS memiliki hasil tes alergi positif tetapi tidak mengalami alergi makanan yang sebenarnya.
- Bila dokter mencurigai adanya alergi makanan, biasanya dilakukan evaluasi menyeluruh, termasuk riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, uji eliminasi makanan secara terarah, dan bila diperlukan dilakukan Oral Food Challenge (OFC) di bawah pengawasan dokter yang berpengalaman. OFC merupakan standar emas (gold standard) untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan alergi.
Bagaimana Penanganan IBS pada Anak?
- Penanganan IBS dilakukan sesuai penyebab dan gejala masing-masing anak. Dokter biasanya menganjurkan pola makan yang seimbang, cukup minum, aktivitas fisik yang teratur, mengatasi stres atau kecemasan bila ada, serta memberikan obat sesuai keluhan seperti sembelit, diare, atau nyeri perut.
- Apabila dicurigai ada alergi makanan, penghindaran makanan sebaiknya dilakukan hanya setelah diagnosis ditegakkan, bukan berdasarkan dugaan semata. Penghindaran makanan yang tidak perlu justru dapat menyebabkan kekurangan gizi, mengganggu pertumbuhan, dan membatasi variasi makanan anak tanpa memberikan manfaat.
Pesan untuk Orang Tua
Tidak semua sakit perut berulang pada anak berarti alergi makanan. Sebagian besar anak dengan IBS mengalami gangguan fungsi saluran cerna, bukan reaksi alergi. Oleh karena itu, jangan terburu-buru menghilangkan banyak jenis makanan dari menu anak hanya karena hasil tes alergi atau dugaan pribadi. Bila terdapat kecurigaan alergi makanan, konsultasikan dengan dokter agar dilakukan evaluasi yang tepat. Bila diperlukan, Oral Food Challenge (OFC) merupakan pemeriksaan terbaik untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menjadi penyebab keluhan, sehingga anak memperoleh pengobatan yang tepat sekaligus terhindar dari pembatasan makanan yang tidak diperlukan.
Daftar Pustaka
- Choung RS, Talley NJ. Food Allergy and Intolerance in IBS. Gastroenterology & Hepatology (N Y). 2006;2(10):756–760.
- Drossman DA, Tack J, Ford AC, et al. Rome IV—Disorders of Gut-Brain Interaction. Gastroenterology. 2016.
- Hyams JS, Di Lorenzo C, Saps M, et al. Functional Gastrointestinal Disorders: Children and Adolescents. Rome IV Criteria. Rome Foundation. 2016.
- Venter C, Brown T, Meyer R, et al. Better recognition, diagnosis and management of non-IgE-mediated food allergy in childhood. Clin Transl Allergy. 2017;7:26.
- Nowak-Węgrzyn A, Katz Y, Mehr SS, Koletzko S. Non-IgE-mediated gastrointestinal food allergy. J Allergy Clin Immunol. 2015;135(5):1114–1124.













Leave a Reply