KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Hubungan Alergi Makanan dan Rinitis Alergi pada Anak: Tinjauan Ilmiah tentang Mekanisme, Bukti Klinis, dan Implikasi terhadap Diagnosis

Hubungan Alergi Makanan dan Rinitis Alergi pada Anak: Tinjauan Ilmiah tentang Mekanisme, Bukti Klinis, dan Implikasi terhadap Diagnosis

Berdasarkan: Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, Varghese AM. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to Future Research. Sultan Qaboos University Medical Journal. 2018;18(1):e30-e33.

Rinitis alergi merupakan salah satu penyakit alergi kronis yang paling sering dijumpai pada anak maupun dewasa. Diperkirakan 10–30% populasi dunia mengalami rinitis alergi, dengan prevalensi tertinggi pada anak usia sekolah dan remaja. Walaupun tidak meningkatkan angka kematian secara langsung, rinitis alergi menimbulkan dampak yang besar terhadap kualitas hidup, kualitas tidur, prestasi belajar, fungsi kognitif, serta produktivitas keluarga.

Selama bertahun-tahun, rinitis alergi lebih banyak dikaitkan dengan alergen hirup seperti tungau debu rumah, serbuk sari (pollen), bulu binatang, jamur, dan kecoa. Namun, penelitian dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa alergi makanan juga berpotensi berperan dalam perjalanan penyakit alergi, termasuk meningkatkan risiko terjadinya rinitis alergi di kemudian hari. Hubungan ini belum sepenuhnya dipahami, tetapi semakin banyak bukti ilmiah yang menunjukkan adanya keterkaitan melalui mekanisme imunologi dan fenomena atopic march.


Apa Itu Rinitis Alergi?

Rinitis alergi adalah peradangan kronis pada mukosa hidung yang dimediasi oleh sistem imun, terutama imunoglobulin E (IgE), setelah seseorang terpapar alergen tertentu. Gejala utama meliputi:

  • bersin berulang,
  • hidung gatal,
  • hidung tersumbat,
  • pilek bening,
  • mata gatal atau berair,
  • gangguan tidur,
  • kelelahan,
  • penurunan konsentrasi.

Pada anak, rinitis alergi sering menyebabkan gangguan belajar, mengantuk di sekolah, hingga penurunan kualitas hidup.


Apakah Alergi Makanan Berhubungan dengan Rinitis Alergi?

  • Penelitian menunjukkan bahwa alergi makanan bukan penyebab langsung semua kasus rinitis alergi, tetapi dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit alergi saluran napas.
  • Hubungan tersebut dijelaskan melalui konsep atopic march, yaitu perjalanan alami penyakit alergi yang dimulai sejak usia dini. Pada sebagian anak, alergi makanan atau dermatitis atopik muncul terlebih dahulu pada masa bayi, kemudian berkembang menjadi asma dan akhirnya rinitis alergi ketika usia prasekolah atau sekolah.
  • Dengan demikian, alergi makanan dipandang sebagai penanda awal adanya kecenderungan sistem imun alergik (atopi) yang dapat berkembang menjadi manifestasi alergi lain.

Mekanisme Hubungan Alergi Makanan dan Rinitis Alergi

Secara imunologis, alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh mengenali protein makanan sebagai zat berbahaya.

Pada individu yang rentan secara genetik:

  1. Protein makanan menembus sawar mukosa usus.
  2. Sel imun memproduksi antibodi IgE terhadap protein tersebut.
  3. IgE melekat pada sel mast dan basofil.
  4. Paparan ulang memicu pelepasan histamin serta mediator inflamasi.
  5. Terjadi inflamasi kronis yang tidak hanya mengenai saluran cerna, tetapi juga dapat memengaruhi kulit dan saluran napas.

Pada sebagian anak, proses inflamasi sistemik ini diduga meningkatkan sensitivitas terhadap alergen hirup sehingga mempermudah munculnya rinitis alergi.


Konsep Atopic March

Konsep atopic march menjelaskan bahwa penyakit alergi sering berkembang secara bertahap.

Tahapan yang paling sering dijumpai adalah:

Alergi makanan → Dermatitis atopik → Asma → Rinitis alergi

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa perjalanan tersebut tidak selalu sama pada setiap anak. Ada anak yang hanya mengalami alergi makanan, ada yang hanya mengalami rinitis alergi, dan ada pula yang mengalami seluruh manifestasi alergi secara bersamaan.

Oleh karena itu, atopic march bukan satu-satunya mekanisme yang menjelaskan hubungan antarpenyakit alergi.


Bukti Penelitian pada Anak

Beberapa penelitian kohort menunjukkan hubungan yang cukup kuat antara alergi makanan dan rinitis alergi.

Dalam penelitian kohort di Swedia oleh Goksör dkk., sekitar 40% bayi yang mengalami alergi makanan kemudian mengalami rinitis alergi pada usia 8 tahun.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa:

  • alergi makanan rata-rata muncul pada usia 1 tahun 2 bulan,
  • sedangkan diagnosis rinitis alergi baru ditegakkan sekitar usia 4 tahun 9 bulan.

Temuan ini menunjukkan bahwa alergi makanan sering muncul lebih dahulu dibandingkan rinitis alergi.


Penelitian lain oleh Hill dkk. terhadap anak dengan alergi makanan menunjukkan bahwa sekitar 35% kemudian mengalami rinitis alergi.

Risiko terbesar ditemukan pada anak dengan alergi:

  • susu sapi,
  • telur,
  • kacang tanah.

Anak yang memiliki lebih dari satu alergi makanan mempunyai risiko lebih tinggi mengalami rinitis alergi dibandingkan anak dengan satu jenis alergi makanan saja.


Mengapa Tidak Semua Anak dengan Alergi Makanan Mengalami Rinitis?

Hal ini disebabkan karena perkembangan penyakit alergi dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain:

  • faktor genetik,
  • epigenetik,
  • kerusakan sawar kulit,
  • kerusakan sawar usus,
  • paparan mikrobiota,
  • infeksi virus,
  • paparan polusi udara,
  • asap rokok,
  • paparan alergen lingkungan.

Dengan kata lain, alergi makanan hanyalah salah satu faktor risiko, bukan satu-satunya penyebab.


Implikasi Klinis bagi Dokter

Pada anak yang mengalami:

  • rinitis alergi berat,
  • sulit membaik meskipun terapi optimal,
  • disertai dermatitis atopik,
  • gangguan pencernaan kronis,
  • gagal tumbuh,
  • atau riwayat reaksi terhadap makanan,

dokter perlu mempertimbangkan kemungkinan adanya alergi makanan sebagai bagian dari spektrum penyakit alergi.

Namun, diagnosis tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan dugaan, pengalaman orang tua, atau hasil tes IgE maupun skin prick test saja.


Peran Oral Food Challenge (OFC)

  • Meskipun beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara alergi makanan dan rinitis alergi, belum ada bukti bahwa semua anak dengan rinitis alergi harus menjalani eliminasi makanan.
  • Sebelum suatu makanan dihindari, diagnosis alergi makanan harus dipastikan.
  • Saat ini, Oral Food Challenge (OFC) yang dilakukan di bawah pengawasan dokter berpengalaman tetap merupakan gold standard untuk menegakkan diagnosis alergi makanan.
  • Pendekatan ini penting untuk mencegah overdiagnosis serta pembatasan makanan yang tidak diperlukan dan berisiko menyebabkan kekurangan gizi pada anak.

Tabel 1. Bukti Hubungan Alergi Makanan dengan Rinitis Alergi

Temuan Keterangan Ilmiah
Alergi makanan meningkatkan risiko rinitis alergi Didukung beberapa penelitian kohort prospektif
Tidak semua penderita rinitis memiliki alergi makanan Benar
Tidak semua alergi makanan berkembang menjadi rinitis Benar
Alergi susu, telur, dan kacang tanah memiliki hubungan paling kuat Ya
Anak dengan banyak alergi makanan berisiko lebih tinggi Ya
Mekanisme utama Atopic march, disregulasi imun, inflamasi sistemik
Diagnosis alergi makanan Tidak cukup berdasarkan IgE/SPT
Gold standard diagnosis Oral Food Challenge (OFC)

Tabel 2. Faktor yang Berkontribusi terhadap Terjadinya Rinitis Alergi

Faktor Peran
Genetik Meningkatkan predisposisi atopi
Alergi makanan Faktor risiko awal
Dermatitis atopik Bagian dari atopic march
Asma Sering berhubungan dengan rinitis
Paparan tungau debu Pencetus utama rinitis
Serbuk sari Pencetus penting di beberapa wilayah
Polusi udara Memperberat inflamasi hidung
Asap rokok Memperburuk gejala
Infeksi virus berulang Dapat memperberat inflamasi saluran napas
Mikrobiota usus Berperan dalam regulasi sistem imun

Saran Praktis

  • Jangan menganggap semua rinitis alergi hanya disebabkan oleh debu, udara dingin, atau perubahan cuaca. Pada sebagian anak, alergi makanan dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap berkembangnya penyakit alergi, terutama bila disertai dermatitis atopik, asma, atau gangguan pencernaan kronis.
  • Evaluasi anak secara menyeluruh bila rinitis alergi disertai gejala saluran cerna, seperti muntah berulang, refluks (GERD), diare kronis, konstipasi, darah atau lendir pada tinja, serta pertumbuhan yang kurang optimal.
  • Jangan menghindari makanan hanya berdasarkan hasil tes IgE spesifik atau skin prick test. Hasil tersebut menunjukkan sensitisasi, bukan selalu alergi yang bermakna secara klinis.
  • Oral Food Challenge (OFC) tetap merupakan standar emas (gold standard) untuk memastikan diagnosis alergi makanan dan sebaiknya dilakukan di bawah pengawasan dokter yang berpengalaman.
  • Pengelolaan rinitis alergi harus mencakup pengendalian alergen inhalan, terapi farmakologis sesuai indikasi, serta identifikasi faktor komorbid yang dapat memperberat penyakit, termasuk kemungkinan alergi makanan pada pasien tertentu.

Kesimpulan

Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi kronis yang kompleks dan bersifat multifaktorial. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa alergi makanan dapat menjadi salah satu faktor risiko dalam perkembangan rinitis alergi, terutama melalui mekanisme atopic march dan disregulasi sistem imun pada individu yang memiliki predisposisi genetik. Namun, hubungan ini tidak bersifat sebab-akibat langsung dan tidak berlaku pada semua pasien. Oleh karena itu, pendekatan diagnostik harus dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan riwayat klinis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang yang tepat. Pada dugaan alergi makanan, Oral Food Challenge (OFC) tetap menjadi pemeriksaan paling akurat untuk mengonfirmasi diagnosis sebelum dilakukan eliminasi makanan. Pendekatan berbasis bukti ini membantu menghindari diagnosis berlebihan, mencegah pembatasan diet yang tidak perlu, dan memastikan tata laksana yang optimal bagi anak dengan penyakit alergi.

DAFTAR PUSTAKA

  • Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, Varghese AM. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to future research. Sultan Qaboos Univ Med J. 2018 Feb;18(1):e30-e33. doi: 10.18295/squmj.2018.18.01.005. Epub 2018 Apr 4. PMID: 29666678; PMCID: PMC5892810.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *