BATERAI KANCING PADA ANAK: MEKANISME CEDERA, DIAGNOSIS, DAN TATALAKSANA EMERGENSI
Audi Yudhasmara, Widodo Jydarwanto
Tertelan baterai kancing merupakan kegawatdaruratan pada anak, terutama apabila baterai mengalami impaksi di esofagus. Berbeda dengan sebagian besar benda asing saluran cerna yang dapat melewati saluran pencernaan secara spontan, baterai kancing dapat menyebabkan cedera jaringan yang progresif melalui mekanisme elektrokimia. Ketika baterai bersentuhan dengan jaringan yang lembap, arus listrik menghasilkan ion hidroksida pada kutub negatif baterai sehingga meningkatkan pH lokal dan menyebabkan nekrosis likuefaktif. Cedera dapat berkembang menjadi ulserasi, perforasi, fistula, striktur, bahkan komplikasi vaskular yang mengancam jiwa. Kondisi ini dapat terjadi meskipun anak awalnya asimtomatik. Karena itu, diagnosis dan lokalisasi baterai harus dilakukan segera dengan pemeriksaan radiografi. Baterai yang terimpaksi di esofagus merupakan indikasi ekstraksi emergensi, idealnya dalam waktu kurang dari 2 jam sejak tertelan atau sejak diagnosis. Pemberian madu pada anak berusia lebih dari 12 bulan dalam 12 jam pertama dapat dipertimbangkan sebagai tindakan protektif sementara sesuai pedoman, tetapi tidak boleh menunda transportasi maupun ekstraksi.
Baterai kancing merupakan sumber benda asing yang memiliki karakteristik khusus pada anak. Ukurannya kecil, berbentuk bulat, permukaannya mengilap, dan mudah ditemukan pada berbagai perangkat elektronik seperti mainan, jam, remote control, kalkulator, serta perangkat elektronik rumah tangga. Karakteristik tersebut membuat baterai mudah tertelan oleh anak, terutama pada usia yang masih mengeksplorasi benda dengan memasukkannya ke dalam mulut.
Sebagian besar baterai yang telah melewati esofagus dapat melewati saluran cerna tanpa komplikasi. Masalah paling serius terjadi ketika baterai tertahan di esofagus. Dalam keadaan tersebut, baterai tidak hanya bertindak sebagai benda asing mekanis, tetapi dapat menyebabkan cedera kimia dan elektrokimia yang progresif. Cedera berat bahkan dapat terjadi dalam waktu sekitar 2 jam.
MEKANISME CEDERA
- Mekanisme utama cedera baterai kancing berbeda dari benda asing biasa. Ketika baterai berkontak dengan jaringan yang lembap, terjadi reaksi elektrokimia yang menghasilkan ion hidroksida terutama pada kutub negatif baterai. Peningkatan pH lokal menyebabkan kerusakan jaringan yang bersifat alkalis dan dapat berkembang menjadi nekrosis likuefaktif.
- Proses tersebut dapat menyebabkan cedera mukosa yang semakin dalam. Kerusakan dapat meluas dari mukosa menuju lapisan yang lebih dalam dan akhirnya menyebabkan perforasi. Pada kasus berat, cedera dapat membentuk fistula dengan struktur di sekitar esofagus. Komplikasi juga dapat muncul setelah baterai dikeluarkan karena proses kerusakan jaringan dapat tetap berlangsung.
LOKASI MENENTUKAN RISIKO
- Baterai yang berada di esofagus merupakan kondisi dengan risiko tertinggi. Lama kontak antara baterai dan mukosa menjadi faktor penting dalam menentukan beratnya cedera.
- Baterai yang sudah berada di lambung atau usus umumnya memiliki risiko lebih rendah dibandingkan baterai yang terimpaksi di esofagus, terutama bila anak tidak menunjukkan gejala dan baterai hanya satu. Namun, keputusan observasi tetap mempertimbangkan usia anak, diameter baterai, jumlah baterai, gejala, dan kemungkinan adanya cedera esofagus sebelumnya.
GEJALA TIDAK SELALU MENCERMINKAN BERATNYA CEDERA
- Salah satu masalah penting dalam kasus baterai kancing adalah gejala awal yang dapat minimal atau bahkan tidak ada.
- Anak dapat terlihat sehat setelah kejadian. Riwayat tertelan juga sering tidak disaksikan oleh orang tua atau pengasuh. Gejala yang muncul dapat tidak spesifik, seperti muntah, sulit menelan, nyeri, batuk, drooling, demam, atau penolakan makan. Gejala tersebut dapat menyerupai penyakit anak yang umum.
- Karena itu, tidak adanya gejala tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan baterai masih berada di esofagus.
DIAGNOSIS
- Jika terdapat dugaan anak menelan baterai kancing, prioritas pertama adalah menentukan lokasi baterai.
- Radiografi merupakan pemeriksaan penting untuk menentukan posisi baterai. Pemeriksaan harus mencakup area yang memungkinkan identifikasi lokasi baterai dari esofagus hingga abdomen sesuai kondisi klinis dan protokol setempat.
- Baterai kancing biasanya memberikan gambaran radiopak. Pada radiografi, karakteristik bentuk baterai dapat membantu membedakannya dari koin. Evaluasi harus mencakup lokasi, ukuran, jumlah, serta kemungkinan tanda cedera atau komplikasi.
PRINSIP TATALAKSANA
- Bila baterai berada di esofagus, ekstraksi harus dilakukan secara emergensi. Pedoman ESPGHAN merekomendasikan pengeluaran segera, idealnya dalam waktu kurang dari 2 jam.
- Kecepatan tindakan sangat penting karena cedera berat dapat berkembang dalam waktu singkat. Pada kondisi ini, pasien perlu segera dirujuk ke fasilitas yang mampu melakukan ekstraksi endoskopik atau prosedur definitif lain sesuai lokasi dan kondisi pasien.
- Pemeriksaan dan persiapan tindakan tidak boleh menyebabkan keterlambatan yang tidak perlu. Baterai tetap harus dikeluarkan secepat mungkin.
MADU SEBAGAI TINDAKAN SEMENTARA
- Pada anak berusia lebih dari 12 bulan, bila baterai diduga tertelan dalam waktu kurang dari 12 jam dan anak mampu menelan, beberapa pedoman merekomendasikan pemberian madu sebagai tindakan sementara untuk mengurangi kedalaman cedera sebelum baterai dikeluarkan. Dosis yang digunakan dalam pedoman National Capital Poison Center adalah 10 mL atau 2 sendok teh setiap 10 menit, hingga 6 dosis.
- Madu bukan terapi definitif. Pemberian madu tidak boleh menunda perjalanan ke rumah sakit, pemeriksaan radiografi, konsultasi spesialis, maupun ekstraksi baterai. Madu juga tidak diberikan kepada bayi berusia kurang dari 12 bulan karena risiko botulisme.
KOMPLIKASI
Komplikasi baterai kancing dapat meliputi:
- Nekrosis mukosa esofagus
- Ulserasi
- Perforasi esofagus
- Fistula trakeoesofageal
- Fistula esofagovaskular
- Perdarahan
- Striktur esofagus
- Gangguan menelan
- Komplikasi infeksi
- Kematian pada cedera berat
Komplikasi tertentu dapat muncul terlambat setelah baterai dikeluarkan. Karena itu, pasien dengan cedera esofagus memerlukan pemantauan klinis yang sesuai dan tindak lanjut setelah ekstraksi.
KESIMPULAN
- Tertelan baterai kancing pada anak merupakan kegawatdaruratan yang membutuhkan diagnosis dan tindakan cepat. Bahaya utama terjadi ketika baterai terimpaksi di esofagus. Mekanisme cedera terutama berkaitan dengan reaksi elektrokimia yang menghasilkan ion hidroksida dan menyebabkan kerusakan jaringan progresif.
- Anak dapat tetap asimtomatik meskipun cedera sedang berlangsung. Karena itu, kecurigaan klinis harus diikuti dengan lokalisasi baterai menggunakan radiografi. Bila baterai berada di esofagus, ekstraksi merupakan tindakan emergensi dan idealnya dilakukan dalam waktu kurang dari 2 jam.
- Pemberian madu pada anak berusia lebih dari 12 bulan dalam 12 jam pertama dapat dipertimbangkan sebagai tindakan sementara sesuai pedoman, tetapi tidak boleh menghambat transportasi dan ekstraksi. Pencegahan tetap menjadi strategi utama melalui penyimpanan baterai yang aman dan penggunaan kompartemen baterai yang tidak mudah dibuka oleh anak.
DAFTAR PUSTAKA
- Mubarak A, Benninga MA, Broekaert I, et al. Diagnosis, Management, and Prevention of Button Battery Ingestion in Childhood: European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition Position Paper. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2021;73(1):129-136.
- Kramer RE, Lerner DG, Lin T, et al. Management of Ingested Foreign Bodies in Children: A Clinical Report of the NASPGHAN Endoscopy Committee. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2015;60(4):562-574.
- National Capital Poison Center. Button Battery Ingestion Triage and Treatment Guideline.
- Litovitz T, Whitaker N, Clark L. Preventing Battery Ingestions: An Analysis of 8648 Cases. Pediatrics. 2010;125(6):1178-1183.
- Anfang RR, Jatana KR, Linn RL, Rhoades K, Fry J, Jacobs IN. pH-neutralizing esophageal irrigations as a novel mitigation strategy for button battery injury. Laryngoscope. 2019;129(1):49-57.













Leave a Reply