KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

PENELITIAN TERKINI : Konsumsi Makanan Ultra-Proses Berhubungan dengan Penurunan Aktivitas Fisik Anak Prasekolah, Bukti dari Studi Kohort Dua Tahun

PENELITIAN TERKINI : Konsumsi Makanan Ultra-Proses Berhubungan dengan Penurunan Aktivitas Fisik Anak Prasekolah, Bukti dari Studi Kohort Dua Tahun

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam European Journal of Pediatrics pada 29 Juli 2026 menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultra-proses atau ultraprocessed foods (UPF) sejak usia prasekolah dapat memengaruhi pola aktivitas harian anak. Penelitian berjudul “Can Ultraprocessed Food Intake Affect Activity Levels in Preschoolers?” menemukan bahwa anak usia 4 hingga 5 tahun yang mengonsumsi UPF dalam jumlah lebih tinggi memiliki peluang lebih kecil untuk memenuhi rekomendasi gerak selama 24 jam setelah diikuti selama dua tahun. Temuan ini memperkuat bukti bahwa kualitas pola makan sejak usia dini berpengaruh terhadap perilaku aktif anak.

Penelitian ini merupakan studi kohort prospektif yang mengikuti anak-anak prasekolah selama dua tahun. Pada awal penelitian, peneliti menilai pola konsumsi makanan menggunakan kuesioner frekuensi makan yang telah divalidasi. Seluruh makanan kemudian dikelompokkan berdasarkan klasifikasi NOVA untuk menentukan proporsi makanan ultra-proses dalam pola makan setiap anak. Selanjutnya, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok atau tertil berdasarkan tingkat konsumsi UPF, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Setelah dua tahun, peneliti mengevaluasi kembali aktivitas fisik, lama tidur, dan durasi penggunaan layar elektronik untuk menilai apakah anak memenuhi rekomendasi gerak 24 jam.

Rekomendasi gerak 24 jam yang digunakan dalam penelitian mengacu pada pedoman internasional untuk anak prasekolah, yaitu aktivitas fisik yang cukup setiap hari, waktu tidur sesuai usia, serta pembatasan screen time. Ketiga komponen tersebut dinilai secara bersamaan karena saling memengaruhi kesehatan fisik, perkembangan otak, fungsi kognitif, dan kesehatan emosional anak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan konsumsi UPF tertinggi memiliki kemungkinan yang lebih rendah untuk memenuhi seluruh rekomendasi gerak dibandingkan kelompok dengan konsumsi UPF terendah. Setelah peneliti menyesuaikan berbagai faktor perancu seperti usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, pendidikan orang tua, serta karakteristik keluarga, hubungan tersebut tetap bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya konsumsi makanan ultra-proses merupakan faktor yang berhubungan secara independen dengan pola hidup kurang aktif.

Analisis lebih lanjut menemukan bahwa perbedaan paling nyata terjadi pada durasi penggunaan layar elektronik. Anak-anak dalam kelompok konsumsi UPF tertinggi memiliki screen time harian yang lebih lama dibandingkan kelompok konsumsi terendah. Sebaliknya, tidak ditemukan peningkatan aktivitas fisik yang mampu mengimbangi tingginya waktu duduk tersebut. Kombinasi konsumsi UPF yang tinggi dan screen time yang panjang berpotensi meningkatkan risiko obesitas, gangguan metabolik, serta penurunan kebugaran fisik sejak usia dini.

Para peneliti mengemukakan beberapa mekanisme yang mungkin menjelaskan hubungan tersebut. Makanan ultra-proses umumnya mengandung gula tambahan, lemak jenuh, natrium, dan berbagai bahan tambahan pangan, tetapi rendah serat, protein berkualitas, vitamin, dan mineral. Komposisi tersebut dapat memengaruhi keseimbangan energi, metabolisme glukosa, regulasi hormon lapar dan kenyang, serta fungsi sistem saraf pusat yang berperan dalam mengatur motivasi untuk bergerak.

Selain itu, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi UPF dapat mengubah komposisi mikrobiota usus. Gangguan keseimbangan mikrobiota dapat memengaruhi gut-brain axis, meningkatkan peradangan kronis derajat rendah, serta memengaruhi kualitas tidur, perilaku, dan tingkat aktivitas fisik. Meskipun hubungan sebab akibat masih memerlukan penelitian lanjutan, temuan biologis tersebut memberikan dasar yang masuk akal terhadap hasil studi kohort ini.

Penelitian ini memiliki beberapa keunggulan, yaitu desain prospektif dengan masa tindak lanjut selama dua tahun sehingga hubungan temporal antara pola makan dan aktivitas dapat diamati lebih baik dibandingkan penelitian potong lintang. Peneliti juga menggunakan klasifikasi NOVA yang telah banyak dipakai dalam penelitian gizi modern untuk mengidentifikasi makanan ultra-proses serta melakukan penyesuaian terhadap berbagai faktor perancu penting. Namun, karena merupakan penelitian observasional, hasilnya belum dapat membuktikan hubungan sebab akibat secara langsung. Penilaian pola makan juga masih bergantung pada laporan orang tua sehingga kemungkinan terjadi bias pelaporan tetap ada.

Temuan ini memberikan pesan penting bagi tenaga kesehatan, pendidik, dan orang tua. Pencegahan gaya hidup sedentari pada anak tidak hanya dilakukan dengan meningkatkan aktivitas fisik, tetapi juga dengan memperbaiki kualitas pola makan sejak usia prasekolah. Mengurangi konsumsi makanan ultra-proses, menyediakan makanan segar yang kaya zat gizi, membatasi penggunaan gawai, serta meningkatkan kesempatan bermain aktif setiap hari merupakan strategi yang saling melengkapi untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan jangka panjang anak.

Referensi

  • Ribeiro SAV, et al. Can ultraprocessed food intake affect activity levels in preschoolers? European Journal of Pediatrics. 2026;185(8). doi:10.1007/s00431-026-07287-6.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *