BENDA ASING SALURAN CERNA PADA ANAK: EVALUASI RADIOLOGIS, INDIKASI EKSTRAKSI, DAN PERTIMBANGAN PEMBEDAHAN
Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Benda asing saluran cerna merupakan salah satu keadaan yang cukup sering ditemukan pada anak, terutama pada usia dini. Sebagian besar benda asing yang tertelan dapat melewati saluran cerna secara spontan tanpa menimbulkan komplikasi. Namun, lokasi, ukuran, bentuk, jenis benda asing, serta kondisi klinis pasien menentukan kebutuhan intervensi. Evaluasi awal perlu membedakan benda asing yang berada di saluran cerna dari benda asing saluran pernapasan karena keduanya dapat memberikan gambaran klinis yang serupa, tetapi memerlukan tata laksana yang berbeda. Radiografi polos dengan proyeksi anteroposterior dan lateral pada leher, toraks, atau abdomen dapat membantu menentukan lokasi dan karakteristik benda asing. Pada benda asing berbentuk koin, orientasi radiologis dapat membantu membedakan lokasi esofagus dan trakea. Benda asing di esofagus, baterai kancing, magnet multipel, benda tajam, serta benda berukuran besar atau panjang memerlukan perhatian khusus karena meningkatkan risiko obstruksi, perforasi, nekrosis, atau fistula. Benda asing yang telah menimbulkan muntah persisten, nyeri abdomen berat dengan defans muskular, distensi abdomen, atau demam harus menimbulkan kecurigaan terhadap komplikasi seperti obstruksi, perforasi, atau peritonitis. Pemahaman mengenai karakteristik benda asing, interpretasi pencitraan, dan tanda bahaya sangat penting untuk menentukan observasi, ekstraksi endoskopik, atau intervensi pembedahan.
Tertelannya benda asing merupakan salah satu masalah klinis yang sering dijumpai pada populasi pediatrik. Anak, terutama pada usia dini, memiliki kecenderungan memasukkan benda ke dalam mulut sebagai bagian dari proses eksplorasi lingkungan. Sebagian benda asing dapat melewati saluran cerna tanpa intervensi. Namun, sebagian lainnya dapat menetap pada lokasi tertentu dan menyebabkan obstruksi, cedera mukosa, perdarahan, perforasi, nekrosis, atau fistula. Risiko komplikasi sangat bergantung pada jenis, ukuran, bentuk, jumlah, serta lokasi benda asing.
Evaluasi klinis harus dilakukan secara sistematis sejak awal. Riwayat tertelan benda asing perlu digali secara rinci, termasuk jenis benda, ukuran, jumlah benda yang mungkin tertelan, waktu kejadian, serta munculnya gejala seperti tersedak, batuk, muntah, nyeri, disfagia, drooling, sesak, atau distensi abdomen. Hal penting yang harus diperhatikan adalah kemungkinan kesalahan identifikasi antara benda asing saluran cerna dan benda asing saluran pernapasan. Kedua kondisi tersebut dapat terjadi pada anak yang sama dan membutuhkan pendekatan diagnostik serta tata laksana yang berbeda.
Pemeriksaan radiografi polos merupakan salah satu pemeriksaan awal yang penting pada anak dengan dugaan tertelan benda asing, terutama bila jenis benda asing tidak diketahui atau terdapat kecurigaan benda asing yang bersifat radiopak. Pemeriksaan dapat mencakup proyeksi anteroposterior dan lateral pada daerah leher, toraks, atau abdomen sesuai lokasi yang dicurigai. Interpretasi posisi dan orientasi benda asing menjadi bagian penting dalam menentukan apakah benda tersebut berada di esofagus atau saluran pernapasan.
Benda asing berbentuk koin merupakan contoh klasik dalam membedakan lokasi benda asing melalui pencitraan. Bila koin berada di esofagus, permukaan datarnya umumnya terlihat pada proyeksi anteroposterior, sedangkan sisi tepinya terlihat pada proyeksi lateral. Sebaliknya, bila koin berada di trakea, orientasinya cenderung berlawanan. Tepi koin tampak pada proyeksi anteroposterior, sedangkan permukaan datarnya terlihat pada proyeksi lateral. Temuan tersebut dapat membantu mengarahkan diagnosis, meskipun interpretasi tetap harus mempertimbangkan gambaran klinis dan kualitas pemeriksaan radiologis.
Tidak semua benda asing memerlukan tindakan ekstraksi segera. Benda kecil dan tidak berbahaya yang telah melewati esofagus dapat dipantau bila tidak terdapat tanda komplikasi. Sebaliknya, benda asing dengan ukuran besar, bentuk panjang atau tajam, baterai kancing, magnet multipel, serta benda asing yang masih berada di esofagus memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi dan memerlukan evaluasi serta intervensi lebih cepat.
Baterai kancing merupakan keadaan khusus yang memerlukan perhatian segera. Bila baterai berada di esofagus, kontak dengan jaringan dapat menyebabkan cedera mukosa yang progresif, nekrosis, perforasi, dan pembentukan fistula. Karena itu, dugaan tertelan baterai kancing yang masih berada di esofagus merupakan keadaan emergensi dan memerlukan upaya ekstraksi segera.
Magnet juga memiliki risiko khusus. Tertelannya lebih dari satu magnet dapat menyebabkan dua bagian saluran cerna saling tertarik melalui dinding usus. Kondisi tersebut dapat menyebabkan tekanan lokal, iskemia, nekrosis, perforasi, fistula, dan obstruksi. Risiko meningkat bila magnet tertelan bersama benda logam lain atau ketika beberapa magnet berada pada segmen saluran cerna yang berbeda.
Ukuran dan bentuk benda asing juga memengaruhi kemungkinan benda tersebut melewati pilorus dan saluran cerna secara spontan. Pada bayi dan anak usia kurang dari 5 tahun, benda dengan panjang lebih dari sekitar 3 cm atau diameter lebih dari sekitar 20 mm memiliki kemungkinan lebih besar mengalami hambatan. Pada anak yang lebih besar, benda berbentuk oval dengan diameter lebih dari sekitar 5 cm atau ketebalan lebih dari sekitar 2 cm juga perlu mendapatkan perhatian. Benda yang tipis dan memanjang dengan panjang lebih dari sekitar 6 cm memiliki kemungkinan sulit melewati saluran cerna secara spontan.
Intervensi pembedahan terutama dipertimbangkan ketika benda asing telah menimbulkan komplikasi atau terdapat tanda klinis yang mengarah pada obstruksi, perforasi, atau peritonitis. Muntah berulang, nyeri perut hebat disertai defans muskular, distensi abdomen, dan demam merupakan tanda bahaya yang memerlukan evaluasi segera. Pada kondisi tersebut, keputusan tata laksana tidak lagi hanya didasarkan pada ukuran dan jenis benda asing, tetapi juga pada kondisi klinis, hasil pencitraan, lokasi benda, serta bukti komplikasi.
Pemahaman yang baik mengenai karakteristik benda asing dan pola pencitraannya memungkinkan tenaga kesehatan menentukan strategi yang tepat. Pendekatan harus mempertimbangkan prinsip bahwa sebagian besar benda asing dapat keluar secara spontan, sementara kelompok berisiko tinggi membutuhkan ekstraksi endoskopik atau intervensi bedah untuk mencegah komplikasi serius.
PERBEDAAN BENDA ASING SALURAN CERNA DAN SALURAN PERNAPASAN
Benda asing yang masuk melalui mulut dapat masuk ke esofagus dan saluran cerna atau masuk ke laring dan trakeobronkial. Perbedaan lokasi ini sangat menentukan prioritas penanganan.
Benda asing saluran pernapasan lebih sering memberikan gejala berupa tersedak mendadak, batuk, stridor, suara napas abnormal, wheezing, atau gangguan pernapasan. Sebaliknya, benda asing esofagus dapat menimbulkan disfagia, odinofagia, drooling, muntah, nyeri retrosternal, atau penolakan makan.
Namun, gejala dapat tidak khas. Anak dapat tampak relatif baik meskipun benda asing masih berada di esofagus atau saluran pernapasan. Karena itu, riwayat kejadian dan pemeriksaan pencitraan menjadi penting bila kecurigaan klinis tetap tinggi.
PEMERIKSAAN RADIOGRAFI
Radiografi polos dapat dilakukan dengan proyeksi anteroposterior dan lateral. Area pemeriksaan disesuaikan dengan dugaan lokasi benda asing, meliputi leher, toraks, dan abdomen.
Pada benda asing radiopak, radiografi dapat membantu menentukan:
1. lokasi benda asing
2. ukuran dan bentuk benda
3. jumlah benda
4. orientasi benda
5. kemungkinan komplikasi
6. perubahan posisi pada pemeriksaan serial bila diperlukan
Pada benda asing yang tidak tampak pada radiografi, hasil pemeriksaan normal tidak selalu menyingkirkan keberadaan benda asing. Evaluasi selanjutnya bergantung pada jenis benda, gejala klinis, dan tingkat kecurigaan.
ORIENTASI KOIN PADA RADIOGRAFI
Benda asing berbentuk koin memberikan gambaran klasik pada radiografi.
Jika koin berada di esofagus, permukaan datar koin umumnya terlihat pada proyeksi anteroposterior. Pada proyeksi lateral, koin tampak dari sisi tepinya.
Jika koin berada di trakea, orientasi umumnya berlawanan. Tepi koin terlihat pada proyeksi anteroposterior, sedangkan permukaan datar terlihat pada proyeksi lateral.
Perbedaan orientasi tersebut berkaitan dengan anatomi dan arah lumen esofagus serta trakea. Temuan radiologis harus tetap dikorelasikan dengan kondisi klinis pasien.
INDIKASI PERTIMBANGAN EKSTRAKSI
Ekstraksi perlu dipertimbangkan pada beberapa kondisi.
- Pertama, benda asing berada di esofagus. Benda asing esofagus memiliki risiko menyebabkan tekanan pada mukosa, inflamasi, ulserasi, dan perforasi, terutama bila menetap dalam waktu lama.
- Kedua, benda asing berukuran besar. Pada bayi dan anak usia kurang dari 5 tahun, benda dengan panjang lebih dari 3 cm atau diameter lebih dari 20 mm dapat sulit melewati pilorus.
- Ketiga, pada anak usia lebih dari 5 tahun, benda berbentuk oval dengan diameter lebih dari 5 cm atau ketebalan lebih dari 2 cm perlu dipertimbangkan untuk ekstraksi karena berpotensi mengalami hambatan.
- Keempat, benda asing berbentuk tipis dan memanjang dengan panjang lebih dari 6 cm memiliki risiko lebih tinggi mengalami kesulitan melewati saluran cerna.
- Kelima, baterai kancing memerlukan perhatian khusus. Bila baterai berada di esofagus, ekstraksi harus dilakukan segera karena dapat menyebabkan cedera mukosa, nekrosis, perforasi, dan fistula.
- Keenam, magnet multipel. Tertelannya lebih dari satu magnet merupakan indikasi evaluasi dan tindakan segera karena magnet dapat saling menarik melalui dinding saluran cerna.
- Ketujuh, benda asing tajam seperti jarum, peniti, kawat, atau benda sejenis. Benda tersebut memiliki risiko perforasi yang lebih tinggi.
BATERAI KANCING
- Baterai kancing merupakan salah satu benda asing yang paling berbahaya pada saluran cerna anak. Risiko terutama tinggi bila baterai berada di esofagus.
- Baterai dapat menghasilkan arus listrik ketika kontak dengan jaringan yang lembap. Proses tersebut dapat menyebabkan pembentukan ion hidroksida dan cedera jaringan yang berlangsung progresif. Cedera dapat berkembang menjadi nekrosis, perforasi, dan fistula.
- Karena cedera dapat terus berkembang meskipun anak pada awalnya tampak stabil, dugaan baterai kancing di esofagus memerlukan tindakan ekstraksi emergensi. Target waktu ekstraksi sangat cepat, idealnya dalam waktu 2 jam setelah diagnosis atau identifikasi keberadaan baterai di esofagus.
MAGNET
Magnet multipel mempunyai risiko komplikasi yang berbeda dari benda asing biasa. Dua magnet yang berada pada segmen saluran cerna yang berbeda dapat saling menarik melalui dinding usus.
Tekanan tersebut dapat menyebabkan:
1. iskemia
2. nekrosis
3. ulserasi
4. fistula
5. perforasi
6. obstruksi
Karena itu, tertelannya lebih dari satu magnet memerlukan evaluasi segera dan biasanya memerlukan pertimbangan ekstraksi, terutama bila magnet belum melewati saluran cerna secara aman atau terdapat gejala.
BENDA ASING TAJAM
- Benda asing tajam mempunyai risiko perforasi yang lebih tinggi dibandingkan benda asing tumpul. Contohnya adalah jarum, peniti, kawat, tulang, atau benda dengan ujung tajam lainnya.
- Lokasi benda asing menjadi faktor penting. Bila benda tajam berada di esofagus, risiko cedera dan perforasi meningkat sehingga diperlukan evaluasi segera untuk menentukan tindakan ekstraksi.
TANDA BAHAYA DAN PERTIMBANGAN PEMBEDAHAN
Sebagian besar benda asing dapat melewati saluran cerna secara spontan. Namun, munculnya gejala tertentu harus menimbulkan kecurigaan terhadap komplikasi.
Tanda bahaya meliputi:
1. muntah berulang atau persisten
2. nyeri perut hebat
3. defans muskular
4. distensi abdomen
5. demam
Kombinasi gejala tersebut dapat mengarah pada komplikasi berupa obstruksi saluran cerna, perforasi, atau peritonitis.
Pada keadaan tersebut, pasien memerlukan evaluasi lebih lanjut dengan pemeriksaan klinis, laboratorium bila diperlukan, dan pencitraan yang sesuai. Konsultasi dengan tim bedah anak perlu dipertimbangkan bila terdapat bukti perforasi, peritonitis, obstruksi yang tidak dapat diatasi secara endoskopik, atau komplikasi serius lainnya.
PRINSIP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KLINIS
Pengelolaan benda asing saluran cerna pada anak dapat dirangkum berdasarkan beberapa pertanyaan utama:
- Apakah benda asing berada di saluran cerna atau saluran pernapasan?
- Apakah benda asing berada di esofagus?
- Apakah benda tersebut berupa baterai kancing, magnet multipel, atau benda tajam?
- Apakah ukuran atau bentuk benda meningkatkan risiko impaksi?
- Apakah pasien mengalami gejala obstruksi atau komplikasi?
- Apakah terdapat bukti perforasi atau peritonitis?
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut menentukan apakah pasien memerlukan observasi, pemeriksaan serial, ekstraksi endoskopik, atau intervensi pembedahan.
KESIMPULAN
- Benda asing saluran cerna pada anak membutuhkan evaluasi berdasarkan jenis, ukuran, bentuk, jumlah, lokasi, waktu tertelan, serta kondisi klinis pasien. Radiografi polos dengan proyeksi anteroposterior dan lateral dapat membantu menentukan lokasi dan karakteristik benda asing. Orientasi koin dapat menjadi petunjuk penting untuk membedakan lokasi esofagus dan trakea.
- Benda asing yang berada di esofagus, baterai kancing, magnet multipel, benda tajam, serta benda berukuran besar atau panjang memerlukan perhatian khusus karena memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi. Baterai kancing di esofagus merupakan keadaan emergensi karena cedera jaringan dapat berkembang dengan cepat. Tertelannya magnet multipel juga berisiko menyebabkan iskemia, fistula, perforasi, dan obstruksi.
- Muntah berulang, nyeri abdomen hebat dengan defans muskular, distensi abdomen, dan demam merupakan tanda bahaya. Temuan tersebut dapat menunjukkan obstruksi, perforasi, atau peritonitis dan memerlukan evaluasi segera serta pertimbangan intervensi bedah. Pendekatan sistematis memungkinkan tenaga kesehatan memilih observasi, ekstraksi endoskopik, atau pembedahan secara tepat berdasarkan risiko masing-masing kasus.
DAFTAR PUSTAKA
1. Bishop WP. Sistem Pencernaan. Dalam: Kliegman RM, Game JW, Blum NJ, Shah SS, Tasker RC, Wilson KM, penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi ke-21. Philadelphia: Elsevier; 2019. h. 470-473.
2. Kramer RE, Lerner DG, Lin T, Manfredi M, Shah M, Stephen TC, et al. Management of ingested foreign bodies in children: a clinical report of the NASPGHAN Endoscopy Committee. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2015;60(4):562-574.
3. Kramer RE, Lerner DG, Lin T, Manfredi M, Shah M, Stephen TC, et al. Management of ingested foreign bodies in children. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2015;60(4):562-574.
4. Mubarak A, Benninga MA, Broekaert I, Dolinsek J, Homan M, Mas E, et al. Diagnosis, management, and prevention of button battery ingestion in childhood: ESPGHAN position paper. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2021;73(1):129-136.
5. ASGE Standards of Practice Committee. Management of ingested foreign bodies and food impactions. Gastrointest Endosc. 2011;73(6):1085-1091.












Leave a Reply