
Dulu Divonis Alergi Susu Sapi, Sekarang Minum Susu Biasa Tidak Bermasalah. Apakah Diagnosisnya Benar?
Pertanyaan
Dok, saya masih penasaran dengan kondisi anak saya. Waktu usia 6 bulan, anak saya minum susu formula berbahan susu sapi setiap hari dan tidak pernah ada masalah. Berat badannya naik, BAB juga normal. Tetapi saat usia 7 bulan, anak saya BAB bercampur darah. Dokter mengatakan kemungkinan besar anak saya alergi susu sapi, lalu menyarankan menghentikan semua susu sapi dan menggantinya dengan susu formula khusus. Setelah itu kami mengikuti anjuran dokter karena takut kondisinya bertambah berat. Yang membuat saya bingung, saat anak saya berusia 16 bulan saya mencoba memberikan susu sapi biasa sedikit demi sedikit. Ternyata sampai sekarang tidak muncul BAB berdarah lagi, tidak muntah, tidak diare, tidak bentol, juga tidak sesak. Anak saya justru bisa minum susu seperti anak lain. Jadi sebenarnya dulu anak saya benar-benar alergi susu sapi atau tidak, Dok? Apa mungkin BAB berdarah itu disebabkan oleh hal lain? Kalau memang alergi susu sapi, kenapa sekarang bisa minum susu biasa tanpa keluhan? Saya juga ingin tahu apakah semua bayi yang BAB berdarah pasti karena alergi susu sapi atau masih ada penyebab lain yang perlu dipikirkan.
Jawaban
Kasus seperti ini sangat sering dijumpai dalam praktik sehari-hari dan merupakan salah satu penyebab terjadinya overdiagnosis alergi susu sapi. Alergi protein susu sapi memang merupakan alergi makanan yang paling sering pada bayi, tetapi angka kejadiannya hanya sekitar 2 sampai 3% pada tahun pertama kehidupan. Sebaliknya, penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa jumlah bayi yang didiagnosis atau dicurigai alergi susu sapi dapat mencapai lima hingga sepuluh kali lebih tinggi daripada jumlah kasus yang benar-benar terbukti. Akibatnya, banyak bayi menjalani diet eliminasi yang tidak diperlukan dan menggunakan susu formula ekstensif hidrolisat atau formula asam amino yang biayanya jauh lebih mahal. Karena itu, pedoman dari European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN), European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), World Allergy Organization (WAO), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia menekankan bahwa diagnosis alergi susu sapi harus dilakukan secara hati-hati dan berbasis bukti.
BAB berdarah memang dapat menjadi salah satu gejala alergi protein susu sapi, terutama pada kondisi food protein-induced allergic proctocolitis (FPIAP). Namun, BAB berdarah bukanlah gejala yang spesifik. Penyebab lain jauh lebih banyak dan harus dipertimbangkan sebelum menyimpulkan bahwa susu sapi adalah penyebabnya. Pada bayi, BAB berdarah juga dapat disebabkan oleh fisura ani akibat konstipasi, infeksi bakteri atau virus pada saluran cerna, kolitis, invaginasi usus, kelainan pembuluh darah, polip, gangguan pembekuan darah, hingga iritasi mukosa usus yang bersifat sementara. Bahkan infeksi virus ringan dapat menyebabkan peradangan usus yang menimbulkan lendir atau sedikit darah pada tinja. Oleh karena itu, menemukan darah pada tinja tidak berarti secara otomatis bayi mengalami alergi susu sapi.
Riwayat anak Anda juga memberikan informasi yang penting. Selama usia 6 bulan, anak telah mengonsumsi susu formula berbahan susu sapi tanpa keluhan. Memang secara imunologi alergi dapat muncul setelah fase sensitisasi, tetapi toleransi yang baik selama beberapa minggu atau bulan sebelumnya juga membuat dokter perlu mempertimbangkan diagnosis lain. Selain susu formula, bayi usia tersebut mungkin masih mendapatkan ASI sehingga protein makanan yang dikonsumsi ibu, seperti telur, susu, kedelai, atau makanan lain, dapat masuk dalam jumlah kecil ke dalam ASI dan pada sebagian kecil bayi yang sensitif dapat memicu gejala. Setelah bayi mulai menerima MPASI, kemungkinan penyebab menjadi semakin luas karena telur, gandum, kedelai, ikan, kacang tanah, maupun makanan lain juga dapat menjadi alergen. Dengan kata lain, bila memang terdapat alergi makanan, penyebabnya belum tentu susu sapi.
Salah satu penyebab overdiagnosis adalah keterbatasan pemeriksaan yang tersedia. Pemeriksaan skin prick test maupun IgE spesifik hanya menunjukkan adanya sensitisasi terhadap suatu alergen, bukan membuktikan bahwa makanan tersebut benar-benar menyebabkan gejala klinis. Banyak bayi memiliki hasil pemeriksaan positif tetapi tetap dapat mengonsumsi susu tanpa reaksi apa pun. Sebaliknya, pada alergi non-IgE seperti FPIAP, hasil skin prick test dan IgE sering kali normal meskipun bayi memang mengalami alergi. Oleh karena itu, pedoman internasional menegaskan bahwa diagnosis tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan hasil tes laboratorium atau dugaan klinis semata. Diagnosis harus didasarkan pada riwayat yang sesuai, perbaikan gejala setelah eliminasi makanan, kemudian dikonfirmasi dengan pemberian kembali makanan tersebut secara terkontrol.
Metode yang diakui sebagai baku emas untuk memastikan diagnosis alergi makanan adalah Oral Food Challenge (OFC). Pada prosedur ini, makanan yang dicurigai sebagai penyebab diberikan kembali secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis dengan protokol yang ketat. Bila gejala muncul kembali secara konsisten, diagnosis alergi dapat ditegakkan. Sebaliknya, bila makanan dapat dikonsumsi tanpa reaksi, maka alergi tidak terbukti atau telah terjadi toleransi. Penggunaan OFC sangat penting untuk mencegah diet eliminasi yang berkepanjangan tanpa alasan yang jelas. Banyak penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar bayi yang dicurigai alergi susu sapi ternyata memiliki hasil OFC negatif sehingga sebenarnya tidak memerlukan susu formula khusus. Pada bayi yang memang benar mengalami alergi susu sapi, sekitar setengahnya telah mencapai toleransi pada usia 1 tahun, dan sebagian besar akan dapat mengonsumsi susu sapi sebelum memasuki usia sekolah.
Berdasarkan perjalanan penyakit yang Anda ceritakan, episode BAB berdarah pada usia 7 bulan sebenarnya disebabkan oleh kondisi lain dan bukan oleh susu sapi, sehingga diagnosis awal merupakan dugaan yang belum terkonfirmasi. Tanpa eliminasi yang terstruktur dan Oral Food Challenge pada saat itu, sangat sulit memastikan penyebab sebenarnya. Inilah alasan mengapa setiap bayi yang dicurigai mengalami alergi susu sapi memerlukan evaluasi berkala. Diet eliminasi tidak seharusnya dipertahankan lebih lama dari yang diperlukan tanpa penilaian ulang, karena selain meningkatkan beban biaya keluarga, pembatasan makanan yang tidak perlu juga dapat meningkatkan risiko kekurangan zat gizi, menghambat keberagaman makanan, serta menurunkan kualitas hidup anak dan orang tua. Pendekatan berbasis bukti memastikan bahwa hanya bayi yang benar-benar mengalami alergi susu sapi yang menjalani terapi eliminasi, sedangkan bayi yang tidak terbukti alergi dapat kembali mengonsumsi susu secara aman.











Leave a Reply