Penelitian Terbaru: Alergi Makanan Non-IgE Ternyata Sering Membuat Anak Sulit Makan

Penelitian Terbaru: Alergi Makanan Non-IgE Ternyata Sering Membuat Anak Sulit Makan

Oleh: Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Banyak orang tua mengira anak yang sulit makan hanya sedang memilih-milih makanan atau sedang mengalami fase tumbuh kembang. Padahal, penelitian internasional terbaru yang diterbitkan dalam Clinical & Experimental Allergy pada tahun 2026 menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan non-IgE memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan makan (feeding difficulties). Temuan ini penting karena alergi makanan non-IgE sering tidak terdeteksi melalui tes alergi biasa, sehingga banyak anak mengalami keluhan selama bertahun-tahun sebelum penyebab sebenarnya diketahui.

Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis yang dilakukan oleh Marianne Louise Tomlin dan tim peneliti dari Australia. Penelitian mengikuti pedoman internasional PRISMA 2020 dan telah terdaftar di PROSPERO. Para peneliti menelusuri lebih dari 10.600 publikasi ilmiah dari berbagai negara, kemudian memilih 17 penelitian yang memenuhi kriteria dengan jumlah peserta antara 26 hingga lebih dari 4.200 anak. Tujuannya adalah mengetahui apakah anak dengan alergi makanan non-IgE lebih sering mengalami gangguan makan dibandingkan anak tanpa alergi makanan.

Alergi makanan non-IgE berbeda dengan alergi makanan yang biasanya dikenal masyarakat. Pada alergi IgE, gejala muncul cepat, misalnya biduran, bengkak, atau sesak napas beberapa menit setelah makan. Sebaliknya, pada alergi non-IgE, gejala muncul lebih lambat dan terutama menyerang saluran cerna. Anak dapat mengalami sulit makan, cepat kenyang, muntah berulang, nyeri perut, diare, sembelit, berat badan sulit naik, atau pertumbuhan yang kurang optimal. Karena gejalanya tidak khas, kondisi ini sering disangka hanya anak susah makan, gangguan pencernaan biasa, atau masalah perilaku makan.

Salah satu penyakit yang banyak dibahas dalam penelitian ini adalah eosinophilic esophagitis atau EoE, yaitu peradangan kronis pada kerongkongan akibat reaksi alergi. Pada anak usia di bawah lima tahun, EoE sering menyebabkan sulit makan, menolak makanan bertekstur, makan sangat lama, muntah, hingga berat badan sulit bertambah. Pada anak yang lebih besar, keluhan berubah menjadi sulit menelan atau makanan sering terasa tersangkut di kerongkongan. Penelitian sebelumnya bahkan menunjukkan bahwa banyak anak baru mendapatkan diagnosis setelah mengalami gejala selama lebih dari enam tahun.

Hasil tinjauan ini memperkuat bukti bahwa gangguan makan jauh lebih sering ditemukan pada anak dengan alergi makanan non-IgE, terutama pada EoE. Namun, para peneliti juga menemukan bahwa penelitian yang tersedia masih menggunakan definisi dan alat penilaian yang berbeda-beda. Artinya, angka pasti kejadian gangguan makan belum dapat ditentukan secara akurat. Meski demikian, arah semua penelitian menunjukkan kesimpulan yang sama, yaitu alergi makanan non-IgE merupakan salah satu penyebab penting feeding difficulties yang tidak boleh diabaikan.

Bagi orang tua, temuan ini memberikan pesan penting. Bila anak mengalami sulit makan yang berlangsung lama, hanya mau makanan tertentu, sering muntah, sembelit atau diare berulang, berat badan sulit naik, atau pertumbuhannya kurang baik, jangan langsung menganggapnya hanya sebagai picky eater. Penyebab medis, termasuk alergi makanan non-IgE, perlu dipertimbangkan. Pemeriksaan tidak cukup hanya mengandalkan tes IgE atau skin prick test karena hasilnya sering normal pada alergi jenis ini. Diagnosis biasanya memerlukan penilaian menyeluruh oleh dokter berdasarkan riwayat penyakit, gejala, pertumbuhan anak, eliminasi makanan yang terarah, hingga pemeriksaan endoskopi pada kondisi tertentu seperti EoE.

Penelitian ini juga mengingatkan tenaga kesehatan bahwa evaluasi anak dengan feeding difficulties harus dilakukan secara komprehensif. Gangguan makan bukan hanya berdampak pada asupan makanan saat ini, tetapi juga dapat mengganggu pertumbuhan, perkembangan, kualitas hidup anak, serta meningkatkan beban psikologis keluarga. Semakin dini penyebabnya dikenali, semakin besar peluang memperbaiki pola makan, status gizi, dan tumbuh kembang anak.

Temuan ini semakin memperkuat pandangan bahwa gangguan makan pada anak bukan selalu masalah perilaku. Pada sebagian anak, sulit makan merupakan tanda adanya penyakit yang mendasari, termasuk alergi makanan non-IgE. Oleh karena itu, anak yang mengalami gangguan makan menetap selama berbulan-bulan, terutama bila disertai gangguan pertumbuhan atau keluhan saluran cerna, sebaiknya dievaluasi lebih lanjut agar penyebabnya dapat ditemukan dan ditangani sedini mungkin.

Referensi

Tomlin ML, Bendall C, Loke P, Bennett CJ. Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review. Clin Exp Allergy. 2026; Published online June 25, 2026. doi:10.1111/cea.70367.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *