Perut Anak Sering Kembung dan Sulit BAB? Jangan Langsung Mengira Hirschsprung
Banyak orang tua mengira semua anak yang sulit buang air besar mengalami sembelit biasa. Ada pula yang khawatir anaknya menderita penyakit Hirschsprung karena sejak bayi BAB sangat jarang. Padahal, selain konstipasi fungsional dan penyakit Hirschsprung, ada penyebab lain yang sering terlupakan, yaitu alergi makanan, terutama alergi protein susu sapi atau makanan tertentu.
Ketiga kondisi tersebut dapat menimbulkan gejala yang hampir sama, seperti sulit BAB, perut buncit, anak rewel, dan berat badan sulit naik. Namun, penyebab dan pengobatannya sangat berbeda. Itulah sebabnya diagnosis yang tepat sangat penting agar anak tidak mendapatkan pengobatan yang salah.
Mengenal Penyakit Hirschsprung
Penyakit Hirschsprung adalah kelainan bawaan sejak lahir. Pada penyakit ini, sebagian usus tidak memiliki sel saraf yang berfungsi mendorong feses keluar. Akibatnya, usus tidak dapat bekerja normal sehingga feses menumpuk dan menyebabkan sumbatan.
Penyakit ini biasanya sudah menimbulkan gejala sejak bayi baru lahir. Salah satu tanda yang paling penting adalah mekonium atau BAB pertama bayi tidak keluar dalam waktu lebih dari 48 jam setelah lahir.
Selain itu dapat ditemukan:
- • Sulit BAB sejak lahir.
- • Perut semakin membesar.
- • Muntah hijau.
- • Berat badan sulit naik.
- • Bayi tampak tidak nyaman dan sering rewel.
Bila diagnosis sudah dipastikan melalui biopsi rektum yang menunjukkan tidak adanya sel saraf (aganglionosis), pengobatan yang diperlukan adalah operasi. Diet atau obat alergi tidak dapat menggantikan tindakan operasi pada kondisi ini.
Konstipasi Fungsional, Penyebab Sembelit yang Paling Sering
Sebagian besar anak yang mengalami sembelit ternyata tidak menderita penyakit Hirschsprung. Penyebab tersering adalah konstipasi fungsional.
Pada kondisi ini tidak ditemukan kelainan bentuk usus maupun gangguan saraf. Konstipasi biasanya mulai muncul setelah anak berusia lebih dari satu tahun, misalnya saat mulai MPASI, toilet training, atau karena kebiasaan menahan BAB.
Sebagian besar anak membaik dengan:
- • Minum yang cukup.
- • Konsumsi serat sesuai usia.
- • Latihan BAB secara teratur.
- • Pencahar bila diperlukan sesuai anjuran dokter.
Alergi Makanan Ternyata Juga Bisa Menyebabkan Sembelit
Banyak orang tua mengira alergi makanan selalu menyebabkan diare atau ruam merah. Padahal, pada sebagian anak alergi makanan justru dapat menyebabkan konstipasi kronis.
Peradangan ringan pada saluran cerna akibat reaksi alergi dapat mengganggu gerakan usus sehingga anak sulit BAB, perut sering kembung, nafsu makan menurun, bahkan berat badan sulit bertambah.
Petunjuk yang mengarah ke alergi makanan antara lain:
- • Konstipasi tidak membaik meskipun sudah mendapat pencahar.
- • Disertai eksim atau dermatitis atopik.
- • Sering muntah.
- • Kadang disertai darah pada tinja.
- • Riwayat alergi pada orang tua atau saudara kandung.
- • Gangguan makan atau picky eater.
Pada anak dengan dugaan alergi makanan, dokter dapat mempertimbangkan eliminasi makanan yang dicurigai, kemudian mengonfirmasi diagnosis menggunakan Open Oral Food Challenge (OFC). OFC merupakan pemeriksaan baku emas untuk memastikan alergi makanan.
Ilustrasi Kasus
- Seorang bayi laki-laki berusia 4 bulan dibawa ke dokter karena hanya BAB setiap 4 sampai 6 hari. Perutnya tampak membuncit dan berat badannya sulit naik. Karena keluhan muncul sejak bayi, dokter sempat mencurigai penyakit Hirschsprung.
- Namun, setelah dilakukan evaluasi, bayi ternyata tidak memiliki riwayat keterlambatan pengeluaran mekonium lebih dari 48 jam. Pemeriksaan enema kontras juga tidak menunjukkan gambaran khas penyakit Hirschsprung. Di sisi lain, bayi mengalami dermatitis atopik, sering muntah setelah minum susu formula, dan ayahnya memiliki riwayat alergi.
- Dokter kemudian melakukan eliminasi protein susu sapi disertai pemantauan ketat. Dalam waktu sekitar satu minggu, bayi mulai BAB setiap hari, perut tidak lagi membuncit, muntah berkurang, dan berat badan mulai meningkat. Saat dilakukan provokasi terkontrol menggunakan OFC sesuai indikasi, keluhan muncul kembali sehingga diagnosis alergi makanan semakin kuat.
- Kasus seperti ini menunjukkan bahwa sebagian bayi yang diduga menderita Hirschsprung ternyata mengalami konstipasi yang berkaitan dengan alergi makanan. Namun, bila biopsi rektum telah memastikan adanya aganglionosis, operasi tetap menjadi pengobatan utama dan tidak boleh ditunda.
Perbedaan Hirschsprung, Konstipasi Fungsional, dan Konstipasi karena Alergi Makanan
| Karakteristik | Hirschsprung | Konstipasi Fungsional | Konstipasi karena Alergi Makanan |
|---|---|---|---|
| Penyebab | Kelainan bawaan pada saraf usus | Gangguan fungsi BAB | Reaksi alergi terhadap makanan |
| Awal keluhan | Sejak lahir | Umumnya setelah usia 1 tahun | Bayi atau anak |
| Mekonium terlambat lebih dari 48 jam | Sering | Sangat jarang | Umumnya tidak |
| Perut membuncit | Sangat sering | Ringan | Sering |
| Muntah hijau | Dapat terjadi | Hampir tidak pernah | Jarang |
| Eksim atau dermatitis atopik | Tidak khas | Tidak khas | Sering |
| Riwayat alergi keluarga | Tidak khas | Tidak khas | Sering |
| Berat badan sulit naik | Dapat terjadi | Jarang | Dapat terjadi |
| Respons terhadap pencahar | Kurang baik | Umumnya baik | Sering kurang memadai |
| Membaik setelah eliminasi makanan | Tidak | Tidak bermakna | Sering membaik |
| Pemeriksaan utama | Biopsi rektum | Biasanya tidak diperlukan | OFC bila diindikasikan |
| Pengobatan utama | Operasi | Perubahan pola hidup dan pencahar | Eliminasi makanan penyebab yang telah dikonfirmasi |
Kapan Orang Tua Perlu Segera ke Dokter?
Segera periksakan anak apabila ditemukan:
- • Mekonium tidak keluar dalam 48 jam pertama setelah lahir.
- • Muntah hijau.
- • Perut semakin membesar dan tegang.
- • Sulit BAB sejak lahir.
- • Berat badan tidak bertambah.
- • Demam disertai diare berbau menyengat dan perut membuncit.
- • Anak tampak lemas atau tidak mau minum.
Pesan untuk Orang Tua
Tidak semua bayi yang sulit BAB menderita penyakit Hirschsprung. Sebaliknya, tidak semua sembelit dapat dianggap sebagai konstipasi biasa. Sebagian anak mengalami konstipasi yang berkaitan dengan alergi makanan sehingga memerlukan pendekatan yang berbeda.
Pada bayi dengan dugaan Hirschsprung yang belum terbukti, terutama bila disertai tanda-tanda alergi seperti eksim, muntah berulang, atau riwayat alergi dalam keluarga, dokter dapat mempertimbangkan evaluasi alergi makanan secara bertahap sesuai indikasi. Namun, bila biopsi rektum telah memastikan diagnosis Hirschsprung, operasi merupakan terapi yang harus segera dilakukan. Diagnosis yang tepat akan membantu anak mendapatkan pengobatan yang sesuai dan mencegah tindakan yang tidak diperlukan.
Pada bayi dengan mekonium terlambat lebih dari 48 jam, muntah hijau, distensi abdomen berat, atau kecurigaan kuat terhadap penyakit Hirschsprung, pemeriksaan diagnostik tidak boleh ditunda. Bila biopsi rektum telah memastikan adanya aganglionosis, operasi merupakan terapi yang harus segera dilakukan.











Leave a Reply