Konstipasi Tak Kunjung Sembuh? Jangan Langsung Dianggap Kurang Serat, Kurang Air Putih, Bisa Jadi Dipicu Alergi Makanan
Susah BAB Tidak Selalu Karena Kurang Serat, Kurang Buah, Kurang Sayur atau Kurang Air Putih
Konstipasi atau sulit buang air besar merupakan salah satu keluhan yang paling sering dialami anak. Banyak orang tua menganggap penyebabnya hanya karena anak kurang makan sayur, kurang buah, kurang minum air putih, atau kebiasaan menahan buang air besar. Anggapan tersebut memang benar pada sebagian besar kasus. Konstipasi fungsional merupakan penyebab tersering dan umumnya dapat membaik dengan perubahan pola makan, peningkatan asupan cairan, latihan toilet yang teratur, aktivitas fisik, serta obat pencahar sesuai anjuran dokter. Karena itulah, langkah pertama dalam penanganan konstipasi selalu dimulai dengan memperbaiki kebiasaan makan dan pola hidup.
Namun, tidak semua anak mengalami perbaikan setelah menjalani pengobatan tersebut. Ada anak yang sudah rutin mengonsumsi buah dan sayur, minum cukup, bahkan telah menggunakan obat pencahar selama beberapa bulan, tetapi tetap sulit buang air besar. Sebagian anak juga mengeluhkan tinja sangat keras, nyeri saat buang air besar, muncul fisura ani atau luka di sekitar anus, nyeri perut berulang, perut kembung, nafsu makan menurun, hingga berat badan yang sulit naik. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa dokter perlu mencari penyebab lain di balik konstipasi yang menetap.
Salah satu penyebab yang semakin banyak mendapat perhatian adalah alergi makanan, terutama alergi makanan non-IgE. Berbeda dengan alergi yang langsung menimbulkan bentol, gatal, atau sesak napas, alergi non-IgE berkembang lebih lambat dan menimbulkan peradangan kronis ringan pada saluran cerna. Peradangan ini dapat mengganggu gerakan usus besar sehingga tinja bergerak lebih lambat dan menjadi keras. Selain itu, peradangan di sekitar rektum dan anus dapat meningkatkan ketegangan otot sfingter sehingga buang air besar terasa nyeri. Akibatnya anak menjadi takut buang air besar, menahan keinginan BAB, dan konstipasi semakin berat.
Position paper dari European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI) tahun 2024 menegaskan bahwa alergi makanan perlu dipertimbangkan pada anak dengan konstipasi yang tidak membaik setelah terapi standar. Penelitian di Nanjing Medical University terhadap 301 anak dengan konstipasi fungsional menunjukkan bahwa sekitar 15% ternyata mengalami alergi makanan, dan hampir 78% di antaranya merupakan alergi non-IgE. Makanan yang paling sering berperan adalah susu sapi, telur, ikan, dan udang. Temuan ini menunjukkan bahwa walaupun sebagian besar konstipasi bukan disebabkan oleh alergi makanan, kondisi tersebut bukanlah penyebab yang jarang pada anak dengan konstipasi kronis yang sulit diatasi.
Petunjuk lain yang dapat mengarahkan dokter pada kemungkinan alergi makanan adalah adanya penyakit alergi lain yang menyertai. Anak dengan konstipasi akibat alergi makanan sering memiliki riwayat kolik saat bayi, muntah atau refluks berulang, dermatitis atopik, rinitis alergi, asma, alergi saluran cerna, gangguan makan, atau anggota keluarga dengan riwayat penyakit alergi. Semakin banyak riwayat atopi yang ditemukan, semakin besar kemungkinan dokter akan mempertimbangkan alergi makanan sebagai salah satu diagnosis banding, terutama bila penyebab lain telah disingkirkan.
Meskipun demikian, tidak semua anak yang mengalami konstipasi dan memiliki riwayat alergi pasti menderita alergi makanan. Diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala atau hasil pemeriksaan darah. Pemeriksaan seperti skin prick test maupun specific IgE sering kali normal pada alergi non-IgE. Pemeriksaan IgG atau IgG4 terhadap makanan juga tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis alergi makanan karena hanya menunjukkan bahwa tubuh pernah terpapar makanan tersebut, bukan bahwa makanan tersebut menyebabkan penyakit.
Apabila dokter mencurigai alergi makanan sebagai penyebab konstipasi, dapat dilakukan eliminasi makanan yang dicurigai dalam pengawasan tenaga medis. Bila gejala membaik, diagnosis harus dipastikan kembali dengan Open Oral Food Challenge (OFC), yang hingga saat ini merupakan baku emas untuk menegakkan diagnosis alergi makanan. Pendekatan ini membantu memastikan bahwa makanan tersebut benar-benar menjadi penyebab keluhan, sekaligus mencegah pembatasan makanan yang tidak diperlukan dan mengurangi risiko kekurangan zat gizi akibat diet eliminasi yang tidak tepat.
Apa Kata Penelitian Terbaru?
- Position paper dari European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI) tahun 2024 menyatakan bahwa alergi makanan perlu dipertimbangkan pada anak dengan konstipasi yang tidak kunjung membaik meskipun sudah mendapatkan terapi yang tepat.
- Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 28 hingga 78 persen anak dengan konstipasi akibat alergi makanan mengalami perbaikan setelah makanan penyebab dihilangkan dari menu sehari-hari. Hal ini paling sering ditemukan pada alergi protein susu sapi, meskipun telur, ikan, udang, dan beberapa makanan lain juga dapat menjadi penyebab pada sebagian anak.
Mengapa Alergi Bisa Menyebabkan Konstipasi?
- Pada alergi makanan non-IgE, tubuh tidak langsung menimbulkan bentol atau sesak napas setelah makan. Reaksi yang terjadi berlangsung perlahan di saluran cerna. Peradangan ringan tetapi menetap dapat mengganggu gerakan usus sehingga feses menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.
- Saat buang air besar terasa nyeri, anak mulai takut BAB. Akibatnya, anak sering menahan BAB sehingga tinja semakin keras. Keadaan ini membentuk lingkaran yang membuat konstipasi semakin berat.
Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai
Tidak semua anak yang sulit BAB mengalami alergi makanan. Namun, kemungkinan tersebut perlu dipikirkan bila terdapat beberapa keadaan berikut.
- Konstipasi tidak membaik meskipun sudah minum obat pencahar.
- Nyeri saat buang air besar.
- Feses sangat keras.
- Fisura atau luka di sekitar anus.
- Nyeri perut berulang.
- Perut kembung.
- Riwayat kolik saat bayi.
- Sering muntah atau refluks saat bayi.
- Dermatitis atopik atau eksim.
- Rinitis alergi.
- Asma.
- Riwayat alergi dalam keluarga.
- Berat badan sulit naik.
Semakin banyak tanda tersebut ditemukan, semakin besar kemungkinan dokter akan mempertimbangkan alergi makanan sebagai salah satu penyebab.
Alergen yang Paling Sering Ditemukan
Penelitian menunjukkan beberapa makanan lebih sering berkaitan dengan konstipasi akibat alergi, yaitu:
- Susu sapi.
- Telur.
- Ikan.
- Udang.
Bukan berarti semua anak harus berhenti mengonsumsi makanan tersebut. Setiap anak memiliki penyebab yang berbeda sehingga diagnosis harus dilakukan secara tepat.
Bagaimana Dokter Menentukan Penyebabnya?
- Dokter akan memulai dengan wawancara dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Riwayat alergi, pola BAB, pertumbuhan anak, serta penyakit alergi lain akan dievaluasi.
- Pada anak yang dicurigai mengalami alergi makanan, dokter dapat melakukan eliminasi makanan yang diduga menjadi pencetus selama waktu tertentu dengan pengawasan ketat. Bila keluhan membaik, diagnosis belum langsung dipastikan.
- Untuk memastikan hubungan antara makanan dan gejala, pemeriksaan yang paling akurat adalah Open Oral Food Challenge (OFC). Pada pemeriksaan ini, makanan diberikan kembali secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis untuk melihat apakah gejala benar-benar muncul kembali. Karena itu, OFC masih dianggap sebagai baku emas dalam diagnosis alergi makanan.
Mengapa Tidak Boleh Asal Pantang Makanan?
- Sebagian orang tua langsung menghentikan susu, telur, atau makanan lain setelah membaca informasi di internet. Cara ini tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan kekurangan protein, kalsium, zat besi, dan zat gizi penting lainnya.
- Selain itu, tidak semua anak dengan konstipasi memiliki alergi makanan. Pembatasan makanan tanpa diagnosis yang jelas justru dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.
- Untuk memastikan hubungan antara makanan dan gejala, pemeriksaan yang paling akurat adalah Open Oral Food Challenge (OFC). Pada pemeriksaan ini, makanan diberikan kembali secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis untuk melihat apakah gejala benar-benar muncul kembali. Karena itu, OFC masih dianggap sebagai baku emas dalam diagnosis alergi makanan.
Perbedaan Konstipasi Biasa dan Konstipasi Akibat Alergi
| Karakteristik | Konstipasi Fungsional | Konstipasi Akibat Alergi Makanan |
|---|---|---|
| Penyebab | Gangguan fungsi usus | Reaksi imun terhadap makanan |
| Respons terhadap obat pencahar | Umumnya membaik | Sering belum optimal |
| Riwayat eksim, rinitis, atau asma | Jarang | Sering ditemukan |
| Nyeri perut berulang | Kadang | Lebih sering |
| Berat badan sulit naik | Jarang | Dapat terjadi |
| Hubungan dengan makanan | Tidak jelas | Dapat berkaitan |
| Membaik setelah eliminasi makanan | Tidak | Sering |
| Perlu OFC untuk konfirmasi | Tidak | Ya, bila dicurigai alergi makanan |
Kapan Harus Berkonsultasi?
- Segera konsultasikan dengan dokter bila anak mengalami konstipasi lebih dari dua minggu, BAB terasa sangat nyeri, terdapat darah akibat luka di anus, berat badan sulit naik, atau konstipasi tidak membaik meskipun sudah mendapatkan pengobatan yang sesuai. Bila keluhan tersebut disertai eksim, rinitis alergi, asma, atau riwayat kolik dan muntah sejak bayi, dokter mungkin akan mempertimbangkan kemungkinan alergi makanan sebagai salah satu penyebab.
Pesan untuk Orang Tua
Sebagian besar konstipasi pada anak bukan disebabkan oleh alergi makanan. Namun, pada anak yang sulit BAB berkepanjangan dan tidak membaik dengan terapi standar, alergi makanan perlu dipertimbangkan, terutama bila disertai penyakit alergi lain seperti eksim, rinitis alergi, atau asma. Diagnosis yang tepat memerlukan evaluasi dokter, eliminasi makanan yang terarah, dan bila diperlukan konfirmasi dengan Open Oral Food Challenge. Pendekatan ini membantu menemukan penyebab sebenarnya sekaligus mencegah pembatasan makanan yang tidak diperlukan.
Daftar Pustaka
- Meyer R, Vandenplas Y, Chebar Lozinsky A, Vieira MC, Berni Canani R, du Toit G, et al. Diagnosis and management of food allergy-induced constipation in young children: An EAACI position paper. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(6):e14163. doi:10.1111/pai.14163.
- Sissoko NDN, Chen W, Wang C, Wu Y, Zheng X, Dong X, et al. Associations between functional constipation and non-IgE-mediated food allergy in infants and children. Allergol Immunopathol (Madr). 2023;51(3):163-173. doi:10.15586/aei.v51i3.738.
- Syrigou EI, Pitsios C, Panagiotou I, Chouliaras G, Kitsiou S, Kanariou M, et al. Food allergy-related paediatric constipation: The usefulness of atopy patch test. Eur J Pediatr. 2011;170(9):1173-1178. doi:10.1007/s00431-011-1417-6.
- Scaillon M, Cadranel S. Food allergy and constipation in childhood: How functional is it? Eur J Gastroenterol Hepatol. 2006;18(2):125-128. doi:10.1097/00042737-200602000-00002.









Leave a Reply