ANAK BATUK-PILEK TERUS: ALERGI ATAU INFEKSI
Pertanyaan
Mengapa sebagian anak mengalami batuk-pilek berulang, bahkan hampir setiap bulan, dan bagaimana membedakan apakah keluhan tersebut disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan berulang (ISPA), alergi, atau keduanya? Benarkah anak dengan alergi makanan lebih mudah mengalami infeksi berulang karena sistem kekebalan tubuhnya terganggu, dan apakah alergi makanan dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan anak lebih sering mengalami batuk-pilek, mengi, asma, atau infeksi saluran pernapasan?
Jawaban
Batuk-pilek berulang pada anak tidak selalu berarti anak memiliki daya tahan tubuh yang lemah atau selalu terkena infeksi. Pada usia prasekolah, infeksi saluran pernapasan berulang memang sering terjadi karena sistem imun masih berkembang dan anak memiliki paparan virus yang tinggi, terutama setelah masuk daycare atau sekolah. Faktor lain seperti asap rokok, polusi udara, kepadatan rumah, alergi, asma, status nutrisi, dan kondisi lingkungan juga dapat meningkatkan risiko keluhan pernapasan berulang. Literatur terbaru menunjukkan bahwa alergi merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan berulang pada anak.
Alergi dan infeksi juga dapat terlihat sangat mirip. Anak dengan infeksi virus biasanya mengalami pilek, batuk, demam, sakit tenggorokan, dan gejala yang berlangsung beberapa hari kemudian membaik. Sebaliknya, rinitis alergi lebih sering menyebabkan bersin berulang, hidung gatal, hidung tersumbat atau berair, mata gatal/berair, dan gejala yang berulang terutama ketika anak terpapar pemicu tertentu. Batuk malam hari, batuk saat aktivitas, atau mengi berulang juga perlu menimbulkan kecurigaan terhadap asma, bukan semata-mata infeksi. WHO pada 2026 kembali menegaskan bahwa asma merupakan penyakit kronis yang sangat penting pada anak dan ditandai oleh inflamasi serta penyempitan saluran napas.
Bagaimana dengan alergi makanan? Bukti ilmiah menunjukkan adanya hubungan antara alergi makanan dan infeksi saluran pernapasan berulang pada sebagian anak, tetapi hubungan tersebut tidak boleh disederhanakan menjadi “alergi makanan menyebabkan anak pasti sering ISPA.” Sebuah penelitian pada 280 anak dengan alergi makanan menemukan bahwa 54,6% mengalami infeksi saluran pernapasan berulang, dan pada anak usia 1–2 tahun, sensitisasi terhadap β-laktoglobulin dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan berulang.
Penelitian dan tinjauan yang lebih baru juga menunjukkan adanya interaksi kompleks antara sistem imun, alergi, dan infeksi. Pada anak dengan penyakit alergi seperti rinitis alergi dan asma, perubahan respons imun dan sitokin dapat berhubungan dengan kerentanan terhadap infeksi virus tertentu, terutama rhinovirus. Namun, kondisi ini tidak berarti seluruh anak dengan alergi mengalami gangguan imun atau imunodefisiensi.
Karena itu, anak alergi tidak otomatis memiliki “kekebalan tubuh lemah.” Alergi merupakan keadaan ketika sistem imun memberikan respons yang berlebihan atau tidak tepat terhadap zat tertentu, sedangkan imunodefisiensi merupakan kondisi ketika kemampuan sistem imun melawan infeksi memang terganggu. Keduanya berbeda. Sebagian besar anak yang sering mengalami infeksi juga tidak memiliki imunodefisiensi primer. Yang perlu dicurigai adalah infeksi yang sangat berat, tidak biasa, berlangsung lama, sulit sembuh, disebabkan organisme yang tidak lazim, atau disertai gangguan pertumbuhan dan masalah organ lain.
Hubungan alergi dengan batuk-pilek berulang dapat terjadi melalui beberapa jalur. Peradangan alergi pada hidung dan saluran napas dapat menyebabkan mukosa menjadi lebih reaktif dan menghasilkan gejala yang menyerupai ISPA. Anak kemudian dapat mengalami episode batuk, pilek, hidung tersumbat, atau mengi berulang. Di sisi lain, infeksi virus juga dapat memperburuk peradangan saluran napas dan memicu eksaserbasi asma atau gejala alergi. Dengan demikian, pada seorang anak dapat terjadi siklus alergi–inflamasi–infeksi–eksaserbasi gejala pernapasan yang saling berinteraksi.
Tanda yang mengarah kepada alergi antara lain bersin berulang tanpa demam, hidung atau mata gatal, sekret hidung jernih, gejala yang muncul berulang pada kondisi atau lingkungan tertentu, riwayat eksim/alergi makanan, serta batuk atau mengi yang berulang terutama malam hari atau setelah aktivitas. Sebaliknya, demam, badan lemah, nyeri tenggorokan, sekret hidung yang berubah selama perjalanan penyakit, dan kontak dengan anggota keluarga atau teman yang sakit lebih mendukung infeksi. Namun, kedua kondisi tersebut dapat terjadi bersamaan sehingga pemeriksaan klinis tetap diperlukan.
Pada anak dengan alergi makanan, perhatian juga harus diberikan pada status nutrisi. Diet eliminasi yang terlalu luas tanpa pengawasan dapat menyebabkan kekurangan zat gizi dan berpotensi memengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Karena itu, menghindari makanan penyebab alergi memang penting bila alergi telah terbukti, tetapi tidak dianjurkan melakukan pantang banyak makanan secara sembarangan hanya karena anak sering batuk-pilek.
WHO pada 7 Mei 2026 menerbitkan pedoman terbaru mengenai penatalaksanaan asma pada anak dan remaja serta bronkiolitis pada bayi dan anak kecil. Pedoman tersebut menegaskan bahwa penyakit pernapasan merupakan salah satu penyebab utama kesakitan, penggunaan layanan kesehatan, dan kematian yang dapat dicegah pada anak.
Kapan perlu diperiksa lebih lanjut?
Anak sebaiknya dievaluasi lebih mendalam apabila mengalami batuk atau pilek yang sangat sering, mengi berulang, pneumonia berulang, infeksi yang sangat berat, pertumbuhan tidak optimal, infeksi yang sulit sembuh, membutuhkan antibiotik berulang, atau terdapat riwayat alergi/asma yang kuat. Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan alergi, evaluasi asma, pemeriksaan darah tertentu, status nutrisi, pemeriksaan imunologi, atau pemeriksaan lain sesuai pola penyakit.
Memastikan Alergi Makanan: Jangan Hanya Mengandalkan Tes Alergi
- Pada anak yang dicurigai mengalami alergi makanan, diagnosis tidak sebaiknya ditegakkan hanya berdasarkan hasil tes kulit (skin prick test) atau pemeriksaan IgE spesifik. Pemeriksaan tersebut terutama menunjukkan adanya sensitisasi, yaitu sistem imun mengenali suatu alergen, tetapi hasil positif belum tentu berarti anak akan mengalami reaksi alergi ketika makanan tersebut dikonsumsi. Karena itu, hasil pemeriksaan harus selalu dikaitkan dengan riwayat klinis dan pola gejala anak. EAACI menegaskan bahwa tidak ada pemeriksaan laboratorium tunggal yang dapat berdiri sendiri untuk memastikan alergi makanan.
- Bila riwayat klinis dan pemeriksaan penunjang belum memberikan kepastian, Oral Food Challenge (OFC) merupakan metode penting untuk menentukan apakah anak benar-benar mengalami reaksi terhadap makanan tertentu. Dalam OFC, makanan diberikan secara bertahap dengan dosis yang terukur dan anak diamati secara medis terhadap kemungkinan munculnya reaksi. AAAAI menyebut OFC sebagai gold standard untuk diagnosis alergi makanan dan untuk menilai apakah toleransi terhadap makanan telah berkembang.
Pesan penting untuk orang tua
- Tes alergi positif belum tentu berarti anak alergi terhadap makanan tersebut.
- Diagnosis alergi makanan harus dikaitkan dengan gejala nyata dan riwayat klinis. Bila masih meragukan, Oral Food Challenge (OFC) yang dilakukan secara medis merupakan pemeriksaan penting untuk memastikan apakah makanan benar-benar menimbulkan reaksi alergi.
- Hal ini penting karena pantang makanan yang tidak diperlukan dapat mempersempit variasi makanan anak, meningkatkan risiko masalah nutrisi, serta memberikan beban psikologis dan sosial bagi keluarga. EAACI juga menekankan perlunya meninjau kembali diagnosis alergi pada anak secara berkala karena alergi makanan dapat berubah seiring pertumbuhan dan sebagian anak dapat mengalami toleransi.
Kesimpulan
Anak yang sering batuk-pilek belum tentu memiliki daya tahan tubuh lemah. Infeksi virus berulang memang sangat umum pada anak, tetapi alergi, rinitis alergi, asma, lingkungan, paparan asap rokok, polusi, status nutrisi, dan faktor imunologi juga dapat berperan. Alergi makanan pada sebagian anak berhubungan dengan peningkatan kejadian infeksi saluran pernapasan berulang, tetapi hubungan tersebut bersifat kompleks dan tidak berarti semua anak dengan alergi makanan mengalami imunodefisiensi. Karena itu, anak dengan batuk-pilek berulang perlu dibedakan secara klinis: apakah infeksi, alergi, asma, atau kombinasi beberapa kondisi tersebut.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. WHO Consolidated Guidelines for the Management of Common Childhood Illness: Management of Asthma in Children and Adolescents and Bronchiolitis in Infants and Young Children. Geneva: WHO; 2026.
- World Health Organization. Asthma – Fact Sheet. 28 April 2026.
- Galván C, Durán R, Matos C, Indolfi C, Klain A. Recurrent Infections in Allergic Pediatric Patients: An Immune System Problem? A Narrative Review. Children. 2025;12(6):788. doi:10.3390/children12060788.
- Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. PubMed. PMID: 27279819.
- Huang H, Chen X, Wang Y, Zhou C, et al. Prevalence and risk factors of recurrent respiratory tract infections in preschool children: a systematic review and meta-analysis. Jornal de Pediatria. 2026. doi:10.1016/j.jped.2026.101598.
- Recurrent respiratory infections between immunity and atopy. PubMed. PMID: 32017215.
- Cheung D, et al. Role of viruses in the development of atopic disease in pediatric patients. PubMed. PMID: 22911226.
- Why do some Children Get Sick with Recurrent Respiratory Infections? PubMed. 2023.
- Cassimos DC, Liatsis M, Stogiannidou A, Kanariou M. Children with frequent infections: a proposal for a stepwise assessment and investigation of the immune system. Pediatric Allergy and Immunology. 2010;21(3):463–473.
- Immunity-targeted approaches to the management of chronic and recurrent upper respiratory tract disorders in children. PubMed. PMID: 30920131.










Leave a Reply