7 Sunnah Menyambut Kelahiran Bayi dalam Islam, Membangun Fondasi Iman Sejak Hari Pertama
Islam memandang kelahiran seorang anak sebagai anugerah sekaligus amanah dari Allah SWT. Sejak hari pertama kehidupannya, syariat Islam mengajarkan berbagai amalan sunnah yang bertujuan menanamkan tauhid, membentuk identitas keislaman, menjaga kesehatan, serta memperkuat ikatan spiritual antara anak, orang tua, dan masyarakat. Amalan tersebut meliputi mengucapkan selamat atas kelahiran, mengumandangkan azan dan ikamah, melakukan tahnik, mencukur rambut, memberikan nama yang baik, melaksanakan akikah, dan mengkhitan anak laki-laki. Seluruh tuntunan ini memiliki hikmah keagamaan, sosial, pendidikan, dan kesehatan yang saling melengkapi. Dengan mengamalkannya, orang tua tidak hanya menjalankan sunnah Rasulullah ﷺ, tetapi juga meletakkan dasar pendidikan Islam sejak awal kehidupan anak.
Kelahiran seorang anak merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah SWT anugerahkan kepada sebuah keluarga. Islam tidak hanya mengatur proses pendidikan anak ketika mereka mulai tumbuh besar, tetapi juga memberikan tuntunan sejak detik-detik pertama kelahirannya. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan kepribadian seorang Muslim dimulai sejak awal kehidupan. Rasulullah ﷺ memberikan contoh melalui berbagai amalan sunnah yang mengandung nilai akidah, ibadah, akhlak, kesehatan, dan kepedulian sosial. Setiap amalan tersebut memiliki hikmah yang mendalam, bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi bagian dari pendidikan Islam yang menyeluruh. Orang tua yang memahami tuntunan ini diharapkan mampu membesarkan anak dengan landasan iman, kasih sayang, dan ketaatan kepada Allah SWT.
7 Sunnah Menyambut Kelahiran Bayi dalam Islam, Membangun Fondasi Iman Sejak Hari Pertama
1. Mengucapkan Selamat atas Kelahiran Bayi
Islam menganjurkan kaum Muslimin untuk menyampaikan ucapan selamat kepada orang tua yang baru dikaruniai anak. Ucapan tersebut merupakan bentuk syukur kepada Allah sekaligus doa agar bayi tumbuh menjadi anak yang saleh dan membawa keberkahan bagi keluarganya. Memberikan hadiah kepada bayi atau keluarganya juga termasuk amalan yang dianjurkan sebagai bentuk kasih sayang dan mempererat ukhuwah Islamiyah.
Kelahiran seorang anak merupakan nikmat yang patut disyukuri sebagaimana firman Allah SWT:
- ﴿وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً﴾
- “Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenismu sendiri dan dari istri-istrimu Dia memberikan kepadamu anak-anak dan cucu-cucu.”(QS. An-Nahl: 72)
2. Mengumandangkan Azan dan Ikamah
Salah satu sunnah yang paling dikenal adalah mengumandangkan azan di telinga kanan bayi dan ikamah di telinga kirinya. Rasulullah ﷺ melakukan hal tersebut ketika cucunya Hasan bin Ali RA lahir.
- Dari Abu Rafi’ RA:
- “Rasulullah ﷺ mengumandangkan azan di telinga Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkannya.”(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Para ulama menjelaskan bahwa hikmahnya adalah agar kalimat pertama yang didengar bayi adalah kalimat tauhid, pengagungan kepada Allah, dan ajakan menuju ibadah. Hafizh Ibnu Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa azan juga menjadi perlindungan bagi bayi dari gangguan setan serta menjadi simbol dimulainya kehidupan seorang Muslim dengan kalimat-kalimat yang mengagungkan Allah.
3. Melakukan Tahnik
- Tahnik adalah mengunyah kurma hingga lembut kemudian mengoleskannya sedikit ke langit-langit mulut bayi. Bila kurma tidak tersedia, sebagian ulama membolehkan menggunakan makanan manis yang aman bagi bayi sesuai kondisi dan pertimbangan medis.
- Abu Musa Al-Asy’ari RA berkata:”Aku membawa anakku yang baru lahir kepada Rasulullah ﷺ. Beliau memberinya nama Ibrahim, melakukan tahnik dengan kurma, mendoakan keberkahan baginya, kemudian menyerahkannya kembali kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Selain mengikuti sunnah Nabi ﷺ, para ulama menjelaskan bahwa tahnik membantu merangsang refleks mengisap, mengaktifkan otot mulut, dan mempersiapkan bayi untuk menyusu. Yang lebih penting, tahnik menjadi simbol doa keberkahan sejak awal kehidupan.
4. Mencukur Rambut Bayi dan Bersedekah
- Pada hari ketujuh setelah kelahiran, Islam menganjurkan mencukur seluruh rambut bayi kemudian bersedekah senilai berat rambut tersebut dalam bentuk perak atau nilai uangnya kepada fakir miskin.
- Fatimah RA pernah menimbang rambut Hasan, Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum, kemudian bersedekah dengan perak seberat rambut mereka.(Muwatha Imam Malik)
- Mencukur rambut dilakukan secara menyeluruh dan tidak diperbolehkan mencukur sebagian kepala serta membiarkan sebagian lainnya. Para ulama menjelaskan bahwa amalan ini melambangkan penyucian, kepedulian sosial melalui sedekah, serta diyakini memberikan manfaat kebersihan kulit kepala bayi.
5. Memberikan Nama yang Baik
Nama merupakan doa yang akan melekat sepanjang hidup seseorang. Karena itu Islam sangat menganjurkan memilih nama yang memiliki makna baik, indah, dan mencerminkan keimanan.
- Rasulullah ﷺ bersabda:
- “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perbaguslah nama-nama kalian.”(HR. Abu Dawud)
Rasulullah ﷺ juga sering mengganti nama sahabat yang memiliki makna buruk menjadi nama yang lebih baik. Nama yang merupakan sifat khusus Allah, seperti Al-Khaliq, Ar-Razzaq, atau Al-Ahad, tidak boleh digunakan secara langsung untuk manusia, kecuali diawali dengan “Abdul”, seperti Abdullah, Abdul Aziz, atau Abdul Ahad.
6. Melaksanakan Akikah
- Akikah merupakan ibadah penyembelihan kambing atau domba sebagai bentuk syukur kepada Allah atas kelahiran anak.
- Rasulullah ﷺ bersabda:”Setiap anak tergadai dengan akikahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.”(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
- Untuk anak laki-laki dianjurkan dua ekor kambing, sedangkan anak perempuan satu ekor kambing. Jika kondisi ekonomi belum memungkinkan, sebagian ulama membolehkan seekor kambing untuk anak laki-laki. Daging akikah dianjurkan dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan fakir miskin atau dihidangkan dalam jamuan makan sebagai bentuk syukur dan mempererat silaturahmi.
7. Mengkhitan Anak Laki-laki
Khitan merupakan bagian dari fitrah manusia dan termasuk syiar Islam. Para ulama menganjurkan agar khitan dilakukan sebelum anak mencapai usia balig, bahkan sebagian ulama menganjurkannya bertepatan dengan pelaksanaan akikah apabila kondisi bayi memungkinkan.
Hikmah khitan meliputi:
- Menjalankan sunnah para nabi.
- Menunjukkan ketaatan kepada Allah SWT.
- Menjaga kebersihan dan kesucian.
- Mempermudah menjaga kebersihan setelah buang air kecil.
- Mengurangi risiko beberapa infeksi pada saluran kemih dan kelamin.
Khitan menjadi bagian dari pendidikan keislaman sekaligus memberikan manfaat kesehatan yang telah banyak dibuktikan dalam berbagai penelitian kedokteran.
Hikmah Tuntunan Islam Sejak Kelahiran
Seluruh sunnah kelahiran tidak berdiri sendiri, tetapi membentuk satu rangkaian pendidikan yang dimulai sejak hari pertama kehidupan seorang anak. Azan memperkenalkan tauhid, tahnik mengajarkan keberkahan, pemberian nama membentuk identitas, sedekah mengajarkan kepedulian sosial, akikah menumbuhkan rasa syukur, dan khitan menjaga kebersihan serta kesehatan. Semua amalan tersebut menunjukkan bahwa Islam memperhatikan aspek spiritual, psikologis, sosial, dan fisik secara seimbang.
- Allah SWT berfirman:﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا﴾
- “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Kesimpulan
Islam memberikan pedoman yang lengkap dalam menyambut kelahiran seorang anak. Tujuh sunnah yang diajarkan Rasulullah ﷺ bukan sekadar tradisi, tetapi merupakan pendidikan iman yang dimulai sejak hari pertama kehidupan. Melalui ucapan syukur, azan, tahnik, mencukur rambut, pemberian nama yang baik, akikah, dan khitan, orang tua menanamkan nilai tauhid, kasih sayang, kepedulian sosial, serta menjaga kesehatan anak. Dengan menghidupkan sunnah-sunnah ini, keluarga Muslim meletakkan fondasi yang kuat bagi lahirnya generasi yang beriman, berakhlak mulia, sehat, dan bertakwa kepada Allah SWT.












Leave a Reply