KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Mengapa Alergi Berbeda pada Anak Laki-Laki dan Perempuan? Peran Hormon Seks dan Sistem Kekebalan Tubuh

Mengapa Alergi Berbeda pada Anak Laki-Laki dan Perempuan? Peran Hormon Seks dan Sistem Kekebalan Tubuh

Alergi tidak selalu muncul dengan pola yang sama pada setiap anak. Jenis kelamin dan usia ternyata dapat ikut memengaruhi bagaimana sistem kekebalan tubuh merespons alergen.

Menariknya, pola tersebut dapat berubah ketika anak memasuki masa pubertas. Pada masa kanak-kanak, beberapa penyakit alergi lebih sering ditemukan pada anak laki-laki. Setelah pubertas, pola tersebut dapat berubah dan beberapa penyakit alergi menjadi lebih sering atau lebih berat pada perempuan.

Perubahan ini berkaitan dengan banyak faktor. Salah satunya adalah hormon seks. Hormon seks tidak hanya mengatur pertumbuhan dan fungsi reproduksi. Estrogen, progesteron, dan testosteron juga berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh. Hormon tersebut dapat memengaruhi sel imun, produksi antibodi, peradangan, serta aktivitas sel mast yang berperan penting dalam reaksi alergi.

Alergi adalah reaksi sistem kekebalan tubuh

  • Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh memberikan respons terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya bagi sebagian besar orang. Zat tersebut disebut alergen.
  • Alergen dapat berasal dari makanan, tungau debu rumah, serbuk sari, bulu atau serpihan kulit hewan, obat, dan berbagai sumber lainnya.
  • Pada alergi yang diperantarai IgE, proses biasanya dimulai ketika tubuh mengalami sensitisasi terhadap alergen. Sistem kekebalan kemudian menghasilkan antibodi IgE spesifik.
  • Ketika tubuh kembali bertemu dengan alergen yang sama, alergen dapat berikatan dengan IgE pada permukaan sel mast. Sel mast kemudian mengalami aktivasi dan melepaskan berbagai mediator, terutama histamin.
  • Proses inilah yang dapat menimbulkan gejala seperti gatal, biduran, bersin, hidung tersumbat, mengi, muntah, atau pada reaksi berat, anafilaksis.

Tabel 1. Bagaimana reaksi alergi terjadi

Tahap Apa yang terjadi?
Pajanan alergen Tubuh bertemu dengan alergen
Sensitisasi Sistem imun mengenali alergen dan dapat membentuk IgE spesifik
Pajanan ulang Alergen kembali masuk ke tubuh
Aktivasi sel mast Alergen berikatan dengan IgE pada sel mast
Pelepasan mediator Sel mast melepaskan histamin dan mediator inflamasi
Muncul gejala Timbul manifestasi alergi pada kulit, hidung, saluran napas, saluran cerna, atau organ lain

Mengapa laki-laki dan perempuan dapat berbeda?

  • Sistem kekebalan tubuh laki-laki dan perempuan tidak sepenuhnya identik. Perbedaan tersebut disebut dimorfisme imun.
  • Hormon seks merupakan salah satu faktor yang ikut membentuk perbedaan tersebut. Estrogen dapat meningkatkan beberapa respons imun, sedangkan androgen seperti testosteron pada kondisi tertentu dapat memberikan efek yang lebih menekan respons imun.
  • Namun, hormon bukan satu-satunya faktor. Genetik, epigenetik, mikrobiota, pola makan, lingkungan, infeksi, serta paparan alergen juga dapat memengaruhi perkembangan alergi.
  • Karena itu, jenis kelamin tidak dapat digunakan untuk menentukan apakah seorang anak pasti mengalami alergi. Jenis kelamin hanya merupakan salah satu bagian dari faktor biologis yang memengaruhi respons imun.

Pubertas menjadi titik perubahan

  • Salah satu temuan yang menarik adalah perubahan pola alergi setelah pubertas.
  • Sebelum pubertas, beberapa penyakit alergi lebih sering ditemukan pada anak laki-laki. Setelah pubertas, pola tersebut dapat berubah sehingga perempuan memiliki prevalensi atau tingkat keparahan yang lebih tinggi pada beberapa penyakit alergi.
  • Pubertas merupakan periode ketika kadar hormon seks berubah secara besar. Anak perempuan mengalami peningkatan estrogen dan progesteron. Anak laki-laki mengalami peningkatan androgen, terutama testosteron.
  • Perubahan hormon tersebut terjadi bersamaan dengan perubahan sistem imun. Hubungan inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa pola alergi dapat berubah setelah pubertas.

Tabel 2. Perubahan pola alergi sepanjang kehidupan

Tahap kehidupan Perubahan yang dapat terjadi
Anak-anak Beberapa penyakit alergi lebih sering pada laki-laki
Pubertas Terjadi perubahan besar kadar hormon seks
Remaja Perbedaan respons imun antara laki-laki dan perempuan semakin terlihat pada beberapa penyakit
Dewasa Beberapa penyakit alergi lebih sering atau lebih berat pada perempuan
Kehamilan Perubahan hormon dapat memengaruhi regulasi sistem imun
Menopause Perubahan kadar estrogen dapat kembali mengubah lingkungan imun

Estrogen dapat meningkatkan respons alergi

  • Estrogen, terutama estradiol atau E2, merupakan hormon yang memiliki banyak pengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh.
  • Estrogen dapat berinteraksi dengan berbagai sel imun, termasuk sel dendritik, sel T, sel B, eosinofil, monosit, makrofag, dan sel mast.
  • Pada respons alergi, estrogen dapat meningkatkan beberapa karakteristik respons imun tipe 2. Respons ini melibatkan sitokin seperti IL-4, IL-5, IL-9, dan IL-13.
  • IL-4 membantu sel B menghasilkan IgE. IL-5 berperan dalam aktivasi dan rekrutmen eosinofil. IL-13 berhubungan dengan produksi mukus dan inflamasi saluran napas.
  • Estrogen juga dapat meningkatkan ekspresi reseptor FcεRI pada sel mast. Reseptor ini merupakan tempat IgE menempel. Ketika alergen kemudian menghubungkan IgE tersebut, sel mast dapat mengalami degranulasi dan melepaskan histamin.
  • Dengan demikian, perubahan lingkungan hormonal dapat memengaruhi seberapa kuat sistem imun merespons rangsangan tertentu.

Testosteron memiliki efek yang berbeda

  • Testosteron dan androgen lain juga berinteraksi dengan sistem imun.
  • Dalam artikel sumber, androgen dijelaskan memiliki efek imunomodulator dan pada beberapa kondisi dapat menekan respons imun. Hal ini menjadi salah satu kemungkinan mekanisme yang berhubungan dengan perubahan pola penyakit alergi setelah pubertas.
  • Contohnya terlihat pada asma.
  • Pada masa kanak-kanak, asma lebih sering ditemukan pada anak laki-laki. Setelah pubertas, prevalensi dan keparahan asma dapat meningkat pada perempuan. Perubahan tersebut terjadi pada periode yang sama dengan perubahan besar kadar hormon seks.
  • Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa testosteron atau estrogen secara tunggal menentukan seseorang akan mengalami asma. Asma memiliki banyak fenotipe dan mekanisme inflamasi yang berbeda.

Asma dapat berubah mengikuti siklus menstruasi

  • Pada sebagian perempuan dengan asma, gejala dapat berubah mengikuti siklus menstruasi.
  • Artikel sumber melaporkan bahwa sekitar 30 sampai 40% perempuan dengan asma melaporkan perubahan penyakit selama periode pramenstruasi atau perimenstruasi. Pada sebagian pasien, perubahan tersebut dapat disertai penurunan fungsi paru, eksaserbasi yang lebih berat, peningkatan kebutuhan kortikosteroid, atau rawat inap.
  • Hal ini menunjukkan bahwa riwayat siklus menstruasi dapat menjadi informasi yang relevan ketika dokter mengevaluasi pola gejala asma pada pasien perempuan.

Alergi kulit juga menunjukkan perbedaan

  • Dermatitis eksematosa juga menunjukkan pola yang berubah menurut usia.
  • Pada masa kanak-kanak, eczema lebih sering ditemukan pada anak laki-laki. Setelah pubertas, perempuan dapat menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi.
  • Vernal keratoconjunctivitis memberikan contoh lain. Penyakit alergi mata tersebut terutama menyerang anak laki-laki dan cenderung menurun setelah pubertas.
  • Pola tersebut menunjukkan bahwa perjalanan penyakit alergi dapat berubah seiring perubahan biologis tubuh.

Bagaimana dengan alergi makanan?

  • Perbedaan jenis kelamin juga dilaporkan pada alergi makanan.
  • Artikel sumber menyebutkan bahwa perempuan dapat lebih banyak mengalami alergi kacang tanah dibandingkan laki-laki. Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah perbedaan regulasi imun yang dipengaruhi oleh hormon seks.
  • Namun, jenis kelamin tidak dapat digunakan untuk menentukan diagnosis alergi makanan pada seseorang.
  • Anak laki-laki dapat mengalami alergi makanan. Anak perempuan juga dapat mengalami alergi makanan. Diagnosis tetap membutuhkan riwayat klinis yang sesuai dan pemeriksaan yang tepat.

Kehamilan juga mengubah sistem imun

  • Kehamilan merupakan periode dengan perubahan hormonal yang besar.
  • Kadar estrogen, progesteron, kortisol, dan hormon lain meningkat dan dapat memengaruhi sistem imun. Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa kehamilan berhubungan dengan perubahan keseimbangan sitokin, termasuk kecenderungan menuju respons Th2 pada fase tertentu.
  • Perubahan tersebut tidak selalu berarti penyakit alergi akan memburuk. Respons setiap perempuan dapat berbeda. Karena itu, hubungan antara kehamilan, hormon, dan alergi perlu dipahami berdasarkan penyakit dan kondisi pasien secara individual.
  • Tabel 3. Hormon dan sistem kekebalan tubuh
Hormon Hubungan dengan sistem imun Relevansi terhadap alergi
Estrogen Memodulasi sel T, sel B, sel dendritik dan sel mast Dapat meningkatkan beberapa respons imun tipe 2
Estradiol Bentuk estrogen utama pada perempuan dewasa Berhubungan dengan respons Th2 dan aktivitas sel mast
Testosteron Memiliki efek imunomodulator Pada beberapa kondisi dapat menekan respons imun
Progesteron Berubah selama siklus menstruasi dan kehamilan Dapat memengaruhi regulasi imun
Kortisol Memiliki efek antiinflamasi Berperan dalam regulasi inflamasi
Prolaktin Berinteraksi dengan sistem imun Dapat berperan pada inflamasi alergi saluran napas

Alergi tidak ditentukan oleh hormon saja

  • Hormon memang penting, tetapi alergi merupakan penyakit multifaktor.
  • Genetik dapat memengaruhi kecenderungan seseorang mengalami penyakit alergi. Lingkungan menentukan jenis dan jumlah paparan alergen. Mikrobiota dapat berinteraksi dengan perkembangan sistem imun. Pola makan, infeksi, polusi, kualitas udara, dan kondisi jaringan juga dapat memengaruhi respons tubuh.
  • Karena itu, dua anak dengan jenis kelamin dan usia yang sama tetap dapat memiliki perjalanan alergi yang sangat berbeda.
  • Tabel 4. Faktor yang memengaruhi penyakit alergi
Faktor Contoh pengaruh
Genetik Memengaruhi kerentanan terhadap penyakit alergi
Hormon Memodulasi aktivitas sistem imun
Usia Mengubah pola penyakit sepanjang kehidupan
Pubertas Mengubah lingkungan hormonal
Mikrobiota Berinteraksi dengan perkembangan sistem imun
Lingkungan Menentukan paparan alergen dan polutan
Infeksi Dapat memengaruhi regulasi sistem imun
Sawar kulit dan mukosa Menentukan kontak tubuh dengan lingkungan
Pola hidup Dapat memengaruhi paparan dan inflamasi

Apa arti temuan ini bagi orang tua?

  • Orang tua tidak perlu menganggap bahwa anak laki-laki atau perempuan memiliki risiko alergi yang pasti berbeda.
  • Yang lebih penting adalah memperhatikan pola gejala anak.
  • Perhatikan kapan gejala muncul. Perhatikan apakah gejala berulang setelah paparan tertentu. Perhatikan perubahan gejala ketika anak bertambah usia. Pada remaja perempuan, dokter juga dapat mempertimbangkan hubungan antara gejala tertentu dan siklus menstruasi.
  • Informasi tersebut dapat membantu dokter memahami pola penyakit secara lebih lengkap.

Penelitian masih terus berkembang

  • Hubungan antara hormon seks dan alergi masih belum sepenuhnya dipahami.
  • Peneliti masih mempelajari bagaimana hormon berinteraksi dengan sel T, sel B, sel mast, eosinofil, sel dendritik, ILC2, gen, epigenetik, dan mikrobiota.
  • Artikel sumber juga menekankan bahwa mekanisme yang secara khusus menjelaskan pengaruh hormon terhadap proses sensitisasi pada kelompok usia yang berbeda masih belum jelas.
  • Penelitian jangka panjang sejak masa kanak-kanak hingga dewasa diperlukan untuk memahami mengapa pola alergi berubah setelah pubertas dan mengapa perubahan tersebut berbeda antara satu penyakit alergi dan penyakit alergi lainnya.

Pesan utama

  • Alergi merupakan hasil interaksi kompleks antara sistem imun, genetik, lingkungan, mikrobiota, dan faktor biologis lainnya.
  • Hormon seks merupakan salah satu bagian dari sistem tersebut.
  • Estrogen dapat meningkatkan beberapa respons imun yang berhubungan dengan alergi. Androgen dapat memberikan efek imunomodulator yang berbeda. Perubahan hormon pada pubertas, siklus menstruasi, kehamilan, dan menopause dapat berhubungan dengan perubahan perjalanan penyakit alergi.
  • Pemahaman mengenai hubungan hormon dan alergi membantu dokter melihat penyakit alergi sebagai kondisi yang dapat berubah sepanjang kehidupan. Namun, jenis kelamin atau kadar hormon seseorang tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan diagnosis maupun perjalanan penyakit individu.

Daftar pustaka

  • Gutiérrez-Brito JA, Lomelí-Nieto JÁ, Muñoz-Valle JF, Oregon-Romero E, Corona-Angeles JA, Hernández-Bello J. Sex hormones and allergies: exploring the gender differences in immune responses. Front Allergy. 2025;5:1483919. doi:10.3389/falgy.2024.1483919.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *